Beranda » 2012 » September

Monthly Archives: September 2012

The Bob-and-Weave Style of Ahmadinejad

Oleh: Dina Y. Sulaeman

David Ignatius, seorang kolumnis di Washington Post menyebut gaya  bicara Ahmadinejad saat diwawancarai media AS sebagai gaya bob-and-weave. Saya coba mencari tahu apa itu, ternyata terkait dengan tinju. Seorang petinju yang bergaya bob-and-weave akan bergerak dari sisi ke sisi, dari belakang ke depan, untuk menghindari pukulan lawannya dan membuat lawannya kehilangan keseimbangan. Benar saja, dengan gayanya ini Ahmadinejad berhasil membuat host sekelas Piers Morgan tampak seperti badut karena ditertawakan oleh penonton; setidaknya, oleh saya yang memang berkali-kali tertawa saat menyaksikan rekaman wawancara Ahmadinejad di CNN tanggal 24 September lalu.

Sejak awal, Ahmadinejad sudah memperlihatkan ‘kelas’-nya. Begitu wawancara dimulai, Morgan langsung mengajukan pertanyaan intimidatif, “Banyak orang AS yang melihat Anda sebagai musuh publik no 1. Bagaimana perasaan Anda atas hal ini?”

(lebih…)

Terjemahan Lengkap Pidato Ayatullah Khamenei di depan peserta Konferensi Internasional ‘Women and Islamic Awakening’ (11 Juli 2012)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pertama, kami mengucapkan selamat datang kepada Anda semua, saudari-saudari kami yang mulia, anak-anak [perempuan] saya yang saya kasihi, dan para tokoh perempuan dari berbagai penjuru negara muslim. Di sini adalah rumah Anda semua, milik Anda, dan saya berharap Allah SWT memberikan berkah-Nya kepada konferensi ini dan kepada umat Islam. Konferensi ini menurut saya sangatlah penting. Pertemuan tokoh muslimah dari Timur dan Barat dunia Islam memiliki nilai yang sangat penting bagi kebangkitan Islam. Nilai penting konferensi ini antara lain, kesempatan bagi para tokoh perempuan dari berbagai negara untuk saling mengenal dan saling bertemu.

Dan pertemuan ini sungguh penting. Sejak seratus tahun yang lalu, Barat dengan kekuatan uang, senjata, maupun diplomasinya berusaha untuk memaksakan budaya dan gaya hidupnya ke tengah masyarakat muslim, termasuk ke tengah-tengah kehidupan kaum muslimah. Selama 100 tahun mereka berupaya agar muslimah merasa asing dengan jati dirinya sendiri. Semua alat mereka pakai untuk melancarkan upaya ini, mulai dai uang, propaganda, senjata, tipuan materialisme, juga pemanfaatan hawa nafsu alami manusia. Semua ini mereka gunakan untuk menjauhkan kaum perempuan dari jati diri keislaman mereka. Hari ini, jika Anda kaum muslimah berjuang untuk mengembalikan kaum Anda kepada jatidiri mereka, maka itulah bakti terbesar Anda kepada umat Islam, kepada kebangkitan Islam, serta kepada kemuliaan dan kejayaan Islam.

(lebih…)

Innocence of Muslims vs ‘Innocence’ of Zionist

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Ada banyak analisis yang bisa ditulis terkait aksi terbaru kelompok Islamophobi yang membuat film nista berjudul Innocence Muslim. Saya ingin membahasnya dari sisi ini: “siapa yang memulainya pertama?”

Banyak yang mengecam aksi kekerasan di Libya. Sebagian orang Islam sendiri langsung ‘setuju’ dengan citra yang disebarluaskan oleh media Barat: bahwa aksi pembunuhan terhadap para diplomat AS di Libya adalah ‘balas dendam’ atas pembuatan film Innocence of Muslims. Lalu lagi-lagi, muslim disalahkan dan dicitrakan sebagai penganut agama kekerasan. Sebagian muslim pun malah saling menasehati, “Marah boleh, tapi jangan membunuh dong!” atau, “Rasulullah saja kalau masih hidup pasti akan memaafkan; beliau tidak akan setuju kalau kita berbuat biadab.” Pertanyaannya, siapa ‘kita’ yang dimaksud? Siapa yang membunuh Dubes AS?

(lebih…)

Launching Buku “Bandung Ibu Kota Asia Afrika”

(lebih…)

Pentingnya Identifikasi Musuh: Refleksi dari Konferensi ‘Women and Islamic Awakening’, Tehran 2012

“..kenali musuh Anda, kenali diri Anda sendiri,

dan kemenangan Anda tidak akan terancam.”

(Sun Tzu, The Art of War)

Pengantar

Pada tanggal 10-11 Juli 2012, Republik Islam Iran menyelenggarakan Konferensi Internasional bertajuk ‘Women and Islamic Awakening’. Konferensi ini termasuk dalam rangkaian konferensi Islamic Awakening yang telah diselenggarakan di Iran sejak bulan September 2011. Pada bulan September 2011, diselenggarakan Konferensi Islamic Awakening yang dihadiri lebih dari 700 pemikir dan tokoh-tokoh muslim dari 80 negara. Lalu, sebagai tindak lanjut dari konferensi tersebut, dibentuklah World Assembly of Islamic Awakening, dengan markas tetap di Tehran. Anggota Dewan ini terdiri dari tokoh-tokoh terkemuka dari berbagai negara muslim dan yang ditunjuk sebagai Sekjen adalah Ali Akbar Velayati (mantan Menlu Iran).  Pada 10-11 November 2011, para anggota World Assembly of Islamic Awakening itu mengadakan sidang di Tehran. Dalam sidang yang dihadiri oleh 25 tokoh terkemuka dari  17 negara muslim itu, didiskusikan perkembangan terakhir terkait kebangkitan negara-negara muslim di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Selanjutnya, pada bulan Januari  2012, diadakan Konferensi Pemuda dan Kebangkitan Islam, yang diikuti oleh lebih dari 1000 pemuda/pemudi dari 73 negara. Yang menarik, konferensi ke-3 diselenggarakan dengan mengundang para penyair dari negara-negara muslim, sehingga tema konferensi adalah, “Islamic Awakening Poetry Congress”. Menurut Velayati, peran puisi dan penyair dalam sepanjang sejarah kebangkitan Islam sangatlah signifikan. Melalui syair-syair revolusioner, para penyair mampu membangkitkan semangat rakyat untuk maju bergerak melawan tiran.

Terakhir, pada bulan Juli 2012, sekitar 1500 muslimah dari 85 negara berkumpul di Teheran untuk mengikuti Konferensi Perempuan dan Kebangkitan Islam. Penulis bersama 17 anggota delegasi Indonesia lainnya, berkesempatan hadir dalam acara tersebut.

Melalui tulisan ini, penulis  berusaha merefleksikan kembali ide utama yang ingin didiseminasi melalui rangkaian Konferensi tersebut.

(lebih…)

Dua Suara Miring dari KTT GNB Tehran

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Usai sudah Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok (KTT GNB) ke-16 di Tehran. Meskipun selama 30 tahun terakhir AS telah mengucurkan sangat banyak energi dan dana untuk menjadikan Iran sebagai pariah dalam pergaulan internasional, kehadiran top official dari 120 negara di Tehran membuktikan kegagalan upaya itu. Menjelang KTT, berbagai upaya propaganda dilancarkan untuk mencegah kehadiran tokoh-tokoh dunia ke Tehran. PM Israel, Netanyahu menyebut KTT GNB sebagai ‘memalukan dan noda bagi kemanusiaan” dan AS terang-terangan menyatakan ketidaksetujuan kedatangan Sekjen Ban Ki Moon ke Tehran.

Upaya AS ini seolah pengulangan sejarah Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955. Saat itu, seperti dicatat oleh mantan Sekjen Deplu Ruslan Abdulgani dalam bukunya ‘Bandung Connection’, media AS mempropagandakan bahwa Indonesia tidak akan mampu menyelenggarakan konperensi akbar itu. Bahkan, salah satu media AS mengutip kalimat kasar mengejek Indonesia, “Para pengemis itu tidak akan bisa belajar.” Cak Ruslan mengatakan dirinya dan PM Ali Sastroamijojo merasa sedih membaca berita itu tapi hal itu justru mendorong mereka bekerja lebih giat lagi untuk menyukseskan KAA.

(lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.171 pengikut lainnya.