Beranda » Perang Melawan Terorisme

Category Archives: Perang Melawan Terorisme

Michael Moore, Irak, dan Dilema Demokrasi

DINA-SULAIMAN-OKETulisan terbaru saya di Nefosnews.com

“Mosul fell. Mosul is the second largest city in Iraq. The Iraqi government we “installed”, has now lost Fallujah, Ramadi, Mosul and other large swaths of the country we invaded at the cost of thousands of American lives, tens of thousands of Iraqi lives and a couple trillion dollars.”

Demikian tulis Michael Moore, sutradara kawakan AS, di fanpage-nya, pada Rabu (11/6/2014). Moore mengungkapkan kekesalannya terhadap pemerintah AS yang telah menginvasi Irak atas nama demokrasi. Uang triliunan US$ dihabiskan pemerintah AS, ribuan tentaranya tewas. Dan yang lebih menderita tentu saja rakyat Irak. Janji demokrasi yang dibawa AS pada tahun 2003 ternyata bohong belaka. Setiap detik kehidupan mereka kini terancam oleh bom dan letusan senjata.

Moore pernah membuat film dokumenter Fahrenheit 911 yang mengungkap berbagai kebohongan yang dilakukan rezim Bush. Salah satu adegan yang sangat melekat di benak saya adalah ekspresi wajah Bush saat dibisiki oleh pengawalnya, menginformasikan serangan terhadap WTC pada 11 September 2001. Bush saat itu sedang berada di sebuah kelas taman kanak-kanak. Dia diam saja, tidak menunjukkan keterkejutan, dan meneruskan membacakan buku kepada anak-anak TK. Dan buku yang dibacanya itu terbalik.

Entah apa yang sebenarnya ada di benak Bush saat itu. Yang jelas, sejak saat itu, AS melancarkan Perang Melawan Terorisme. AS menggempur Irak pada tahun 2003, dengan alasan Saddam memiliki senjata pembunuh massal yang mengancam keselamatan umat manusia. Dan ternyata keberadaan senjata pembunuh massal di Irak hanya isapan jempol. Bush pun pada 2004 mengakuinya, namun menyalahkan CIA yang memberinya laporan palsu. Pretext (alasan) perang Irak pun diubah, bukan lagi untuk memusnahkan senjata massal, melainkan untuk menggulingkan Saddam yang diktator dan menegakkan demokrasi di Irak.

Segera setelah AS mendirikan pemerintahan “demokratis” di Irak, tiba-tiba saja muncul kelompok-kelompok teror yang berafiliasi dengan Al Qaeda. Mereka menyerang rakyat sipil, meledakkan bom bunuh diri di berbagai tempat. Situasi ini dijadikan alasan oleh AS untuk tetap mempertahankan pasukannya di Irak. Di saat yang sama, perusahaan-perusahaan minyak dan kontraktor Barat juga terus mengeruk uang di Irak, mengendalikan berbagai proyek.

 

…. mengapa penegakan demokrasi harus ditebus dengan harga jutaan nyawa? apa kaitannya dengan demokrasi dan pilpres kita?

baca selengkapnya di Nefosnews

Nasib Muslim Tatar dan Jihad Ukraina

Analisis terbaru saya, dimuat di www.LiputanIslam.com

Nasib Muslim Tatar : Isu Jihad Baru di Ukraina?

Doku Umarov dan pasukan jihadnya

Doku Umarov dan pasukan jihadnya

Mereka yang intens mengikuti konflik Suriah dan Timteng pada umumnya, semestinya merasakan adanya alarm yang berbunyi, saat membaca tulisan koran Republika edisi cetak halaman 25 (10/3) berjudul “Tanda X di Pintu Rumah Muslim Crimea”. Track record Republika yang ikut bergabung dalam koor media mainstream soal Suriah, menyebarluaskan ilusi bahwa konflik di Suriah adalah kekejian kaum Syiah pro-Assad terhadap kaum Sunni (salah satunya bisa dibaca di artikel ini: Syria di Republika), membuat saya melihat tulisan itu dengan cara berbeda.

Dalam artikel yang ditulis oleh Ferry Kisihandi (dan bersumber dari Reuters, jaringan berita milik keluarga Rothschild) diceritakan tragedi 1944, ketika diktator Soviet, Josef Stalin, memerintahkan polisi membuat tanda X pada pintu-pintu rumah Muslim Tatar. Dalam beberapa hari, 200 ribu Muslim diusir dari rumahnya dan dikirim ke wilayah Uzbekistan. Ribuan orang kehilangan nyawa dalam perjalanan itu. Pada 1960-an, Uni Soviet mulai mengizinkan Muslim Tatar yang masih hidup di pengasingan untuk kembali ke Krimea.

Menurut Republika, pengusiran tahun 1944 itu berpotensi berulang pada tahun ini, menyusul masuknya tentara Rusia ke Krimea dan menghendaki Krimea memisahkan diri dari Ukraina. Pasalnya, Muslim Tatar warga Krimea lebih memilih untuk bergabung dengan Ukraina. Dan pilihan itu melahirkan konsekuensi, karena akhir-akhir ini muncul goresan tanda X di pintu-pintu rumah beberapa muslim Krimea, tulis Republika.

Mengingat mayoritas kaum muslim kelihatannya sedemikian mudah diprovokasi tanpa mau sejenak merenung dan mencari ‘berita di balik berita’, isu penindasan Muslim Tatar saya perkirakan akan dipakai untuk menggalang jihad melawan Rusia. Masih belum luput dari ingatan, betapa mudahnya kaum Muslim di Indonesia diprovokasi dengan berbagai foto dan video palsu. Mereka pun rela merogoh kocek dalam-dalam, sehingga terkumpul ratusan juta rupiah tanpa audit yang jelas, demi ‘menolong kaum Sunni yang ditindas Assad’. Jihadis dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Indonesia berbondong-bondong datang ke Suriah demi menggulingkan Assad. Dan ironisnya, akhir-akhir ini di antara mereka (para jihadis) malah saling bunuh dengan cara-cara barbar, karena perebutan wilayah, jarahan, dan legitimasi (mana yang ‘khilafah asli’).

Umat muslim dunia kebanyakan menerima saja apa yang dicekokkan media kepada mereka. Dan ironisnya, sejak kasus Suriah, banyak media berlabel Islam yang bergotong royong dengan media mainstream tanpa mau mengaitkan konflik lokal dengan konstelasi politik global. Dalam artikel saya berjudul L’Ukraine est une autre Syrie (Ukraina adalah Suriah yang lain), saya sudah menulis berbagai persamaan antara konflik Suriah dan Ukraina. Berbeda dengan Suriah yang perlu dua tahun sebelum (sebagian) publik menyadari konspirasi Barat, di Ukraina, kecurangan Barat terungkap dengan sangat cepat.

Baca selanjutnya di LiputanIslam.com ya :)

Tuduhan Makar Terhadap Mahasiswa Indonesia di Iran

tehran university

tehran university

Saya benar-benar tersinggung saat membaca reportase berikut ini. Disebutkan, dalam sebuah bedah buku, ada seorang USTAD yang menyatakan bahwa pemerintah Iran memberi beasiswa kepada orang-orang Indonesia untuk belajar di Iran, lalu di sana mereka cuma makan dan tidur, tidak belajar, hanya didoktrin, lalu kembali ke Indonesia untuk mendirikan negara Syiah Indonesia. Kalau benar dia USTAD tentu dia tidak akan sembarangan memfitnah (tentu dia sudah lebih banyak membaca Quran dibanding yang bukan USTAD, sehingga tahu apa itu fitnah).

Saya memang cuma kuliah bahasa Persia 1 semester dan kuliah pra-pasca 1 semester di Tehran University, lalu keluar (karena alasan pribadi), lalu kerja sebagai jurnalis di IRIB. Tapi dalam masa yang singkat itu tentu saja saya mengalami sendiri bahwa saya TIDAK makan dan tidur belaka. Saya juga TIDAK pernah didoktrin bikin negara SYIAH. Bahkan saya dulu sangat sering bergadang supaya lulus ujian (dan ujiannya, parahnya, sulit banget, yang ditanyain biasanya yang tidak ada di buku panduan, jadi musti baca buku banyak-banyak di perpus), supaya nggak malu-maluin Indonesia (kalau nilai saya jelek, rasanya semua orang akan menengok ke saya dan bertanya dalam hati, Indonesia?). Hal yang sama saya lakukan saat kuliah musim panas di Sophia University, Tokyo, dulu. Saya tahu, nilai saya tidak ada ‘arti’-nya, toh cuma kuliah musim panas. Tapi saya tetap bergadang untuk belajar. Saya harus dapat nilai A supaya tidak mempermalukan Indonesia dan khususnya almamater saya, Unpad.

Meskipun dulu saya kuliah cuma setahun, tapi saya juga kenal hampir semua mahasiswa Indonesia di Iran (karena jumlahnya cuma segelintir, waktu itu ga sampai 100-an), dan saya kadang berkunjung ke rumah mereka. Setiap rumah pasti penuh dengan buku-buku. Dan ya, mereka belajar dengan tekun. Seorang teman perempuan, saat saya berkunjung ke rumahnya, bahkan membawa bukunya ke dapur, dan sambil memasak untuk tamunya (yaitu saya), dia membaca buku!

(lebih…)

Teroris vs Densus 88: Logika Tabrir?

Dina Y. Sulaeman

Penggerebekan terhadap ‘terduga’ teroris di Ciputat pada malam Tahun Baru oleh Densus 88 yang mengakibatkan kematian enam orang, memunculkan tuduhan bahwa Densus 88 telah melanggar HAM. Bahkan Kontras telah merilis pernyataan bahwa “Berangkat dari temuan awal dan informasi media massa, KontraS menganggap kematian enam terduga teroris; Hidayat, Nurul Haq, Fauzi, Rizal, Hendi, dan Edo- tidak wajar dan mengandung unsur-unsur pelanggaran prosedur hukum serta hak asasi manusia, termasuk hak asasi warga yang terkena dampak.”

Bahwa Densus 88 sangat berkepentingan dengan ‘proyek’ terorisme dan menerima dana asing untuk proyek ini, memang menimbulkan kecurigaan besar. Apalagi, seperti diungkapkan KontraS dalam pernyataannya, terlihat memang banyak kejanggalan dalam operasi terorisme ini.

Sayangnya, fakta kejanggalan ini kemudian ‘digoreng’ pihak-pihak tertentu untuk mengaburkan fakta soal terorisme itu sendiri. Mereka menggunakan kesalahan Densus 88 sebagai argumen bahwa: (1) korban ‘terduga’ teroris adalah orang-orang tak bersalah,  (2) korban tidak ada kaitan sama sekali dengan terorisme, (3) dan bahkan ‘teroris’ itu sendiri sebenarnya tidak ada, hanya buat-buatan Densus 88 untuk mencari dana besar dari luar negeri.

Untuk kesekian kalinya di blog ini, saya mengajak kita semua untuk menjauhi logika ‘tabrir’ (menganggap kesalahan si A sebagai bukti dari ketidakbersalahan si B). Bukankah sangat mungkin, A dan B sama-sama salah?

Selain info soal kejanggalan operasi Densus, bukankah ada info lain yang mengindikasikan bahwa memang para ‘terduga’ teroris itu ada kaitannya dengan organisasi Islam transnasional? Coba perhatikan, sebuah group di facebook bernama “Khilafah Solusinya” memposting foto ini:

anak-anak pendukung teroris Ciputat (salah satu teroris itu ternyata punya paspor dan sedang bersiap ke Suriah)

“selamat jalan kafilah syuhada ciputat, kami akan meneruskan perjuanganmu”

(lebih…)

Penghancuran Situs Kuno: dari Suriah hingga Yogya

Dina Y. Sulaeman

Robert Fisk, jurnalis dari The Guardian secara rutin menyampaikan laporan perkembangan konflik Suriah. Akhir Desember yang lalu, ada yang menarik dalam laporannya. Pemberontak Suriah yang berafiliasi dengan Al Qaida (Jabhah Al Nusra) rupanya telah menghancurkan situs-situs bersejarah. Patung penyair Abu Tammam Habib ibn Aws di Daraa, diledakkan. Patung penyair al-Ma’arri, dipenggal kepalanya. Fisk berusaha menganalisis, mungkin karena syair-syair keduanya dianggap sesat oleh Al Nusra. Patung Harun Al Rasyid di Rakaa pun tak luput dari ‘pembantaian’ mereka, juga makam salah satu sahabat Rasulullah, Hujr ibn Adi di pinggiran Damaskus. Sebatang pohon tua berusia 150 tahun di kota Atmeh pun menjadi korban: ditebang habis. Seorang pemberontak mengatakan kepada wartawan Perancis bahwa pohon itu ditebang karena sudah jadi sesembahan warga. Inilah jihad mereka. Selain menggorok leher orang-orang ‘kafir’ Suriah, mereka pun membasmi patung, makam, dan pohon.

Lalu Fisk menulis, “Tetapi, bukankah ini cerita lama? Bukankah dulu Taliban juga menghancurkan patung Buddha di Bamiyan, sebagaimana rezim Saud membongkar bangunan-bangunan kuno di Mekah; seperti juga para ‘Islamis’ yang menghancurkan makam-makam di Pakistan? Belum lagi bila kita sebut penghancuran di Timbuktu.”

Sebentar. Timbuktu? Ada apa di Timbuktu?

(lebih…)

Tangan Israel di Suriah dan Mesir

(Diterjemahkan dan diberi ulasan oleh Dina Y. Sulaeman dari artikel Syria chemical mayhem: Another Israeli false-flag? karya Dr. Kevin Barret)

Pada hari Rabu, hanya beberapa jam setelah pembunuhan massal ratusan orang Suriah dengan senjata kimia,  Menteri Militer [karena tidak cocok diterjemahkan jadi ‘Menteri Pertahanan’, mereka tidak bertahan tapi menjajah] Israel, Moshe Yaalon, mengklaim bahwa dia tahu siapa pelaku pembunuhan missal itu: pemerintah Suriah.

Para pemimpin dunia lainnya, termasuk President AS, Barack Obama, tidak tergesa-gesa memberi penilaian. Mereka ‘hanya’ mengimbau PBB untuk menyelidiki. Banyak ahli, termasuk Frank Gardner dari BBC, mantan inspektur senjata PBB  Rolf Ekeus, dan ahli senjata kimia Swedia, Ake Sellstrom, menertawakan atau meragukan tuduhan bahwa Presiden Suriah, Assad, akan melancarkan serangan senjata kimia pada saat bersamaan dengan keberadaan para penyelidik PBB di Suriah. Sementara itu, Perdana Menteri Rusia, menyebut bahwa serangan senjata kimia itu sebagai ‘provokasi yang sudah direncanakan sebelumnya’

Tapi, Direncanakan Oleh Siapa?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu bertanya pula: bagaimana mungkin Israel langsung tahu siapa pelaku serangan senjata kimia itu?

Selama ini, para pemimpin Israel memang memiliki kemampuan yang ‘mengagumkan’ dalam urusan ‘meramal’. Kapan saja ada kejadian serangan teror besar yang mengubah sejarah, orang Israel langsung tahu, siapa pelakunya. Belum lagi asap mereda, mereka sudah berdiri dan mengatakan kepada dunia apa yang sedang terjadi dan menyediakan ‘naskah’ kepada dunia supaya bereaksi sebagaimana yang mereka inginkan.

Misalnya saja, dalam kasus terror di gedung WTC (peristiwa 9-11). Jurnalis Christopher Bollyn mengatakan, “Hanya dalam hitungan menit setelah pesawat menabrak gedung WTC pada 9/11, Ehud Barak (pendiri dan pemimpin satuan operasi militer rahasia Israel, the Sayeret Matkal) berada di London, di studio BBC, siap menyediakan penjelasan yang ‘masuk akal’ (dan politis) kepada dunia. Barak, yang sebenarnya merupakan arsitek 9/11, justru orang pertama yang menyebutkan ‘Perang Melawan Terorisme’ dan seruan intervensi AS di Afghanistan Timur Tengah.”

(lebih…)

Please Don’t Be a Muslim

Dina Y. Sulaeman

Menyusul tragedi pengeboman di Boston, situs Washington Post memuat artikel berjudul “Please Don’t Be a Muslim” (semoga jangan orang Islam).  Ya, saat mendengar berita pengeboman di Boston, agaknya, hampir semua orang, termasuk kaum muslim, secara refleks teringat pada Al Qaida atau sejenisnya. Menurut artikel tersebut, meski tragedi Boston masih belum diselidiki, di twitter sudah bertebaran pesan singkat, Please don’t be a ‘Muslim.’ Semoga jangan muslim pelakunya. Ungkapan belasungkawa juga segera dilakukan kaum muslim berbagai negara melalui media sosial. Seolah mereka semua sedang diposisikan sebagai tertuduh dan cepat-cepat berusaha menunjukkan bahwa mereka tidak setuju dengan aksi pengeboman itu. Menyedihkan, sejak tragedi  9 September 2001 (penghancuran gedung WTC), terorisme menjadi identik dengan muslim.

Segera setelah  9/11, Bush menggandeng DK PBB, NATO, dan EU dan berhasil menggalang 33 negara untuk bergabung dalam pasukan koalisi War on Terrorism (WoT)  yang langsung dipimpin AS sendiri. Pada Oktober 2001, WoT mulai dilancarkan di Afghanistan dengan misi menumbangkan Taliban dan menangkap pimpinan Al Qaida, Osama bin Laden, tertuduh utama pelaku 9/11. Selanjutnya, pada 2002, pasukan khusus AS bekerjasama dengan militer Philipina dengan misi mengusir kelompok Abu Sayyaf dan Jamaah Islamiyah dari Pulau Basilan. Tahun yang sama, perang juga dilancarkan ke beberapa kawasan muslim Afrika yang juga dituduh menjadi basis teroris. Tahun 2003, perang kembali diluncurkan ke Irak dengan misi menggulingkan Saddam Husein atas tuduhan menyimpan senjata pembunuh massal yang mengancam keamanan dunia. Selain perang fisik, AS juga menggalang dukungan internasional untuk bersama-sama melancarkan WoT di wilayah masing-masing, termasuk di Indonesia.

Sebelum dilanjutkan, mari kita lihat dulu, apa definisi terorisme. Kaplan (1981) mengatakan bahwa terorisme dimaksudkan untuk menciptakan situasi pikiran yang sangat menakutkan (fearful state of mind). Lebih jauh lagi, situasi ketakutan ini tidaklah ditujukan kepada para korban teroris melainkan kepada audiens (khalayak) yang bisa jadi tidak ada hubungan dengan para korban. Hal senada juga diungkapkan Oots (1990, p.145) yang menulis bahwa terrorisme dimaksudkan untuk menciptakan “ketakutan yang ekstrim di tengah khalayak yang lebih besar daripada korban langsung.”

(lebih…)

Obama dan Hiperrealitas

Dina Y. Sulaeman*

Pilpres Amerika Serikat tahun ini terasa kurang seru. Sangat Amerika. Obama meraih kemenangan dengan mendulang suara kaum perempuan yang pro pada kebijakannya soal aborsi; kaum muda dan gay yang lebih merasa cocok dengan nilai-nilai liberal yang diusung Obama, atau kaum Hispanik yang merasa terlindungi oleh kebijakan pro-imigran Obama. Bahkan kaum sosialis pun mendukungnya, dengan alasan kebijakan ekonomi Obama lebih sosialis, dibandingkan Romney yang sangat pro-kapitalis.

Bandingkan dengan pemilu 2008 yang sangat gegap gempita. Slogan Change dan Yes We Can menggema ke seluruh penjuru dunia. Saat itu pilpres AS seolah menjadi pilpres bagi dunia. Demam Obama melanda warga dunia. Kemenangan Obama disambut meriah, mulai dari Beijing hingga Khartoum. Belasan juta orang saling berjejaring di internet, membangun sesuatu yang disebut the power of we, kekuatan kita bersama, demi mendukung Obama. Massa di akar rumput secara sukarela menggalang aksi-aksi pengumpulan dana untuk disumbangkan kepada Obama dan terkumpullah 1,6 juta dollar. Obama menjadi representasi mereka yang tertindas, kaum pariah, dan umat yang mendambakan perubahan. Obama tampil bak Messiah, Sang Juru Selamat.

(lebih…)

Perang Melawan Terorisme dan Politics of Fear

Dina Y. Sulaeman

(Makalah ini cukup panjang, 14 hlmn word, ditulis untuk perkuliahan “Keamanan Global’ yang diampu Prof. Yanyan M. Yani, PhD. Salah satu poin menarik yg saya temukan saat menulis makalah ini: meskipun Perang Melawan Terorisme konon diluncurkan AS demi melindungi rakyat AS (=Barat) dari terorisme Al Qaida, ternyata korban serangan Al Qaida mayoritasnya justru bukan orang AS (Barat), melainkan muslim sendiri. Sementara, korban terbesar dari Perang Melawan Terorisme juga muslim. Artinya, secara keseluruhan, muslim-lah korban terbesar dan pada saat yang sama, muslim pula yang disalahkan dan dianggap sebagai biang terorisme. Sayangnya, ada tabel dan gambar yang tidak  bisa dicopas ke blog ini. Yang minat bisa donwload versi PDF makalah ini di sini: Makalah Dina_global security_OK

Tragedi 9/11 dan Launching WoT

Hanya beberapa jam menyusul serangan terhadap Menara Kembar WTC pada 11 September 2001 (atau peristiwa 9/11) tersebut, pemerintahan Bush mengumumkan bahwa serangan itu dilakukan oleh jaringan teroris bernama Al Qaida. Menlu Colin Powell menyebut serangan 9/11 sebagai “aksi perang”. Pada malam harinya,  President George W. Bush berpidato provokatif, bahwa dia “tidak akan membedakan antara teroris yang melakukan aksi  terror 9/11 dan pemerintahan asing yang menjadi pangkalan dari jaringan teroris itu.”[1]  Sekitar sebulan kemudian, Oktober 2001, Perang Melawan Terorisme pun dimulai oleh Bush dan pasukannya (untuk selanjutnya, dipakai singkatan WoT, War on Terrorisme).

Reaksi keras Bush dan Menlu-nya diikuti oleh statemen-statemen pejabat dan politisi AS lainnya, dan tentu saja, oleh media-media mainstream AS yang kemudian ditayang ulang oleh media-media di seluruh dunia. New York Times, misalnya, secara provokatif menulis, “Ketika kita telah memastikan bases and camps para penyerang kita, kita harus menghancurleburkan mereka—meminimalisasi namun menerima kerusakan yang niscaya terjadi—dan bertindak terang-terangan maupun tersembunyi untuk mendestabilisasi negara-negara tempat berlindungnya para teroris.”[2]

WoT telah dilancarkan ketika penyelidikan 9/11 belum tuntas. Bahkan, Komisi Penyelidikan 9/11 baru dibentuk oleh Bush pada akhir tahun 2002 dan baru menyerahkan hasil penyelidikan mereka pada tahun 2004. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab oleh laporan Komisi  Penyelidikan 9/11 itu. Misalnya, bila Al Qaida benar-benar bersalah dalam teror 9/11, mengapa hingga kini tak ada sidang terbuka mengadili para tertuduh pelaku teror itu? AS menyatakan telah menahan dalang pengeboman menara WTC, Khalid Sheikh Mohammed. Lalu mengapa dia tidak segera diadili supaya dunia benar-benar mendapatkan bukti bahwa memang Al Qaida yang bersalah? Niels H. Harrit dan beberapa pakar sains dari AS dalam paper ilmiah yang dimuat di Jurnal Kimia Fisika melaporkan, ditemukan lapisan tipis debu bom super thermite di lokasi reruntuhan WTC.[3] Menurut para pakar konstruksi, menara setinggi WTC tidak akan hancur lebur hanya karena ditubruk sebuah pesawat, kecuali bila memang di dalam menara itu sudah dipasang bahan peledak dalam jumlah puluhan ton.[4] Perlu satu tim besar untuk menaruh puluhan ton bom di sana. Mengapa pemerintah AS, alih-alih mengirim 17.000 pasukan ke Afghanistan, tidak memfokuskan diri untuk menangkap tim itu?

(lebih…)

Drone, ‘Lebah Jantan’ Pembunuh Brutal

Dina Y. Sulaeman*

Dear Obama, ketika sebuah drone AS membunuh seorang anak di Yaman,

saya jamin, ayahnya akan berperang melawanmu.  Ini tidak ada urusannya dengan Al Qaeda.

(Haykal Bafana, Mei 2012)

 

Kalimat di atas adalah pesan twitter dari seorang pengacara di Yaman. Kalimat singkat itu mengandung makna yang dalam, menohok tepat pada frasa ‘Perang Melawan Terorisme’ yang dilancarkan oleh Bush, dan dilanjutkan oleh Obama. Terorisme yang mana? Siapa yang sesungguhnya teroris?

Drone, arti harfiahnya adalah ‘lebah jantan’ atau ‘dengung’.  Drone adalah istilah untuk Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau ‘kendaraan udara tanpa awak’. Drone bisa dipersenjatai, bisa juga tidak. Pada Oktober 2002, Pentagon untuk pertama kalinya mengakui bahwa mereka menggunakan drone yang dilengkapi misil untuk menyerang target yang mengancam patroli AS dan Inggris di Irak selatan. Awalnya, drone hanya digunakan sebagai pesawat mata-mata tanpa awak. Pada tahun 2002 itu, Jenderal Richard Myers, mengatakan, keuntungan menggunakan drone yang dipersenjatai dalam pertempuran adalah bahwa drone bisa tetap di udara untuk waktu yang lama dan kemudian segera merespon jika terlihat ada musuh. AS mengklaim bahwa pertempuran dengan menggunakan drone lebih efektif, karena korban lebih sedikit. Apalagi, perang dengan drone sangat ngirit bila dibanding mengirim puluhan ribu pasukan seperti perang konvensional. Tak heran bila akhir-akhir ini Obama berani mengajukan pemotongan anggaran militernya.

Tapi, benarkah korbannya lebih sedikit?

Para peneliti di New York University School of  Law dan Stanford University Law School pada bulan September 2012 telah merilis laporan hasil penelitian mereka dengan judul “Hidup di Bawah Drone: Mati, Luka, dan Trauma pada Masyarakat Sipil Pakistan Akibat Serangan Drone AS”.

(lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.143 pengikut lainnya.