Beranda » Studi Hubungan Internasional

Arsip Kategori: Studi Hubungan Internasional

Terbit: Jurnal The Global Review #5

Selalu ada orang-orang yang sanggup menangkap tanda, memperhatikan gejala, dan menyerap makna. Mengkaji perkembangan politik negara lain kadang bisa menjadi sarana untuk mengenali apa yang sesungguhnya sedang kita alami di negeri sendiri. Inilah yang mendorong the Global Review Quarterly edisi kelima kali ini, mengupas dan membedah perkembangan terkini di Ukraina.

Jurnal bisa didapatkan dengan memesan langsung ke (o21) 97008149 atau kontak via FB ke Ferdiansyah Ali.

Harga Rp35.000.

Global Review 5

Tumbangnya Presiden Ukraina yang pro Rusia Victor Yanukovich menyusul hasil voting parlemen Ukraina, bagi Presiden Rusia Vladimir Putin justru dia jadikan sebagai momentum untuk menghadapi secara langsung kekuatan adidaya yang berada di balik kejatuhan Yanukovich: Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Tanpa banyak pidato yang berbunga-bunga, Putin langsung menyusun langkah-langkah strategis dan taktis dengan memerintahkan penggerakan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina yang berada di dalam wilayah otonomi Krimea.

(Kutipan salah satu artikel karya Hendrajit dan M. Arief Pranoto)
Bermula dari istilah media Barat dalam rangka menggambarkan gerakan massa di negara-negara pecahan Uni Soviet dan Balkan dekade 2000-an ke atas. Revolusi Berwarna atau sering disebut “revolusi warna” kini semakin populer, karena sesungguhnya bukanlah suatu gejolak biasa namun merupakan setting politik praktis di berbagai belahan dunia mengatas-namakan gerakan rakyat. Uniq memang, sebutan bagi setiap gerakan selalu mengambil nama-nama serta mengadopsi warna bunga sebagai simbolnya.

Selain berciri tanpa kekerasan (nonviolent resistance), penting dicatat pada awal tulisan ini bahwa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) memiliki peranan teramat vital dalam gerakan ini. Dengan kata lain, LSM termasuk kelompok pemuda serta mahasiswa ialah ujung tombak bagi skenario ganti rezim di suatu negara.

Adapun tuntutan yang diusung dalam revolusi non kekerasan ini berkisar isue-isue global antara lain demokratisasi, hak azasi manusia (HAM), korupsi, kemiskinan, akuntabilitas dan lainnya. Ia punya pola-pola bersifat umum karena berpedoman buku wajib yang sama yakni “From Dictatorship To Democracy”-nya Gene Sharp, sarjana senior di Albert Einstein Institute (AEI). Dan seringkali lambang dan slogan gerakan massa pun sama pula. Sebagai contoh revolusi yang menerjang bekas negara Pakta Warsawa di Yugoslavia (2000), revolusi mawar di Georgia (2003), revolusi oranye di Ukraina (2004), revolusi tulip di Kyrgystan (2005), revolusi cedar di Lebanon (2005) dan lainnya, termasuk gejolak yang kini tengah melanda Jalur Sutra (Timur Tengah dan Afrika Utara) terdapat kemiripan logo “Tangan Mengepal”, dan slogan singkat yang artinya “CUKUP” sesuai bahasa negara-negara sasaran. Misalnya di Mesir bernama Kifaya (cukup), di Georgia disebut Kmara (cukup), di Ukraina namanya Pora (waktunya), di Kyrgystan berslogan Kelkel (zaman baru) dan seterusnya.

(Kutipan salah satu artikel karya M. Arief Pranoto)

Membaca berbagai berita tentang Ukraina, terasa bagai deja vu. Terlepas dari perbedaan besar isu penyebab konflik di kedua negara, kerusuhan di Ukraina terlihat jelas menggunakan template atau cetakan yang sama dengan Suriah. L’Ukraine est une autre Syrie. Ukraina adalah Suriah yang lain.

Kehadiran tokoh Yahudi-Prancis, Bernard Henri Levy, di depan lautan manusia yang memenuhi Maidan –singkatan dari Maidan Nezalezhnosti atau Lapangan Kemerdekaan—di Kiev, menjadi simbol utama kesamaan template itu. Levy dulu memprovokasi masyarakat Barat untuk ‘membantu’ rakyat Suriah menggulingkan Assad (bahkan sebelumnya, juga hadir di Libya, di depan para demonstran anti-Qaddafi). Kini di Kiev, dia berpidato berapi-api, menyeru rakyat Ukraina, “Les gens de Maidan, vous avez un rêve qui vous unit. Votre rêve est l’Europe!”(wahai orang-orang Maidan, kalian punya mimpi yang mempersatukan kalian. Mimpi kalian adalah Eropa!). Ya, Ukraina memang tengah diadu-domba dengan menggunakan isu Uni Eropa.

(Kutipan salah satu artikel karya Dina Y. Sulaeman)

Aplikasi Teori Speech-Act untuk Eramuslim.com

eramuslimAda rubrik menarik di LiputanIslam.com, situs yang kelihatan baru muncul sebulan yang lalu, yaitu rubrik Tabayun. Saya salut sekali pada kejelian penulis rubrik ini, juga kegigihan mencari ‘sumber asli’ sebuah berita.

Nah, salah satu artikelnya yang berjudul ‘Eramuslim Menyensor Berita Kontradiksi dari Al Arabiya’ menarik dibahas dengan mengaplikasikan salah satu teori dalam studi HI, speech act.

Entah disadari atau tidak oleh penulisnya, dia sedang mengaplikasikan teori speech-act (tentu saja, tidak detil, tapi ‘spirit’-nya). Teori speech act banyak dipakai untuk menganalisis isu security dan sekuritisasi. Mengapa sebuah kondisi dinyatakan tidak aman? Mengapa Bush menyebut war of terror sebagai ‘perang salib’? Mengapa Obama mengatakan bahwa AS dan Israel memiliki kesamaan kepentingan; apapun yang mengancam keamanan Israel artinya mengancam kepentingan AS? Nah, semua terkait dengan ‘pernyataan’ kan? Pernyataan-pernyataan seperti ini ketika disebarluaskan akan memunculkan kondisi ‘aman’ atau sebaliknya, ‘tidak aman’; pernyataan akan memunculkan perang, atau sebaliknya mendamaikan.

Masalahnya, pernyataan siapa yang bernilai ‘sekuritisasi’ itu? Pernyataan seseorang ‘entah siapa’ (seperti yang dikutip Eramuslim.com), atau pernyataan elit?

(lebih…)

Terbit: Jurnal The Global Review #4

jurnal gfi-

The Global Review, The Journal of International Studies edisi 4, kini telah terbit dan bisa didapat dengan memesan langsung ke (o21)97008149. Harga Rp35.000.

Jurnal ini terbit setiap tiga bulan sekali, diterbitkan oleh Global Future Institute.

Tema utama yang diangkat jurnal edisi 4 ini adalah: Australia, Perang Asimetris, dan Asia Spring.

Selamat menikmati analisis kritis dan komprehensif dari para analis GFI :)

Iran dan Opera Bouffe (Purkon Hidayat)

Ini tulisan bagus, terutama buat beberapa mahasiswa yang mengontak saya, yang minta saran dalam penulisan untuk skripsi/tesis soal Iran. Intinya, gunakan paradigma yang integral saat menganalisis Iran.

 

Iran dan Opera Bouffe

Oleh: Purkon Hidayat

Lebih dari seabad lalu, Morgan Shuster pernah berseloroh menyebut politik Iran seperti Opera Bouffe. Sebuah opera dengan para pemain yang gonta-ganti kostum begitu cepat dan tidak mudah ditebak. Bagi saya banker Amerika itu tidak sedang bercanda. Ia serius di tengah kebingungannya menganalisis Iran. Itu bukan hanya menimpa Shuster. Betapa banyak para analis dan politikus kecele.

Mungkin, Jimmy Carter perlu ditanya sekedar mengingatkan tentang prediksinya yang meleset mengenai Iran. Lebih dari tiga dekade silam, ketika kedutaan AS di Tehran diduduki para mahasiswa, sang Presiden Paman Sam itu pernah sesumbar, “Tehran akan kita kuasai dalam hitungan jam.” Dan Pentagon pun mengirimkan pasukan elit militer terbaiknya dari kapal induk yang diparkir di salah satu negara Arab.

Operasi militer dengan sandi Eagle Claw ini menggunakan Hercules C-130, jenis pesawat tercanggih kala itu. Tapi, tim militer yang dibanggakan tersebut luluh lantak dihantam badai di Tabas, Iran Tengah. Sisanya, melarikan diri tunggang langgang. Misi Gedung Putih gagal, Carter pucat pasi. Amerika merana dipermalukan sebuah negara kecil yang baru saja mendeklarasikan sistem kenegaraan barunya.

Gagal menjalankan operasi militernya sendirian, Washington tidak kehilangan akal. Diktator Irak Saddam Hussein diprovokasi untuk menginvasi Iran. AS pun memasok kebutuhan militer pemimpin rezim Baath Irak itu. Tapi prediksi Barat kembali meleset. Alih-alih bertekuk lutut dan menyerah, Iran dengan bendera barunya “Republik Islam” yang baru seumur jagung justru memberikan perlawanan telak terhadap rezim Saddam Irak yang dibantu negara-negara Barat dan Arab.

(lebih…)

Suriah dan Hari Toleransi Internasional

Menulis tentang Suriah, seperti menjadi sebuah titik balik buat saya. Awalnya saya tidak menyadari sensitivitas masalah Suriah. Saya menulis analisis apa adanya, sebagaimana juga saya menulis analisis tentang konflik di negeri-negeri lain di Timur Tengah. Hingga tiba-tiba masuk inbox-inbox  di FB dan email-email yang mengata-ngatai saya Syiah, bukan Islam, kafir, ‘percuma berkerudung kalau membela Assad’, saya baru menyadari ada sesuatu yang ‘besar’ dalam konflik Suriah ini. Semakin lama, keanehan semakin muncul: mengapa orang-orang yang selama ini membela Palestina malah berbalik badan dan mendukung penggulingan rezim Assad, yang selama ini justru memberikan pelayanan terbaik di Timteng (menurut UNHCR) kepada para pengungsi Palestina?

Padahal, tesis yang saya bangun sejak awal menulis tentang Suriah adalah bahwa ada Israel dan AS di balik konflik Suriah dan fakta ini semakin hari, semakin terang-benderang. Namun tetap saja banyak orang tak mampu menangkap fakta itu. Sebagian rakyat awam tak mampu menangkap fakta, karena akses informasi yang terbatas. Ketika para ustadz dengan fasih berorasi di masjid-masjid, berkisah tentang ‘kekejaman kaum Syiah membantai kaum Sunni Suriah’, itulah yang mereka percayai. Tapi, sebagian orang tidak mau menangkap fakta, bukan tidak mampu. Misalnya saja, para facebooker dan mereka yang familiar dengan internet.

Seharusnya mereka lebih bisa meneliti, betapa luar biasanya distorsi informasi yang dilakukan media internasional, termasuk media-media berlabel Islam. Perang di Suriah bukan perang Sunni-Syiah. Tapi ada pasukan asing datang dari berbagai negara ke Suriah, bekerjasama dengan segelintir warga Suriah, untuk menggulingkan rezim Assad. Alasan yang mereka kemukakan dalam memerangi Assad adalah karena Assad adalah Syiah. Padahal, tentara Suriah mayoritasnya Sunni; mayoritas warga Suriah pun Sunni. Bom tidak memiliki mata: sehingga yang tewas akibat bom-bom yang diledakkan para pemberontak tentu saja mayoritasnya Sunni.

Ini bukan tentang mazhab. Ini tentang uang dan kekuasaan. Tentu panjang sekali kalau saya jelaskan lagi. Silahkan saja baca di blog ini, di kategori ‘Syria‘, atau yang lebih terstruktur, di buku Prahara Suriah.

Dan karena isunya mazhab, maka konflik Suriah pun dibawa-bawa hingga ke Indonesia. Mereka menggalang dana dengan membangkitkan kebencian. Seharusnya, mereka yang familiar dengan internet meluangkan waktu sedikit untuk mendeteksi foto-foto palsu yang digunakan oleh lembaga-lembaga yang menggalang dana itu.

Salah satunya foto ini:

 Capture3

Syria Care salah satu lembaga yang gencar menyebarluaskan sentimen kebencian terhadap Syiah di Indonesia-Malaysia, dengan memanfaatkan konflik Suriah, dan ujung-ujungnya menggalang dana.

(lebih…)

Disertasi tentang Hipokritas Humanitarian Intervention

Dina Y. Sulaeman*

Humanitarian intervention (intervensi kemanusiaan, untuk selanjutnya dalam tulisan ini disingkat HI) bisa didefinisikan sebagai penggunaan kekuatan militer lintas nasional untuk menghentikan atau mencegah penderitaan manusia dalam skala besar (Bakry, 2013). HI dilakukan NATO di Libya pada tahun 2011 dengan alasan bahwa saat itu telah terjadi pembunuhan massal rakyat sipil oleh rezim Qaddafi. PBB  menyetujui HI dengan tujuan mencegah pembantaian yang lebih besar lagi. Serangan militer NATO terhadap Libya ini disebut ‘intervensi kemanusiaan’, sebuah frasa yang terdengar positif dan bertujuan baik.

Namun, benarkah demikian adanya? Dalam disertasi yang disusun oleh Umar Suryadi Bakry, kita bisa mendapatkan jawabannya secara ilmiah. Bakry adalah Doktor  Hubungan Internasional lulusan universitas dalam negeri pertama di Indonesia (Universitas Padjadjaran), yang lulus dengan yudisium cumlaude pada tanggal 27 September 2013. Dalam disertasinya yang berjudul Intervensi Kemanusiaan NATO di Libya: Perspektif Konstruktivis, Bakry menjelaskan bahwa pada dasarnya, HI memiliki itikad baik untuk melindungi umat manusia dari pelanggaran HAM berat yang dilakukan pemerintah suatu negara. HI dianggap sah bila memenuhi empat kriteria berikut ini:

  1. Just cause:  intervensi militer boleh dilakukan bila negara sasaran perang itu benar-benar dalam kondisi bencana kemanusiaan; bila ada realitas ‘kehilangan jiwa dalam skala besar’ atau ‘pembersihan etnis dalam skala besar’.
  2. Just intention: intervensi militer harus dilakukan dengan tujuan yang benar, yaitu untuk menghentikan penderitaan manusia.
  3. Just authority: keputusan intervensi militer harus diambil oleh otoritas yang paling berhak (yaitu PBB)
  4. Last resort: intervensi militer hanya boleh dilakukan ‘jika dan hanya jika’ semua upaya damai lain sudah dilakukan dan tidak menemui hasil.

Hasil penelitian Bakry menemukan bahwa dari keempat kriteria itu, hanya criteria just authority yang terpenuhi dalam operasi HI di Libya (yaitu bahwa keputusan intervensi memang diambil oleh Dewan Keamanan PBB). Untuk just cause, sama sekali belum ada data akurat yang menyebutkan berapa jumlah korban kekejaman Qaddafi. Untuk just intention, penelitian Bakry menemukan bahwa motif utama para negara-negara pendukung perang Libya sesungguhnya bukanlah untuk menyelamatkan rakyat Libya, melainkan untuk menggulingkan Qaddafi. Sementara itu kriteria last resort juga tidak terpenuhi, mengingat sangat pendeknya jarak antara fenomena ‘krisis kemanusiaan’ di Libya dengan pengambilan keputusan intervensi militer oleh DK PBB. Ini menunjukkan bahwa komunitas internasional sebenarnya belum melakukan upaya damai yang cukup sebelum memutuskan menyerbu Libya.

(lebih…)

Sejarah Kebohongan Perang AS

Perang Suriah sudah di ambang pintu. Alasan yang dipakai: rezim Assad telah menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya. Untuk itu, dunia internasional harus menyerang Suriah demi menghentikan kejahatan Assad.

 Jika Presiden Obama tidak berbohong dalam hal ini, maka ini akan menjadi perkecualian yang langka dalam sejarah perang para Presiden Amerika Serikat. Karena, ketidakjujuran kepada rakyat AS tentang alasan perang di luar negeri sudah menjadi tradisi di Gedung Putih selama seabad terakhir ini. Berikut ini catatan kebohongan yang telah berkontribusi signifikan atas terjadinya pertumpahan darah besar dan kehancuran di berbagai negara.

1.      Woodrow Wilson: Tenggelamnya Kapal Lusitania- Perang Dunia I, 1917-1918

“Ini adalah perang melawan semua bangsa. Nyawa warga Amerika direnggut, kita perlu menyelidikinya; warga negara-negara lain yang netral juga telah direnggut dengan cara yang sama. Tidak ada diskriminasi. Ini adalah kejahatan melawan seluruh umat manusia. Setiap negara harus memutuskan sendiri bagaimana menghadapi kejahatan ini. Pilihan yang tepat untuk bangsa kita harus cocok dengan karakter dan tujuan kita sebagai bangsa. Kita harus mengenyampingkan perasaan dendam. Motif kita [untuk berperang] bukanlah balas dendam atau unjuk kekuatan fisik bangsa ini, melainkan pembelaan atas hak asasi manusia, dan kitalah satu-satunya pemenang.” (April 2, 1917)

Catatan: Pada 7 Mei 1915, kapal Lusitania milik Inggris tenggelam di lepas pantai Irlandia dan menewaskan 1,200 penumpang dari berbagai negara, termasuk AS. Konon, kapal itu tenggelam karena serangan torpedo tunggal kapal selam Jerman. Tenggelamnya kapal ini menjadi alasan bagi AS untuk terjun dalam PD I dan pasukan Sekutu pun meraih kemenangan. Namun, kecurigaan muncul: mengapa kapal itu tenggelam dengan sangat cepat  ke bawah permukaan laut? Hal ini hampir tak mungkin terjadi bila kapal sekedar ditembak torpedo tunggal. Kemungkinannya, kapal sipil itu membawa amunisi illegal dan terjadi ledakan besar akibat ditembak tornado. Menggunakan kapal sipil untuk membawa amunisi dan instrumen perang lainnya adalah melanggar perjanjian internasional.

foto presiden (lebih…)

Reposisi Kebijakan Politik Luar Negeri RI di Kawasan Timur Tengah

Copas dari situs resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia:

ImageHandler.ashxDirektorat Timur Tengah, Kemlu RI bekerja sama dengan Museum KAA menggelar selama sehari penuh acara Focus Group Discussion: “Reposisi Kebijakan Politik Luar Negeri (polugri) RI di Kawasan Timur Tengah” di Museum KAA pada hari Rabu, 28/08/2013, Pkl. 09.00-16.00WIB.

Diskusi, yang dimoderatori Teuku Rezasyah (Direktur Pusat Demokrasi, Diplomasi, dan Pertahanan Indonesia), menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Febrian A. Ruddyard (Direktur Timur Tengah) Broto Wardoyo (Dosen Kajian Timur Tengah, UI), Kusnanto Anggoro (Dosen Pasca Sarjana, UI), dan Dina Y. Sulaeman (Pakar Kajian Timur Tengah).

Dalam kata sambutannya, Febrian A. Ruddyard (Direktur Timur Tengah) menyampaikan bahwa diskusi bertujuan sebagai public consultation guna menyerap feedback dari masyarakat terhadap kebijakan polugri di Kawasan Timur Tengah.

Selain itu, ia menjelaskan sengaja memilih Museum KAA sebagai tempat diskusi karena peran Semangat Bandung yang lahir pada peristiwa KAA 1955 adalah ikon Diplomasi Perjuangan Indonesia.

“Monopoli interpretasi terhadap polugri dianggap sudah usang. Aspirasi dan perhatian publik pada isu-isu internasional di sosial media terbukti efektif membentuk opini publik”, kata Febrian.

Febrian juga menegaskan pentingnya mengedepankan konsep inklusifitas publik untuk menjaring feedback yang solutif terutama dalam merespon isu Timur Tengah.

“Selama ini Timur Tengah adalah selalu menjadi isu paling sensitif bagi publik di Indonesia dibandingkan kawasan-kawasan lain di dunia,” tutupnya.

Dalam sesi diskusi, berbagai analisa dan konsep reposisi kebijakan polugri yang dipaparkan para narasumber diarahkan kepada empat pilar pemutakhiran kebijakan Politik Luar Negeri RI di Kawasan Timur Tengah.

Keempat pilar dimaksud adalah kawasan Timur Tengah yang damai, sejahtera, dan demokratis berdasarkan nilai-nilai demokrasi atas kehendak rakyat serta bebas nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya.

Menanggapi itu, Broto Wardoyo menyoroti beberapa hal terkait memanasnya situasi di Timur Tengah, di antaranya demokrasi di Timur Tengah pasca era Perang Dingin, isu terorisme, peningkatan kelas menengah baru, dan transisi politik.

Senada dengan Broto, Kusnanto Anggoro memandang perlunya kehadiran sinergisitas lintas aktor dalam melakukan reposisi kebijakan polugri untuk Kawasan Timur Tengah.

Sudut pandang sosial media muncul dalam presentasi Dina Y. Sulaeman. Maraknya rekayasa informasi di dunia maya dalam kasus Timur Tengah menjadi sorotan utama Dina.

“Ini tentu saja berdampak kurang baik terhadap pembentukan opini publik, terutama pada kebijakan polugri RI di Kawasan Timur Tengah”, kata Dina.

Seakan mempertegas rekomendasi Kusnanto Anggoro, Dina mendorong peningkatan aktifitas sosialisasi kebijakan polugri RI terhadap Kawasan Timur Tengah.

“Sosialisasi perlu dilakukan hingga ke tingkat bawah. Ini penting guna membangun persepsi yang benar tentang konflik Timteng di tengah masyarakat,” tambah Dina.

Diskusi ini juga sukses menjaring aspirasi dari berbagai unsur pemerintah dan elemen masyarakat yang turut hadir dalam diskusi itu.

Di penghujung diskusi, sebuah rekomendasi hasil serapan aspirasi peserta disampaikan oleh Teuku Rezasyah kepada Direktur Timur Tengah.

“Diharapkan rekomendasi ini bermanfaat guna mereposisi kebijakan polugri RI di Kawasan Timur Tengah” tutup Reza. (Sumber : Dit. Infomed/sppnkaa/dsa)

—-

Catatan/refleksi (bukan notulensi) yang saya tulis setelah mengikuti diskusi ini, bisa baca di sini.

Argumentum ad Hominem (Dina Sulaeman)

Sejak saya menulis soal Suriah, banyak sekali  ‘serangan’ verbal yang saya dapatkan. Isu Suriah memang unik, jauh beda dengan isu Palestina, padahal sebenarnya musuh yang dihadapi sama: Israel. Khusus Suriah, siapa saja yang mengkritik kelompok pemberontak, sering dituduh Syiah, tanpa peduli pada argumen yang diberikannya. Padahal, betapa banyak bukti menunjukkan bahwa yang anti-pemberontak pun banyak dari kalangan Sunni. Misalnya Mufti Besar Suriah, Syekh Ahmad Hassoun (anaknya tewas dibunuh gara-gara itu), Syekh Ramadan Al Buthy (beliau gugur syahid dibom, gara-gara itu), dan Syekh Seifeddin, ulama Aleppo (beliau juga syahid, dan jasadnya dimutilasi, kepalanya dipenggal dan ditaruh di menara masjid).

Nah, Dr. Joserizal dari MER-C menolak mengirimkan timnya ke Suriah karena alasan keamanan (kan sudah ada fatwa dari Yusuf Qaradhawi, siapa saja yang tidak mendukung pemberontak, baik itu ulama sekalipun, harus dibunuh). Masa’ dokter musti milih-milih korban yang akan ditolong? Kalau ternyata korbannya dari pihak pemerintah, apa nanti dokternya juga halal dibunuh? Penolakan Dr. Jose juga berakibat dia dituduh Syiah.

(Dan ternyata, seperti yang ditulis pak Nasihin Masha di Republika, fenomena ini banyak dialami pihak-pihak lain juga. Bisa baca di sini: Indonesia dan Fitnah Suriah.)

Saya pun menulis status di FB mengomentari hal ini. Akibatnya, dua hari kemudian, giliran saya yang ‘diserang’. Nama saya ditaruh di urutan kedua list tokoh Syiah Indonesia dan semua nama yang ditaruh di list itu diposisikan sebagai orang jahat yang perlu diwaspadai. Ini adalah fitnah yang benar-benar ngawur.

Lalu tiba-tiba, baru-baru ini, status saya di FB itu, dipakai orang untuk menulis sesuatu hal yang ‘aneh’ di Eramuslim.com. Kenapa aneh…? Karena, status saya itu menggunakan kaidah logika (mantiq) klasik bernama ‘argumentum ad hominem’, tapi malah ujung-ujungnya dipakai untuk ber-ad hominem.

Buat yang pengen tau isi status saya tersebut yang ‘asli’-nya (yang dipakai oleh tulisan di Eramuslim.com itu), berikut saya posting ulang. Mari kita budayakan berpikir ilmiah, cerdas, dan jernih. Seperti kata Syekh Syaltut, “Fanatik kepada afiliasi politik dapat merusak cara berpikir ilmiah.”

(lebih…)

Review “A Note From Tehran”

Catatan buat penstudi HI: ini bisa masuk ke pembahasan tentang ‘diplomasi budaya’

Review A Note From Tehran

Dina Y. Sulaeman

Tepat setahun yang lalu, saya berada di Tehran. Sebelumnya, sejak 1999-2007 saya pernah tinggal di Iran. Awalnya untuk kuliah S2 karena saya mendapat beasiswa di Tehran University, jurusan Hukum Islam. Baru kuliah satu semester, saya mendapati bahwa memang bidang tersebut sama sekali tidak saya minati. Seiring dengan itu, saya kerepotan mengurus bayi (kalau pakai istilah seorang pakar parenting, waktu itu saya mengalami sindrom gajatu ‘gagap jadi ortu’). Kuliah pun saya tinggalkan dan saya fokus mengurus anak. Ketika anak saya telah usia dua tahun, saya bekerja sebagai jurnalis di IRIB, dengan memanfaatkan kemampuan bahasa Indonesia, Inggris, dan Persia saya. Lumayan, bisa menabung Dollar. Seiring dengan semua itu pula, saya aktif menjadi blogger dan mencatat warna-warni kehidupan saya selama di Iran di blog saya. Catatan itu akhirnya menjadi buku dengan judul Pelangi di Persia (lalu terbit ulang dengan judul Journey to Iran).

Kembali lagi ke Tehran setelah lima tahun berlalu, tentu saja memberi banyak kesan baru. Apalagi, bila dulu status saya TKW (tenaga kerja wanita, meski agak mentereng karena kerjanya di kantor), kali ini saya datang sebagai intelektual muslimah yang diundang hadir dalam Konferensi “Perempuan dan Kebangkitan Islam”. Saya bersama 16 perempuan Indonesia lainnya (intelektual, jurnalis, aktivis) lolos seleksi setelah mengirimkan paper yang terkait dengan tema kebangkitan Islam. Kali ini, saya (kami) dilayani dengan fasilitas VIP dan menginap di hotel bintang lima, dikawal ketat ala tamu negara, dan diajak jalan-jalan ke berbagai kota dengan pesawat carteran.

Memang judulnya adalah Konferensi Islam, tetapi, dari sudut pandang HI, bagi saya ini adalah sebuah investasi besar di bidang diplomasi budaya, yang dilakukan Iran. Bayangkan saja, ada 1000 perempuan dari 85 negara yang diundang hadir, sebagian besar dari mereka bermahzab Sunni, selain bertemu langsung dengan intelektual perempuan Iran, menyaksikan langsung kiprah perempuan Iran, juga diajak jalan-jalan ke berbagai kota di Iran. Pengalaman empiris seperti itu tak pelak akan menimbulkan semacam ‘prejudice breaking’ (memecah prasangka) bagi mereka yang selama ini hanya ‘mendengar’ tentang Iran (dan yang didengar biasanya lebih banyak yang negatifnya).

Mungkin ada yang mengatakan, tentu saja yang ‘keliatan’ oleh peserta adalah yang bagus-bagusnya saja. Namun, sebagian dari kami para peserta Indonesia sebenarnya juga melihat yang buruk-buruknya, misalnya, koordinasi panitia yang keliatan kurang rapi, atau, acara konferensi yang terlalu Arab (yang diutamakan untuk bicara di mimbar orang-orang dari negara Arab melulu, untung akhirnya setelah memaksa, delegasi Indonesia bisa bicara di mimbar dan mendapat tepukan meriah karena presentasi yang sangat bagus, jauh beda dengan delegasi Arab yang kebanyakan isinya membosankan). Namun, cerita-cerita soal Quran yang beda, sholatnya menyembah Ali bukan Allah, perempuan yang ditindas, orang Sunni yang dibunuhi, dll, tidak kami temukan.

Perempuan Indonesia, di manapun, memang hobi belanja. Sebenarnya kami dilarang bepergian sendiri tanpa dikawal. Karena belanja itu penting buat ibu-ibu, akhirnya panitia membentuk beberapa kelompok shopping. Beberapa ibu Indonesia, termasuk saya, shopping dengan dikawal dua bodyguard ganteng yang tidak sabaran (pengennya belanja cepet-cepet dan segera pulang ke hotel).

(lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.122 pengikut lainnya.