Beranda » Studi Hubungan Internasional

Category Archives: Studi Hubungan Internasional

Membantu Palestina Tanpa Pencitraan

palestine-oppressionIni saran untuk Presiden baru Indonesia, kalau benar-benar ingin membela Palestina, begini caranya… (dimuat di Sindo Weekly Magazine, 17 Juli 2014).

Membantu Palestina Tanpa Pencitraan

Dina Y. Sulaeman

(penulis, penstudi Hubungan Internasional)

Masyarakat Indonesia kembali dilanda histeria duka lara menyaksikan di layar kaca, warga Gaza bergelimpangan akibat serangan rudal dan bom Israel. Seruan penggalangan dana kembali dilakukan. Para capres pun berlomba memberikan pernyataan akan menyumbang uang bermilyar-milyar. Umpatan dan caci maki terhadap ‘Zionis la’natullah’ menggema di facebook atau twitter. Seolah dengan semua ini, rasa bersalah karena membiarkan Palestina dijajah selama 66 tahun (sejak 1948) sedikit terobati.

Tapi, bukankah bahkan PBB pun tak berdaya menghentikan sepak terjang Israel? Paul Findley dalam bukunya “Deliberate Deceptions: Facing the Facts About US-Israeli Relationship” (1995) menyebutkan bahwa Israel melalui kolusinya dengan pemerintah AS telah berhasil mencegah PBB mengambil langkah konkret penyelesaian konflik. Lebih dari 65 resolusi kecaman kepada Israel dirilis Dewan Keamanan PBB atas berbagai serangannya ke Gaza, Tepi Barat, Jordan, Lebanon, dan Tunisia.

Mari kita baca salah satu isinya. Resolusi 1860/8 Januari 2009 yang dirilis menyusul serangan ‘Operasi Menuang Timah’ Israel ke Gaza, penuh dengan kalimat-kalimat normatif: menyatakan keprihatinan mendalam atas kekerasan yang terjadi, menyatakan keprihatinan mendalam atas memburuknya krisis kemanusiaan di Gaza, menyerukan gencatan senjata sesegera mungkin, dan mengutuk semua kekerasan terhadap warga sipil dan semua aksi terorisme.

Adakah efek dari resolusi seperti ini? Tidak.

(lebih…)

Say No to ISIS, ISIS Bukan Sunni

Sejak awal, saya mendedikasikan blog ini untuk Kajian Timur Tengah dari perspektif studi politik internasional (bukan studi agama). Bahkan saat membahas Palestina pun, selama ini saya menggunakan argumen-argumen politik, bukan agama. Tapi, sejak konflik Suriah, agama/mazhab sangat dominan diposisikan sebagai akar masalah (pivotal factor). Kalau saya, lebih setuju melihat agama trigger/pemicu, bukan akar; akarnya adalah ekonomi. Rumusnya: follow the money, lihat siapa yang meraup keuntungan terbesar dari konflik. Selengkapnya aplikasi teori resolusi konflik untuk Suriah baca di sini:http://dinasulaeman.wordpress.com/2013/03/23/resolusi-konflik-syria/)

Kini, seiring merebaknya teror mengerikan yang dilakukan ISIS/ISIL di Irak, media-media mainstream dan media-media nasional (apalagi media Islam-takfiri), kembali terjebak (atau sengaja) memetakan konflik ini sebagai Sunni vs Syiah. Mereka menyebut ISIS/ISIL sebagai militan Sunni yang sedang melawan Syiah. Benarkah? Mau tak mau, para penstudi HI perlu mengetahui ‘pemetaan mazhab’ ini, supaya tidak salah kaprah saat menganalisis.

Berikut saya posting ulang tulisan lama saya. Yang jelas, saya yakin, setiap Sunni sejati (bukan takfiri), pasti menolak bila militan sesadis para pembantai ini dikatakan sebagai ‘pejuang Sunni':

notorious isis-2notorious isis-3

 

Sunni = Takfiri?

Dina Y. Sulaeman*
Mau tak mau, ada beberapa istilah yang sepertinya harus kita pahami bersama saat menganalisis atau membaca analisis tentang konflik Timur Tengah. Beberapa istilah yang sering muncul dalam membahas konflik Suriah adalah takfiri dan wahabi. Era Muslim baru-baru ini dalam sebuah artikel yang mengutip pidato Sayyid Hassan Nasrallah, membuat judul yang provokatif : Hasan Nasrallah : Kami Tidak akan Biarkan Suriah Jatuh Ke ‘Takfiri’ (Muslim Sunni).

Eits, sebentar, judul ini cukup mengganggu pikiran saya. Takfiri adalah perilaku mengkafir-kafirkan sesama muslim dan melakukan kekerasan terhadap orang yang mereka anggap kafir. Apakah benar takfiri itu adalah muslim Sunni? Saya tanya kepada Anda semua yang mengaku Sunni, apakah Anda menyukai perilaku demikian? Apakah Anda menyukai perilaku main serang ke sebuah lembaga atau sebuah kampung hanya dengan alasan lembaga itu kafir atau penduduk kampung itu kafir (muslim tapi karena dinilai ‘sesat’, jadi dikategorikan kafir)? Atau apa Anda setuju dengan perilaku pemberontak Suriah yang makan jantung mayat atau memutilasi mayat sambil berteriak takbir? Saya yakin, jawaban sebagian besar dari kita semua adalah TIDAK.

Baru-baru ini ada kejadian yang menurut saya membuktikan bahwa kaum takfiri itu beda dengan Sunni. Kejadian ini berlangsung di kantor Grand Shaikh Al-Azhar Kairo Mesir (Masyikhah). Wah, para syekh Al Azhar ini kurang Sunni apa? Mereka kan benar-benar Sunni tulen, sudah tingkat ulama ‘Grand” pula? Tapi, kantor mereka digeruduk oleh para demonstran dari kalangan ‘Islam radikal’ (ini istilah yang dipakai dalam berita ini. Tapi, di berita itu disebutkan pula bahwa mereka meneriakkan yel-yel dan cacian terhadap instansi Al-Azhar, Grand Shaikh Al-Azhar Prof. DR. Ahmad Thayeb, dan seluruh pegawai Al-Azhar. Mereka menyatakan bahwa Al-Azhar adalah instansi kafir. So tak salah lagi, inilah kaum takfiri itu. Bahwa para penentang ulama Al Azhar adalah kaum takfiri, bisa dibaca juga dalam pernyataan seorang Syekh Al Azhar, Dr. Ahmad Karimah di sini.

Saya pun bertanya kepada Bapak Agus Nizami, blogger http://www.kabarislam.wordpress.com dan owner web http://www.media-islam.or.id yang aktif memberikan analisis konflik Timur Tengah dengan menggunakan landasan teks agama.  Berikut kutipan diskusi kami.

(lebih…)

Gilad Atzmon: Irak, AS, dan Lobi Yahudi

israel lobbyGilad Atzmon, penulis Yahudi yang selama ini gigih mengkritik Israel dan membela Palestina dan menyatakan “Kita semua ini adalah bangsa Palestina dan kita memiliki satu musuh yang sama. [yaitu Israel]”, memberi tahu kita bahwa kekacauan di Timur Tengah, termasuk perang Irak dan Suriah, adalah agenda Yahudi-Zionis. Ironisnya, justru sebagian kaum muslimin (termasuk media-medianya) mengira dan mempropagandakan bahwa konflik di Suriah dan Irak adalah lahan ‘jihad’. Mengapa mereka tak mengerahkan jihad itu ke Israel? Afalaa ta’qiluun (tidakkah kalian berpikir?)

Berikut ini terjemahan lepas saya atas artikel Gilad Atzmon.

Irak, AS, dan Lobi Yahudi

Menarik diperhatikan, betapa media-media arus utama mengerahkan energi dan upayanya untuk mengalihkan perhatian publik dari fakta penting: bahwa kekacauan di Irak saat ini adalah akibat langsung dari dominasi politik Yahudi di Barat selama dua dekade terakhir.

Ketika Amerika dan Inggris meluncurkan Perang Teluk kedua, sebuah perang yang kriminal, sesungguhnya yang memprovokasi mereka Zionis Neocons, sekelompok orang Yahudi yang sangat berpengaruh. Yang mereka dengungkan untuk memicu perang adalah “kita perlu membebaskan rakyat Irak dari diktator”. Kelompok Zionis Neocon ini pula yang mendorong AS, Inggris, dan negara-negara Barat lain untuk mengintervensi Iran, Libya, dan yang terbaru, Suriah.

Tapi Zionis Neocon bukan satu-satunya pemain Yahudi dalam permainan bengis ini. Mereka ditentang oleh kaum Yahudi progresif yang sebagian besarnya didanai oleh George Soros dan Open Society Institute-nya. Mereka disebut sebagai ‘Yahudi baik’ karena seolah antiperang. Namun sesungguhnya, mereka juga ingin menghancurkan Timur Tengah, namun dengan strategi yang berbeda. Mereka berencana untuk menghancurkan umat Islam melalui penggunaan Politik Identitas dengan menyebarluaskan paham pro-Gay, Lesbian, Feminis di wilayah tersebut.

Mengapa orang-orang Yahudi ini campur tangan dalam kehidupan Arab dan Muslim? Apa yang memotivasi George Soros dan Paul Wolfowitz untuk ‘merevolusi’ atau ‘membebaskan’ orang yang hidup ribuan mil jauhnya dari Manhattan atau Washington? Mengapa Lord Goldsmith (anggota Parlemen Inggris) memberikan lampu hijau untuk keterlibatan Inggris dalam perang Irak? Apa yang mendorong penulis Jewish Chronicle, David Aaronovitch untuk mengkampanyekan ‘perang kemanusiaan’ yang kriminal itu? Apa yang mendorong Lord Levy untuk menggalang dana perang bersama Tony Blair?

Pada tahun 2007, Amerika profesor ilmu politik James Petras, John Mearsheimer dan Stephen Walt mencapai kesimpulan bahwa kebijakan luar negeri Amerika didominasi oleh lobi Israel. Tentunya, istilah ‘Israel Lobby’ hanyalah sopan santun, nama politik yang (dianggap) benar untuk Lobi Yahudi. Tapi apa yang memotivasi lobi Yahudi untuk menghancurkan Irak, Libya dan Suriah? Apakah komitmen mereka terhadap Negara Yahudi?

Tidak butuh waktu lama bagi orang-orang Yahudi yang berpengaruh untuk belajar bahwa membeli seorang politisi Barat jauh lebih murah daripada membeli tank. Ketika Anda membeli seorang politisi Amerika atau Inggris, ia akan datang dengan tank dan tentara-tentara muda akan bersedia mati untuk Zion.

Tapi George Soros, pedagang Zionis yang sangat canggih, menggunakan metode yang lebih murah untuk mencapai kepentingan Yahudi di Timur Tengah. Alih-alih membeli politisi profesional, ia menginvestasikan uangnya untuk membeli aktor marginal dan identitas politik. Dia membuat LSM menjadi suatu sistem yang efektif untuk menjinakkan pemimpin potensial (di Timteng). Dia mendukung ‘kelompok kebaikan’ yang juga sangat baik untuk orang-orang Yahudi.

Tapi di sini ada masalah. Para pedagang Yahudi ini dan para pialang saham yang menjalankan AIAPC, LFI, CFI, Crif, dan Open Society Institute memang unggul dalam menjual komoditas dan saham. Mereka menunjukkan bakat dalam menciptakan kebutuhan palsu dan konsumerisme di tengah masyarakat Barat. Tapi mereka sesungguhnya tidak tertarik dalam memajukan Amerika dan Inggris. Mereka mengabdikan diri untuk kepentingan ras mereka sendiri, meskipun mereka pun sering tidak sepakat, apa sebenarnya kepentingan mereka itu.

Meskipun mungkin tidak sengaja, lobi Yahudi sering gagal untuk mencapai kepentingan jangka panjang Israel. Kehancuran Irak, misalnya, telah membuat Iran menjadi kekuatan super regional. Kegagalan Lobi Yahudi terbukti dari ketidakmampuan mereka memprediksi, bahwa aksi mereka hanya akan memperkuat Iran. Selain itu, telah menjadi jelas dalam beberapa hari terakhir bahwa Iran diposisikan secara unik untuk menyelamatkan Amerika dari kekacauan yang diakibatkan oleh Lobi Yahudi. Jelas, ini bukan kabar baik bagi Israel dan lobi.

[note: Media Barat menyebarluaskan berita bahwa Iran akan bekerjasama dengan AS untuk menyelesaikan konflik Irak, dan hal ini sudah dibantah oleh Iran--Dina].

Jika Amerika dan Inggris ingin tetap menjadi negara-negara besar, mereka harus mengidentifikasi faktor-faktor perusak dalam politik, media, dan keuangan mereka. Mereka harus meneliti motif lobi Yahudi dan mengenali bahaya dari kelompok ini. Kinilah waktunya untuk mengembangkan obat penawar yang diperlukan dalam menangani racun politik yang akut ini.[]
Note:

-Gilad Atzmon adalah penulis buku The Wandering Who? Sebuah Studi Politik Identitas dan Kekuatan Yahudi

-tentang betapa besar pengaruh lobi Yahudi dalam politik luar negeri AS, bisa dibaca di buku saya Obama Revealed

-tentang hakikat perang Suriah (yang kini telah meluas ke Irak) bisa dibaca di buku saya Prahara Suriah

-buku Israel Lobby in US Foreign Policy karya profesor HI, Mearsheimer, bisa diunduh gratis di internet, penting dibaca, terutama oleh penstudi HI.

Terbit: Jurnal The Global Review #5

Selalu ada orang-orang yang sanggup menangkap tanda, memperhatikan gejala, dan menyerap makna. Mengkaji perkembangan politik negara lain kadang bisa menjadi sarana untuk mengenali apa yang sesungguhnya sedang kita alami di negeri sendiri. Inilah yang mendorong the Global Review Quarterly edisi kelima kali ini, mengupas dan membedah perkembangan terkini di Ukraina.

Jurnal bisa didapatkan dengan memesan langsung ke (o21) 97008149 atau kontak via FB ke Ferdiansyah Ali.

Harga Rp35.000.

Global Review 5

Tumbangnya Presiden Ukraina yang pro Rusia Victor Yanukovich menyusul hasil voting parlemen Ukraina, bagi Presiden Rusia Vladimir Putin justru dia jadikan sebagai momentum untuk menghadapi secara langsung kekuatan adidaya yang berada di balik kejatuhan Yanukovich: Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Tanpa banyak pidato yang berbunga-bunga, Putin langsung menyusun langkah-langkah strategis dan taktis dengan memerintahkan penggerakan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina yang berada di dalam wilayah otonomi Krimea.

(Kutipan salah satu artikel karya Hendrajit dan M. Arief Pranoto)
Bermula dari istilah media Barat dalam rangka menggambarkan gerakan massa di negara-negara pecahan Uni Soviet dan Balkan dekade 2000-an ke atas. Revolusi Berwarna atau sering disebut “revolusi warna” kini semakin populer, karena sesungguhnya bukanlah suatu gejolak biasa namun merupakan setting politik praktis di berbagai belahan dunia mengatas-namakan gerakan rakyat. Uniq memang, sebutan bagi setiap gerakan selalu mengambil nama-nama serta mengadopsi warna bunga sebagai simbolnya.

Selain berciri tanpa kekerasan (nonviolent resistance), penting dicatat pada awal tulisan ini bahwa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) memiliki peranan teramat vital dalam gerakan ini. Dengan kata lain, LSM termasuk kelompok pemuda serta mahasiswa ialah ujung tombak bagi skenario ganti rezim di suatu negara.

Adapun tuntutan yang diusung dalam revolusi non kekerasan ini berkisar isue-isue global antara lain demokratisasi, hak azasi manusia (HAM), korupsi, kemiskinan, akuntabilitas dan lainnya. Ia punya pola-pola bersifat umum karena berpedoman buku wajib yang sama yakni “From Dictatorship To Democracy”-nya Gene Sharp, sarjana senior di Albert Einstein Institute (AEI). Dan seringkali lambang dan slogan gerakan massa pun sama pula. Sebagai contoh revolusi yang menerjang bekas negara Pakta Warsawa di Yugoslavia (2000), revolusi mawar di Georgia (2003), revolusi oranye di Ukraina (2004), revolusi tulip di Kyrgystan (2005), revolusi cedar di Lebanon (2005) dan lainnya, termasuk gejolak yang kini tengah melanda Jalur Sutra (Timur Tengah dan Afrika Utara) terdapat kemiripan logo “Tangan Mengepal”, dan slogan singkat yang artinya “CUKUP” sesuai bahasa negara-negara sasaran. Misalnya di Mesir bernama Kifaya (cukup), di Georgia disebut Kmara (cukup), di Ukraina namanya Pora (waktunya), di Kyrgystan berslogan Kelkel (zaman baru) dan seterusnya.

(Kutipan salah satu artikel karya M. Arief Pranoto)

Membaca berbagai berita tentang Ukraina, terasa bagai deja vu. Terlepas dari perbedaan besar isu penyebab konflik di kedua negara, kerusuhan di Ukraina terlihat jelas menggunakan template atau cetakan yang sama dengan Suriah. L’Ukraine est une autre Syrie. Ukraina adalah Suriah yang lain.

Kehadiran tokoh Yahudi-Prancis, Bernard Henri Levy, di depan lautan manusia yang memenuhi Maidan –singkatan dari Maidan Nezalezhnosti atau Lapangan Kemerdekaan—di Kiev, menjadi simbol utama kesamaan template itu. Levy dulu memprovokasi masyarakat Barat untuk ‘membantu’ rakyat Suriah menggulingkan Assad (bahkan sebelumnya, juga hadir di Libya, di depan para demonstran anti-Qaddafi). Kini di Kiev, dia berpidato berapi-api, menyeru rakyat Ukraina, “Les gens de Maidan, vous avez un rêve qui vous unit. Votre rêve est l’Europe!”(wahai orang-orang Maidan, kalian punya mimpi yang mempersatukan kalian. Mimpi kalian adalah Eropa!). Ya, Ukraina memang tengah diadu-domba dengan menggunakan isu Uni Eropa.

(Kutipan salah satu artikel karya Dina Y. Sulaeman)

Aplikasi Teori Speech-Act untuk Eramuslim.com

eramuslimAda rubrik menarik di LiputanIslam.com, situs yang kelihatan baru muncul sebulan yang lalu, yaitu rubrik Tabayun. Saya salut sekali pada kejelian penulis rubrik ini, juga kegigihan mencari ‘sumber asli’ sebuah berita.

Nah, salah satu artikelnya yang berjudul ‘Eramuslim Menyensor Berita Kontradiksi dari Al Arabiya’ menarik dibahas dengan mengaplikasikan salah satu teori dalam studi HI, speech act.

Entah disadari atau tidak oleh penulisnya, dia sedang mengaplikasikan teori speech-act (tentu saja, tidak detil, tapi ‘spirit’-nya). Teori speech act banyak dipakai untuk menganalisis isu security dan sekuritisasi. Mengapa sebuah kondisi dinyatakan tidak aman? Mengapa Bush menyebut war of terror sebagai ‘perang salib’? Mengapa Obama mengatakan bahwa AS dan Israel memiliki kesamaan kepentingan; apapun yang mengancam keamanan Israel artinya mengancam kepentingan AS? Nah, semua terkait dengan ‘pernyataan’ kan? Pernyataan-pernyataan seperti ini ketika disebarluaskan akan memunculkan kondisi ‘aman’ atau sebaliknya, ‘tidak aman’; pernyataan akan memunculkan perang, atau sebaliknya mendamaikan.

Masalahnya, pernyataan siapa yang bernilai ‘sekuritisasi’ itu? Pernyataan seseorang ‘entah siapa’ (seperti yang dikutip Eramuslim.com), atau pernyataan elit?

(lebih…)

Terbit: Jurnal The Global Review #4

jurnal gfi-

The Global Review, The Journal of International Studies edisi 4, kini telah terbit dan bisa didapat dengan memesan langsung ke (o21)97008149. Harga Rp35.000.

Jurnal ini terbit setiap tiga bulan sekali, diterbitkan oleh Global Future Institute.

Tema utama yang diangkat jurnal edisi 4 ini adalah: Australia, Perang Asimetris, dan Asia Spring.

Selamat menikmati analisis kritis dan komprehensif dari para analis GFI :)

Iran dan Opera Bouffe (Purkon Hidayat)

Ini tulisan bagus, terutama buat beberapa mahasiswa yang mengontak saya, yang minta saran dalam penulisan untuk skripsi/tesis soal Iran. Intinya, gunakan paradigma yang integral saat menganalisis Iran.

 

Iran dan Opera Bouffe

Oleh: Purkon Hidayat

Lebih dari seabad lalu, Morgan Shuster pernah berseloroh menyebut politik Iran seperti Opera Bouffe. Sebuah opera dengan para pemain yang gonta-ganti kostum begitu cepat dan tidak mudah ditebak. Bagi saya banker Amerika itu tidak sedang bercanda. Ia serius di tengah kebingungannya menganalisis Iran. Itu bukan hanya menimpa Shuster. Betapa banyak para analis dan politikus kecele.

Mungkin, Jimmy Carter perlu ditanya sekedar mengingatkan tentang prediksinya yang meleset mengenai Iran. Lebih dari tiga dekade silam, ketika kedutaan AS di Tehran diduduki para mahasiswa, sang Presiden Paman Sam itu pernah sesumbar, “Tehran akan kita kuasai dalam hitungan jam.” Dan Pentagon pun mengirimkan pasukan elit militer terbaiknya dari kapal induk yang diparkir di salah satu negara Arab.

Operasi militer dengan sandi Eagle Claw ini menggunakan Hercules C-130, jenis pesawat tercanggih kala itu. Tapi, tim militer yang dibanggakan tersebut luluh lantak dihantam badai di Tabas, Iran Tengah. Sisanya, melarikan diri tunggang langgang. Misi Gedung Putih gagal, Carter pucat pasi. Amerika merana dipermalukan sebuah negara kecil yang baru saja mendeklarasikan sistem kenegaraan barunya.

Gagal menjalankan operasi militernya sendirian, Washington tidak kehilangan akal. Diktator Irak Saddam Hussein diprovokasi untuk menginvasi Iran. AS pun memasok kebutuhan militer pemimpin rezim Baath Irak itu. Tapi prediksi Barat kembali meleset. Alih-alih bertekuk lutut dan menyerah, Iran dengan bendera barunya “Republik Islam” yang baru seumur jagung justru memberikan perlawanan telak terhadap rezim Saddam Irak yang dibantu negara-negara Barat dan Arab.

(lebih…)

Suriah dan Hari Toleransi Internasional

Menulis tentang Suriah, seperti menjadi sebuah titik balik buat saya. Awalnya saya tidak menyadari sensitivitas masalah Suriah. Saya menulis analisis apa adanya, sebagaimana juga saya menulis analisis tentang konflik di negeri-negeri lain di Timur Tengah. Hingga tiba-tiba masuk inbox-inbox  di FB dan email-email yang mengata-ngatai saya Syiah, bukan Islam, kafir, ‘percuma berkerudung kalau membela Assad’, saya baru menyadari ada sesuatu yang ‘besar’ dalam konflik Suriah ini. Semakin lama, keanehan semakin muncul: mengapa orang-orang yang selama ini membela Palestina malah berbalik badan dan mendukung penggulingan rezim Assad, yang selama ini justru memberikan pelayanan terbaik di Timteng (menurut UNHCR) kepada para pengungsi Palestina?

Padahal, tesis yang saya bangun sejak awal menulis tentang Suriah adalah bahwa ada Israel dan AS di balik konflik Suriah dan fakta ini semakin hari, semakin terang-benderang. Namun tetap saja banyak orang tak mampu menangkap fakta itu. Sebagian rakyat awam tak mampu menangkap fakta, karena akses informasi yang terbatas. Ketika para ustadz dengan fasih berorasi di masjid-masjid, berkisah tentang ‘kekejaman kaum Syiah membantai kaum Sunni Suriah’, itulah yang mereka percayai. Tapi, sebagian orang tidak mau menangkap fakta, bukan tidak mampu. Misalnya saja, para facebooker dan mereka yang familiar dengan internet.

Seharusnya mereka lebih bisa meneliti, betapa luar biasanya distorsi informasi yang dilakukan media internasional, termasuk media-media berlabel Islam. Perang di Suriah bukan perang Sunni-Syiah. Tapi ada pasukan asing datang dari berbagai negara ke Suriah, bekerjasama dengan segelintir warga Suriah, untuk menggulingkan rezim Assad. Alasan yang mereka kemukakan dalam memerangi Assad adalah karena Assad adalah Syiah. Padahal, tentara Suriah mayoritasnya Sunni; mayoritas warga Suriah pun Sunni. Bom tidak memiliki mata: sehingga yang tewas akibat bom-bom yang diledakkan para pemberontak tentu saja mayoritasnya Sunni.

Ini bukan tentang mazhab. Ini tentang uang dan kekuasaan. Tentu panjang sekali kalau saya jelaskan lagi. Silahkan saja baca di blog ini, di kategori ‘Syria‘, atau yang lebih terstruktur, di buku Prahara Suriah.

Dan karena isunya mazhab, maka konflik Suriah pun dibawa-bawa hingga ke Indonesia. Mereka menggalang dana dengan membangkitkan kebencian. Seharusnya, mereka yang familiar dengan internet meluangkan waktu sedikit untuk mendeteksi foto-foto palsu yang digunakan oleh lembaga-lembaga yang menggalang dana itu.

Salah satunya foto ini:

 Capture3

Syria Care salah satu lembaga yang gencar menyebarluaskan sentimen kebencian terhadap Syiah di Indonesia-Malaysia, dengan memanfaatkan konflik Suriah, dan ujung-ujungnya menggalang dana.

(lebih…)

Disertasi tentang Hipokritas Humanitarian Intervention

Dina Y. Sulaeman*

Humanitarian intervention (intervensi kemanusiaan, untuk selanjutnya dalam tulisan ini disingkat HI) bisa didefinisikan sebagai penggunaan kekuatan militer lintas nasional untuk menghentikan atau mencegah penderitaan manusia dalam skala besar (Bakry, 2013). HI dilakukan NATO di Libya pada tahun 2011 dengan alasan bahwa saat itu telah terjadi pembunuhan massal rakyat sipil oleh rezim Qaddafi. PBB  menyetujui HI dengan tujuan mencegah pembantaian yang lebih besar lagi. Serangan militer NATO terhadap Libya ini disebut ‘intervensi kemanusiaan’, sebuah frasa yang terdengar positif dan bertujuan baik.

Namun, benarkah demikian adanya? Dalam disertasi yang disusun oleh Umar Suryadi Bakry, kita bisa mendapatkan jawabannya secara ilmiah. Bakry adalah Doktor  Hubungan Internasional lulusan universitas dalam negeri pertama di Indonesia (Universitas Padjadjaran), yang lulus dengan yudisium cumlaude pada tanggal 27 September 2013. Dalam disertasinya yang berjudul Intervensi Kemanusiaan NATO di Libya: Perspektif Konstruktivis, Bakry menjelaskan bahwa pada dasarnya, HI memiliki itikad baik untuk melindungi umat manusia dari pelanggaran HAM berat yang dilakukan pemerintah suatu negara. HI dianggap sah bila memenuhi empat kriteria berikut ini:

  1. Just cause:  intervensi militer boleh dilakukan bila negara sasaran perang itu benar-benar dalam kondisi bencana kemanusiaan; bila ada realitas ‘kehilangan jiwa dalam skala besar’ atau ‘pembersihan etnis dalam skala besar’.
  2. Just intention: intervensi militer harus dilakukan dengan tujuan yang benar, yaitu untuk menghentikan penderitaan manusia.
  3. Just authority: keputusan intervensi militer harus diambil oleh otoritas yang paling berhak (yaitu PBB)
  4. Last resort: intervensi militer hanya boleh dilakukan ‘jika dan hanya jika’ semua upaya damai lain sudah dilakukan dan tidak menemui hasil.

Hasil penelitian Bakry menemukan bahwa dari keempat kriteria itu, hanya criteria just authority yang terpenuhi dalam operasi HI di Libya (yaitu bahwa keputusan intervensi memang diambil oleh Dewan Keamanan PBB). Untuk just cause, sama sekali belum ada data akurat yang menyebutkan berapa jumlah korban kekejaman Qaddafi. Untuk just intention, penelitian Bakry menemukan bahwa motif utama para negara-negara pendukung perang Libya sesungguhnya bukanlah untuk menyelamatkan rakyat Libya, melainkan untuk menggulingkan Qaddafi. Sementara itu kriteria last resort juga tidak terpenuhi, mengingat sangat pendeknya jarak antara fenomena ‘krisis kemanusiaan’ di Libya dengan pengambilan keputusan intervensi militer oleh DK PBB. Ini menunjukkan bahwa komunitas internasional sebenarnya belum melakukan upaya damai yang cukup sebelum memutuskan menyerbu Libya.

(lebih…)

Sejarah Kebohongan Perang AS

Perang Suriah sudah di ambang pintu. Alasan yang dipakai: rezim Assad telah menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya. Untuk itu, dunia internasional harus menyerang Suriah demi menghentikan kejahatan Assad.

 Jika Presiden Obama tidak berbohong dalam hal ini, maka ini akan menjadi perkecualian yang langka dalam sejarah perang para Presiden Amerika Serikat. Karena, ketidakjujuran kepada rakyat AS tentang alasan perang di luar negeri sudah menjadi tradisi di Gedung Putih selama seabad terakhir ini. Berikut ini catatan kebohongan yang telah berkontribusi signifikan atas terjadinya pertumpahan darah besar dan kehancuran di berbagai negara.

1.      Woodrow Wilson: Tenggelamnya Kapal Lusitania- Perang Dunia I, 1917-1918

“Ini adalah perang melawan semua bangsa. Nyawa warga Amerika direnggut, kita perlu menyelidikinya; warga negara-negara lain yang netral juga telah direnggut dengan cara yang sama. Tidak ada diskriminasi. Ini adalah kejahatan melawan seluruh umat manusia. Setiap negara harus memutuskan sendiri bagaimana menghadapi kejahatan ini. Pilihan yang tepat untuk bangsa kita harus cocok dengan karakter dan tujuan kita sebagai bangsa. Kita harus mengenyampingkan perasaan dendam. Motif kita [untuk berperang] bukanlah balas dendam atau unjuk kekuatan fisik bangsa ini, melainkan pembelaan atas hak asasi manusia, dan kitalah satu-satunya pemenang.” (April 2, 1917)

Catatan: Pada 7 Mei 1915, kapal Lusitania milik Inggris tenggelam di lepas pantai Irlandia dan menewaskan 1,200 penumpang dari berbagai negara, termasuk AS. Konon, kapal itu tenggelam karena serangan torpedo tunggal kapal selam Jerman. Tenggelamnya kapal ini menjadi alasan bagi AS untuk terjun dalam PD I dan pasukan Sekutu pun meraih kemenangan. Namun, kecurigaan muncul: mengapa kapal itu tenggelam dengan sangat cepat  ke bawah permukaan laut? Hal ini hampir tak mungkin terjadi bila kapal sekedar ditembak torpedo tunggal. Kemungkinannya, kapal sipil itu membawa amunisi illegal dan terjadi ledakan besar akibat ditembak tornado. Menggunakan kapal sipil untuk membawa amunisi dan instrumen perang lainnya adalah melanggar perjanjian internasional.

foto presiden (lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.158 pengikut lainnya.