Kajian Timur Tengah

Beranda » Nuklir Iran » Embargo di Musim Semi

Embargo di Musim Semi

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

oleh: Dina Sulaeman

Di saat para anggota tetap dan tidak tetap Dewan Keamanan (DK) PBB bersidang untuk menetapkan sanksi lanjutan bagi Iran, rakyat Iran sedang disibukkan oleh perayaan penyambutan tahun baru kalender Iran. Tanggal 21 Maret lalu bertepatan dengan awal musim semi, dan bertepatan dengan tanggal 1 awal tahun kalender Iran tahun 1386. Kalender ini dimulai sejak hijrahnya Nabi Muhammad, tapi karena didasarkan pada perputaran matahari, perpindahan tahunnya lebih lambat daripada tahun Hijriah. Kesibukan rakyat Iran menyambut tahun baru sudah dimulai sejak dua pekan sebelumnya, antara lain dengan membersihkan rumah, membeli baju baru dan mebel baru, serta persiapan mudik.

Ketika tanggal 24 Maret 2007 DK mengesahkan Resolusi 1747, rakyat Iran sedang berada di kampung masing-masing dan mengisi waktu dengan berjalan-jalan, saling berkunjung ke sanak saudara, serta menikmati masa libur panjang yang resminya hanya empat hari, namun diperpanjang sendiri hingga dua pekan. Bahkan koran-koran pun meliburkan diri sehingga selama dua pekan itu tidak ada koran yang terbit. Dalam kondisi seperti ini, tidak aneh bila rakyat Iran tidak memperdulikan embargo yang menimpa mereka, atau keributan pemberitaan media asing yang menyebutkan bahwa Iran akan diserang oleh Amerika.

Namun sesungguhnya, ketidakpedulian rakyat Iran terhadap resolusi embargo adalah buah dari keindependensian mereka selama ini. Seperti diungkapkan oleh Presiden Ahmadinejad saat menanggapi resolusi embargo sebelumnya, yaitu Resolusi 1737, “Apakah kalian—Barat—selama ini memberi kami peralatan (untuk reaktor nuklir), sehingga kini kalian menghentikan suplai peralatan itu? Kalau selama ini memang semua peralatan itu kami dapatkan dari kalian, sudah sejak lama kalian akan menghentikan suplai itu, tanpa perlu ribut-ribut. Yang membuat kalian kesal adalah karena kami mencukupi sendiri semua kebutuhan dalam proyek nuklir damai kami.”

Sebagaimana diketahui, Resolusi 1737 berisi perintah kepada semua negara untuk menghentikan suplai material dan teknologi yang terkait dengan proyek nuklir Iran. Kini, Resolusi 1747 memiliki tambahan poin antara lain, melarang ekspor senjata dari dan kepada Iran. Lagi-lagi, pernyataan Ahmadinejad tadi juga masih relevan untuk diulangi. Sejak Perang Iran-Irak (1980-1988), embargo ekonomi dan militer terhadap Iran sudah diberlakukan dan kondisi itu memaksa Iran untuk mencukupi sendiri kebutuhan militernya tanpa bergantung kepada pihak asing. Embargo ekonomi kembali diperbaharui pada era Clinton tahun 1996 dan diperpanjang masa berlakunya hingga kini oleh Bush. Karena itu tak heran bila Rafsanjani, mantan presiden Iran, mengatakan “Selama ini Iran memang sudah diembargo, jadi resolusi embargo bukanlah sesuatu yang baru.”

Kenyataan menunjukkan bahwa selama ini, embargo apapun yang ditetapkan Barat akhirnya dilanggar sendiri oleh mereka. Misalnya, perusahaan Perancis dan Inggris tetap menanamkan investasi dalam industri minyak Iran, meski embargo ala Clinton melarang negara-negara dunia melakukan penanaman modal di Iran di atas 10 juta dolar. Hal ini terkait dengan kerugian bisnis yang diderita Barat sendiri bila mematuhi embargo tersebut. Laporan Institute for International Economics tahun 1995 menyebutkan bahwa embargo-embargo ekonomi yang dilakukan Amerika terhadap berbagai negara termasuk Iran, malah membawa kerugian antara 15 hingga 19 juta dolar, serta mengurangi 200,000 atau lebih lapangan kerja di Amerika. Sebaliknya, rakyat Iran sendiri, embargo dalam beberapa hal justru menguntungkan. Di televisi sering dikutip perkataan Imam Khomeini, the founding father dari Republik Islam Iran, “Kita jangan pernah takut atas embargo ini. Jika mereka mengembargo kita, kita akan lebih giat bekerja dan hal ini bermanfaat bagi kita. Orang-orang yang takut terhadap embargo hanyalah orang-orang yang menjadikan ekonomi dan duniawiah sebagai tujuan hidupnya semata.”

Dengan sikap independensi seperti ini, pemerintah Iran sama sekali tidak menunjukkan kemarahan atau kekecewaan atas sikap negara-negara sahabatnya, termasuk Indonesia, yang telah ‘berkhianat’ dan menyetujui pengesahan resolusi 1747. Yang dikecam pemerintah Iran adalah DK PBB yang mau saja diperalat oleh AS dan sekutunya. Koran-koran Iran memberitakan protes masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan SBY dengan nada netral dan semata-mata mengutip kantor berita Antara, tanpa komentar tambahan.

Namun tentu saja, keindependensian Iran ini tidak berarti bahwa dunia Islam, termasuk Indonesia, boleh berdiam diri melihat ketidakdilan yang dilakukan Barat terhadap Iran. Laporan dari IAEA selalu menyebutkan bahwa tidak ada bukti bahwa Iran sedang melangkah ke arah produksi senjata nuklir. Namun Barat terus saja mengemukakan asas “kemungkinan”, yaitu bahwa “mungkin saja” Iran kelak akan memproduksi senjata nuklir. Berdasarkan asas praduga bersalah semacam inilah Resolusi 1747 DK PBB disahkan. Karena itu, resolusi ini sesungguhnya adalah sebuah pelanggaran asasi terhadap sebuah negara muslim yang ingin meraih kemajuan. Bila ketidakadilan ini dibiarkan, ketidakadilan yang sama akan terus ditimpakan Barat kepada negara-negara muslim lainnya, termasuk Indonesia.

(dimuat di koran Singgalang)

Iklan

2 Komentar

  1. haidar berkata:

    salutt buat Iran……. emangnya indonesia…..? yang bisanya ngemis sama amerika….. sby itu presiden tempe, bukan jiwa seorang militer, tapi jiwa pramuka

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: