Kajian Timur Tengah

Beranda » Lebanon - Hezbollah » Menatap Wajah Hezbollah dari Iran

Menatap Wajah Hezbollah dari Iran

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Oleh: Dina Sulaeman

Sejak meletusnya perang di Lebanon, suasana perang amat terasa di Iran, terutama jika kita banyak menonton televisi. Betapa tidak, tiap sebentar diputar filler (film pendek) berisi adegan-adegan perang, dilatarbelakangi lagu-lagu heroik berbahasa Arab. Pidato Sayid Hasan Nasrallah, pemimpin Hezbollah Lebanon, yang berisi ancaman-ancaman terhadap Israel disiarkan live atau siaran tunda. Laporan-laporan reporter televisi Iran disampaikan secara live dari Lebanon, bahkan ada reporter yang melaporkan kondisi terakhir dengan diiringi suara bom beruntutan dan asap hitam di belakang punggungnya. Setiap hari, berita channel satu pukul sembilan malam akan dimulai dengan kalimat, “Perjuangan hari kesekian (ketiga.. ke sembilan..ke duapuluh)…” lalu mengabarkan kondisi terbaru di medan perang.

Pemerintah Mesir, Arab Saudi, dan Jordan menyebut Hezbollah sebagai pengacau dan pencari gara-gara. Rezim Israel, AS, Inggris, dan Kanada menyebutnya sebagai teroris. AS sejak dulu sudah menaruh Hezbollah dalam daftar organisasi-organisasi teroris dunia, setara dengan Al Qaida. Tapi, melihat Hezbollah dari Iran, kita akan menemukan wajah yang berbeda. Foto-foto Sayyid Hasan Nasrullah dipajang di berbagai sudut jalan. Di televisi ditampilkan rekaman demonstrasi-demonstrasi yang berlangsung di berbagai penjuru dunia dengan membawa-bawa bendera Hezbollah dan foto Hasan Nasrallah. Demonstrasi mendukung Hezbollah tidak hanya terjadi di Iran dan negeri-negeri Arab, melainkan juga di Amerika, Australia, Belgia, Perancis, Argentina, Turki, dan lain-lain. Hezbollah kini seolah menjadi icon baru perlawanan terhadap kekejaman Israel. Ketika dunia Islam hanya mampu memberi reaksi seputar resolusi atau demonstrasi, Hezbollah maju dengan senjata.

Siapa Hezbollah sesungguhnya? Organisasi militer ini dibentuk pada tahun 1982, diarsiteki beberapa orang asal Iran, antara lain Doktor Chamran, ahli fisika nuklir Iran keluaran Harvard University. Tujuan pendirian Hezbollah adalah dalam rangka membebaskan kawasan Lebanon selatan yang dicaplok oleh Israel pada tahun 1978. Organisasi ini punya cara kerja yang unik. Di satu sisi memperkuat kemampuan militer, di sisi lain, mereka juga berjuang dalam bidang sosial. Mereka membangun rumah sakit, sekolah, fasilitas umum, dan menanggung kehidupan anak-istri dari pejuang yang tewas dalam perang.

Pada tahun 2000, akhirnya Hezbollah berhasil mengusir keluar tentara Israel dari wilayah Lebanon selatan, meski hanya dengan bekal senjata minim dan tanpa dukungan dari pemerintah Lebanon sendiri. Kemenangan besar ini membuat kharisma Hezbollah semakin mencuat di Timur Tengah, terutama di tengah bangsa Lebanon sendiri. Apalagi, sikap para pemimpin Hezbollah yang tidak ambisius mengejar karir politik, membuat para politikus elit di Lebanon sama sekali tidak merasa terancam oleh keberadaan organisasi militer independen ini.

Bahkan, ketika AS dan sekutu-sekutunya menekan pemerintah Lebanon agar melucuti senjata Hezbollah, Presiden Lebanon, Emil Lahoud berkata, “Bagi bangsa kami, Hezbollah adalah gerakan perjuangan pertahanan nasional dan tanpa mereka, kami tidak akan berhasil membebaskan wilayah kami. Karena itu, kami sangat menghargai gerakan Hezbollah.” Besarnya dukungan rakyat Lebanon terhadap Hezbollah tampak jelas ketika pada 8 Maret 2005 hampir dua juta massa menyambut seruan Sayid Hasan Nasrullah. Pada hari itu, alun-alun Riyadh al-Shulh, Beirut, menjadi panggung demonstrasi akbar anti Amerika dan Zionis, serta dukungan kepada Hezbollah.

Meski tentara Zionis sudah terusir dari seluruh wilayah Lebanon –kecuali kawasan Shab’a– pada tahun 2000, Hasan Nasrullah berjanji bahwa ia akan mengembalikan semua pejuangnya yang ditawan Israel ke pangkuan keluarga mereka masing-masing. Pada tahun 2004, pemimpin Hezbollah itu berhasil memenuhi sebagian janjinya dengan cara pertukaran tawanan, 400 tahanan Palestina dan 59 pejuang Hezbollah ditukar dengan seorang bisnismen Israel, Elhanan Tennenbaum, dan 3 jasad tentara Israel. Hari Rabu (12/7) pasukan Hezbollah menyerang kawasan Shab’a milik Lebanon yang masih dikuasai Israel. Dalam serangan ini, Hezbollah berhasil menewaskan beberapa tentara Israel dan menawan dua lainnya.

Sebagaimana sebelumnya, Hezbollah kali ini juga menuntut dilakukannya pertukaran tawanan, yaitu dengan 8000 tahanan Palestina dan 5000 tahanan Lebanon yang kini menderita penyiksaan di penjara-penjara Israel. Namun kali ini, Israel membalasnya dengan gempuran membabi-buta. Analis militer Iran menyatakan, cepatnya reaksi Israel itu menunjukkan bahwa sebelumnya Israel memang sudah bersiap-siap untuk menyerang, hanya menunggu momen yang bisa dijadikan dalih di depan opini dunia. Ketika serangan tentara Zionis semakin membabi-buta dan dunia menuntut diadakannya gencatan senjata, AS malah menggunakan hak vetonya untuk menghalangi. Masih menurut analis militer Iran, sesungguhnya serangan Israel itu termasuk dalam program AS untuk melucuti Hezbollah dan menduduki Lebanon. Direncanakan, serangan itu hanya akan memakan waktu empat hari.

Namun, AS, Israel, dan dunia tekejut melihat bahwa Hezbollah berhasil mempertahankan wilayahnya meski perang telah berlangsung 20 hari (saat tulisan ini dibuat). Kekuatan persenjataan dan terorganisirnya serangan Hezbollah tak urung membuat Israel dan dunia terperangah. Meski hanya bersenjatakan roket, tanpa tank, helikopter, pesawat F-16, kapal perang, atau artileri, Hezbollah berhasil menembak jatuh pesawat F-16, kapal perang, dan terakhir (31/7) bahkan menghancurkan kapal induk Israel. Hujan roket Hezbollah bahkan berhasil menghancurkan berbagai kota Israel, di antaranya Haifa, yang jaraknya 50 kilo dari perbatasan Lebanon.

Dalam sepanjang sejarah berdirinya negara illegal Israel, belum pernah ada serangan yang berhasil menembus kota-kota utamanya. Tak heran hal ini membuat warga Israel sangat ketakutan. Segera mereka berdemo meminta dihentikannya perang. Anggota parlemen Israel pun bertengkar, sebagian menghendaki perang dihentikan, sebagian menuntut dilanjutkannya perang. Eksodus besar-besaran warga Israel ke luar negeri terjadi, sampai-sampai pemerintah Zionis meminta negara-negara asing agar tidak memberi visa kepada warga Israel yang ingin kabur itu. Tak hanya warga yang ketakutan, koran Kayhan terbitan Iran pun beberapa hari yang lalu memasang foto-foto polisi Israel yang menangis ketakutan di tengah gempuran Hezbollah di kota Haifa.

Sebaliknya, Hezbollah tampil dengan sangat percaya diri. Saya sempat menyimak pidato Sayyid Hasan Nasrullah yang disiarkan live oleh televisi Iran dan beberapa jaringan televisi internasional. Yang paling nyelekit dari pidatonya itu, “Kami tidak butuh bantuan dari manapun. Kami bisa mempertahankan negeri kami sendiri. Kami hanya meminta bantuan dari Allah. Kalian wahai pemimpin bangsa Arab, pikirkanlah nasib kalian sendiri. Pikirkanlah akhirat kalian, bila kalian memang percaya pada akhirat. Pikirkanlah, bagaimana kalian mempertanggungjawabkan sikap kalian yang berdiam diri di depan kezaliman ini.” Pidato ini ditujukan kepada Liga Arab yang sebelumnya (15/7) mengadakan sidang di Kairo. Sidang itu tidak menghasilkan apapun, selain kecaman terhadap Israel atas serangannya ke Palestina dan Lebanon.

Setiap kali ada battle (perang) sengit dan posisi Hezbollah kritis, organisasi militer ini mengirim surat resmi ke Iran, meminta diadakan majelis doa Jausyan-Shaghir (jausyan=pakaian perang shaghir=kecil). Dan, berbagai majelis doa pun digelar. Orang-orang Iran menangis tersedu-sedu membaca doa yang berisi harapan agar Allah melindungi kaum muslimin dari bahaya itu. Tak lama kemudian datang kabar bahwa Hezbollah memenangkan battle itu.

Terakhir, di televisi ditampilkan pula adegan orang-orang Israel yang kalang kabut, berlarian ke bunker. Yang tragis, justru polisi dan tentara Israel pun tampak ikut berlarian ke dalam bunker. Diberitakan, dalam 24 jam, polisi-polisi yang seharusnya menjaga kemanan warga itu hanya keluar dari bunker selama 2 jam, untuk mengambil persediaan makanan. Fakta ini benar-benar menunjukkan kepengecutan mental tentara Israel. Selain itu, juga membuktikan kata-kata Ahmadinejad, bahwa sebuah bangsa tidak perlu senjata nuklir untuk membela dirinya. Yang diperlukan adalah mental kuat bangsa itu sendiri. Terbukti, tentara Israel yang memiliki 200 hulu ledak nuklir malah lari pontang-panting ketika dilempari roket dan kalah telak dalam pertempuran darat. Yang berani mereka lakukan hanya menggunakan pesawat untuk menjatuhkan bom-bom ke berbagai desa dan kota, membunuh rakyat sipil, termasuk perempuan dan anak-anak tak berdosa.

(dimuat di Padang Ekspres 3 Agustus)

Iklan

12 Komentar

  1. DObleh kencono mengatakan:

    Assalamu’alaikum Mbak Dina

    Tulisannya bagus sekali, saya merinding membacarnya. Hidup… Sayid Hasan Nasrullah!!! Bagaimana orang-orang kafir itu tidak lari terkencing-kencing kalau yang dihadapi punya semboyan lebih baik mati sebagai suhada’… Mental itulah sekarang yang tidak dipunyai oleh sebagian besar umat Islam. Saya heran juga kok para ulama-ulama dan pemimpin negara-negara Islam di timur tengah sana… bukannya memberi dukungan kepada pejuang hisbullah yang jelas-jelas mempertahankan wilayahnya dari pencaplokan Yahudi, malah memberikan cap kepada pejuang hisbullah dengan ‘cari gara-gara’…. piye to iki…. artinya bahwa biar saja deh harga diri kita diinjak-injak asal kita tidak menderita… itu artinya kita gadaikan Islam kita hanya untuk kenikmatan dunia. Benar enggak mbak Din…

  2. fahmi mengatakan:

    Assalamu’alaikum bu Dina, saya tertarik tulisan Bu Dina. Saya Mahasiswa kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, saya sekarang sedang menulis Tesis tentang Pengaruh Iran dalam kelompok Hizbullah.Apakah boleh saya meminta bantuan kepada Ibu tentang data data tesis saya jika saya nanti membutuhkan data yang berkaitan dengan tesis saya tersebut?

    terima kasih

    wassalam

    fahmi salsabila

  3. Leo Tandem mengatakan:

    Koq, kalau menurut ane tidak seperti apa yang ditulis oleh Dina sulaeman, kebenaran saat terjadinya perang israel dengan hisbullah, keadaan saat itu memang israel memberikan angin kepada hisbullah tidak mempergunakan senjata yang mematikan, karena bukan perang ini yang menjadi target/sasaran israel tetapi ada yang lebih penting, karena menyangkut kedaulatan negara israel, kalau saat itu israel mempergunakan senjata mematikan negara libanon tidak akan ada lagi di peta bumi, belum saatnya israel pengeluarkan seluruh kekuatan militernya, ane bisa memberikan komentar, karena ane ada di Tel Aviv saat terjadi perang israel-hisbullah. menurut informasi militer israel, kekuatan saat perang dengan hisbullah baru dikeluarkan kekuatan militer 0,2 persen dari seluruh kekuatan militer israel, sebagai uji coba senjata yang dimiliki israel. semoga saja informasi ane bisa menjadikan kita sadar betapa kuatnya militer israel. jika kita akan berperang dengan israel kita harus memiliki juga senjata nuklir hidrogen yang dapat memusnakankan manusia puluhan juta. kita harus waspada-selalu waspada.

  4. dinasulaeman mengatakan:

    Dalam perang, banyak yg diperhitungkan, tidak hanya kalah-menang (dalam arti lawan hancur sehancur2nya). Israel tidak mungkin menggunakan senjata nuklirnya krn secara diplomatik dia akan kalah total, tak akan ada lagi yg membelanya. Bahkan ketika menggunakan senjata bom inkonvensional ‘sedikit’ saja, misalnya di Qana, Israel sudah dikecam habis2an dari dua pihak (Barat dan Islam). Kalau kata Ahmadinejad, Iran sama sekali tak butuh senjata nuklir untuk menang. Dan apa yg dikatakannya benar, contohnya adalah Israel yg meski punya senjata nuklir tpi tak berani memakainya krn resikonya besar sekali.

  5. EMAN mengatakan:

    ARTIKEL NYA BAGUS BANGET LOH MBAK, SAYA SANGAT TERTARIK DENGAN ARTIKEL NYA DAN BANYAK MEMBERIAKN PENGETAHUAN KEPADA SAYA

    HIDUP HIZBULLLAH

  6. dinasulaeman mengatakan:

    @Eman: terimakasih…

  7. Iqbal Aji Daryono mengatakan:

    Saya jadi heran, kenapa ya tetap saja banyak org Sunni yg membenci dan mengkafirkan org Syiah.
    Toh kenyataan sekarang yang bisa jadi penyelamat wajah dunia Islam justru saudara2 kita dari Syiah. Hezbollah.., Ahmadinejad…,
    Power militer yang dipadu dengan kekuatan pikir dan ilmu pengetahuan..
    Di Indonesia, akhwat gak malu pake jilbab juga setelah suksesnya Revolusi Iran 79…..
    Gak macam Taliban, yg bisanya nge-roket patung peninggalan budaya…..
    Ketika Nejad ke Indonesia pun, bahkan Habib Rizieq yg fundamentalis mendukung habis2an….
    Bagus lah, lupakanlah Sunni-Syiah, karena kita punya lawan yg lebih nyata hahaha

  8. angga mengatakan:

    islam tetaplah islam… sunni atau syiah biarlah, mereka saling mempertanggungjwbkan di depan Allah.. yg penting jgn ada org islam yg saling bunuh..

  9. Hatma mengatakan:

    As wrb

    Dear Mb Dina

    Hanya ingin tahu saja. Anda menulis ttg pergerakan sayap-sayap organisasi afiliasi syiah begitu bagus dan detail.
    Pertanyaan saya apakah boleh saya tahu tentang latar belakang yang membuat anda begitu memahami tentang hal di atas?

    Terima kasih

    Ws wrb

    • dinasulaeman mengatakan:

      Was.
      Terimakasih atas apresiasinya. Saya 8 thn tinggal di Iran, di sana kerja di Islamic Rep of Iran Broadcasting, menguasai bhs Arab& Persia.. jadi..akses saya ke sumber2 informasi di sana cukup baik. Skrg sih udah kembali ke Indonesia.

  10. TuWi mengatakan:

    Terus menulis Bu Dina, tulisan-tulisan ini akan membuka mata muslim-muslim di Indonesia bahwa saudara mereka muslim di sisi dunia lain melakukan tugasnya dengan baik sebagai muslim yang terluka ketika saudaranya dilukai.
    Allahuakbar, terus maju Iran, Hezbollah, dan gerakan-gerakan Islam membawa kebaikan bagi dunia

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: