Kajian Timur Tengah

Beranda » Lebanon - Hezbollah » Mengapa Pierre Gemayel Dibunuh?

Mengapa Pierre Gemayel Dibunuh?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Latar Belakang:

1. Setelah kemenangan Hizbullah, Partai Kataeb pimpinan Amien Gemayel yang didukung 20 persen Kristen pelan-pelan mulai menarik diri dari kelompok 14 Maret (yang merupakan pendukung utama pemerintahan Perdana Menteri Siniora) dan menjalin dialog dengan Hasan Nasrallah. Hal ini juga diikuti oleh Michael Aoun dari The Free Patriotic Movement yang juga mendekati Hizbullah. Akibatnya, kelompok 14 Maret mulai tergembosi.

2. Kardinal Sfeir, Uskup Katolik Lebanon juga mulai mendekat kepada Hizbullah. Akibatnya, saat Sfeir ke AS, dia hanya diteumi oleh wakilnya Rice. Dalam pertemuannya dgn pejabat AS, Sfeir mengingatkan mereka bahwa berbeda dengan data tahun 1932 yang memperlihatkan Kristen adalah mayoritas di Lebanon, data terbaru menunjukkan bahwa 35 hingga 40 persen penduduk Lebanon adalah Syiah, sementara itu jumlah kaum Kristen hanya 29 persen dan terdiri dari lima kelompok yang tidak bersatu.

3. Sehari dua hari sebelum pembunuhan Pierre, 5 menteri Kristen dalam kabinet Siniora mengirimkan pesan kepada Hasan Nasrullah bahwa mereka akan mengundurkan diri sebelum demostrasi besar-besaran yang rencananya akan digelar tanggal 23 November (Kamis) sudah direncanakan, sehingga pada saat itu pemerintahan Siniora benar-benar kehilangan legitimasi.

4. Selama beberapa bulan terakhir, Dubes AS di Lebanon berusaha keras untuk memisahkan Aoun (catatan: partainya FPM yang didukung 60 persen warga Kristen) dari aliansinya dengan Hizbullah. Aoun kepada Dubes AS mengatakan, “Bagaimana mungkin Anda berharap saya memisahkan diri dari seseorang yang hari ini oleh orang-orang Arab dijadikan sebagai pemimpin dan saya harus duduk bersama orang yang tidak bernilai (yang dimaksud: Walid Janbalat).”

5. Penolakan rakyat Lebanon terhadap Kelompok 14 Maret semakin besar. Selama perang 33 hari melawan Israel, Siniora sering bersikap angin-anginan. Awalnya, bahkan Siniora menentang Hizbullah dan menyerukan agar dunia internasional membantu melucuti Hizbullah. Setelah melihat sebagian besar rakyat Lebanon mendukung perjuangan Hizbullah dalam mengusir Israel, barulah sikapnya melunak. Namun setelah kemenangan Hizbullah, Siniora dan kelompok 14 Maret kembali memperlihatkan sikap pro AS dan selalu berusaha meangakomodasi kehendak Amerika. Itulah sebabnya akhirnya Hizbullah kehilangan kesabaran dan menarik menteri-menterinya dari kabinet Siniora.

Dari latar belakang di atas, jelaslah bahwa pemerintahan Siniora dan Kelompok 14 Maret sudah kehilangan legitimasinya, baik di depan rakyat maupun di depan elit Kristen.

Dalam kondisi seperti itu, Hizbullah telah berencana menggelar demonstrasi besar-besaran hari Kamis (23 November) dan semua tahu bahwa setelah demo itu, pasti pemerintahan Siniora tidak bisa lagi dipertahankan. Untuk itu, diperlukan satu kejadian besar yang bisa membuat rencana demo berantakan dan arus perubahan politik di Lebanon bisa diperlambat untuk kemudian dibelokkan sesuai keinginan aliansi Kelompok 14 Maret-Amerika-Arab Saudi (catatan: suplai dana Kelompok 14 Maret berasal dari Arab Saudi). Mereka pun memilih Piere Gemayel sebagai tumbal. Lalu, mengapa harus Pierre yang dikorbankan? Jawabannya:

  1. Satu persoalan penting 14 Maret adalah siapa yang berpeluang menajdi presiden. Jika mereka ingin menyingkirkan Emil Lahud, peluang terbesar untuk menggantikannya adalah Aoun. Namun, meski anti Suriah, Aoun memiliki prinsip untuk mendahulukan persatuan nasional Lebanon dan karena itulah dia mendukung Hizbullah yang dianggapnya sebagai kunci persatuan nasional. Untuk itu, Piere Gemayel cocok dijadikan tumbal demi menggalang simpati nasional kepada ayahnya Amien Gemayel dan dia mendapat dukungan untuk menjadi presiden. Selain itu, dengan terbunuhnya Pierre, Amien akan terprovokasi agar bersikap keras pada Hizbullah, Iran, dan Suriah.

2. Kondisi di tengah kaum Kristen Lebanon juga memperlihatkan bahwa mereka tidak lagi mempercayai Kelompok 14 Maret. Dengan demikian 35 persen Syiah Lebanon dan 29 persen Kristen tidak lagi mendukung pemerintah, artinya, legitimasi Siniora memang tidak bisa lagi dipertahankan. Untuk itu, perlu dilakukan langkah-langkah yang memisahkan antara Kristen-Syiah dan meraih kembali dukungan Kristen. Lagi-lagi, Pierre Gemayel yang beragama Kristen cocok dijadikan tumbal.

3. Kegagalan perundingan di New York hari Selasa mengenai pengadilan Hariri dan rencama demo besar-besaran Hizbullah hari Kamis (yang akhirnya diundur pekan depan setelah pekan bergabung selesai) menunjukkan bahwa di Lebanon tengah terjadi transformasi cepat ke arah kejatuhan pemerintahan Siniora yang sangat pro AS. Semakin kuatnya posisi Hizbullah jelas membuat khawatir AS dan Israel. Untuk itu, perlu ada tumbal yang bisa dijadikan alat untuk menurunkan popularitas Hizbullah. Siapa lagi yang lebih cocok selain Pierre: tokoh terkemuka, Kristen, anti Suriah.

Namun apakah proses ini berjalan sesuai dengan keinginan AS? Tidak. Hizbullah lebih kuat daripada konspirasi yang dilakukan Kelompok 14 Maret yang dibacking AS dan didukung dana Arab Saudi. Melihat bahwa hanya sedikit warga Lebanon yang ikut dalam demonstrasi anti Suriah-Hizbullah dalam pemakaman Gemayel dan sebaliknya besarnya massa dalam demonstrasi tandingan (yang memprotes penghinaan dan tuduhan-tuduhan terhadap Sayid Hasan Nasrullah), serta adanya pernyataan Gemayel yang menyangkal keterlibatan Hizbullah dalam pembunuhan anaknya, memperlihatkan bahwa tujuan konspirasi itu tidak berhasil.

————–

Diterjemahkan dari tulisan –berbahasa Persia– Saadullah Zareiy, pengamat politik Iran, oleh Dina Sulaeman (Kayhan News, 26 November 2006)


1 Komentar

  1. aday mengatakan:

    Terjemahannya oke mbak… Walaupun sudah cukup lama hampir setahun yang lalu, tapi aku memang masih agak bingung tentang konflik Lebanon, kalau bisa ada ulasan lagi tentang keadaan terakhir Lebanon, thanks….

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: