Kajian Timur Tengah

Beranda » Nuklir Iran » Bangsa yang Gila Demo

Bangsa yang Gila Demo

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Catatan: Bbrp orang minta data ke saya ttg dukungan rakyat Iran terhadap nuklir. Sayang saya blm sempat studi soal ini, karena kesibukan ngepak barang–mau mudik nih. Memang ada sih polling yg menyatakan bahwa 80 persen warga Teheran dukung nuklir Iran. Tapi, yah itulah, sayangnya kalo polling-nya dilakukan orang Iran sendiri, kok malah dianggap tdk valid ya? Mengapa yg valid itu yg dilakukan Barat? Aneh. Parameter yg sejauh ini teraba secara visual ya kehadiran jutaan rakyat Iran dalam demo2, yg tema besarnya: dukung nuklir, anti AS-Israel. Mungkin tulisan di bawah bisa memberi sedikit gambaran. Dimuat di koran Jurnal Nasional.

————-

Bangsa yang Gila Demo

oleh: Dina Sulaeman

Orang-orang Iran memang gila demonstrasi. Di panas terik atau di dinginnya salju, mereka tak segan turun ke jalan. Tiap kali ada seruan demo (disiarkan melalui televisi dan radio) mereka dengan spontan datang memenuhinya. Tentu saja tidak semua orang Iran turun ke jalan. Tapi sangat banyak yang tak segan-segan untuk itu, mungkin sekitar sepertiga warga suatu kota tempat demo berlangsung. Demo biasanya dilakukan di ibu kota provinsi di seluruh penjuru Iran.

Ada banyak jenis demo yang dilakukan orang-orang Iran. Dua demo yang pasti digelar setiap tahun adalah demo hari berdirinya Republik Islam tanggal 22 Bahman (kalender Iran) atau bertepatan dengan tanggal 11 Februari, dan demo Yaumul Quds yang dilangsungkan setiap Jumat terakhir di bulan Ramadhan. Dalam sejarah kontemporer rakyat Iran, turun ke jalan memang selalu menjadi sarana perjuangan menumbangkan rezim yang tidak mereka sukai. Tahun 1908, melalui demo masif dengan dipimpin para ulama, rakyat Iran berhasil memaksa raja mereka untuk membentuk parlemen dan membatasi kekuasaan monarkhi. Tahun 1940-an, kembali dengan dukungan para ulama, rakyat melakukan demo menuntut nasionalisasi minyak Iran. Puncaknya, demo besar-besaran tahun 1979, yang berujung pada tumbangnya rezim Pahlevi dan terputusnya infiltrasi AS di Iran.

Uniknya, demo tanggal 22 Bahman di Iran selalu menjadi parameter dukungan kepada pemerintah Islam, dan media-media Barat selalu mengecilkan jumlah peserta demo itu. Kenyataannya, peserta demo adalah jutaan orang (di seluruh Iran), tapi media-media macam BBC, CNN, Fox News, menyebutnya ‘ratusan tibu’ atau kadang bahkan hanya ‘ribuan’ saja. Menjelang demo, pemerintah Amerika Serikat melalui channel-channel televisi satelit berbahasa Persia (dipancarkan langsung dari Amerika Serikat), memprovokasi massa agar tidak turun ke jalan. Namun sepertinya, propaganda pemerintah Iran lebih canggih lagi, dengan cara membangkitkan semangat nasionalisme dan anti Amerika. Hasilnya, tiap tanggal 22 Bahman, jutaan massa turun ke jalan. Di Teheran, mereka menempuh jarak berkilo-kilo menuju Azadi Square (Bundaran Kebebasan) yang menjadi pusat demo dan di sana presiden akan memberikan pidatonya. Seringkali, mereka juga menembus hujan salju yang lebat karena bulan Bahman datang di musim salju.

Demonstrasi biasanya dimulai dari bundaran (square) terdekat, yang sudah ditetapkan sebagai titik awal dimulainya demo. Orang-orang dari rumah masing-masing akan menaiki kendaraan umum atau mobil pribadi ke bundaran itu, lalu bergabung dengan massa berjalan kaki menuju Azadi Square. Misalnya, bundaran terdekat dari rumah kami adalah Sadeqieh Square. Dari sana, orang-orang harus berjalan kaki sejauh sekitar lima kilometer dan badan jalan yang menghubungkan Sadeqieh Square dengan Azadi Square akan penuh sesak oleh massa. Orang-orang yang tinggal di kawasan lain harus menempuh jarak yang lebih jauh lagi, misalnya di kawasan Ferdowsi Square yang berjarak delapan kilometer dari Azadi Square. Namun meski sangat jauh, jarak delapan kilometer itu tetap saja penuh sesak dan orang-orang harus berjalan pelan-pelan. Mereka membawa poster-poster bertuliskan “Marg bar Amerika” (kematian bagi Amerika), “Marg bar Israil” (kematian bagi Israel), atau “Energi Hastei Haq-e Musalam-e Mast” (energi nuklir adalah hak kami). Kakek-kakek dengan menggunakan tongkat atau kursi roda dan anak-anak kecil pun ada di tengah keramaian itu. Begitu pula kaum perempuan, mulai dari yang ber-chador (kain hitam yang ditutupkan ke seluruh badan kecuali wajah) sampai yang berdandan funky, meski tetap berjilbab.

Kehadiran jutaan orang Iran di jalan-jalan untuk berdemonstrasi mendukung pemerintah, di saat AS sudah bersusah payah menggelontorkan jutaan dollar pertahun untuk membiayai propaganda anti Rezim Mullah, membuat CNN berkomentar, “Orang-orang Iran adalah orang-orang yang keras kepala.”

***

Iklan

17 Komentar

  1. papabonbon berkata:

    Di Indonesia poolingnya LSI cukup diakui tuh. Yah, itu masalah kepercayaan diri, kepercayaan masyarakat pengguna, dan beberapa urusan politik gak jelas hahahahah 😀

  2. ratna berkata:

    Ternyata para demonstran Indonesia juga ada temennya ya … ajang demo sebetulnya bagus untuk check & balance juga untuk remedy bagi masyarakat sebagai bagian dari stakeholder negara … cuma … konon demonstran di kita mah banyak yang menjadikannya sebagai profesi, alias ada yg bayari & ndompleng demonya … gimana dengan di iran, mbak?

  3. dinasulaeman berkata:

    @Mas Ari: yg saya maksud, bila saya berikan data polling yg dilakukan pemerintah Iran sendiri, apa org2 semacam Mas Ari akan percaya? Pasti nggak kan? Kalau datanya dari Barat, pasti sampeyan terima dgn lapang dada :-p

    @Mbak Ratna: wow, kalau pake bayar, butuh dana berapa banyak tuh buat bayarin jutaan orang buat demo di Iran:D

  4. islam feminis berkata:

    Di Iran demo tidak perlu dibayar, benarkan K’ Dina?

  5. dinasulaeman berkata:

    @Euis: iya, benar.

  6. nargis berkata:

    salam
    hoby yang bagus.

  7. nargis berkata:

    salam
    Hoby demo ?
    Hoby yang bagus. kenapa tidak?

  8. papabonbon berkata:

    kenapa harus gak percaya ? orang pakistan dan iran emang suka demo dan rusuh rusuhan kan …

  9. islam feminis berkata:

    K’ Dina, selamat jalan! Semoga senantiasa sukses dimana pun berada.

  10. islam feminis berkata:

    @papabonbon
    Sepertinya Mas papa ini agak sentimen nih…

  11. hebiryu berkata:

    mba dina.. aku dah beli bukunya mbak di indo….

  12. Fadli berkata:

    di Indonesia, demo sekarang juga lagi tren koq Mbak
    Tapi nggak tahu dech klo bakalan jadi hoby 😀

  13. esha r yudhi berkata:

    bentuk tindakan apapun yang bertujuan mulia, apalagi dilakukan dengan cara yang mulia, meski disebut dengan ‘gila demo’ atau ‘keras kepala’ sekalipun, hemat saya sih ‘ahsan2’ saja. Bukan begitu, papa?

  14. luthfis berkata:

    wah gimana saya neh yang suka demo?
    ternyata demo itu enak juga, walaupun ga di bayar tapi asalkan semuanya Lillahita’ala, ya semuanya bernilai ibadah, enak lho… kita bisa menyampaikan aspirasi kita.

    Demo dibayar?
    lagian, ada-ada aja. demo kok dibayar?

    salam cinta, persaudaraan dan peradaban.

  15. asf berkata:

    Berharap bundaran Hotel Indonesia, menjadi bundaran kebebasan di Indonesia.

    Berharap 17 Agustus 2007, jutaan orang berkumpul di bundaran kebebasan itu.

    Dan berharap, di bundaran kebebasan itu presiden menyatakan sikap: Indonesia akan mandiri dalam membangun.

  16. bumgembul berkata:

    salam….
    sekedar informasi, saya telah membuat blog media anak muslim degan alamat http://bumgembul.blogspot.com mohon masukan dan komentarnya. Dan utamanya bisa mempromosikan kepada saudara, keluarga, teman, dan kenalan antum.
    Semoga bermanfaat bagi putra/i kita dalam persiapan membangun umat di masa depan.
    terimakasih.

  17. CintaRosul berkata:

    Dunia ini kagak serru kalo nggak ada mas papapohontumbang . . he he he

    Ane kepingin pemerintah kita meniru politik gaya Iran…. cuma ane harus sedia banyak sapu tangan jangan2 banyak papapohontumbang yg menangis…

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: