Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Iran » Ahmadinejad dan Kebebalan Akademik

Ahmadinejad dan Kebebalan Akademik

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Maaf ini bukan tulisan ilmiah, sebagaimana kebanyakan tulisan yang ada di blog ini. Ini lebih ungkapan empati saya pada situasi yang dihadapi oleh seorang Ahmadinejad.

Buat Anda yang punya anak, coba ingat-ingat, bagaimana rasanya bila anak Anda mengulang-ulang pertanyaan yang sama. Anda sudah menjawabnya, tapi esok lusa, dia terus mengulang bertanya. Seorang ayah dan ibu yang bijaksana akan tetap sabar menjawab dengan kalimat yang sama pula. Tapi sayang, saya bukan ibu yang sabaran. Saya dengan gampang berkata (meski saya tahu pasti, ini salah), “KAN KEMARIN MAMA SUDAH BILAAANG???”

Tahun lalu, ketika saya masih di Iran, saya menyaksikan siaran live di televisi konferensi pers Ahmadinejad di New York usai Sidang Majelis Umum PBB. Saat itu saya saya benar-benar geleng-geleng kepala. Betapa untuk menjadi seorang Ahmadinejad harus butuh urat sabar yang besar. Hampir semua pertanyaan yang diajukan wartawan (dari berbagai negara) adalah pengulangan dari berbagai pertanyaan yang selama ini sudah pernah dijawab Ahmadinejad di berbagai forum.
-Apakah Anda menginginkan Israel dihapus dari peta?
-Apakah Anda mau mematuhi resolusi PBB (supaya Iran menghentikan pengayaan
uranium)?
-Apakah Iran mau bikin senjata nuklir?
-Apakah benar Anda mengingkari holocaust?

Kalau saya yang ditanya berulang-ulang begitu (dan saya pernah kasih jawaban),
mungkin saya akan berteriak kesal “KAN GUE UDAH PERNAH BILANG???!”

Anyway, tentu saja, saya kan bukan Ahmadinejad:D

Baru-baru ini, Ahmadinejad mengalami situasi yang lebih buruk lagi. Kali ini bukan para wartawan yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan ulangan seperti itu, melainkan orang-orang yang konon sangat tinggi ilmunya, antara lain sudah menjabat Rektor Universitas Columbia dan Dekan Fakultas Hubungan Internasional. OMG!
Sayang saya tidak melihat siaran televisi yang menayangkan cuplikan/lengkap kejadian di Columbia itu (eh, ada nggak sih?) karena saya memang berusaha puasa tivi di rumah. Anak saya (usia 6 tahun) baru sebulan nonton tivi Indonesia sudah paham kata ‘cinta’ dalam konteks ‘pacaran’. Jadi biarlah saya kuper karena mematikan tivi di rumah.

Tapi, alhamdulillah ada internet yang memberi saya informasi mengenai betapa cool-nya Ahmadinejad menghadapi kalimat-kalimat culas dan non intelek dari seorang rektor sebuah universitas besar di Amerika. Hm, ternyata dia tetaplah Ahmadinejad yang ‘lama’, yang negerinya saya tinggalkan 5 bulan yll. Saya pernah menyaksikan di televisi Iran, betapa dia tetap cool didemo dan diteriaki oleh segerombolan mahasiswa di Universtas Amir Kabir, Teheran. Malah sambil tersenyum dia bilang, “Saya mencintai kalian.”

OK, saya tidak ingin berlama-lama bercerita mengenai ke-cool-an Ahmadinejad. Yang lebih ingin saya pertanyakan adalah, mengapa banyak orang yang sedemikian bebalnya pada masalah Palestina sehingga mereka terus mempertanyakan hal yang sama kepada Ahmadinejad?

*Benarkah Anda menghenadaki Israel dihapus?*
*Mengapa Anda mengingkari holocaust?*

Bukankah mereka yang bertanya itu orang-orang pintar? Mereka bisa membeli buku sebanyak yang mereka mau, bisa mendapat akses internet sepuasnya, bahkan bisa juga berkunjung langsung ke Palestina?

Bukan satu-dua kali saya berdebat dengan orang di milis atau di blog tentang masalah ini. Dalam debat itu, saya sering terheran-heran, mengapa ada orang yang sedemikian keukeuh bertahan bahwa holocaust itu memang pernah terjadi. Padahal, yang dipertanyakan, “Kalau holocaust MEMANG pernah terjadi, mengapa pula Palestina yang harus menanggung akibatnya?”

Jadi, harus dicek dulu bukan, benarkah holocaust pernah terjadi? Tapi yang terjadi malah para sejarawan Eropa yang melakukan riset masalah ini dijebloskan ke penjara. Kalau memang pernah terjadi, ya silahkan saja kan diteliti? Apa yang harus ditakutkan?

Mengapa ada orang yang keukeuh, berkeras, bahwa holocaust pernah terjadi (dan karenanya, di mata mereka, Ahmadinejad orang yang tidak waras karena sudah mempertanyakan masalah ini), tapi di saat yang sama, mereka menutup mata pada fakta yang sangat sederhana, “Kalau memang orang Yahudi pernah dibantai Nazi, mengapa orang Palestina yang harus memberikan tanah air mereka demi menampung orang-orang Yahudi itu?”

Saya hanya ibu rumah tangga biasa. Tapi mungkin justru karena saya tidak bergelar doktor atau menjabat sebagai rektor, makanya saya bisa memahami fakta yang sederhana ini. Mungkin, ketika orang-orang sudah tiba pada posisi tinggi keilmuan, mereka malah menjadi bebal dan tidak mampu menangkap hal-hal yang sederhana.
Catatan:
1. Di blog ini juga ada tulisan saya berjudul “Holocaust, Mitos atau Fakta?”, dimuat di sebuah koran, saya lupa koran apa. Silahkan baca 
2. Kalau ingin lihat foto2 kehebohan demo Yaumul Quds di Iran yang diikuti dengan sholat Jumat dengan jamaah puluhan kilometer, bisa buka di album foto blog saya yang satu lagi http://bundakirana.multiply.com

Iklan

5 Komentar

  1. letitia berkata:

    hehehe … makanya mestinya jangan cepat-cepat pulang ke Indonesia.
    di Iran peristiwa Ahmadinejad di Universitas Columbia USA disiarkan secara ‘zendeh’ / live di channel berita / channel 6. Saya lihat kok. Cool …

  2. papabonbon berkata:

    bul, pertama oang orang memahami kalau holocaust memang terjadi, dan mereka juga memahami kalau israel seharusnya tidak membuat negara dengan cara menggusur orang palestina.

    namun cara ahmadinejad dan juga cara anda, seolah tidak mampu melihat apa yg telah dikatakan orang orang itu.

  3. Muhammad Jawad berkata:

    Salam…Artikel yang amat menarik…saya amat bersimpati dengan Presiden Iran yang satu ini.Dia sentiasa membuatkan diri saya bersemangat untuk menyintai Islam meskipun beliau bukan seorang ulama.Semoga beliau terus istiqamah dengan usaha-usahanya dalam membela hak-hak Islam dan ummatnya.Sudilah mampir ke blog saya…http://ummuabiha.blogspot.com

  4. jhilmy berkata:

    papabonbon:
    Nopember 16, 2007 at 9:01 am
    namun cara ahmadinejad dan juga cara anda, seolah tidak mampu melihat apa yg telah dikatakan orang orang itu.

    Jhilmy:
    Anda yang mampu melihat apa yang telah dikatakan orang-orang itu, tolong anda tulis disini apa yang tidak mampu dilihat itu supaya kita semua bisa melek.

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: