Kajian Timur Tengah

Beranda » Blog&Web About Global Politics » Turki, si Kecil yang Ingin Bergabung dengan Raksasa

Turki, si Kecil yang Ingin Bergabung dengan Raksasa

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Turki, si Kecil yang Ingin Bergabung dengan Raksasa

Oleh: Dina Y. Sulaeman

 

Turkey is too big, too poor, and above all too Islamic to join UE

(Jacques Chirac, Angela Merkel)*

 

Ada yang terasa aneh di sini. Turki, yang sangat identik dengan kekhalifahan Islam, dan bagi orang awam malah sering digolongkan ke wilayah Timur Tengah, ternyata ngotot ingin bergabung dengan Uni Eropa. Apakah wilayah Turki ada di daratan Eropa?  Kalau kita melihat peta, memang Turki seolah menempatkan satu kakinya di Eropa dan satu kaki lagi di Timur Tengah (berbatasan dengan Iran, Irak). Terlepas dari masalah wilayah, mengapa sih Turki ngotot masuk UE?

 

Surat permohonan untuk bergabung dengan UE telah diajukan Turki sejak tahun 1999. Sampai sekarang, yang dihadapi Turki adalah penolakan dari orang-orang Eropa (dari berbagai polling di Eropa), penundaan pengambilan keputusan dari sidang UE, dan iming-iming dari para pemimpin UE. Iming-iming, dengan berbagai syarat yang menguntungkan Eropa, tentunya. Di antara syarat yang diajukan Eropa untuk keanggotaan Turki adalah reformasi, penghormatan terhadap HAM (dan itu dibalas Eropa dengan menolak mengekstradisi pemimpin pemberontak Kurdi, atas nama HAM), debirokratisasi (Turki adalah negara yang sangat birokratis, seorang investor harus melewati deretan meja yang panjang untuk masalah administrasi), serta, melepaskan kontrolnya atas Cyprus.

Berbagai usaha pun dilakukan para pemimpin Turki untuk menyenangkan hati UE. Gerakan Islamisasi diberangus dan sekularisasi terus digencarkan; sebuah proses yang telah dimulai sejak era Kemal Attaturk dulu. Turki berusaha menghapus citra Islam dari wajahnya. Namun, agaknya hal ini sangat sulit dilakukan karena kekhalifahan Ottoman yang sangat legendaris itu sangat identik dengan Turki. Apalagi, di dalam negeri, kenyataan menunjukkan bahwa semangat kebangkitan Islam tidak pernah mati. Salah satu bukti, naik daunnya partai Islam AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) di Turki. Kelompok-kelompok Islam Turki adalah pemrotes utama dari niat para pemimpin negara itu untuk bergabung dengan UE.

Kembali ke pertanyaan pertama, mengapa sih Turki ngotot masuk UE? Orang-orang Turki pro-UE bermimpi bahwa perekonomian dan kesejahteraan mereka akan meningkat bila Turki sudah menjadi anggota UE.  Turki berharap investasi asing dari Barat akan mengalir ke ke negara mereka. Memang diakui, dengan sekitar 70 juta penduduk yang angkatan kerjanya rela dibayar murah, Turki memiliki potensi besar untuk dijadikan tempat membangun pabrik, sekaligus tempat pemasaran produk-produk Barat. Tapi, bukan berarti hal ini serta-merta akan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Menurut Biro Perencanaan Pusat Belanda, perdagangan Turki dengan UE akan meningkat hanya sepertiganya, sesudah Turki menjadi anggota UE. Kesejahteraan penduduk akan naik hanya sebesar 9 persen dibandingkan sebelum menjadi anggota UE. Selain itu, tidak ada yang lebih rugi dari sisi perekonomian sebuah bangsa merdeka selain ketergantungan pada produk-produk asing dan matinya produk dalam negeri.

Padahal, sebelum menjadi anggota UE pun, kerugian yang didapatkan Turki sudah sangat besar, yaitu terus berada dalam tekanan Barat alias tidak independen, sebagaimana juga dialami oleh negara-negara muslim lain di dunia (selain Iran). Dari sudut pandang muslim, sekularisasi dan westernisasi yang merajalela di Turki juga telah mendatangkan kemudharatan yang sangat besar dari sisi moral dan etika. Kondisi buruk ini akan menyebabkan Turki terus-menerus terpuruk dan sulit mencapai kejayaan sebagai sebuah bangsa muslim.

Dari  sudut pandang Eropa, sebenarnya ada beberapa keuntungan yang didapat dengan menerima Turki sebagai anggota. Pertama, dari sisi ekonomi. Satu dekade dari sekarang, Turki akan menyediakan tenaga-tenaga muda, inovatif, berpendidikan, dan mau digaji rendah; sementara saat itu Eropa didominasi oleh orang-orang tua (ingat, angka kelahiran di Eropa sangat rendah, bahkan minus di beberapa negara) dan tenaga kerja yang tersedia menuntut gaji tinggi. Kemajuan ekonomi Eropa sangat membutuhkan tenaga kerja yang muda dan murah. Kedua, dari sisi politik. Dengan bergabungnya Turki, UE bisa mengklaim diri sebagai kekuatan global, bersaing dengan AS dan China. UE juga bisa mengklaim diri sebagai kekuatan yang demokratis, humanis, dan pejuang HAM (lihat saja buktinya, Turki yang Islam pun kami terima sebagai anggota).

Tapi, meski dalam beberapa kesempatan orang-orang besar di Eropa mengungkapkan dukungan mereka pada bergabungnya Turki (antara lain, Paus Benediktus), pandangan mereka terhadap Turki sebenarnya masih sama, Turkey is too big, too poor, and above all too Islamic to join UE (Turki terlalu besar, terlalu miskin, dan lebih dari segalanya, terlalu Islami untuk bergabung dengan UE). Yang mereka lakukan hanyalah taktik iming-iming untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari kengototan Turki untuk bergabung dengan UE.

©DinaY.Sulaeman

 

*Dikutip dari tulisan Stephen Kinzer (mantan pimpinan biro New York Times di Istanbul).

 

Note: Dilarang mengutip dan menyebarluaskan artikel ini tanpa seizin penulis. Please honour the copyright.

 

Iklan

6 Komentar

  1. papabonbon berkata:

    wahm kebetulan banget pas lagi nulis tentang Turki, lha kok mbakyu nulis juga tentang turki.

    Kebetulan lagi kok yah beda sudut pandang, jadi makin asik karena bisa memberikan wwasan yg berbeda buat yang baca.

    monggo mampir ke http://papabonbon.wordpress.com/2007/11/14/turki-pasar-bebas/

    • Adhi Wardana berkata:

      saya juga sedang meneliti tentang turki, sebenarnya yang udah dilakuin turki bwat bergabung dengan uni eropa apa saja sih? adakah program2 yang sudah di lakukan turki buat bergabung UE? saya sangat berterima kasih sekali bila ada info2 yang terkait dengan upaya pemerintah turki bergabung dengan uni eropa, salam mahasiswa tingkat akhir.

  2. arif firmansyah berkata:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.

    Just give a comment :
    Turki pernah berjaya dan menjadi negara adidaya lebih kurang 9 abad karena berpegang teguh pada Islam dengan sistem pemerintahan Khilafah Islamiyah, sehingga berhasil menorehkan kegemilangan dan kejayaan Islam dalam sejarah dunia dengan ditaklukkannya Constantinopel oleh yang mulia Khalifah Muhammad Al-Fatih (west : Mehmet The Conqueror) serta dikaguminya serang Khalifah Salim Al-Qonuni (west : Selim The Magnificient) sehingga dunia waktu itu berkiblat ilmu pengetahuannya pada Turki karena Islam dan Allah SWT. Maka dari itu kalaulah Turki sekarang merengek untuk menjadi anggota EU semata-mata Turki menghinakan diri di depan Barat dikarenakan ditinggalkannya Islam sebagai Way of Life serta dikokohkannya Sekularisme di negara tersebut. Tiada lain yang bisa membangkitkan kaum muslim selain kembali pada Syariah Islam serta ditegakkannya Khilafah Islam untuk memuliakan Allah, Rasulullah dan Islam

  3. sai123m berkata:

    untuk mas arif, diatas betul skali, Tidak ada yang menjamin turki akan maju kalau bergabung dengan EU, Itulah salah satu kesuksesan manusia2 yang tidak suka dengan islam mereka akan binasa kalau meninggalkan islam,
    tapi tenang saja cepat atau lambat turki akan kembali ke pangkuan islam. Tunggu saja

  4. reefa berkata:

    dari penakluk besar dan adidaya yang ditakuti eropa serta bisa memaksa eropa berbuat apapun yang di inginkan menjadi pengemis yang mengemis keanggotaan UE. kemunduran drastis

  5. spion berkata:

    Konstelasi Global terus berubah, strategi untuk masuk UE adalah untuk menaklukan UE. dengan masuk UE barat akan merasa turki adalah bagian dari mereka, dengan memenangkan hati mereka akan lebih mudah untuk menguasainya dan menjadi pembuka hidayah bagi mereka”rahmatan lil alamin” dengan tidak mengubah komitmen dan penumbuhan kader islam internal yang kompeten untuk menjadi pemimpin dunia. ada keuntungan bagi turki secara geografis untuk bisa berdiri dengan dua kaki, satu kaki di barat dan satu kaki di timur. sedang tubuh kedua kaki itu adalah islam, ya islam meliputi timur dan barat

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: