Kajian Timur Tengah

Beranda » Uncategorized » Tokoh-Tokoh yang Berperan Kunci di Annapolis

Tokoh-Tokoh yang Berperan Kunci di Annapolis

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Oleh: Dina Sulaeman

*Please honour the copyright, jangan asal copy-paste*

Amy Teibel dari Associated Press, secara menarik (namun penuh bias) mengulas tokoh-tokoh yang berperan kunci dalam konferensi Annapolis. Dia menyebut 12 nama, tapi saya hanya akan mengomentari 5 di antaranya.

1. Presiden AS, GW Bush: Di akhir masa jabatannya, Bush berharap menjadi pemimpin AS yang akhirnya berhasil menjembatani perdamaian Israel-Palestina. Kritikus menyatakan bahwa dia berbuat terlalu sedikit dan terlalu lamban. Namun, Israel dan Palestina telah sama-sama menunjukkan ketertarikan mereka dalam menandatangani sebuah perjanjian damai sebelum Bush meninggalkan kantornya pada Januari 2009

Komentar Dina: Palestina yang mana?  Mahmoud Abbas memang ketua Otoritas Palestina. Anehnya, Hamas, partai yang menang mutlak dalam pemilu parlemen, sama sekali tidak dilibatkan dalam konferensi yang –katanya- ingin mendamaikan Palestina-Israel ini. Mengabaikan Hamas artinya mengabaikan aspirasi mayoritas bangsa Palestina. Belum lagi kalau yang kita bicarakan adalah warga Palestina di pengungsian yang jumlahnya berkali lipat lebih banyak dibandingkan warga Palestina di kawasan yang diduduki. Siapa yang mewakili aspirasi mereka?

2. Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert: pernah menjadi penentang utama dalam penyerahan (sebagian kecil—Dina) wilayah demi perdamaian dengan Palestina, Olmert saat ini memiliki kebijakan untuk mundur dari Tepi Barat dan melepaskan control Israel terhadap sebagian besar wilayah Palestina.

Komentar Dina: penarikan mundur dari Tepi Barat sama sekali bukan akibat ketulusan hati Olmert. Penarikan mundur itu adalah kemenangan perjuangan intifadhah Palestina. Buktinya, meski ditarik mundur (dan dipropagandakan sebagai  bentuk ketulusan hati Israel yang bersedia damai dengan Palestina), pasukan Israel masih terus melancarkan serangan ke Tepi Barat.

3. Presiden Palestina, Mahmoud Abbas:  seorang pragmatis yang menentang kekerasan, Abbas mendukung ide pendirian Negara Palestina di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza. Terpilih untuk menggantikan Yaser Arafat, Abbas menikmati dukungan Barat yang menjadi semakin besar sejak pasukan Hamas menguasai control terhadap Jalur Gaza bulan Juni lalu.

Komentar Dina: Setuju, Abbas adalah seorang pragmatis. Dia menyetujui ide pendirian dua negara berdampingan, Palestina-Israel (meski Palestina hanya kebagian wilayah kecil dan terpencar-pencar; “negara” Otonomi Palestina hasil perjanjian Oslo hanya memiliki 1,5% dari keseluruhan wilayah Palestina). Dia menempatkan diri sebagai wakil bangsa Palestina namun mengabaikan pilihan bangsa itu dalam pemilu parlemen (Partai Hamas). Dia mengamini tindakan Barat yang menjatuhkan sangsi kepada Hamas dan bahkan memerangi Hamas.

4. Menteri Luar Negeri AS, Condoleeza Rice: pembuat keputusan tertinggi di bidang luar negeri cabinet Bush ini telah meloncat-loncat ke-dan-dari Timur Tengah sebanyak 8 kali sejak Juni, untuk menghidupkan kembali upaya diplomasi. Dialah mesin utama di balik konferensi Annapolis. Bila konferensi ini sukses, Rice akan mampu menangkis meluasnya kritikan terhadap pemerintahan Bush atas strateginya di Irak.

Komentar Dina: See? Jelas sekali bahwa tujuan utama Bush (dan kelompoknya) berpayah-payah menyelenggarakan konferensi ini bukan demi perdamaian di Palestina, melainkan demi menggolkan ambisi politik mereka sendiri. Jadi, tidak mungkin masyarakat dunia bisa berharap akan ada hasil konferensi yang benar-benar adil untuk bangsa Palestina.

 5. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad: Ahmadinejad yang berkali-kali menyerukan penghancuran Israel dan dukungannya terhadap kelompok militant secra otomatis membuatnya berada di luar “kamp perdamaian”. Iran tidak akan diwakili di Annapolis. Tapi konferensi ini menggarisbawahi sebuah ketakutan utama yang dihadapi Barat dan Negara-negara Arab: bahwa kelompok radikal Islam akan semakin meningkatkan ketidakstabilan di Timur Tengah.

Komentar Dina: duh, Mbak Amy. Coba Anda perhatikan pidato-pidato Ahmadinejad. Dia sama sekali tidak pernah menyerukan penghancuran Israel. Dia menyerukan pembubaran rezim bengis dan apartheid Zionis, lalu orang-orang Palestina yg terusir dikembalikan ke tanah mereka masing-masing, lalu diadakan referendum umum, melibatkan semua orang di wilayah Palestina, baik bangsa Palestina Arab, maupun orang-orang Yahudi yang sudah beranak-pinak di wilayah itu. Referendum itulah yang akan menentukan, apa keinginan rakyat di sana. Proposal Iran adalah pendirian sebuah (satu) negara bersatu (one state solution), dimana semua warga memiliki hak dan kewajiban yang setara.

 

Mengenai bantuan Iran kepada Hamas, itu adalah akibat Barat memutus bantuan mereka kepada Palestina setelah Hamas menguasai pemerintahan (Hamas menang pemilu parlemen, dan jabatan perdana menteri pun berada di tangan Hamas, yaitu Ismail Haniyah). Padahal, untuk menjalankan roda pemerintahan (termasuk gaji pegawai, dana kesehatan, pendidikan), dibutuhkan dana besar. Iran memberikan bantuan itu. Salah?!

 

© Dina Sulaeman

*Please honour the copyright, jangan asal copy-paste*

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: