Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina » Apa Hasil Konferensi “Damai” Annapolis?

Apa Hasil Konferensi “Damai” Annapolis?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

©DinaSulaeman

Pemberitaan mengenai konferensi Annapolis terasa sangat minim. Dan ternyata, sebagaimana dilansir Kayhan News, memang pemberitaan atas konferensi ini mengalami penyensoran yang sangat ketat, sehingga dunia luar tidak banyak tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

Dunia hanya melihat, tiga pemimpin tanpa nurani, Bush, Olmert, dan Abbas dengan senyum lebar saling berjabat tangan, sementara di Gaza sana tentara Zionis terus melancarkan operasi militer dan membunuhi orang-orang Palestina. Namun, sepinya pemberitaan mengenai konferensi ini justru memperlihatkan satu fakta besar: konferensi ini sudah gagal. Sama sekali tidak ada hasil tangible (nyata) dari konferensi ini, hanya ada setumpuk janji dan harapan. Pihak yang kalah dalam konferensi ini sudah jelas: Negara-negara Arab yang bersedia mengirimkan wakilnya ke Annapolis untuk meramaikan pertunjukan yang digelar Bush dan Rice. Di barisan depan orang-orang kalah itu, tentu saja, berdiri Mahmoud Abbas. Tanpa mempedulikan protes ribuan rakyatnya sendiri, Abbas datang ke Annapolis untuk berunding, padahal sudah tahu, Israel tidak akan memberikan konsesi apapun dalam perundingan itu. Bahkan Abbas sendiri mengakui, “Konferensi ini (memang hanya) untuk memulai perundingan antara Palestina dan Israel, dan itulah yang terjadi.”

Lalu, apa kata Olmert? “Hingga tahun 2008 pun belum tentu akan ada perdamaian.”

Bush sendiri mengeluarkan pernyataan, “Perdamaian harus dikejar demi masa depan kawasan karena perang sedang berlangsung; dan kita tidak boleh memberikan kemenangan kepada para ekstrimis.” Ektrimis yang dimaksud Bush tentu saja, para pejuang Palestina yang memperjuangkan kemerdekaan tanah air mereka.

Pesan Bush ini dikomentari oleh Essam Norman dengan setengah joke. Dengan bahasa Arab, Annapolis bisa diplesetkan menjadi ‘ana” (saya) ‘polis’ (polisi). Dalam artikelnya di koran Al Akhbar, Lebanon, Norman menulis, yang ingin disampaikan Bush adalah, “Saya adalah polisi di Timur Tengah, yang bertanggung jawab atas keamanan kalian. Waspadalah terhadap tipudaya para pembuat onar. Musuh kalian bukanlah Israel, tapi Iran.”

AFP melaporkan, dalam joint-statement yang dirilis di Annapolis, disebutkan bahwa kedua pihak sepakat untuk menciptakan mekanisme monitoring pengimplementasian Peta Jalan, yang isinya proposal pendirian negara Palestina merdeka yang berdampingan dengan ‘damai’ bersama Israel.

 

Ada beberapa kerancuan dari kesepakatan ini. Satu yang terpenting: ide pendirian negara Palestina merdeka tidak akan terwujud selama Zionis masih melancarkan operasi perluasan wilayah seperti sekarang. Pembangunan perkampungan Zionis masih terus berlanjut, demikian pula pembangunan Tembok Zionis yang mencaplok tanah dan sumber air orang-orang Palestina. Belum lagi serangan-serangan militer yang secara sistematis dilakukan militer Zionis di Palestina, bahkan di saat Olmert berada di Annapolis. (Dan, adalah wajar bila menghadapi semua kezaliman ini, para pejuang Palestina angkat senjata. Anehnya, mereka malah disebut ekstrimis).

 

Ide pendirian negara Palestina hanya akan terwujud bila invasi dan okupasi dihentikan, lalu secara adil ditetapkan wilayah masing-masing negara. Sayangnya, inilah hal yang paling tidak mungkin dilakukan oleh Rezim Zionis secara sukarela.

 

©DinaSulaeman

Iklan

4 Komentar

  1. ratih gumilang berkata:

    asslamualaikum???
    bu dina…pa nda sebaiknya bu dina melamar jadi dosen sastra persia di UI depok, karena dosen sastra persia satu2nya telah tiada beberapa bulan yg lalu…
    dan saya yg ingin meneruskan study saya (saya mahasiswa sastra arab di sana) ingin melanjutkan ke sastra persia,tp saya bingung karena semester ini, yg seharusnya saya mengambil mata kuliah sastra bahasa dan budaya persia jadi tidak bisa….
    pliz…. bu dina..jika bu dina kurang berkenan, rekomendasikanlah seseorang untuk menjadi dosen sastra persia di jurusan yang sedang saya tekuni…
    makasih bu dina…
    wasalam…

  2. ratih gumilang berkata:

    mohon dibalas ya bu…

  3. ratih gumilang berkata:

    bu dina…
    kenapa bu dina tidak menulis tentang syiah di persia…??
    kan bu dina pasti sudah faham benar dengan kehidupan suni syiah di sana…
    biar di indonesia ketentraman syiah dan suni sama dengan seperti di persia…
    makasih bu dina…

  4. dinasulaeman berkata:

    Ratih, terima kasih atas tanggapan dan sarannya. Akan saya pertimbangkan.

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: