Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina » Trying to Understand The Suicide Killings (1)

Trying to Understand The Suicide Killings (1)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

By: Dina Sulaeman

Entah apa yang harus saya tulis tentang Gaza? Statistik Amnesti Internasional menyebutkan, 1.1 juta orang atau 80% penduduk Gaza sekarang bergantung kepada bantuan makanan, 40 % penduduknya pengangguran, banyak rumahsakit yang terbengkalai akibat pemadaman listrik hingga 12 jam sehari, sistem saluran air dan limbah tak berfungsi sehingga 40 hingga 50 juta liter limbah dibuang ke dalam laut setiap hari. Gaza kini bagaikan penjara raksasa, dimana penduduknya dilarang keluar, bahkan demi berobat sekalipun.

Orang-orang yang masih berhati nurani hanya bisa berkata-kata. “Menghukum keseluruhan penduduk Gaza dengan menafikan keperluan asasi manusia tidak dapat dimaafkan. Situasi ini harus dihentikan segera,” Kate Allen, dari Amnesti Internasional Inggris.

Dunia seolah bungkam, hanya mampu mengecam dan menghimbau.

Awal Konflik: Mengapa Hamas-Fatah Bertikai?

Sebenarnya, kejadian mana yang bisa disebut sebagai awal konflik? Ketika ide pembentukan Israel Raya bergulir? Atau, lebih jauh ke belakang, ketika bangsa Yahudi dianggap terusir dari Palestina dan karena itu berhak untuk merebut kembali tanah itu?

Sepertinya, akan lebih membumi bila kita meninjaunya dari pertanyaan, mengapa Hamas dan Fatah bertikai? Bukankah keduanya sama-sama anak bangsa Palestina dan sudah pasti, sama-sama menginginkan kedamaian di tanah air mereka?

Saya pun berusaha menelusuri sejarah pembentukan kedua organisasi ini.

Fatah atau Harakat al-Tahrir al-Watani al-Filistini, didirikan tahun 1954 oleh para pelajar Palestina yang sebelumnya menjadi pengungsi di Gaza, lalu menuntut ilmu di Mesir (diantaranya Yaser Arafat). Mereka bertekad untuk membebaskan bangsa Palestina melalui perjuangan bersenjata. Segera, Fatah tumbuh menjadi pasukan gerilyawan yang kuat.

Di saat Fatah bergerilya dan melakukan serangan-serangan untuk melumpuhkan Israel, (dan di saat tentara Israel menekan dan merepresi habis-habisan para pejuang Fatah), pada tahun 1970-an Syekh Ahmad Yasin pulang dari Kairo dan membentuk organisasi sosial Islami, yang berpatron pada Gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Kegiatan awal mereka adalah di bidang bakti sosial dan memberdayakan masyarakat melalui pendidikan. Israel membiarkan kegiatan keislaman di bawah pimpinan Syekh Ahmad Yasin ini berkembang karena ingin memanfaatkannya sebagai ‘kontra Fatah’. Seiring dengan semakin besarnya dukungan masyarakat, gerakan sosial ini lambat laun mengubah metode perjuangannya, menjadi perjuangan bersenjata di bawah bendera Hamas (Gerakan Perjuangan Islam, Harakah Al-Muqawwamah Al-Islaminyah). Prinsip perjuangan Hamas adalah membebaskan bangsa Palestina dari penjajahan Israel dan tidak mengakui keberadaan Israel.

Sementara itu, pada tahun 1964, Liga Arab mendirikan Organisasi Pembebasan Palestina (Munazzamat al-Tahrir al-Filistiniyah) atau PLO yang merupakan konfederasi berbagai partai dan organisasi yang berjuang membebaskan Palestina. Sejak tahun Tahun 1967, Fatah bergabung ke dalam PLO dan tahun 1969, Yaser Arafat berhasil meraih tampuk kepemimpinan organisasi ini.

Awalnya, PLO memiliki tujuan membebaskan Palestina dengan perjuangan bersenjata dan bahkan deklarasi awal PLO menyatakan pendirian negara Israel adalah illegal. Namun, lambat laun tujuan ini bergeser dan bahkan akhirnya, PLO menyatakan menerima ide “two states solution” atau berdirinya dua negara yang berdampingan secara damai, yaitu Israel dan Palestina. Tahun 1993, Yaser Arafat secara resmi mengakui eksistensi negara Israel dalam suratnya kepada PM Israel, Yitzak Rabin. Rabin membalas surat itu dengan menyatakan bahwa bagi Israel, PLO adalah wakil bangsa Palestina

Dua Ideologi yang Berbeda: Siapa yang Didukung Bangsa Palestina?

Sejak awal pembentukannya, Hamas dan Fatah memang berbeda. Hamas berideologi Islam, sementara Fatah (dan PLO) berideologi nasionalis-sekuler. Perbedaan ini semakin tajam setelah Fatah dan PLO berbaik-baik dengan Israel, mengakui eksistensi Israel, bersedia berunding berkali-kali dengan Israel, meski berkali-kali pula dikhianati.

Di antara perundingan PLO-Israel yang dimediasi AS, adalah perundingan Oslo, yang hasilnya adalah berdirinya Otoritas Nasional Palestina (PNA, The Palestinian National Authority) pada tahun 1994. Berdasarkan perjanjian Oslo, Otoritas Palestina dibentuk untuk mengontrol masalah sipil dan keamanan di kawasan urban Palestina (disebut Area A), mengontrol hanya masalah sipil di daerah pinggiran Palestina (disebut Area B). Wilayah lainnya, termasuk pemukiman-pemukiman Israeli, wilayah Lembah Jordan, dan jalan-jalan di antara kawasan-kawasan Palestina (Area C), berada di bawah kontrol Israel. Jerusalem Timur tidak dimasukkan dalam perjanjian ini.

PNA dipimpin oleh Presiden Otoritas Palestina yang langsung diperankan oleh Yaser Arafat. Sepanjang masa kepemimpinan Arafat, PNA telah menjadi perpanjangan tangan Israel dalam menekan perjuangan gerilyawan Palestina termasuk Hamas. Segala bentuk serangan terhadap Israel dikateogorikan sebagai aksi teroris dan Otoritas Palestina berkewajiban membasmi ‘teroris’ itu.

11 November 2004, Afarat meninggal dunia. Januari 2005, diadakan pemilihan presiden Otoritas Palestina. Hamas memboikot pemilu itu, yang kemudian dimenangkan oleh Mahmoud Abbas, pemimpin Fatah pasca Arafat. Tapi, Hamas ikut serta dalam pemilu legislatif bulan Januari 2006, dan berhasil merup 42,9% suara (74 dari 132 kursi). Kemenangan Hamas membuktikan satu hal: mayoritas rakyat Palestina mendukung Hamas, artinya, mendukung keinginan untuk merdeka dari penjajahan Israel dengan cara perjuangan bersenjata. Kemenangan Hamas dalam pemilu parlemen berbuah terpilihnya Ismail Haniyeh sebagai Perdana Menteri Palestina.(Dalam sistem politik Palestina, Perdana Menteri dipilih oleh Presiden Otoritas Nasional Palestina dan bukan dipilih oleh Dewan Legislatif Palestina atau tidak juga dipilih secara langsung oleh rakyat. Meskipun begitu, sang perdana menteri umumnya mewakili koalisi mayoritas di parlemen.)

Namun, karena ‘perjuangan bersenjata untuk meraih kemerdekaan’ ini oleh Barat disebut sebagai ‘aksi teroris’, Hamas dikategorikan sebagai organisasi teroris. Ditambah lagi, Sejak awal pembentukan kabinetnya, Ismail Haniyeh secara tegas mengumumkan bahwa pihaknya tidak mengakui secara resmi keberadaan negara Israel. Barat pun menghentikan bantuannya kepada PNA, namun tetap menyuplai bantuan kepada Fatah. Padahal, Perdana Menteri Palestina sangat bergantung kepada bantuan asing untuk menjalankan roda pemerintahan.

Bahkan Demokrasi Pun Tak Hentikan Perang

Ajaibnya, ketika proses demokrasi berlangsung di Palestina, Israel tak jua menghentikan serangan-serangannya. Saya menyebutnya ajaib karena dalam kondisi seperti Israel tetap diposisikan sebagai korban oleh media Barat. Ajaib, karena para pendukung demokrasi tak bersuara menghadapi gerakan anti demokrasi yang dilancarkan Israel.

Hamas membalas serangan-serangan militer dari Israel dengan senjata yang segera disebut sebagai aksi teroris. Mahmoud Abbas bahkan ikut-ikutan Barat, meminta Hamas hentikan serangan ‘teroris’. Tak cukup, serangan-serangan bersenjata dan percobaan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh Hamas pun dilancarkan oleh Fatah. Perang antara keduanya segera meletus dan menewaskan ratusan orang. Puncaknya, 14 Juni 2007, Presiden Otoritas Palestina membubarkan kabinet dan memecat Ismail Haniya. Hamas menolak keputusan ini dan tetap menganggap Haniya sebagai Perdana Menteri. Hingga kini, Gaza dikuasai oleh Hamas dan Tepi Barat dikuasai Fatah.

(Bersambung)

Iklan

3 Komentar

  1. kasihan ya mereka!
    smoga Allah segera menolong dan membebaskan mereka dari penderitaan ini!

  2. Blog Anda bagus. Bagaimana kalau kita berbagi tulisan?

  3. manan berkata:

    wlw pun sdh ribuan taon mungkin ini dendam kesumat israel thdp arab, bukankah nabi arab pernah membantai para yahudi otomatis adlh israel?(pdhl arab israel sodaraan). Kalo barat anti islam bukankah krn islam sendiri anti barat?. Aduh yg mn slh duluan?, g tau.

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: