Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina » Trying to Understand The Suicide Killings (2)

Trying to Understand The Suicide Killings (2)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Note: maaf lambat sekali menulis bagian ke-2 ini, saya kemarin2 sibuk menyelesaikan buku ttg Palestina, mudah2an bisa terbit bulan Mei ini.

Gaza Under Siege

Sejak 12 Juni 2007, Gaza dikepung. Israel melarang secara total semua kegiatan lalu-lalang keluar masuk Gaza. Bahkan, truk-truk yang membawa makanan dan obat-obatan pun dilarang masuk Gaza sehingga penduduk Gaza kelaparan dan kehilangan akses terhadap perawatan medis. Pusat Nutrisi Anak Ard El Insan di Gaza City melaporkan, setengah dari anak-anak Gaza kekurangan gizi. Pusat Nutrisi Anak itu memberikan bantuan makann untuk anak-anak kurang gizi itu, namun, kini mereka tidak lagi diberi buah-buahan karena terhentinya suplai buah-buahan akibat pengepungan Gaza.

Pengepungan Gaza mempengaruhi semua aspek kehidupan di Gaza, termasuk akses makanan dan air. Daging segar sudah sangat jarang didapat akhir-akhir ini, dan begitu pula buah-buahan. Pemutusan aliran listrik membuat setengah dari penduduk Gaza (total populasi Gaza 1,5 juta orang) kekurangan air bersih karena tidak ada energi untuk menghidupkan pompa air lebih dari 4-6 jam per hari.


Pengepungan Gaza juga membuat hancurnya 95% perindustrian Gaza yang bergantung pada bahan mentah impor. Akibatnya, 80% industri sudah menutup usaha mereka dan sisanya beroperasi dengan hanya 60% kapasitas. Pada bulan pertama pengepungan saja, kerugian ekonomi yang diderita Gaza senilai 20.6 juta dollar. Pada bulan pertama itu pula, 3.190 industri ditutup dan 65.800 pekerja yang menghidupi 450.000 orang keluarga mereka, kehilangan pekerjaan. Semakin hari, semakin banyak industri yang tutup dan semakin banyak penduduk Gaza yang kehilangan mata pencaharian untuk menghidupi keluarga.
Gaza sesungguhnya telah dijajah Israel selama 40 tahun (sejak 1967), dan pada tahun 2005 Israel menyatakan diri menarik mundur tentaranya dari Gaza. Namun, militer Israel tetap membangun zona militer di sekeliling jalur Gaza dan mengontrol semua akses yang menghubungkan penduduk Gaza dengn dunia luar. Selama itu, penduduk Gaza tetap diizinkan keluar masuk wilayah Gaza, begitu pula ekspor-impor barang industri. Namun sejak Juni 2007, semua akses itu ditutup. Bahkan berkali-kali terjadi, anak-anak meninggal dalam pelukan orangtuanya karena mereka tak diizinkan keluar Gaza untuk mendapatkan perawatan medis.

Penjara Raksasa di Tepi Barat
Tepi Barat pun tak luput dari pengepungan. Sejak Juni 2002, militer Israel telah membangun sebuah tembok yang mengelilingi Tepi Barat. Militer Israel mengklaim bahwa pembangunan tembok itu mengikuti garis pembatas antara Tepi Barat dan wilayah Israel (Jalur Hijau). Tapi, faktanya, pembangunan tembok itu berkelok-kelok menyimpang dari Jalur Hijau itu dan mencaplok wilayah Tepi Barat. Militer Israel menyatakan bahwa area tembok itu sebagai zona militer dan tentara diperintahkan menembak sampai mati siapa saja yang memasuki zona itu.
Tembok itu telah merampas 58 % wilayah Tepi Barat sehingga penduduknya seolah hidup dalam penjara raksasa. Penduduk kota Qalqilya misalnya, kini hampir seluruhnya terpenjara di dalam tembok itu (karena kota itu dicaplok oleh tembok yang berkelok mengelilingi Qalqilya, sehingga kota itu terkurung antara Jalur Hijau dan Tembok Zionis). Untuk pembangunan Tembok Zionis itu, tentara Israel telah menghancurkan ladang dan kebun-kebun; 42.165 unit rumah telah dihancurkan, dan puluhan ribu hektare tanah milik penduduk Palestina telah dicaplok. Pos-pos militer Israel dibangun di mana-mana sehingga menghalangi akses penduduk Palestina ke sekolah, klinik kesehatan, dan tempat kerja. Keluarga-keluarga telah dipisahkan secara paksa. Bahkan, penduduk Qalqilya tidak lagi bisa melihat matahari terbenam karena sedemikian tingginya Tembok Zionis.

Pos-pos penjagaan Israel merupakan monster-monster yang menghalangi aktivitas lalulalang penduduk Palestina. Izin untuk melewati pos-pos itu sangat bergantung kepada selera si tentara. Tentara Israel bagaikan dewa yang menentukan nasib warga Palestina. Bukan hal aneh bila seorang ibu yang ingin keluar desa untuk membawa anaknya ke rumah sakit dihalangi oleh tentara Israel dan kemudian si anak mati dalam pelukannya.
Penduduk kamp pengungsi Tulkarm misalnya, untuk mencari nafkah, harus pergi ke kota Ramallah (yang merupakan pusat bisnis di Tepi Barat) yang berjarak 50 kilometer. Namun, jarak itu harus ditempuh antara 1,5 hingga 4 jam. Hal itu karena jalan yang diizinkan untuk dilewati oleh orang Palestina sangat buruk, dan juga karena sepanjang jalan ada beberapa pos penjagaan, baik yang lama maupun yang tiba-tiba saja dibangun.
Seorang pria Palestina yang tinggal di Kamp Pengungsi Tulkarm menceritakan, “Ketika saya tiba di pos penjagaan, tentara akan menanyakan mengapa orang kamp pengungsi ingin pergi ke Ramallah.” Meski pria itu sudah menunjukkan kartu tanda kerjnya, tentara bisa saja seenaknya menolak memberi izin. “Semua bergantung pada selera si tentara,” kata pria itu.
Untuk menghindari masalah ini, pria tersebut menyewa kamar di Ramallah dekat tempat kerjanya. Di akhir pecan, dia pulang ke kamp pengungsian untuk menemui keluarganya. Tapi, kini tentara Zionis berulah lagi. Mereka menanyakan, mengapa si pria yang kini memiliki tanda pengenal dengan alamat Ramallah ingin ke kamp pengungsian. Dan lagi-lagi, izin masuk ke kamp pengungsian sangat bergantung pada mood si tentara.

Mohammed Tull, warga Palestina yang tinggal delapan kilometer dari Ramalah, menulis[1], “Satu-satunya jalan yang dibuka untuk orng-orang Palestina yang ingin masuk ke Ramallah dijaga oleh pos militer Israel.Setiap mobil dihentikan, ketika masuk atau keluar RAmallah. Antrian panjang selalu terjadi di pos ini, tiap orang diperiksa satu persatu. Proses keluar-masuk Ramalah bisa memakan waktu 4-6 jam. Biasanya kami ditanyai nama, kartu identitas, dan di mana bekerja. Namun, seringkali, kami tidak ditanyai apapun. Sangat jelas bahwa tujuan adanya pos militer itu bukan demi keamanan, tapi lebih sebagai alat psikologis untuk menghina penduduk.

Minggu lalu, saat aku pergi bekerja, aku melihat seorang pria usia 50-an duduk di atas batu, di samping sebuah mobil van yang keempat rodanya pecah. Dia minta tumpangan. Namanya Taha. Ternyata, dia menghindari pos militer dan mengambil jalan lain supaya bisa lebih cepat masuk Ramallah. Tentara Israel menghentikannya, memecahkan ban mobilnya, mengambil kunci mobilnya dan kartu pengenalnya, lalu membaringkan lelaki tua itu di tanah, menginjaknya, dan mengasarinya. Saat Taha menjelaskan kejadian yang menimpanya, tangisnya meledak. Dia berkata, “Mereka bisa mengambil mobilku, bila mau. Tetapi mengapa mereka harus menghinaku seperti itu?”

Bom Bunuh Diri

Mohammed Tull melanjutkan, “Inilah sekilas tentang kehidupan kami sehari-hari di Palestina. Sayangnya, di hadapan semua kesengsaraan ini, sebagian besar dunia tetap diam. Media Barat bahkan sering membantu Israel untuk menutup-nutupi semua kejahatan yang dilakukan tentara Israel terhadap bangsa Palestina. Di mata CNN, semua Palestina yang terbunuh adalah teroris, atau calon teroris, dan semua kerusakan yang terjadi di Palestina adalah dampak yang wajar karena Israel sedang membela diri. Berita-berita disajikan seolah-olah semua ini terjadi tanpa ada alasanyang riil, tanpa mengkaji latar belakang sejarah. Kami seolah-olah dianggap pengacau tanpa otak yang mencari kesulitan demi diri sendiri, bukan demi orang-orang yang benar-benar ada, org-orang yang dihancurkan tanpa belas kasihan. Para reporter memberitakan tentang kami seolah telah lupa fakta utama dari semua ini: Israel adalah kekuatan penjajah, dan bangsa Palestina adalah orang yang terjajah.”

Pemberitaan tentang Palestina atau analisis dan kajian ilmiah tentang konflik Israel-Palestina yang dilakukan oleh sebagian besar media Barat (dan media pro Barat) sering menyebut-nyebut bom bunuh diri sebagai aksi terorisme dan karena itulah Israel berhak melakukan apa saja untuk mencegah terjadinya serangan itu. Misalnya, dalam pemberitaan Associated Press (AP) terkait bom bunuh diri di Eilat, Israel, yang menewaskan 3 orang, AP secara detil mendeskripsikan dampak dari serangan itu (dan menggiring pembaca untuk bersimpati kepada orang-orang Israel “tak berdosa” yang menjadi korban), juga mengutip kecaman dari Gedung Putih atas aksi terorisme itu, dan kemudian, memberitakan bahwa Israel mereaksi serangan bom bunuh diri itu dengan meledakkan sebuah terowongan di perbatasan Gaza-Israel.[2] Situs BBC dalam analisisnya tentang fenomena bom bunuh diri, memulai dengan kalimat tendensius “Palestinian suicide bomb attacks against Israelis aim to kill and injure as many people as possible, and create the greatest amount of fear. The victims are, most often, civilians going about their daily life” dan mengkhirinya dengan kalimat yang mendorong pembaca menjustifikasi berdirinya Tembok Zionis, “Israel’s leaders appear to have ultimately come to the conclusion that only physical separation with the Palestinians can solve the problem of human bombs.” [3]

Pemberitaan seperti itu jelas melupakan fakta nyata bahwa setiap hari ada saja orang Palestina (termasuk anak-anak) yang tewas atau terluka akibat serangan militer Israel; jutaan warga Gaza yang diisolasi dan kekurangan makanan serta obat-obatan; ribuan warga Palestina, termasuk anak-anak yang dipenjara dan disiksa di sana. Dan, yang paling “sederhana”, monster-monster pos penjagaan Israel yang telah meneror kehidupan sehari-hari orang Palestina. Mohammed Tull menulis, “Tentara Israel telah membuat orang Palestina hampir tidak mungkin melakukan aktivitas sehari-hari yang sederhana: pergi bekerja, ke dokter, mengunjungi teman di desa sebelah, atau bahkan pergi membeli makanan. Lalu, orang-orang Israel keheranan, mengapa kami sedemikian marah?”

“Dunia macam apa yang tengah kami jalani; dunia tempat kami membesarkan anak-anak kami? Cara apa lagi yang tersisa untuk orang Palestina untuk mengubah dunia tempat kami hidup? Haruskah kami semua membunuh diri kami dulu sebelum dunia memahami keadilan bagi bangsa yang merindukan kemerdekaan?”

Kesimpulannya, penjajahan yang dilakukan Israel telah menimbulkan teror yang terus-menerus, kefrustrasian, dan keputusasaan di tengah bangsa Palestina. Bom bunuh diri harus dipahami dalam konteks ini. ©Dina Sulaeman
——————-

[1]http://ship-of-fools.com/Features/Palestine/0202/Tull.html

[2]http://www.usatoday.com/news/world/2007-01-29-israel-explosion_x.htm

[3] http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/3256858.stm

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: