Kajian Timur Tengah

Beranda » Lebanon - Hezbollah » Pro-Kontra Kerusuhan Mei di Beirut

Pro-Kontra Kerusuhan Mei di Beirut

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Oleh: Dina Y. Sulaeman

Untuk lebih jelas terkait konstelasi politik Lebanon, sebaiknya baca dulu artikel sebelumnya https://dinasulaeman.wordpress.com/2007/11/26/siapa-di-balik-konflik-lebanon/

Jika kita membaca kerusuhan di Beirut selama sepekan lalu (8-14 Mei) dari media massa Barat atau pro-Barat, kejadiannya adalah, Hizbullah ngamuk setelah Perdana Menteri Siniora memutuskan menutup jaringan telekomunikasi Hizbullah dan mengganti kepala Bandara Beirut. Hizbullah (dengan embel-embel “didukung oleh Iran dan Suriah”) menyerang kelompok-kelompok pendukung pemerintah. Sebagian media bahkan menyebut bentrokan ini adalah antara mazhab Sunni melawan Syiah. New York Times memasang foto seorang wanita Druze yang menangis karena rumahnya dibakar. Tidak dijelaskan siapa yang membakar, tapi berita di bawah foto itu akan menggiring pembaca menyimpulkan bahwa pembakarnya adalah kelompok Hizbullah.

Tapi, mari kita sejenak menengok pemberitaan dari situs Al Manar, Kayhan, atau situs resmi Hizbullah. Kita akan menemukan fakta-fakta yang selama ini tersembunyi (atau disembunyikan) media Barat.

Misalnya, aksi Saad Hariri, anggota Parlemen Lebanon. Dia mempunyai kelompok bernama Al Mustaqbal. Di hari ke-6 bentrokan, Saad Hariri baru muncul dalam sebuah konferensi pers dan dengan enteng menyangkal bahwa kelompok Al Mustaqbal adalah kelompok bersenjata.

Padahal, kenyataannya, bentrokan dipicu oleh aksi-aksi teror milisi Al Mustaqbal yang dilancarkan terhadap penduduk sipil. Sebelumnya, menyusul keputusan Perdana Menteri Siniora untuk menutup jaringan telekomunikasi Hizbullah dan mengganti Kepala Bandara Beirut, Hizbullah (dan kelompok oposisi) menggerakkan demonstrasi damai memrotes pemerintah. Mereka menutup jalan-jalan di Beirut dan sekitarnya. Di sebagian besar wilayah Lebanon terjadi unjuk rasa menentang kebijakan ekonomi dan sosial pemerintahan Siniora. Aksi mogok yang digalang aliansi buruh ini juga merembet ke airport internasional Beirut sehingga melumpuhkan aktivitas di bandara ini. Sejumlah maskapai penerbangan membatalkan penerbangan hari ini dan para demonstran menutup jalan menuju bandara. Akibatnya, aktivitas perekonomian di Beirut dan wilayah lainnya lumpuh. Mayoritas pusat perbelanjaan ditutup, demikian juga sekolah dan universitas, karena para pekerja melakukan aksi mogok.

Teror Al Mustaqbal
Milisi Al-Mustaqbal kemudian melakukan berbagai teror, antara lain melemparkan bom ke tengah para demonstran, menyerang kantor partai-partai nasional, menutup jalanan, dan membakar rumah-rumah para politisi oposisi dan para pendukungnya. Di antara korbannya adalah rumah keluarga seorang anggota kelompok oposisi, Ahmed Mahmoud. Mahmoud sendiri, satu setengah tahun sebelumnya dibunuh oleh milisi Al Mustaqbal di kawasan Tariq el-Jadideh.

Di hari kedua bentrokan, penduduk kawasan Nuweiri memutuskan untuk menyerbu kantor kelompok itu dan menemukan senjata, amunisi, dan alkohol. Setelah itu, militer Lebanon datang ke lokasi dan menangkap 21 orang anggota milisi. Kejadian ini direkam dan ditayangkan oleh stasiun televisi Al Manar. Al Manar (dan stasiun televisi lain) juga menayangkan rekaman pembunuhan brutal yang dilakukan oleh milisi Al Mustaqbal di kawasan Halba, menewaskan 11 orang. Selanjutnya, aksi-aksi kelompok oposisi pimpinan Hizbullah berhasil memaksa milisi Al Mustaqbal menyerahkan kantor-kantor (markas) mereka di berbagai penjuru Lebanon. Hizbullah menyerahkan milisi itu kepada militer, begitu pula senjata dan amunisi simpanan milisi Al Mustaqbal.

Al Mustaqbal sebelumnya sudah pernah melakukan aksi teror, antara lain teror terhadap Arab University (Februari 2007) dan menembaki mahasiswa. Beberapa bulan setelah itu, milisi pimpinan Saad Hariri ini menembaki kantor Partai Sosialis Progresif (pimpinan Walid Jumblatt) di kawasan padat penduduk Aramoun. Televisi Al-Manar menayangkan rekaman aksi teror ini secara jelas memperlihatkan wajah para penembak.

Los Angeles Times (12 Mei) menurunkan laporan menarik tentang Al Mustaqbal. Dalam laporan itu dikutip pernyataan ahli keamanan Lebanon dan pejabat resmi negara itu, bahwa faksi politik utama Lebanon dengan dukungan AS telah membangun sebuah milisi di bawah kedok ‘perusahaan keamanan swasta’. Perusahaan keamanan bernama “Secure Plus” ini berada di bawah naungan kelompok Al Mustaqbal pimpinan Saad Hariri. Mereka dilatih dan dipersenjatai dengan tujuan untuk melawan kelompok Hizbullah. Dengan berkostum celana warna abu-abu dan kaos merah maroon, mereka dilatih militer dasar selama berbulan-bulan dengan gaji sebulan minimalnya $350.

Namun jangan terkecoh juga oleh gaya pemberitaan LA Times itu [1], karena senada dengan media Barat umumnya, kelompok-kelompok yang berseberangan di Lebanon digolongkan dalam kelompok Suni melawan Syiah. Padahal, ini adalah pertentangan antara kelompok pro-pemerintah (yang dibacking penuh oleh AS, Israel, dan beberapa negara Arab) melawan kelompok oposisi (yang dipimpin Hizbullah). Baik kelompok pro maupun oposan, terdiri dari berbagai agama dan mazhab; tidak ada yang melulu Sunni, dan tidak ada yang melulu Syiah.

Oposan Menang, Tapi Tidak Kudeta

Menanggapi aksi-aksi teror Al Mustaqbal (dan juga kelompok Walid Jumblatt), kelompok oposisi yang dipimpin Hizbullah melakukan perlawanan dengan cara menduduki berbagai pos penting di Beirut. Dalam aksi-aksinya, Hizbullah selalu berusaha menghindari pembunuhan (meski tentu saja, tak terelakkan, ada beberapa anggota milisi pro-pemerintah yang tewas). Para milisi dari kelompok Al Mustaqbal-nya Hariri dan kelompok Jumblatt hanya ditangkapi, dilucuti senjatanya, lalu diserahkan kepada militer Lebanon. Hanya dalam dua hari, mereka berhasil mengambil alih penguasaan kota Beirut. Kelompok oposisi mengepung tempat tinggal PM Siniora dan Saad Hariri, menguasai kantor harian Al Mutaqbal di jalan Alhamra, menangkap 100 orang anggota milisi, dan sekitar 800 orang lainnya menyerahkan diri pada militer. Selain itu, dalam penggrebekan di rumah salah satu menteri kabinet Siniora ditemukan sejumlah besar senjata dan perlengkapan militer. Sebagian besar anggota kabinet Siniora sejak Kamis malam setelah meluasnya bentrokan sudah angkat kaki dari Beirut.

Kemenangan Hizbullah membuat tokoh-tokoh pro Siniora mengubah nada bicaranya. Misalnya, Jumblatt dilaporkan telah mengirim pesan kepada pemimpin Hizbullah, Sayyid Hassan Nasrallah, untuk mengumumkan bahwa kekerasan yang terjadi di antara kedua kelompok hanyalah sementara dan kelompoknya mendukung gerakan Hizbullah (dilaporkan al-Jazeera TV). Saad Hariri juga menyatakan bahwa keputusan Siniora (untuk melucuti jaringan telekomunikasi Hizbullah) telah disalahpahami.

Puncak dari kemenangan kelompok oposisi tiba hari Rabu 15 Mei. Kabinet Siniora menyatakan membatalkan keputusan mereka untuk melucuti jaringan telekomunikasi Hizbullah dan tidak akan mengganti kepala Bandara Internasional Beirut.

Menariknya, meski sudah menang, alih-alih melakukan kudeta, Hizbullah menarik kembali pasukannya dari pos-pos yang didudukinya, mengembalikannya kepada militer, dan menyatakan kesediaan berunding. Perundingan sudah dimulai Jumat lalu di Qatar.

Semua ini membuktikan Hizbullah memang tidak ingin melakukan kudeta sebagaimana disebut-sebut sebagian media Barat. Ini pun diakui kepala intelijen Israel Major General Amos Yadlin, dalam interview-nya dengan Haaretz Kamis (16 Mei), “Hezbollah did not intend to take control… If it had wanted to, it could have done it.” ©Dina Y.Sulaeman

[1]http://www.latimes.com/news/nationworld/world/la-fg-security12-2008may12,0,6458359.story


3 Komentar

  1. petak mengatakan:

    Menarik sekali,,
    Media mainstream mudah memperdaya kita dengan memperburuk citra Hizbullah.

  2. Akhyar Biladul Karim mengatakan:

    Untuk mengalahkan Hizbullah, diperlukan kekuatan senjata. Juga kekuatan citra melalui pembentukan opini. Kebetulan media-media pembentuk opini yang menyudutkan Hizbullah, berada di pihak-pihak musuh. Alhasil, perang melawan Hizbullah adalah perang senjata dan perang pemikiran.

  3. kany mengatakan:

    maha besar allah ,, telah memberikan karunia kepada pemimpin islam(hizbullah) melawan zeonis,,, israel..

    allahu akbar,,,

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: