Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina » Antara Teheran dan Gaza

Antara Teheran dan Gaza

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

[Dimuat di harian Singgalang (Padang) edisi hari ini (19/1)]

Agaknya, kata “Poros Setan” yang pernah diucapkan George W. Bush sudah sering didengar warga dunia. Yang dimaksud dengan “Poros Setan” oleh Bush adalah Iran, Suriah, dan Korea Utara. Iran dan Suriah dianggap ‘setan’ oleh Bush karena mendukung Hamas, sebuah organisasi yang oleh AS dan sekutunya dikategorikan sebagai ‘teroris’. Padahal, bila kita sedikit saja membaca sejarah Palestina, dengan segera kita akan menangkap siapa yang teroris dan siapa yang menjadi korban teroris. Meski pembagian wilayah Israel-Palestina sudah ditetapkan oleh PBB tahun 1947 melalui Resolusi 181, namun Israel tak pernah berhenti memperluas wilayahnya. Tahun 1967, Israel bahkan menjajah Jalur Gaza dan Tepi Barat (dua kawasan terpisah yang sudah ditetapkan PBB sebagai wilayah Palestina).

Melalui perundingan Oslo 1993-1995, Israel bersedia mengembalikan sebagian wilayah jajahannya itu kepada Otoritas Palestina. Namun, di luar proses perundingan itu, Israel tak pernah henti memperluas wilayahnya dengan cara mendirikan permukiman Yahudi di atas ladang-ladang dan reruntuhan rumah orang-orang Palestina. Hal ini bertentangan dengan Konvensi Jenewa IV pasal 29 menyebutkan, “pihak penjajah tidak boleh memindahkan sebagian penduduknya di kawasan yang sedang dijajahnya.” Berlanjutnya pembangunan permukiman Israel itu (yang disertai dengan perebutan tanah, penyerangan kepada perkampungan-perkampungan Palestina di sekelilingnya) membuat PBB akhirnya pada bulan April 2005 mengeluarkan ‘kutukan’, namun tanpa sanksi apapun. Sehingga tetap saja Israel bergerak mencaplok tanah orang-orang Palestina. Bulan Agustus 2008, Human Right Watch kembali mengeluarkan pernyataan kecaman atas pembangunan permukiman, dengan menyebutnya sebagai “pelanggaran serius atas hak asasi warga Palestina.”

Lalu, tidakkah bangsa Palestina berhak berjuang untuk merebut kembali tanah air mereka? Bahkan kenyataannya, mereka kini berjuang bukan untuk merebut kembali tanah air, melainkan untuk mempertahankan secuil tanah yang masih tersisa. Dan salahkah bila ada negara Islam seperti Iran memutuskan untuk mem-backing Hamas, pejuang garis depan di Palestina?

Bukti-bukti dukungan Iran kepada Hamas memang sangat banyak dan jelas. Pada bulan Desember 1990, untuk pertama kalinya,

pimpinan Hamas diundang secara resmi ke Tehran dalam rangka Konferensi Palestina yang memang tiap tahun diadakan di kota itu. Tahun 1992, delegasi Hamas dipimpin Dr. Musa Abu Marzuk datang lagi ke Teheran dan dalam kunjungan itu, Iran menjanjikan bantuan 30 juta US Dollar. Pimpinan PLO saat itu, Yasser Arafat, dikabarkan tak menyukai adanya bantuan ini. Loncatan besar dalam hubungan Iran-Hamas tampak saat almarhum Syeikh Ahmad Yassin pada Maret 1998 melakukan kunjungan resmi ke Teheran. Selain pemerintah, masyarakat Iran menyambut kedatangan beliau dengan sangat antusias, tanpa memperdulikan perbedaan mazhab di antara mereka. Selanjutnya, Iran selalu mengeluarkan pernyataan dukungan kepada Hamas, dan Hamas pun menyebut Iran sebagai “partner strategis”-nya.

Puncaknya, tahun 2006, ketika Hamas menang pemilu demokratis pertama di Palestina dan menguasai parlemen, AS dan Uni Eropa menghentikan suplai bantuan mereka kepada Palestina. Padahal, Hamas sangat membutuhkan dana internasional untuk menjalankan roda pemerintahannya. Pada saat itu, Iran langsung menyediakan diri untuk menyumbang 50 juta Dollar per tahun kepada Hamas.

Kini, ketika Israel membabi-buta menyerang Jalur Gaza, kawasan yang luasnya hanya separoh kota Padang, tak heran bila Iran disebut-sebut. Betapa tidak, kelompok Hamas yang diprediksi hanya memiliki ratusan personil bersenjata minim, ternyata mampu bertahan meski tiga pekan penuh diserang secara masif. Jauh di luar dugaan Rezim Zionis yang memprediksi bahwa Hamas bisa lumpuh total hanya dalam dua-tiga hari. Padahal, sebelumnya, selama 18 bulan Gaza sudah diblokade total dari darat, laut dan udara. Bahkan suplai makanan dan obat pun seringkali dilarang masuk ke Gaza dalam era blokade 18 bulan itu. Wilayah yang sudah sekarat itu ternyata mampu menahan serangan dari puluhan ribu pasukan Israel bersenjata super lengkap.

Sebagian analis Timur Tengah di media-media Barat menuding Iran berada di balik kekuatan Hamas. VOA News dalam situsnya (6/1) mengutip pendapat Reva Bhalla, analis Timur Tengah yang menyebut bahwa Iran menggunakan jaringan canggih Hizbullah untuk menyelundupkan senjata ke Gaza. Los Angeles Times (4/1) menurunkan artikel provokatif yang membela aksi pembunuhan massal di Gaza dengan judul “In Gaza, the Real Enemy is Iran”. Menurut penulisnya, Yossi Klein Halevi, pengaruh Iran sudah sangat besar di Timur Tengah dan jika Israel berhasil menyingkirkan Hamas, Israel akan mampu meningkatkan kekuatan-kekuatan anti Iran di Timur Tengah. Halevi juga menyatakan bahwa jika Hamas kalah, artinya Iran juga kalah, sehingga Presiden Obama akan mampu menekan Iran dalam proses diplomasinya.


VOA News kemudian mengarahkan opini bahwa di balik semua dukungan Iran kepada Hamas adalah hitung-hitungan politik semata, apalagi Ahmadinejad akan bertarung lagi dalam pemilu Juni 2009. Hal ini dibantah oleh cendikiawan Iran yang mengajar di Syracuse University, Mehrzad Boroujerdi. Menurutnya, dalam pemilu di Iran, rakyat lebih mempertimbangkan faktor ekonomi dalam negeri, bukan politik luar negeri. Kandidat yang diperkirakan akan membawa perbaikan ekonomi lebih disukai rakyat Iran. Menurut saya, pendapat Boroujerdi sangat tepat. Saya menyaksikan dua proses pemilu di Iran, tahun 2001 dan 2005, yang dimenangkan Khatami dan Ahmadinejad. Selama masa kampanye, isu Palestina sama sekali tidak menjadi jargon. Agenda perbaikan ekonomi dan peningkatan lapangan kerja-lah yang menjadi pusat perhatian dalam arena kampanye.

Seiring dengan semua riuh-rendah persaingan politik dalam negeri, Palestina selalu menjadi bagian dari langkah Iran. Siapapun presiden yang terpilih, Palestina selalu mendapat porsi besar dalam kebijakan politik luar negerinya. Setiap sholat Jumat selalu didahului oleh yel-yel spontan para jamaah ‘Marg Bar Amrika, Marg Bar Israil!’ (Matilah Amerika, Matilah Israel!). Sebelum dan sesudah sholat Jumat, kotak sumbangan untuk rakyat Palestina selalu diedarkan. Setiap bulan Ramadhan, selalu diadakan demo besar-besaran di seantero negeri, untuk mendukung Palestina. Pembelaan kepada Palestina seolah telah menjadi bagian kehidupan bangsa Iran dan lepas dari kecenderungan politik atau perbedaan mazhab.

Kini, ketika masyarakat dunia, baik itu muslim maupun non muslim tersentak dan menangis menyaksikan kebrutalan tentara Israel di Gaza, muncul pertanyaan, mengapa Iran tidak menggunakan kekuatan militernya secara langsung? Mengapa Iran tidak menggunakan rudal jarak jauhnya yang mampu menjangkau Tel Aviv itu? Bukankah aksi Israel sudah amat sangat biadab?

Jawaban resmi atas pertanyaan ini dari pemerintah Iran memang tidak ada. Namun, bila kita mengamati berbagai analis Barat yang seolah ‘menunggu’ kedatangan pasukan Iran di Gaza, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa memang Gaza disiapkan untuk menjadi jebakan maut bagi Iran. Kebrutalan Israel di Gaza yang sudah sampai ke luar kemampuan manusia normal untuk mencerapnya, seolah menguji ketahanan mental Iran, sejauh mana masih bisa diam. Bila Iran terprovokasi untuk melemparkan rudal Shahab-nya ke Israel, dengan segera, citra Iran sebagai negara teror yang selama ini diplot Barat, akan terbukti. Sanksi-sanksi untuk Iran yang selama ini sangat alot diputuskan oleh Dewan Keamanan PBB karena banyaknya dukungan kepada Iran, dengan segera akan berjatuhan. Bahkan bukan tak mungkin, AS akan segera punya alasan untuk melancarkan serangan militer ke Teheran.

Namun sejauh ini, para pemimpin Iran tampaknya masih mempertahankan kepala dinginnya. Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khamenei, hanya mengeluarkan seruan jihad kepada kaum muslimin di seluruh dunia dan fatwa haram melakukan transaksi bisnis apapun yang menguntungkan Zionis (termasuk, larangan membeli barang-barang produk perusahaan yang terbukti menyerahkan keuntungannya kepada Zionis). Padahal, puluhan ribu pemuda Iran sudah menyatakan siap diberangkatkan ke Palestina untuk berperang. Konsep jihad dan mati syahid memang menjadi paradigma bagi sebagian besar masyarakat Iran, yang dimotori oleh Tragedi Karbala yang secara rutin tiap tahun diperingati rakyat Iran.

Ahmadinejad pun sejauh ini melanjutkan pernyataan-pernyataan kerasnya terkait Israel, termasuk di antaranya menyebut Mesir sebagai partner Israel dalam menghabisi penduduk Gaza. Tindakan Mesir menutup pintu perbatasannya dengan Gaza membuat suplai makanan dan obat-obatan sangat terhambat padahal penduduk Gaza sudah sangat sekarat. Ahmadinejad juga menyeru negara-negara dunia agar memutuskan hubungan dengan Rezim Zionis serta mengajak negara-negara Arab memboikot suplai minyak ke Israel dan sekutunya. Selain itu, Ahmadinejad sangat aktif mengirim delegasinya ke berbagai negara Arab dengan tujuan membujuk pimpinan negara-negara itu agar mau melawan Israel dengan cara-cara boikot dan pemutusan hubungan dengan Israel. Israel adalah negara yang sangat bergantung pada bantuan dana dari konglomerat-konglomerat Zionis yang menguasai perdagangan dunia. Bila kaum muslimin kompak memboikot produk-produk perusahaan Zionis, bisa dipastikan Israel akan kolaps dengan segera.

Keputusan politik yang diambil Iran tampaknya sangat tepat. Akhirnya, Sabtu (17/1) PM Israel, Ehud Olmert, mengumumkan gencatan senjata sepihak. Padahal, di awal perang, Olmert sesumbar tak akan berhenti menyerang sebelum Hamas dilumpuhkan. Namun, koresponden Press TV melaporkan dari Gaza (18/1), meski Olmert telah menyatakan gencatan senjata, tentara Israel masih terus menghujani Gaza dengan bom fosfor putih (yg menimbulkan luka bakar mengerikan di tubuh manusia, dan sesungguhnya dilarang dipakai dalam perang). Dan memang, bila dicermati, deklarasi gencatan senjata Olmert itu sangat pincang karena dia jelas menyatakan tidak akan menarik pasukannya dari Gaza. Hamas sendiri diberitakan menolak deklarasi gencatan senjata sepihak itu dan menyatakan tidak akan berhenti berjuang sampai seluruh tentara Israel angkat kaki dari Jalur Gaza dan Israel menghentikan blokadenya atas Jalur Gaza yang sudah berlangsung sekitar 19 bulan. Karena itu, dunia internasional hendaknya tak begitu saja memaafkan Israel dan menganggapnya telah menghentikan perang. Keadilan harus diberikan kepada ribuan warga Palestina yang telah menjadi tumbal dalam genosida tiga pekan itu dan Israel harus digiring ke Mahkamah Kejahatan Internasional.

*Dina Y. Sulaeman, penulis buku “Ahmadinejad on Palestine’, mantan penerjemah dan editor di Islamic Rep. Of Iran Broadcasting, kini tinggal di Bandung.

Iklan

12 Komentar

  1. saya salut sekali dengan usaha negara Iran dalam membantu palestina. ketika israel laknatullah menyerang palestina, saya jadi berpikir sudah siapkah kita jika suatu saat nanti Israel akan menyerang Indonesia? sepertinya kita Indonesia patut waspada dan bersiap akan hal ini karena Israel sungguh biadab dan dapat melakukan apapun dgn seenaknya.
    sudah saatnya kita mengembangkan persenjataan2 mutakhir buatan anak bangsa. seperti Iran yg mengeluarkan roket buatan sendiri dan pesawat azarakh.

    -salam kenal dan salam perjuangan-

  2. Tulisan bunda memberi pencerahan bagi saya…..
    ternyata saling tolong menolong dalam masalah kemanusiaan ternyata tidak tebang pilih seperti yang dilaksanakan oleh Iran.
    Keyakinan saya menjadi kuat, kaum muslimin akan memenangkan pe2rangan di timur tengah selagi Hammas,Hizbulloh dan Taliban masih terdengar gaungnya di dunia ini…..
    Tetapi yang masih saya bingungkan kenapa Iran terlihat seperti diam saje disemua media yang ada. Apakah ada media yang memberitakan kesungguhan Iran dalam proses perdamaian di timur tengah?????Toh terkadang Al Jazeera yg pro dg USA sering memberitakan sesuatu berulang2…..terkadang saya jadi jenuh bunda…kalo melihat berita2 tentang Palestina secara terus menerus. Berita tentang Hammasnya sangat jarang sekali.kenapa ya bunda…..?

    • dinasulaeman berkata:

      @Arif: coba Arif ikuti PressTV (presstv.com), Al Alam, dan IRIB (www.indonesian.irib.ir), di situ laporan ttg langkah Iran lebih lengkap, bgt pula laporan ttg Hamas.
      kapan ya saya bisa ke Jogya? Nanti saya jelaskan panjang lebar..

  3. truedhee berkata:

    Maaf Bu, saya mo tanya tapi mungkin pertanyaannya agak lemot. ini pertanyaan di benak saya dari dulu. kenapa ya negara2 besar islam di timteng, salah satunya Arab Saudi, terkesan ogah2an mendukung perjuangan palestina? kenapa hanya iran saja yg sejak awal terang2an mendukung? apa mereka punya hubungan diplomatik yg buruk ato ada intervensi dari US ato gimana? makasih utk tanggapannya 🙂

    • dinasulaeman berkata:

      @Truedhee: kalau Anda baca sejarah pemerintahan negara2 Arab (bgmn proses pengangkatan raja2 Arab), Anda akan tau jawabannya mengapa raja2 Arab banyak yg manut sama AS-Inggris-Israel. Tapi, rakyat Timteng umumnya mendukung Palestina (terbukti dari demo2 dukung Palestina). Seringkali, kehendak rakyat tidak dipedulikan oleh pemerintahnya.

  4. arif fathoni berkata:

    assalamu’alaykum

    trima kasih atas artikelnya..
    pertama kali saya mengetahui Ahmadinejad, saya sangat kagum dengan kepeminpinannya yg berani, tegas..

    dan saya pun mengesampingkan perbedaan prinsip2 antara kebanyakan masyarakat Iran dengan kebanyakan masyarakat Indonesia…

    namun saya menjadi bingung ketika mendapat email, isinya foto2 Ahmadinejad sedang berpelukan “mesra” dgn rabi2 israel.

    berikut kutipan email nya :

    “Menurut http://www.almokhtsar.com, banyak yang tertipu oleh Ahmadinejad, bahwa sikap Ahmadinejad itu adalah kamuflase belaka. Bagaimana tidak, kenyataannya secara tersembunyi terjalin kontak dan koalisi yang intens antara Ahmadinejad dan Israel dalam hal pembelian senjata dan transaksi lainnya.

    Masih seperti yang dilansir situs yang terbit di Timur-Tengah tersebut, “Setelah pidato yang berapi-api itu, orang-orang mengira, Nejad akan mengembalikan wibawa dan kekuatan kaum Muslimin. Demikiankah? Tunggu dulu! Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan!” Oleh almokhtsar, Ahmadinejad tertangkap oleh juru kamera sedang bersama orang-orang Yahudi di Amerika. Di New York, Presiden Iran itu menyambut kedatangan sejumlah Rabi Yahudi Amerika. Secara jelas, Ahmadinejad memberi sambutan hangat, saling memberi hadiah dengan orang-orang Yahudi dan penghormatan terhadap musuh-musuh Islam itu. (sa/am)”

    bagaimana tanggapan Ibu mengenai issu ini?
    apakah benar demikian?

    terima kasih atas perhatiannnya..

    wassalamu’alaykum
    A.F.

    • dinasulaeman berkata:

      @Arif: yang bersalaman dg Ahmadinejad itu adalah para Rabi Yahudi yg anti Zionis. Iran tidak anti Yahudi, tapi anti Zionis. Di Iran, org2 Yahudi hidup sebagai warga negara dgn hak dan kewajiban setara dg warga beragama Islam, Kristen,majusi, dll. Yahudi dan Zionis adalah dua hal yg berbeda. Ada (banyak) Yahudi yg Zionis, ada juga Kristen dan Muslim yang berpaham Zionis. Silahkan baca2 lagi soal perbedaan Yahudi dan Zionis ini. Kalau mau tahu ttg Yahudi anti Zionis, baca situs http://www.nkusa.org.

      • arif fathoni berkata:

        assalamu’alaykum…

        maaf jika pertanyaan saya kurang tepat saya tanyakan ke ibu..

        saya mau tanya :
        1. Ahamdinejad bukannya bersalaman bu, tapi berpelukan “mesra” ( sangat akrab sekali, terlihat dalam foto di email yg saya terima ). Bagaimanapun juga itu fitnah yang sangat besar berteman akrab dgn orang2 kafir…
        Sepertinya masih banyak orang2 Islam yg bisa dijadikan teman akrab…
        dalil :
        – Al Qur’an surat 60 : ayat 1
        – Al Qur’an surat 3 : ayat 118
        – Al Qur’an surat 4 : ayat 139
        – Al Qur’an surat 3 : ayat 28
        – Al Qur’an surat 4 : ayat 114

        2. dalam rangka apa Ahmadinejad ke New york? (seperti apa kata email bahwa Ahmadinejad tertangkap juru foto di New York).. Bukankah Ahmadinejad sangat membenci Amerika?

        terima kasih atas perhatiannya..
        wassalamu’alaykum..

        A.F.

      • dinasulaeman berkata:

        @Arif: saya tidak sedang membela Ahmadinejadi ya.Mau dia salaman, mau pelukan, saya tidak ngurusin. Saya hanya menjelaskan dalam kapasitas sebagai “pengamat” (amatiran) dan menjelaskan bahwa prinsip politik Iran adalah menerima eksistensi orang Yahudi (warga Iran sbgiannya beragama Yahudi) tapi menolak Zionisme. Kalau Anda berprinsip bahwa berkawan (apalagi pelukan) dgn Yahudi adalah tidak boleh, ya itu urusan Anda sendiri. Mohon maaf. Oiya, Ahmadinejad ke New York untuk hadir di Sidang Umum PBB; dia sudah berkali-kali kok ke NY, dalam rangka acara2 PBB.

  5. arif fathoni berkata:

    assalamu’alaykum..

    Ya sih bu, memang saya gak mau berkawan setia dgn orang2 kafir..
    Tapi kalo hanya kenal biasa sih OK2 aja..
    tetangga saya juga ada yang beda agama ( kafir ), dan kadang dia minjem tangga ke saya juga saya kasi kok.. dan saya juga biasa minta cabe di halaman tetangga saya yg kafir.. 🙂
    tapi kalo berkawan setia, NO WAY.

    note :
    mudah2an ibu gak bales lagi dan kasi komen : Ahmadinejad mau berkawan dgn siapapun itu bukan urusan anda, terserah aja kalo mnrt anda itu tidak boleh dan dari mana anda tau Ahmadinejad berkawan dekat dgn orang2 kafir?
    Apakah berkawan dekat itu artinya setuju dgn pemikiran2nya? Anda ini bener2 sudah keluar topik..
    etc.. etc..

    ok, thanks yah bu..
    dan mohon maaf jika ada kata2 saya yg kurang sopan.. saya hanya berniat bertanya dan sharing..

    wassalamu’alaykum..

    • dinasulaeman berkata:

      @Arif: duh, afwan..stlh saya baca lagi, nada kalimat saya emang rada judes ya..:)
      Maksud saya sebenarnya adalah: tafsiran atas boleh/tidaknya berkawan dekat/setia dg org kafir, bagi saya urusan pribadi masing2.. Ahmadinejad, sbg kepala negara, setiap tindakannya saya pikir pasti ada motif politiknya. Penilaian kita pun atas motif politik Ahmadinejad juga bergantung paradigma dan penafsiran kita masing2. Tapi di hadapan publik (di blog), saya akan memberi penafsiran yang berupa analisis politik juga (bukan suka/tdk suka secara pribadi). Skl lg maaf ya.. wassalam

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: