Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Kunjungan Obama ke Turki: Babak Baru Hubungan Islam-Amerika?

Kunjungan Obama ke Turki: Babak Baru Hubungan Islam-Amerika?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Artikel ini tadinya saya kirim ke Republika, tapi sampai skrg tak dimuat, mungkin krn agak telat (dikirim 3 hr stlh kunjungan itu), atau krn mmg topik ini sedang kurang diminati (isu pemilu akhir2 ini lebih diminati). Mau saya posting utuh di sini, ee..file-nya dirusak anak saya.. untung ada back-upnya , tapi tdk persis spt yg saya susun utk Republika. Anyway, tetap enak dibaca kok:)


Kunjungan Obama ke Turki: Babak Baru Hubungan Islam-Amerika?

oleh: Dina Y. Sulaeman

April 2009, Presiden AS Barack Obama memulai tur luar negeri untuk pertama kalinya. Diawali dengan menghadiri KTT G-20 di London, berlanjut ke Paris, Praha, dan berakhir di Istanbul, Turki. Kunjungan ke Turki seolah menandai dimulainya babak baru hubungan Dunia Islam dan Amerika. Akibat teror dan genosida Israel di Gaza, kemarahan dunia Islam pada Israel dan negara sekutu utamanya, Amerika Serikat, semakin memuncak. Namun kini, dalam pidatonya di depan Parlemen Turki, Obama tampak ingin menarik simpati dunia muslim.”Biarkan saya katakan sejelas mungkin, Amerika Serikat tidak dan tidak akan pernah memerangi Islam,” kata Obama. Obama pun menyanjung Islam dengan menyebutnya, ”AS telah diperkaya oleh kaum muslim Amerika.”

Dengan sangat empatik, Obama juga menyatakan keinginan AS untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan Islam. ”Saya juga ingin menjelaskan bahwa hubungan Amerika dengan komunitas Muslim, Dunia Muslim, tidak bisa, dan tidak akan bisa, hanya didasarkan pada perlawanan terhadap terorisme. Kami mencari hubungan yang lebih luas, didasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati. Kami akan mendengar dengan hati-hati, kami akan menjembatani kesalahpahaman, dan kami akan mencari persamaan. Kami akan menghormati, bahkan ketika kami tidak setuju,” jelas Obama.[i]

Koran-koran terkemuka AS seperti New York Times dan Washington Post dalam liputan mereka juga lebih memfokuskan pada pesan perdamaian dengan dunia Islam ini. Pidato yang disiarkan langsung ke negara-negara Arab oleh Al Jazeera dan Al Arabiya itu disebut-sebut sebagai ’upaya untuk menjalin ikatan dengan Islam’.[ii] Koran Turki, Hurriyet, mengomentari, “Sikap Obama yang simpatik telah memenangkan hati masyarakat Turki.”[iii] Menlu Mesir Ahmed Abul Gheit menyebut pidato Obama “langkah pertama dan penting untuk meredakan ketegangan antara AS dan Dunia Muslim.”[iv]

Namun, ada poin penting dalam pidato Obama yang tak banyak diulas, yaitu, proposal yang diajukan Obama kepada Turki terkait konflik Timur Tengah.

Posisi Turki dalam konflik Timur Tengah memang sangat krusial. Turki berperan penting dalam Perang Irak, karena negeri itu berbatasan langsung dengan Irak utara, sehingga pasukan AS bisa masuk ke Irak melalui Turki, bila Turki mengizinkan. Turki adalah negara anggota NATO dengan jumlah pasukan terbesar setelah AS. Sejumlah pasukan Turki kini bertugas di Afganistan, bergabung dengan pasukan NATO untuk melawan Taliban dan Al Qaida. Terkait konflik Palestina-Israel, Turki ambil peranan dengan mengupayakan perundingan Israel-Syria. Bila Syria mau berdamai dengan Israel, artinya, musuh penting Israel akan berkurang satu lagi.

Turki juga berbatasan langsung dengan Iran utara, dan pemimpin kedua negara telah menjalin hubungan yang relatif dekat. Dalam kunjungan Presiden Turki, Abdullah Gul, ke Teheran 11 Maret 2009, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mengatakan “AS dan Israel menentang hubungan dekat Iran dan Turki.” Ayatullah Khamenei tak lupa menyebut-nyebut proyek pembangunan jalan Turki-Iran-Pakistan sebagai kerjasama positif Teheran-Ankara, dan menyebut aksi PM Turki Erdogan di Davos ‘mengagumkan’.[v] Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Erdogan terang-terangan mengungkapkan kemarahannya pada Presiden Israel Shimon Peres yang membela aksi genosida di Gaza.

Tak heran bila Obama memilih Turki untuk menyampaikan pesannya kepada Dunia Islam, sekaligus membujuk Turki untuk bergabung dalam agenda Washington terkait berbagai konflik Timur Tengah. Tentang Palestina, Obama mendorong Turki untuk melanjutkan upaya mediasi Israel-Syria, sembari mengingatkan bahwa “Kita harus menolak penggunaan teror dan mengakui bahwa Israel berhak melindungi keamanannya.” Pihak yang dimaksud Obama ‘menggunakan teror’ tentu saja, Hamas. Obama mungkin lupa untuk menyebut bahwa Palestina pun korban teror Israel dan keamanan Palestina juga harus dijaga.

Terkait Iran, Obama mengingatkan Turki akan bahaya senjata nuklir yang konon sedang diproduksi Iran. “Perdamaian di kawasan [Timur Tengah] akan mencapai kemajuan jika Iran melepaskan ambisinya untuk membuat senjata nuklir. Sebagaimana saya jelaskan di Praha kemarin, tidak ada yang diuntungkan dari merebaknya senjata nuklir, terutama Turki.” Obama juga menyampaikan pesan kepada Iran dengan nada yang lebih lunak, “Kami ingin Iran memainkan peran yang benar dalam komunitas internasional. Iran adalah peradaban yang besar. Kami ingin mereka bergabung dalam integrasi ekonomi dan politik yang akan membawa kemakmuran dan keamanan. Tetapi, pemimpin Iran harus memilih, apakah mereka akan membuat senjata atau membangun masa depan yang baik bagi rakyatnya.”

Padahal, IAEA (lembaga di PBB yang bertugas mengawasi proyek nuklir negara-negara anggota NPT/perjanjian pelarangan senjata nuklir) berkali-kali melaporkan hasil penyelidikannya bahwa proyek nuklir Iran sama sekali tidak mengarah kepada pembuatan senjata nuklir.

Selanjutnya, Obama mencoba menyamakan ancaman teror yang dihadapi Turki dan Irak: PKK (Partai Pekerja Kurdi) dan Al Qaida, meski keduanya dua entitas berbeda dengan idealisme yang berbeda. “Jangan salah, Irak, Turki, dan AS menghadapi ancaman teroris yang sama; meliputi teroris Al Qaida, yang telah memecah belah Irak dan menghancurkan negara itu; termasuk juga PKK. …Kita juga memiliki kesamaan tujuan untuk menolak kawasan aman Al Qaida di Pakistan atau Afganistan,” kata Obama. Karena itu, Obama mengajak Turki untuk bersama-sama memerangi teroris.

Bisa disimpulkan, kunjungan ke Turki adalah bagian dari agenda besar Obama dalam kunjungan luar negerinya, yaitu, menjual perang. Di Paris, dalam acara ulang tahun ke-60 NATO, Obama menyerukan agar negara-negara NATO mengirimkan lebih banyak pasukan ke Afghanistan. Di Praha, Cheko, Obama menyampaikan pentingnya pembangunan sistem pertahanan militer di Cheko dan Polandia demi menghadapi ancaman nuklir Iran. Untuk menenangkan publik Cheko yang 70%-nya menentang rencana penempatan pangkalan radar AS di negeri mereka, Obama mengatakan, “Jika ancaman Iran sudah lenyap, kita akan memiliki basis keamanan yang lebih kuat dan kekuatan penggerak bagi konstruksi senjata di Eropa akan dipindahkan.”[vi]

Dan, inilah “babak baru” hubungan Islam-Amerika. Berbeda dengan Bush yang terang-terangan bersikap keras pada umat Islam dan bahkan menyebut-nyebut ‘Perang Salib’ Obama kini melancarkan soft diplomacy, yaitu melakukan pendekatan kultural dan berupaya mengambil hati umat Islam. Namun, agenda besarnya masih sama: pembelaan penuh terhadap Israel tetap dilakukan dan perang melawan terorisme ala Bush akan terus berlanjut.


3 Komentar

  1. fauza mengatakan:

    alamat referensi [i] tidak dapat saya temukan,
    saya ingin mengetahui dan membaca lebih lanjut tentang pidato Obama di Turki.

    konfirm ke email saya.
    terima kasih.

  2. Nancy mengatakan:

    Kapan nih obama datang ke indonesia, kok ditunda terus.

  3. ewi mengatakan:

    alhamdulillah… terimakasih ya,,, ini menjadi salah satu referensi saya…

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: