Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Iran » Kebohongan “Kecurangan Pemilu” (oleh Prof. James Petras)

Kebohongan “Kecurangan Pemilu” (oleh Prof. James Petras)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Tulisan di bawah ini saya sarikan dari tulisan Prof. James Petras yg menganalisis tuduhan kecurangan pemilu Iran. Artikel lengkap bisa baca di sini.

Iranian Elections: The ‘Stolen Elections’ Hoax
by: Prof James Petras

Dalam pemilu di berbagai negara, jika Gedung Putih punya kepentingan besar di dalamnya, kemudian ternyata kandidat pro-AS kalah, maka elit politik AS dan media massa akan segera mengumumkan bahwa pemilu itu ‘tidak sah’. Contohnya, pemilu di Venezuela dan Palestina, yang diawasi oleh pengawas internasional, ternyata dimenangkan Chavez dan Hamas (yang anti AS); AS segera meneriakkan adanya kecurangan di sana. Di Lebanon, AS memakai cara lain: Hizbullah dalam pemilu itu sebenarnya meraih 53% suara; namun media AS segera meneriakkan “pemilu Lebanon sukses” [penyebabnya karena Barat memasukkan 3 nama dari kubu independen, ke dalam kubu 14 Maret yg pro Barat–Dina].

Pemilu yang baru terjadi di Iran, mengulangi cerita klasik itu: Ahmadinejad meraih 63%, sementara kandidat pro Barat Mousavi meraih 34%. Musavi menolak kekalahannya. Lalu, segera, hampir semua spektrum pembuat opini Barat, termasuk media cetak dan elektronik terkemuka, dari kalangan liberal, radikal, maupun konservatif, menggemakan klaim kelompok oposisi: terjadi kecurangan. Baik Partai Demokrat maupun Republik AS mengecam rezim Ahmadinejad, menolak mengakui hasil pemilu, dan mendukung upaya para demonstran untuk membatalkan hasil pemilu.

Kebohongan “Kecurangan Pemilu”

Para pemimpin Barat menolak hasil pemilu Iran karena mereka sebelumnya yakin bahwa kandidat mereka tidak akan kalah.

Selama berbulan-bulan sebelum pemilu, setiap hari mereka mempublikasikan interview, editorials, dan laporan yang berbicara tentang ‘kegagalan pemerintahan Ahmadinejad’; mereka mengutip dukungan dari ulama, mantan pejabat, pedagang di pasar, dan perempuan dan pemuda perkotaan yang lancar bicara dalam bahasa Inggris, untuk membuktikan bahwa Mousavi sedang menyongsong sebuah kemenangan mutlak.

Kemudian, proses pemilu Iran kemudian berjalan dengan sedemikian bebas dan terbuka, dipanaskan pula oleh debat publik dan keterlibatan publik yang sangat besar dalam pemilu, membuat pemimpin Barat dan media Barat bertambah yakin bahwa kandidat favorit mereka akan menang.

Ketika ternyata Mousavi kalah, mereka segera menuduh ada kecurangan. Dan yang mengejutkan adalah bahwa mereka tidak memberikan bukti apapun, baik tertulis maupun observasi terkait tuduhan curang itu. Padahal, selama masa kampanye, tidak ada tuduhan terkait penyuapan (untuk pembelian suara), baik itu tuduhan kredible maupun isu belaka [artinya, bahkan sekedar isu suap pun tak terdengar di Iran–Dina].
Media Barat berpegang pada reporternya yang meliput langsung demonstrasi kaum oposan di Iran, namun mereka mengabaikan demosntrasi balasan yang lebih besar lagi, yang dilakukan oleh pendukung Ahmadinejad. Lebih buruk lagi, media Barat mengabaikan komposisi sosial para pelaku demonstrasi. Mereka mengabaikan fakta bahwa Ahmadinejad meraih dukungan dari kaum pekerja miskin, petani, tukang, dan pekerja publik, yang jumlahnya jauh lebih banyak dari kaum oposan yang datang dari kalangan mahasiswa kelas (ekonomi) menengah ke atas, kaum bisnismen, dan kaum professional.

Lebih jauh lagi, media dan pengamat Barat hanya terpusat di Tehran dalam melaporkan dan menganalisis situasi Iran, tidak mengunjungi provinsi-provinsi, kota-kota kecil, dan desa-desa, dimana Ahmadinejad meraih dukungan besar. Lebih jauh lagi, pendukung oposisi adalah mahasiswa aktivis yang sangat mudah dimobilisasi untuk demo di jalanan, sementara pendukung Ahmadinejad datang dari pemuda pekerja dan perempuan yang bekerja di rumah, yang mengekspresikan dukungan melalui kotak suara, dan hanya punya sedikit waktu dan kemauan untuk terlibat dalam politik jalanan.

Sejumlah kolumnis koran, misalnya Gideon Rachman yang menulis di Financial Times, mengklaim bahwa bukti kecurangan pemilu adalah bahwa Ahmadinejad menang 63% di kawasan Azeri, yang merupakan kampung halaman Mousavi. Bila kita melihat pola pemilihan di kawasan Azeri, menunjukkan bahwa Mousavi menang hanya di kota Shabestar, di kalangan masyarakat ekonomi menengah ke atas (dan itupun menang tipis). Mousavi kalah di kawasan2 pinggiran, dimana kebijakan Ahmadinejad selama ini telah membantu etnik Azeri melunasi hutang-hutang para petani dan mereka bisa mendapatkan kredit lunak.

Mousavi menang di kawasan Azerbaijan Barat, dimana dia berhasil menggunakan sentimen etnis di masyarakat perkotaan. Di Provinsi Tehran yang sangat padat, Mousavi menang di pusat kota Tehran and Shemiranat di mana banyak warga kelas menengah ke atas, dan kalah di kawasan pinggiran Tehran yang banyak pekerja (ekonomi lemah).

Melihat peta perolehan suara antara Ahmadinejad dan Mousavi di atas, terlihat bahwa masalah etnis tidak banyak berpengaruh dan tidak bisa dijadikan bukti kecurangan. Peta perolehan suara ini cocok dengan hasil survei yang dilakukan AS sendiri, hanya 3 pekan sebelum pemilu, yang menyebutkan bahwa Ahmadinejad menang 2:1 terhadap rivalnya.

Media Barat juga menggambarkan bahwa Mousavi seharusnya menang karena didukung oleh para pemuda yang menginginkan kebebasan. Padahal survei yang sama menunjukkan bahwa satu-satunya kelompok pemuda yang secara konsisten mendukung Mousavi adalah mahasiswa yang datang dari kalangan menengah ke atas, lancar berbahasa Inggris, dan sangat besar aksesnya kepada media Barat. Sementara, survei itu menemukan, 2/3 pemuda Iran tidak memiliki akses komputer dan internet.

Secara umum, Ahmadinejad telah melakukan kebijakan yang sangat baik di provinsi-provinsi penghasil minyak dan kimia. Hal ini memberikan jawaban atas adanya oposisi dari para pekerja minyak terhadap program yang diajukan kaum reformis: di antaranya privatisasi (dan karena itu mereka memberikan suara kepada Ahmadinejad). Ahmadinejad juga melakukan kebijakan yang tepat terkait masalah perbatasan dan terlihat sangat menekankan kebijakan penguatan keamanan negara. Rakyat Iran menjadi korban teroris di perbatasan Pakistan dan Irak dan mereka tahu siapa yang memberi dana bagi kelompok-kelompok teroris itu. Karenanya, mereka memberi suara kepada Ahmadinejad karena merasa akan lebih aman, dibanding bila mereka dipimpin oleh reformis.
Peta perolehan suara)menunjukkan adanya polarisasi kelas dalam masyarakat Iran: di satu sisi kelas ekonomi tinggi, berorientasi pasar bebas, individualis kapitalis; di sisi lain ada kelas pekerja, pendapatan rendah, dan komunitas yang memegang teguh ekonomi moral (menolak riba dan dibatasinya pengambilan laba—artinya, kaum pedagang tak boleh seenaknya menaikkan harga-harga). Serangan kaum oposisi atas kebijakan Ahmadinejad yang banyak memberikan anggaran untuk kesejahteraan, kredit lunak, dan subsidi makanan, justru bertentangan dengan sebagian besar rakyat yang menikmati semua kemudahan itu. Mereka melihat negara sebagai pelindung kaum miskin melawan ‘pasar’ yang dipresentasikan oleh kemewahan, kekuasaan, dan korupsi. Serangan kaum oposisi bahwa “gara-gara Ahmadinejad telah membuat Iran diasingkan oleh Barat” hanya bisa diterima oleh kaum muda mahasiswa yang liberal dan bisnismen ekspor-impor. Sementara bagi rakyat biasa, mereka justru merasa terlindungi oleh sikap keras Ahmadinejad, mengingat tetangga-tetangga mereka sudah menjadi korban AS (Pakistan, Irak, Afgan).

Kemenangan Ahmadinejad sebenarnya bukan hal aneh. Dalam pemilu lain yang mempertentangkan antara kebijakan populis dan kebijakan proBarat, memang umumnya kaum populislah yang menang dengan mayoritas mutlak. Misalnya, menangnya Peron di Argentina Chavez di Venezuela, Morales di Bolivia dan Lula da Silva di Brazil. Mereka semua menang di atas 60%.

Penutup (oleh Dina):

Bila kita melihat media-media Barat akhir-akhir ini, isu anti Iran sudah mulai bergeser. Dari yang awalnya menuduh kecurangan (tanpa ada bukti), kini perhatian difokuskan dengan bagaimana pemerintah Iran menghadapi para demonstran yang anarkhis itu. Uni Eropa, kecuali Sarkozy, tidak menyuarakan kecurangan, melainkan mengatakan “sangat prihatin atas terjadinya kekerasan di Iran”. Sekarang, apa sebenarnya yg terjadi dgn kekerasan di Iran? Insya Allah saya akan tulis dalam 1-2 hari mendatang.

Iklan

19 Komentar

  1. indolover berkata:

    Salam, terimakasih bu atas dua link sebelumnya. Intisari yang mantap, dan tidak kecewa saya menemukan blog ini. Cukup terobati dahaga saya setelah menemukan beberapa ‘kebenaran’ yang mulai sulit ditemukan di antara gencarnya berita-berita media mainstream yang misleading.
    Kalau boleh menyimpulkan perjalanan ‘krisis Iran’ sejauh ini:
    a. Barat (termasuk didalamnya Zionis Amerika di gedung putih) membeli Mousavi dan menyebar penyusupnya di Iran, seraya mendanai dan mendukung pencitraan demokratis dan reformis lewat media mereka.
    b. Ahmadinejad menang dan ini tidak bisa diterima.
    c. Memunculkan isu fraud voting sekaligus memobilisasi masa pendukung (yang akan memancing reaksi keras pemerintah lewat aksi anarkis mereka).
    d. Pemerintah lewat fungsi keamanannya bereaksi keras sebagaimana yang kita saksikan sekarang, dan dipaksa untuk bereaksi lebih keras secara lepas kontrol menghadapi pengrusakan demonstran yang menjadi-jadi. Tahap ini yang sedang santer beredar di media.
    e. Ujung-ujungnya akan terjadi lagi ‘color revolution’ sebagaimana yang terjadi di Irak.
    Setelah spekulasi terakhir, pertanyaannya adalah akankah Amerika kembali menggunakan pendekatan militer? (sambil mengingat pidato2 obama di berbagai negara Islam).
    Saya dapat komentar unik dari artikel James Petras pada link yang ibu berikan (http://axisoflogic.com/artman/publish/Article_56073.shtml) bahwa twitter telah jauh2 hari dipersiapkan untuk ‘krisis Iran’ ini.
    Maaf jika terlalu panjang.

    • dinasulaeman berkata:

      Terimakasih tanggapannya..
      Saya kritisi sedikit, Poin ke-5, hm, color revolution tdk terjadi di Irak, tapi di negara2 ex UniSoviet (dg didanai AS). Di Irak, AS tdk berhasil menggalang revolusi, jadi mrk terjun langsung menyerbu Irak. Bgmn dg Iran.. saya blm bisa prediksi.. Israel memang gencar mendorong AS agar menyerang Iran.. tapi taruhannya terlalu besar. Kekuatan militer Iran paling besar di Timteng (selain Israel; tapi bahkan militer sekuat Israel pun tak sanggup menggulingkan Hamas dan Hizbullah).

  2. seishiro berkata:

    Salam’alaykum,
    bu Dina, terima kasih atas artikel nya. Bolehkah saya sebarkan? Saya akan cantumkan blog ini sebagai sumber.

  3. ressay berkata:

    Uapik tenan. Ditunggu asupan gizi otaknya lagi.

  4. baikdanburuk berkata:

    saya kira tidak semua mahasiswa dan blogger iran pro musavi, bisa dilihat di http://shahrzaad.wordpress.com/, salah seorang blogger cewek yang menolak musavi. mungkin mbak Dina bisa menceritakan siapa dia sebenarnya? (maklum, bhs inggris saya masih belepotan)
    terima kasih

  5. Nomad berkata:

    “Kenapa kalian tidak senang saya menjadi presiden di Iran? Apakah karena saya orang miskin dan bertampang udik? Buat saya, istana-istana kalian tidak lebih berharga daripada sehelai rambut jutaan orang miskin di negeri ini!” (MAN)

  6. Aida Vyasa berkata:

    aku padamu nejad !!

  7. Zulfiqar Yahya berkata:

    terima kasih untuk artikel. semoga bisa jadi pelajaran untuk kita juga orang Indonesia untuk tidak mudah terprovokasi media.

  8. Quito Riantori berkata:

    Mantap!

  9. afifah berkata:

    wow!…akhirnya ada artikel pembanding..rasanya kebenaran makin terungkap. Bisa minta artikel lengkapnya gak? Soalnya linknya gak bisa dibuka..

    tfs ya k’ Din

  10. Taufiq Haddad berkata:

    Terima kasih banyak sudah memberikan sudut pandang yang tidak saja berimbang, namun memberikan keyakinan kepada kita tentang fakta yang sebenarnya mengenai kondisi Iran.

    Walaupun media massa Barat mampu mempengaruhi dengan berita – berita miring yang penuh dengan kepentingan mereka.

    Zaman tidak lagi mengizinkan mereka membuat berita dan kita tinggal menelannya begitu saja seperti yang lalu.

    Ini zaman yang sudah waktunya musuh-musuh kebenaran mendekati ajalnya….Zaman dimana penantian kita terhadapnya (Imam Zaman as) penuh harap segera hadir. Alhamdulillah, kita bersama hidup di zaman seperti ini – setidaknya menyaksikan begitu banyak peristiwa secara langsung seperti kemenangan Hizbullah, naiknya MAN, dll.

  11. ALI ALAYDRUS berkata:

    Salam..salut buat anda berita yg sangat mencerahkan, setelah sekian lama kuping & mata kita diisi hanya dgn hujatan tuk MAN & Iran

  12. tunjung anggoro berkata:

    seorang pemimpin yang secara pribadi saya kagumi dan saya berharap pemimpin di Indonesia punya semangat dan keberanian seperti Ahmadinejad.Banyak hal yg dapat dilihat bahwa seorang Ahmadinejad berperilaku seperti khalifah2 pada masa Rasulullah SAW dimana menggeser kepentingan individu untuk kepentingan masyarakat.Lihatlah betapa seorang Ahmadinejad tetap tinggal di rumah aslinya,membawa bekal dari rumah,tidur cuma beralas karpet,tas kerja yg tetap butut,dsb.Itulah sebuah teladan yang harusnya bisa dilihat secara jernih oleh masyarakat.

  13. saya berkata:

    ass. mohon bantuannya menganai kajian berdasarkan fakta faksi syiah vs sunni di iran!! jazakalloh

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: