Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Iran » Tentang Neda dan Kekerasan di Iran

Tentang Neda dan Kekerasan di Iran

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Ini beberapa keanehan yang saya tangkap dari video Neda yang disebarluaskan di internet, dan bahkan oleh tivi Indonesia:

1. Neda diberitakan ditembak di dada, tapi seseorang (sepertinya yg baju putih) berteriak berkali-kali “Fesyar bede!” (ditekan, ditekan!), lalu lelaki yg lain menekan bagian dada atas (dekat ke leher). Aneh kan? Ini bukan sakit jantung. Katanya ada peluru di dada, kok malah ditekan2, yg ditekan bagian yg aneh pula…

2. Reaksi yg wajar pada kejadian itu adalah langsung membawanya ke mobil lalu dilarikan ke rumah sakit, bukannya duduk beramai-ramai mengelilingi korban, apalagi sambil teriak2 “Neda..!”, “Natars!” (jangan takut!), atau “Fesyar bede!” (ditekan!). Apalagi yg di sekelilingnya laki-laki yg gede2-gede badannya, dgn mudah mereka bisa menggendong Neda dan menaruhnya di mobil yg ada persis di dekat mrk. Kalau di sekitarnya perempuan, bisa jadi reaksinya duduk, panik, dan teriak-teriak.

3. Kejadian jatuhnya Neda tampak tidak alami, dia tidak terbanting jatuh krn ditembak, tapi dibaringkan oleh lelaki di sebelahnya, bahkan terlihat sempat bertelekan pada siku (biar jatuhnya ga sakit-sakit amat, mungkin). Lalu, dia tidak terlihat mengerang kesakitan, matanya terbelalak (kayak mati mendadak, tapi kok bola mata sempat berputar-putar, dan tangan-kakinya masih sedikit bergerak?). Darah yang muncrat juga terlihat terlalu kental. Dia katanya ditembak di dada, tapi darah justru berceceran di bagian punggung (dan belakang kepala). Terlalu sinetron…

4. Neda bukan “orang yang tak sengaja berada di lokasi” seperti yg banyak diberitakan. Soalnya, sebelumnya, dia berada di kerumunan massa, videonya dirilis belakangan.

5. Lokasi tertembaknya Neda bagi saya, sangat familiar, yaitu di sebuah alley/gang perumahan di Teheran, khas sekali. Itupun bukan di ujung alley, yg lebih dekat kejalan besar, tapi sudah ke ujung yg satu lagi, artinya sudah jauh dari jalan besar. Yang aneh, kok bisa tertembaknya di situ? Buat apa ada penembak gelap yg mengejar-ngejar Neda ke situ? Harusnya di kalaupun ada penembakan gelap, ya di lokasi demo, dimana Neda sblmnya berada, bukan di sebuah alley yg menyulitkan si penembak utk melarikan diri.

6. Neda katanya pergi dgn “guru musik” (org itu di video yg pake baju loreng biru). Wah, dia terlihat sudah cukup umur/bukan pemuda lagi. Org yg mengerti kultur Iran akan menaikkan alis, “Apa? Neda pergi dg guru musiknya?Lelaki tua itu?” Pdhl konon Neda sudah punya tunangan pula. Laki-laki Iran umumnya cemburuan. Sudah punya tunangan jalan-jalan dgn lelaki lain?! Oh iya.. siapa tahu guru musiknya itu Bapaknya si tunangan..bisa jadi.. (novel banget gak seh?!)

7. Penembak diklaim “Basij” (tentara sukarelawan) tanpa ada bukti (di video itu juga tak terlihat ada Basij). They all just said “Basij did it” lalu diulang-ulang ke seluruh dunia. Katanya ‘penembak gelap’, artinya tak ketauan siapa orgnya. Kok tiba-tiba diklaim Basij? Pengkambinghitaman terhadap Basij sudah sedemikian meluas, pokoknya kalau ada yg mukul-mukul, pakai baju preman, pasti Basij. Kita di Indonesia sangat kenal sama yg namanya ‘provokator’ dalam aksi2 kerusuhan, dan provokator tdk bisa otomatis dinisbatkan pada aparat keamanan kan?

Catatan:

1. Neda lalu disebut-sebut sebagai pahlawan. Lalu bagaimana dgn 400 polisi Iran yg terluka diserang para demonstran? Bgmn dgn 2 orang yg luka/syahid di mesjid Lulagar di kawasan Navvab, yg dibakar oleh perusuh? Bgmn dgn para peziarah di Imam Khomeini Shrine yg luka/syahid kena bom bunuh diri? Bgmn dengan seorang Basij yang syahid dibunuh perusuh pada hari Sabtu 20 Juni? Mengapa yg disebut pahlawan bila yg tewas dari oposisi, sementara korban tewas di pihak lain tdk disebut pahlawan?

2. Topik kecurangan pemilu Iran sekarang sudah bergeser kepada topik kekerasan yang terjadi. Koor media dunia (termasuk Indonesia) kini beralih pada kekerasan di Iran. Pertanyaannya, apa yang seharusnya dilakukan para polisi Iran bila ada aksi kerusuhan massa yang membakar mobil, merusak gedung-gedung, membakar masjid…? Diam sajakah? Apa yg harus dilakukan polisi Iran ketika para perusuh melempari dan memukuli mereka? Diam sajakah? Ada ribuan pengaduan yg masuk ke kantor polisi dari masyarakat, mengadukan kerugian yg mereka alami akibat kelakuan para perusuh. Apa yg harus dilakukan polisi Iran? Diam sajakah?

3. Tak ada data bahwa korban tewas dalam aksi-aksi kerusuhan itu adalah akibat tembakan polisi (kalau ada, pasti sudah jadi headline di seluruh dunia). Kepala Kepolisian Iran juga sudah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa aparat polisi tidak diperkenankan menggunakan peluru dalam menangani aksi kerususahn.

Artinya, sama sekali tidak diketahui siapa yg melakukan pembunuhan. Jadi, cara gampangnya adalah: lemparkan tuduhan kepada Basij (tentara sukarela). Kalau melemparkan tuduhan kepada Basij dianggap sah, mengapa tidak bisa melemparkan tuduhan juga pada provokator (=perusuh yg memang ingin ada yg mati, supaya jadi berita)?

4. Seandainya Neda ada, mudah2an dia syahid. Tapi bila dia fiktif, patut diingat, adanya tokoh fiktif dalam upaya men-demonize sebuah rezim, sblmnya juga sudah pernah terjadi, misalnya kasus buku best seller “Burned Alive”. Souad (penulis buku) yg katanya korban sistem sosial di Palestina yg merendahkan perempuan (mnrt buku itu di Palestina perempuan boleh2 aja dibunuh demi menyelamatkan nama baik keluarga), disinyalir fiktif (baca di sini).

-Dina Y. Sulaeman-

Updated:

Ini fakta tambahan dari Alireza Alatas, wartawan Indonesia di Iran:

1. Beritanya: Neda tewas , hari Sabtu di tangan Basij.
-Peristiwa penembakan Neda disebut-sebut terjadi di jalan Amir Abad Shumali (Amir Abad Utara). Padahal hr Sabtu di sana tidak ada gejolak. Saat itu, gejolak terjadi di jalan Azadi. (jaraknya kedua jalan ini jauh banget loh-Dina)

-Basij adalah pasukan relawan yang bisa disetarakan dengan hansip
di Indonesia, bahkan statusnya tetap sebagai warga sipil bukan tentara atau polisi. Untuk itu, mereka tidak dilengkapi dengan senjata api.

Dengan demikian, tudingan pada Basij tidak lah benar dan berkesan dipaksakan.

-Jika diperhatikan lagi, saat Neda tewas, sekitar bukan malah menolong tapi malah sibuk memotret dan merekam kejadian. Ini juga mengindikasikan adanya konspirasi di balik itu.

-Setelah Neda tewas, tersebar sms yang isinya mengundang upacara tahlil (istilah Iran; Al-Fatehah) di masjid Jalan Beheshti. Saya sempat mencari masjid di sepanjang Jalan Beheshti, tapi yang ada sebuah huseiniyah kecil sepadan dengan mushala di Indonesia. Itupun tidak ada keramaian di sana.

Update lagi dari Alireza di Tehran (dimuat di FB):

Neda Agha Soltan adalah sosok kontroverasial karena kematiannya yang mengundang pertanyaan besar. Kematian Neda tiba-tiba menjadi santapan media-media Barat untuk menyudutkan Republik Islam Iran dalam kerusuhan beberapa hari terakhir ini. Kronologi kematian Neda, kemarin malam ditayangkan televisi nasional Iran yang melibatkan kesaksian seorang supir dan guru musik Neda.

Kronologi Kematian Neda;

Seorang sopir taksi yang mengangkut Neda di tempat kejadian, mengatakan, “Hari Sabtu, tepatnya pukul 19:20, saya tengah melewati jalan Salehi ke arah atas. Di depan gang Khasravi, saya dikejutkan pada kerumunan warga. Saat melewati kerumunan tersebut, saya melihat seorang perempuan terlentang di atas jalan. Dari mulutnya dan hidungnya keluar darah. Saat itu, tidak ada pilihan lain bagi saya, kecuali turun dari mobil dan menaikkan perempuan malang tersebut ke atas mobil. Saya segera mengarahkan mobil ke arah rumah sakit. Ternyata, gang setelahnya adalah gang buntu. Satu-satunya jalan yang harus di tempuh adalah menurunkan perempuan tersebut dan menaikkan mobil lain untuk lebih cepat menuju rumah sakit.

Saksi lain adalah Guru musik Neda. Jika memperhatikan rekaman video kematian Neda, anda menyaksikan di dalam rekaman video tersebut seorang tua yang rambutnya sudah putih. Dia adalah guru musik Neda. Dalam kesaksiannya, guru musik Neda mengatakan, “Saat kejadian, ada sebuah mobil peugeot yang kemudian mengangkat Neda. Setelah itu, saya baru mengetahui bahwa pemilik mobil peugeot bernama Pouya.”

Kematian Neda sangat disesalkan. Namun penyelidikan lebih jauh kasus ini mengundang kesangsian tersendiri atas kematian tersebut. Ada beberapa poin yang meragukan;

1. Rekaman video kematian Neda yang dipublikasikan media-media Barat menunjukkan bahwa Neda sudah disorot sejak lama. Sebab, rekaman video yang menayangkan Neda sebelum kematian adalah gambar 45 menit sebelum kejadian. Bisa jadi, hal itu bersifat kebetulan saja. Namun tempat kejadian yang jauh dari tempat kerusuhan yang saat itu terjadi di Jalan Azadi dan minimal adanya dua handycam yang merekam kejadian tersebut menunjukkan skenario di balik kejadian tersebut.
2. Tempat kematian Neda jauh dari tempat kerusuhan. Namun Basij dan polisi yang merupakan pihak tertuding dalam kasus kematian Neda, sudah semestinya ditempatkan di tempat kerusuhan, bukan wilayah yang jauh dari kerusuhan. Terkait hal ini, guru musik Neda sambil menunjuk tempat kejadian, mengatakan, “Ini adalah tempat warga berkerumun saat itu. Saat itu, tidak ada demonstrasi di sini. Kami menyeberang dari samping jalan untuk naik mobil. Ketika sampai di belokan jalan, terdengar suara tembakan…”
3. Berdasarkan laporan hasil forensik, peluru yang ditembakkan ke Neda sejenis kaliber kecil dari sebuah pistol, yang ditembakkan dari jarak dekat saat Neda berjalan kaki. Masalah ini tentunya menjadi perhatian tersendiri karena polisi dan Basij tidak menggunakan pistol dalam menghadapi para perusuh. Lebih lanjut guru musik Neda mengatakan, “Suara tembakan peluru yang dimuntahkan mirip suara petasan….” Lebih dari itu, sopir taksi juga memberikan kesaksian bahwa saat keajdian, pihaknya tak melihat basij dan polisi di sekitar. Guru musik Neda juga mengatakan, “Saat itu, tidak ada konflik senjata, yakni tidak ada aparat keamanan yang bersiaga di wilayah tersebut. Di sana hanya ada sejumlah warga saat suara peluru terdengar yang kemudian mengenai Neda.”

Mempertimbangkan poin-poin diatas, dapat disimpulkan bahwa kematian Neda adalah skenario yang sengaja dibuat untuk memperkeruh suasana di Iran.

Alireza Alatas, Tehran

Iklan

24 Komentar

  1. yenny berkata:

    kalau sudah bicara tentang pers apalagi pers barat, semua fakta bisa di bolak balik sih.
    Yang konyol pers Indonesia yang katanya bebas tapi tetap saja cuma bisa meng-cut paste berita-berita CNN dll :(, belum bisa jadi pers yang cerdas 😦

    • dinasulaeman berkata:

      Iya Un, kemarin sore tuh,pemberitaan Metro TV, keliatan banget provokatifnya.. video Neda masih sangat debatable keasliannya, mengapa Metro sbg tivi bonafid menayangkannya? Bahkan sengaja merangkainya dgn video2 lain, sehingga seolah2 kejadian penembakan Neda di kerumunan demonstran, padahal, di sebuah gang sepi… Di akhir tayangan, Tomi Cokro mengatakan (dan ada caption pula di video itu), “Neda telah gugur menjadi pahlawan…”

  2. Aida berkata:

    Luka tembk dileher ditekan krn darah muncrat. Lumrah jg sih krn reaksi spontan org bingung. Tp kalo ada tim CSI pasti kebongkar. Dr peluru siapa. Arah tembak. Dll

    • dinasulaeman berkata:

      hm.. yah, setiap org yg melihat video itu pasti punya pendapat masing2..

      • Vyasa berkata:

        yang bikin terlihat palsu adalah: darah mengalir di atas hidung. tapi engga ada darah di sekitar leher dan kerongkongan. aneh yah.
        dah gitu banyak banget yang cuma motret aja ketimbang nolong. terbukti. rekaman FOTO adayang dari sisi kanan dan kiri.

    • ejajufri berkata:

      CSI..! 😆

      Kalau ngeliat link foto-foto dari kak Aida yang ada di Time, bahkan ada foto makam dengan nama Neda Agha-Sultan, mungkin aja benar. Tapi nggak kenapa kan?

      Deket makam Imam aja di bom!

  3. Lena K berkata:

    prihatin dengan perkembangan di Iran dan cara media Barat memberitakan Iran … Tapi kebenaran tak pernah tersembunyi, kebesaran Allah Swt yang akan menunjukkannya, siapa penjahat sebenarnya, entah itu di dunia atau nanti di akhirat …

  4. Arun berkata:

    Ya Allah… lindungilah hamba-hambaMu dari orang-orang yang mencoba menghancurkan negara muslim… amin…amin…amin…. ya rabbal a’lamiiin….

  5. momon-e hakim berkata:

    ini saya copas dari pendapat yang saya kirim ke milist, maaf panjang

    Makasi untuk kupasan yang tajam, lama-lama saya makin gerah sama media2 yang provokatif itu. Seteah gagal menggiring opini masa dunia pada “kecurangan pemilu”, sekarang ganti topik “kekerasan” di Iran

    Tapi saya yakin, kali ini pun mereka akan gagal.

    Terus terang, meskipun saya belum punya data2 banyak soal kasus Neda, tapi ada beberapa catatan yang perlu diingat:

    1. Secara umum, psikologis masayarakat Iran tuh sangat hati-hati pada perempuan, baik karena alasan menghargai atau karena takut. Banyak lah contoh keseharian, misalnya k’lo ngurus2 berkas ke sebuah lembaga, perempuan lebih mendapat prioritas. Atau misal lain, lelaki di sini mikir 1000 kali untuk memiliki istri dua (ini sekedar contoh aja, jangan disikapi secara teologis).

    Kalau membandingkan isi video itu, tentu terasa sangat aneh, bagaimana mungkin polisi itu berani melakukan kekerasan kepada perempuan sedemikian rupa. Apa dia sudah siap dikutuk perempuan seantero Iran?

    Ada bukti pembanding lain, sebuah video yang menggambarkan para preman sedang mengroyok seorang basij. Seorang ibu secara spontan menghalangi dan melindungi pemuda itu, lalu para preman mundur dan mengurungkan niatnya.

    Bisa dibayangkan…! Para preman yang biasanya cukup nekad aja, gak berani berhadapan dengan perempuan. Apalagi, seorang polisi yang jelas hitungan moral kasarnya lebih baik dari preman, iya gak?

    Apalagi kalau nonton film ‘Del Shekaste’ Tokoh perempuan mewakili sosok Neda dan Tokoh lelaki mewakili seorang basij sejati. Dalam film itu, digambarkan sosok lelaki sangat ‘geram’ dengan opini2 yang dibuat tokoh perempuan. Tapi, pada keseharian dia tetap menghormati. Bukankah sebuah film merefleksikan budaya masyarakat setempat?

    2. Kalau kita lihat lebih jauh lagi, motivasi kehadiran banyak aparat karena permintaan masyarakat yang menginginkan kondisi jalanan pulih seperti biasanya. Mereka bener2 terganggu dengan aksi2 jalanan yang berlangsung (ada lebih dari 1000 pengaduan ). Kalau aparat membuat kasus semacam itu, apa malah tidak meresahkan masyarakat.

    3. Saya selalu ngikutin juga situs2 dan koran2 yang pro dengan oposisi seperti Etemod, tapi untuk kasus Neda ini, sedikitpun tidak saya temui. Padahal biasanya kasus kecil saja sudah dibesar2kan. Saya juga iseng2 investigasi masyarakat sekitar, mereka memang menyebutkan ada korban dari dua kubu tapi tidak tahu nama Neda. Kalau memang kasus itu terjadi seperti yang digambarkan dalam video, seharusnya masyarakat akan mengingat kuat. Seperti dulu kasus penembakan mahasiswa trisakti.

    3. Katakan peristiwa Neda benar2 terjadi. Jelas kasus yang ditayangkan dalam video itu sudah direkayasa. Kepentingannya apa? kembali untuk menyudutkan Iran. Andai saja media2 itu mau intropeksi, ribuan kasus kekerasan pada perempuan dan anak terjadi di Palestina, Irak, Afganistan… oleh tentara Amerika sampai detik ini, mengapa mereka seperti amnesia dengan berita2 itu?

  6. Afifah berkata:

    Mba dina, makasih ya for sharing this info.
    karena saya kebetulan ditempat dimana media CNN,ABC, FOx berkuasa, muak saya melihat dramatisasi kematian NEDA ini.

    hampir tiap hari video nya diputar, dan dijadikan simbol perjuangan, bahkan mereka juga ‘merekam’ pernyataan wanita2 lain mengenai ‘semangat’ Neda, membuat Avatar (hati yang luka atas kematian Neda), Blog, dll

    Tapi disebut2 jg di media CNN, Paman Neda adalah mantan pejabat di era Shah.

    Mohon izin untuk mem-fwd ini ke milis grup?
    dengan refer ke Blog mba dina tentunya.

  7. ejajufri berkata:

    Media Barat sudah pegang kendali dunia dari dulu. Mau bagaimana lagi?

    Katanya dari kelompok “moderat” dan “reformis”, kebanyakan pendukung Mousavi itu orang kaya, pebisnis, “inteleknya” Tehran… Tapi kok anarkis banget ya 🙄

  8. dildaar80 berkata:

    Jazakumullah infonya.
    salam kenal

  9. haidar berkata:

    ya begitulah zionis dan barat berusaha menjatuhkan Iran. Labaika ya Husain

  10. Joni berkata:

    Aku komentar poin 3 aja ya:

    “3. Kejadian jatuhnya Neda tampak tidak alami, dia tidak terbanting jatuh krn ditembak, …”

    Justru orang tewas ditembak tidak akan terpental seperti di film. Orang ditembak, jatuhnya memang seperti itu.

    Ambil contoh peluru 7.62 mm (AK-47) energinya +/- 2000 joule (sama dengan mendorong Avanza di jalan datar 8 km/jam – ringan sekali).

    Pertama-tama korban gak sadar telah ditembak. Korban ini jatuh karena lemas (darah keluar ke perikardium, gangguan sirkulasi oksigen ke tubuh).

    Kalau jantung sudah kena, ga ada yang bisa dilakukan karena perdarahannya terlalu cepat (makanya eksekusi hukuman mati dilakukan dengan tembak jantung). Sepertinya paru-paru juga kena tuh. Begitu menghembuskan nafas langsung keluar darah.

    • dinasulaeman berkata:

      Terimakasih atas tambahan infonya, saya tak bisa membantah atau mengiyakan, krn tak punya ilmu soal senjata.. I just watch the TV you know.. btw, info terbaru, adalagi yg bilang, Neda ditembak dari belakang menembus paru2.. semuanya serba simpang siur.. nah kalau ditembak dari belakang, jatuhnya juga ke belakang kah?

  11. […] kontroversi politis (lihat misalnya analisis lain yang berbeda dengan media mainstream/Barat di sini). Bisa juga kematian siapa pun, orang pinggiran yang mungkin tak kita kenal, apakah kalah berarti […]

  12. enny berkata:

    asswrwb
    mbak din…makasih info2nya yg banyakbangeth manfaatnya, saya nemunya setelah google ttg neda dan menemukan tulisan menarik dari mbak dina..

    mohon ijin forward tulisan ini, sekedar buat temen temen kantor yg heboh juga dgn neda..
    dengan menampilkan alamat ini
    https://dinasulaeman.wordpress.com/2009/06/24/tentang-neda-dan-kekerasan-di-iran/
    jzklh kk
    terima kasih apabila boleh

  13. annelies berkata:

    Terima kasih ulasannya.
    Mantap banget, yang kayak gini nggak akan kita dapat dari CNN 😀

  14. etikush berkata:

    oh gtu…
    tadi sih sempet baca tentang neda yang katanya pahlawan, trus coba googling, eh, nyampenya ke alamat ini, thanks yach…

    eia, mbak yang nulis pelangi di persia, yach…
    saya pernah baca bukunya, maksih yach saya jadi tau tentang majusi
    🙂

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: