Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Iran » Antara Chavez dan Ahmadinejad (Bill van Auken)

Antara Chavez dan Ahmadinejad (Bill van Auken)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Saat dunia beramai-ramai melakukan pembunuhan karakter terhadap Ahmadinejad dan pemerintahan Islam Iran, luar biasa, yang tampil sebagai pembela terdepan justru seorang Nasrani dari Amerika Latin: Hugo Chavez. Kemana pemimpin negara2 muslim (selain pemimpin Hizbullah dan Hamas)?
Berikut ini cerita tentang Chavez dan Ahmadinejad, saya sarikan dari tulisan Bill Van Auken.

Chavez, tujuh tahun yang lalu, juga pernah mengalami hal serupa Ahmadinejad. Dia mengalami pembunuhan karakter yang dilakukan oleh media-media mainstream AS. Saat itu, sebagaimana juga sekarang, standar objektivitas jurnalistik telah dibuang lewat jendela. Chavez difitnah. Sementara lawannya, yang sebagian besar terdiri dari kaum oligarki Venezuela dan kalangan menengah ke atas, dicitrakan sebagai pejuang demokrasi. Pernyataan dari pihak oposisi dilaporkan sebagai fakta dan diperlakukan dengan penuh respek, sementara pernyataan dari pihak pemerintah dicemooh.
Mari kita lihat beberapa kutipan dari New York Times antara Maret-April 2002. Pada 26 Maret, New York Times menulis, “Para pegawai (pemerintahan) pemberontak telah memberi energi bagi gerakan oposisi yang terpecah-pecah namun terus tumbuh, yang menggunakan protes regular di jalanan untuk melemahkan Mr Chavez yang memiliki gaya aristocrat dan memiliki kebijakan sayap kiri yang telah menindas orang-orang yang jumlahnya terus bertambah. …”
New York Times juga mengutip pernyataan kelompok oposan, “Masalah ini hanya bisa dilakukan dengan pengunduran diri presiden..Ini adalah pilihan antara demokrasi dan kediktatoran.” Persis seperti citra yang dibangun media Barat tentang Iran: demokrasi melawan kediktatoran. Media barat juga mengabaikan fakta bahwa kemenangan Chavez dalam pemilu –sama seperti kemenangan Ahmadinejad– dia mendapatkan suara di atas 60% yang sebagian besar datang dari kawasan pinggiran dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
Di Venezuela saat itu juga terjadi kekerasan. Ketika penembak gelap menembaki masa oposisi yang sedang demo, di depan istana kepresidenan Miraflores—sangat mirip dalam jumlah peserta demo dan kelas social mereka dengan komposisi demo di jalanan Iran—19 orang yang tewas dalam kejadian itu semua dilemparkan kepada aparat keamanan pemerintah atau pendukung Chavez yang bersenjata.
Padahal kemudian terungkap data bahwa sejumlah yang tewas justru berasal dari kerumunan massa yang hadir untuk mendukung Chávez dan asal tembakan2 saat itu berasal dari angkatan kepolisian Caracas, yang loyal pada Alfredo Peña, oposisi keras pada presiden Chavez; Pena mendapat dukungan dari AS.

Dalam meliput kerusuhan ini, NY Times mewawancarai Peña, yang tentu saja, melemparkan semua kesalahan pada Chávez.

Tujuan dari semua aksi ini menjadi jelas, ketika akhirnya sekelompok militer, bersama dengan bisnismen besar Venezuela dan birokrat yang disponsori AS, bergabung dal sebuah kudeta yang sesaat sempat menggulingkan Chávez.

NY Times segera melaporkan kejadian ini dengan menulis, ”Demokrasi Venezuela tidak lagi terancam oleh diktator.” Koran itu juga berkeras menyatakan bahwa Washington tidak memiliki peran dalam kudeta ini. ”Penggulingan Chavez murni urusan dalam negeri Venezuela,” tulis NY Times.
Tidak ada yang lebih menjelaskan konsep demokrasi yang dimaksud oleh Times dan AS. Sebuah rezim yang dibangun melalui kudeta militer yang menggulingan sebuah pemerintahan hasil pemilu, disebut ’demokratis’ sepanjang rezim itu sejlan dengan interes AS. Di Venezuela, dimana menyuplai 15 % minyak utk AS, kepentingan itu sangat jelas.
Klaim bahwa kudeta itu “murni dilakukan org Venezuela” adalah untuk menutupi operasi destabilisasi di Negara itu yg dilakukan oleh AS, dimana New York Times memainkan peran yang sangat jelas.
Kudeta “demokratis” berlangsung hanya dua hari. Chávez kembali ke kursi kekuasaan setelah kaum miskin turun ke jalanan memrotes rezim baru.
Di Iran, the New York Times juga mengikuti skenario yang sama, namun dalam skala yang lebih besar.

Tulisan lebih lengkap ttg konspirasi NY Times di Iran (dan di negara2 lain, dalam upaya penggulingan Rezim) bisa dibaca di sini. Yang aneh, setelah kejadian2 seperti ini, masih saja ada yang bertanya, “Kenapa sih wartawan2 asing sebagiannya diusir dari Iran?” Oalaaa…

Iklan

2 Komentar

  1. Tri berkata:

    Duta besar Iran utk Indonesia mengatakan yg dilarang menayangkan demo pasca pilpres Iran itu cuma CNN, BBC dan Al Arabiya, kok ( ia malah mengundang pers Indonesia yg mau meliput kondisi Iran sesungguhnya ). Menurut saya sih, yg diusir mestinya lebih banyak lagi, Reuter, NY Times & semua media yg berafiliasi ke Barat/ zionis. Biar energi Iran tak terkuras utk hal2 yg nggak perlu. Banyak pekerjaan besar menunggu.
    Jumlah yg tewas di Iran juga 19, sama seperti di Venezuela.
    Gemes, ya, mendengar propaganda milyaran dolar yg dijalankan habis-habisan oleh Gedung Putih dan Pentagon. Fitnah yg luar biasa kejam. Entah azab seberat apa yg menanti mereka.
    Smoga Iran survive dan makin kuat di Timur Tengah. Saya pernah dengar perkiraan Imam Mahdi datang dari negeri para Mullah ini. Mungkin saja, kalau melihat kokohnya pemerintah Iran saat ini. Selamat bagi rakyat Iran yg telah memilih Ahmadinejad sebagai presiden Iran periode 2009-2013.
    Saya pengagumnya. Anda juga, ya ?

  2. SUQYAN berkata:

    ya..saya jg pernah baca salah satu hadist rasul yang bilang bahwa bintang2 di angkasa akan di genggam oleh anak2 persia…
    jadi kita tungguin aja dan sambil berdoa tentunya… ^_^

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: