Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Iran » Gelombang Amarah Rakyat Terhadap Mir Husein Mousavi (Kayhan)

Gelombang Amarah Rakyat Terhadap Mir Husein Mousavi (Kayhan)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Selama ini berita dan analisis yang bertebaran di berbagai media massa dan blog bersumber dari Barat. Bagaimana kalau kita kali ini membaca apa yang tertulis dalam berita headline koran Kayhan (koran berbahasa Persia dg oplag terbesar di Iran) edisi kemarin?

Gelombang Amarah Rakyat Terhadap Mir Husein Mousavi

(Kayhan 24 Juni o9)

Puluhan orang tewas dan terluka, harta benda rakyat rusak dalam skala besar, kebakaran di mana-mana, dan rusaknya ratusan mobil pribadi masyarakat adalah di antara hasil dari aksi pelanggaran hukum dan keegoisan Mir Husein Mousavi [baca: Musawi] selama dua pekan terakhir ini. Mousavi, kandidat presiden dari kubu ekstrim dan aliansi kubu “Musharekat” (Kebersamaan), “Karguzaran” (Kaum Pekerja), dan “Mujahidin”, awalnya melangkahkan kaki ke dalam kancah persaingan pemilu kepresidenan ke-10 di bawah supremasi hukum.

Setelah kalah hampir 25 juta suara rakyat Iran, dia pun segera melupakan semua klaim-klaim dan slogan-slogannya sendiri terkait supremasi hukum dan memunculkan wajahnya yang asli; yang selama masa kampanye selalu ditutupinya dengan slogan-slogan penuh kemegahan.

Kandidat yang tegas mengklaim diri sebagai reformis itu, keesokan hari pasca pemilu 22 Khurdad (12 Juni) –tanpa memberikan bukti dan dokumen apapun dan dalam kondisi ketika lebih dari 40.000 wakilnya hadir di tempat-tempat pemungutan suara untuk mengawasi jalannya pemilu—menyerukan dibatalkannya 40 juta suara rakyat Iran [yang masuk ke kotak suara].

Dia bahkan tak puas dengan sekedar memberi seruan seperti ini, namun juga memberikan pernyatan-pernyataan yang tajam dan provokatif; yang disampaikannya secara terus-menerus: dia menyerukan agar pendukungnya bergabung dengan kelompok-kelompok illegal. Aksinya yang melanggar hukum ini berujung pada berkumpulnya massa tanpa izin di lapangan Azadi pada tanggal 25 Khurdad (15 Juni). Berkumpulnya massa secara illegal ini terjadi setelah sehari sebelumnya Mousavi sudah bertemu dengan Rahbar [Ayatullah Khamenei], dia sudah menyampaikan tuntutan dan keluhannya dan Rahbar juga telah mengatakan kepadanya bahwa cara untuk menindaklanjuti semua tuntutan itu hanya bisa dilalui melalui proses hukum.

Namun Mousavi tanpa menghiraukan anjuran yang mencerahkan dan logis itu, malah mengirim para pendukungnya untuk berkumpul secara illegal di Lapangan Azadi. Dia juga hadir di tengah massa dan memberikan orasi yang tajam dan provokatif melawan lembaga-lembaga hukum negera. Setelah orasi itu sejumlah perusuh dan pendukung ekstrim Mousavi menyerang masyarakat tak berdosa. Mereka merusak ratusan bis kota dan angkutan publik lainnya, membakar bank-bank, memecahkan kaca-kaca rumah, dan akhirnya, melakukan kejahatan di TK “Away-Baran” (Nyanyian Hujan).

Kejadian di TK itu diawali dengan serbuan para perusuh –seusai mendengar orasi Mousavi—ke markas Basij [tentara sukarela] yang terletak di awal jalan Muhammad Ali Jenah. Beberapa ibu dan kaum perempuan yang ada dekat lokasi itu ketakutan dan segera berlindung dalam TK tersebut. Para perusuh membakar TK itu, sehingga beberapa dari orang yang ada di dalam TK gugur syahid. Kejadian itu masih belum membuat puas para perusuh yang menggunakan penutup wajh berwarna hijau itu. Mereka melanjutkan serangan dengan membunuh dan melukai beberapa orang lain yang mereka temui di kawasan itu.

Menurut data resmi, Tragedi 25 Khurdad itu menewaskan minimalnya 7 orang tak berdosa, 36 luka, dan perusakan masif harta benda milik masyarakat. Lelaki pengklaim ‘supremasi hukum’ ini setelah tragedi ini tetap tak mau mematuhi hukum dan berkeras kepala untuk terus mengeluarkan pernyataan-pernyataan provokatif. Dia bahkan menyalahgunakan toleransi yang diberikan pemerintah Islam dan dengan cara menuduh pemerintah, dia sudah memutarbalikkan posisi: siapa yang menuduh, siapa yg menuntut [artinya: sebenarnya, yang berhak menuntut adalah pemerintah, karena Mousavi sudah memimpin kerusuhan; tapi Mousavi malah melemparkan tuduhan-tuduhan sehingga pemerintah yang diposisikan sebagi pihak yang dituntut].

Sikap yang patut disesalkan ini masih tetap dipertahankan Mousavi, bahkan setelah khutbah Rahbar yang penuh pencerahan, kasih sayang, dan nasehat. Para perusuh yang mendukungnya melancarkan kejahatan lagi di kawasan Tehran barat pada hari Sabtu 30 Khurdad (20 Juni). Para perusuh pada hari Sabtu malam, melakukan aksi perusakan di sepanjang jalan antara Engelab Square hingga Lapangan Azadi. Dalam kerusuhan yang dikomandoi orang-orang bersenjata itu, mereka merusak fasilitas publik umum dan harta benda pribadi masyarakat, merusak beberapa masjid, dan bahkan membakar masjid Lulagar di perempatan jalan Azerbaijan dan Navab. Beberapa pelaku sholat dalam aksi itu gugur syahid.

Aksi-aksi teror para perusuh yang membawa bahan peledak dan senjata api itu menewaskan 10 orang dan melukai 100 lainnya. Selain itu, beberapa jam sebelum terjadinya kerusuhan 30 Khurdad, seorang teroris telah memanfaatkan kekacauan situasi yang dibuat Mousavi. Dia berencana menaruh bom di Marqad Imam Khomeini [kompleks makam Imam Khomeini, di pinggiran Tehran, yang ramai diziarahi orang]. Namun atas kewaspadaan petugas keamanan, aksinya diketahui. Orang itu tidak berhasil masuk ke dalam Marqad Imam, lalu lari dan meledakkan bom yang dibawanya, sehingga selain menodai kesucian Marqad Imam, beberapa peziarah terluka, dan si teroris itu sendiri tewas.

Menyikapi semua tragedi berdarah ini, Mousavi tetap saja berkeras kepala dan duduk di ‘kursi penuntut’ dan dengan mengeluarkan Maklumat-nya yang ke-6, dia menyebut bahwa aksi-aksi kerusuhan itu adalah akibat ‘aspirasi rakyat yang dibungkam’ [oleh penguasa]. Dia bahkan dalam situs pribadinya menulis agar para korban yang menderita kerusakan/kerugian [akibat aksi demo] agar memberikan nomor telepon mereka; untuk dihubungi oleh tim Mousavi yang akan menindaklanjutinya secara hukum. Padahal sebagian besar korban jelas-jelas menyatakan bahwa Mousavi adalah dalang pelaku kejahatan dan tragedi yang terjadi selama dua pekan terakhir ini. Karena itu pula lebih dari 2000 surat pengaduan masyarakat dibuat oleh masyarakat kepada kepolisian.

Mousavi, mau tidak mau, harus mengakui bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kejahatan ini, antara lain terbunuhnya sekitar 20 warga tak berdosa, ratusan orang terluka, 200 bank terbakar, 200 mobil yang terbakar, 300 bangunan/fasilitas umum rusak. Sardar Radan, wakil komandan kepolisian Iran mengumumkan bahwa dalam kerusuhan selama 2 pekan terakhir, 400 anggota polisi terluka. Radan mengatakan, orang-orang yang mengundang rakyat untuk berkumpul dan melakukan aksi demo secara illegal, merekalah yang harus bertanggung jawab atas segala kerusakan yang terjadi.

Kejahatan yang menimbulkan kemarahan masyarakat terhadap Mir Husein Mousavi semakin hari semakin membesar. Mousavi tidak bisa hanya dengan dalih “pada kejadian itu [dirinya] sedang ikut rapat parlemen” berlepas diri dari kesedihan para korban, atau aksi kekanak-kanakan ‘penyalaan lilin’, dan melepaskan diri dari tanggung jawab atas tragedi yang telah terjadi. Dia harus memberikan jawaban atas pertanyaan ini: apakah jika bukan karena aksinya yang melanggar hukum, akan tercipta kondisi yang berujung pada semua kejahatan dan anarkisme ini?

Berita dan bukti-bukti yang terperinci telah menunjukkan bahwa di tengah-tengah para perusuh dalam beberapa hari terakhir ini, telah dibagi-bagikan uang dalam jumlah sangat besar dan sebagian orang telah diindentifkasi terlibat dalam mengorganisir para penjahat dan preman untuk menciptakan ketidakamanan di jalanan. Semua aksi ini terjadi di bawah persetujuan Mousavi; sejumlah signifikan dari mereka adalah anggota resmi tim pemilu Mousavi dan anggota kelompok reformis yang dekat dengan Mousavi.

Mousavi terus berusaha mencitrakan bawah semua kerusuhan ini dilakukan oleh rakyat; meski jumlah pelakunya hanya ribuan orang dan tidak melibatkan 13 juta suara yang memilih Mousavi dalam pemilu. Mereka tidak saja tidak ikut serta dalam kerusuhan itu, bahkan juga dengan berbagai cara (antara lain mengontak media-media massa) menyatakan diri tidak terlibat dalam aksi-aksi anarki tersebut. Argumen-argumen para ahli hukum terkait tanggung jawab hukum, sipil, dan politik Mousavi atas berbagai kejahatan yang terjadi beberapa waktu terakhir, bisa Anda baca dalam Kayhan edisi hari ini. *

(terjemahan dari bhs Persia oleh Dina Y. Sulaeman)

Iklan

6 Komentar

  1. haidar berkata:

    jangan2 agen zionis nih

  2. Jawaad berkata:

    Makasih atas terjemahan dan postingan beritanya.
    Sangat jelas, kalangan Barat selalu iri.. lol

  3. dead59 berkata:

    akan smakin terbukaklah kedoknya

  4. dead59 berkata:

    akan smakin terbukaklah kedoknya..

  5. anwar berkata:

    semakin jelas kalau mousavi sama dengan sah reza palevi yang menjadikan negara iran sebagai negara sekuler

  6. jen nugraha berkata:

    terima kasih atas tulisan-tulisan di blog ini mbak…
    tabik…

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: