Kajian Timur Tengah

Beranda » Buku Saya » Journey to Iran

Journey to Iran

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Buku Pelangi di Persia diterbitkan ulang dengan sedikit perubahan (update) konten, dengan judul “Journey to Iran”

ENDORSMENT:

“Buku ini tidak akan mengajak kita mengunjungi tempat-tempat wisata yang sering ditulis media atau ditawarkan biro perjalanan wisata, namun penulis akan membawa kita menjelajahi Iran layaknya seorang etnografer/antropolog.” (Matatita, travel writer)

Perjalanan Dina ke berbagai wilayah Iran yang sangat beragam itu membuka mata kita tentang latar belakang kultur/budaya yang sangat beragam di Iran, kesukuan/etnisitas, agama, sejarah, bahkan modernitas dan gaya hidup orang-orangnya, di kota maupun di desa-desa di pegunungan. Keindahan negara Iran juga digambarkan dengan saksama, menggoda kita untuk berangan-angan pergi ke sana pada suatu ketika.
[Sirikit Syah, penulis dan pengamat media, pendiri Media Watch]

Saya menabung mimpi: mengunjungi negeri para Mullah yang penuh magis dan kekayaan kebudayaan Islam sekaligus Persia klasik itu, ditemani oleh penulis, dengan gaya backpacker.
[Imazahra, Penulis Kuliah Gratis Keluar Negeri, Mau? (2) dan Backpacker ke 23 Negara]

Versi awal buku ini, Pelangi di Persia, mendapat sambutan cukup baik dari pembaca, berikut di antaranya:

(dikutip dari goodreads: http://www.goodreads.com/book/show/5208325.Pelangi_di_Persia_Menyusuri_Eksotisme_Iran)

Rini wrote:

Membaca buku ini pada saat-saat mencontreng yang sedang heboh memang tepat. Bagian paling menarik adalah penelusuran politik dan permainan media, khususnya Amerika, tentang pidato Ahmadinejad yang diterjemahkan ‘begitu saja’ sehingga ia menimbulkan kesan bahwa Islam itu anti damai dan Iran adalah ‘sarang’ teroris. Padahal setelah ditelisik naskah aslinya, beliau tidak menghendaki Israel dihapuskan atau dibasmi, melainkan rezim Zionisnya saja yang kejam tak terkira.

Buku ini bukan sekadar panduan travelling atau memoar biasa, tetapi sangat mengayakan wawasan. Tidak benar, Iran tertutup. Tidak benar, Iran menindas wanita. Buktinya ada yang belajar kungfu dan menjadi polisi. Tidak benar pula seni diberangus total.

Sungguh, aku tidak menyesal membeli dan membaca buku ini. Kalaupun ada kekurangannya, adalah pada penyuntingan. Yang paling mengganggu adalah kalimat Ahmadinejad yang begini: be angry at us, dan </i>die of this anger</i>! Seandainya kejanggalan tersebut tidak terjadi, maka aku akan memberinya lima bintang secara bulat.

Nadiah wrote:

Buku ini adalah salah satu buku non-fiksi yang sangat saya minati. Pandangan saya tentang sebuah negeri bernama Iran banyak berubah setelah membaca buku ini.

Dina Y. Sulaeman dan suaminya, Otong Sulaeman, menyajikan beragam kisah, peristiwa dan tempat-tempat yang luar biasa yang mereka lewati di Iran. Bagi saya, buku ini bukan sekedar buku tentang sebuah negeri, melainkan juga buku yang bernilai relijius.

Satu kisah yang ditulis Otong bahkan membuat saya menangis tersedu-sedu dan begitu haru, mengingat kembali indahnya rasa ikhlas, merasakan kembali nikmatnya cinta Ilahi. Kisah itu adalah kisah Mehdy, seorang supir taksi yang membawa Otong berkeliling di suatu kota di Iran — kisah inilah yang membuat saya memberi 5 bintang untuk buku ini.

Pemaparan tentang sistem pemilihan di Iran yang begitu simpel membuat saya sedih dengan sistem di sini. Andaikan warga Indonesia seperti itu juga, bersemangat dan jujur dalam memilih, tentunya tidak perlu repot-repot memesan kotak suara atau tinta khusus (yang nyatanya mudah hilang juga) sehingga menghabiskan uang rakyat.

Satu lagi yang membuat saya terkesan dengan Iran, yaitu gerbong kereta yang dipisahkan antara perempuan dan laki-laki — meski ada juga gerbong campuran untuk suami istri). Kapan ya, Indonesia bisa seperti itu?

Andai buku ini dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar dunia barat dapat melihat Iran (dan/atau Islam) dengan cara berbeda…atau sudah?

—-

Dhini wrote:

buat siapa aja yang merasa iran sebagai negara yang “mengerikan” dan “kaku”, baca deh buku ini…

penulisnya udah 8 tahun tinggal di sana.. dan buku ini semacam catatan keseharian serta interaksinya dengan masyarakat iran.

sbg negara yg pernah jadi salah satu pusat peradaban kuno dunia.. dan sekaligus negara yang sering dapat embargo ekonomi dari Paman Sam, ternyata masih banyak sisa peninggalan kebudayaan Persia yang dapat ditemukan di sana…

bagus.. banget deh…!!!

Iklan

16 Komentar

  1. harisherianto mengatakan:

    Saya mau pesan 1. Gimana cara pembayaran dan pengirimannya Mbak?

  2. Nizam78 mengatakan:

    Indah juga buku ini, kami di Malaysia membacanya dengan tajuk edisi lokalnya: Travelog IRAN; Menyingkap Misteri Bumi Ahmadinejad.
    Rasanya kayak mengembara ke bumi Parsi saja. enak sekali. Bagus untuk bakal Dubes ke Tehran. 🙂

  3. dinasulaeman mengatakan:

    @Haris: silakan kirim email ke dina_rana@yahoo.com

    @Nizam: terimakasih banyak:)

  4. […] Benarkah Ada Perseteruan Etnis di Iran? Vali Nasr, pengajar Politik Internasional di Tufts University dan senior fellow di CFR (lembaga think-tank kebijakan luar negeri AS) mengatakan, “Strategi menggunakan minoritas etnis untuk menjatuhkan Iran adalah strategi yang cacat. Hanya karena Lebanon, Irak, dan Pakistan memiliki problem etnik, tidak bisa diartikan bahwa Iran juga mengalami masalah yang sama. Iran adalah negara yang tua, seperti Perancis dan Jerman, dan penduduknya semata-mata nasionalistis. AS telah over-estimate tentang ketegangan etnis di Iran.” Terorisme, dilakukan oleh siapapun, adalah sebuah kejahatan. Karena itu, dalam menulis (dan menanggapi) tentang aksi-aksi terorisme ada baiknya kita berpikir lebih jernih, objektif, dan luas. Baik Jundullah maupun PJAK memang penganut mazhab Sunni; namun sama sekali tidak bisa disimpulkan bahwa Sunni adalah teroris. Anggota MKO sebagiannya Syiah; lagi-lagi tak bisa disimpulkan bahwa Syiah itu teroris. Persoalan di Iran jauh di luar konflik Sunni-Syiah. Karena itu, amat berlebihan ketika para teroris (yang kebetulan Sunni) tewas (atau ditangkap kemudian dihukum mati) akibat aksi terorisme yang mereka lakukan, desas-desus yang berhamburan adalah “ulama Sunni di Iran dibunuhi”. Btw, menurut Anda, apa yang harus dilakukan pemerintah Iran? Duduk manis saja menghadapi para teroris itu? Saya pernah berkunjung ke Kurdistan, provinsi yang didominasi mazhab Sunni. Saya sholat Dzuhur di masjid orang-orang Sunni (sebenarnya saya tak melihat ada dikotomi “masjid Sunni” dan “masjid Syiah”.  Saya lihat, orang Syiah juga sholat di masjid yang sama; mereka di shaf  yang sama, meski gaya sholat berbeda; Sunni bersedekap, Syiah tidak.) Adzannya persis seperti di Indonesia (entah mengapa Eramuslim menggosip “Azan Sunni dilarang di Iran”). Cerita lengkapnya bisa baca di sini. […]

  5. papabonbon mengatakan:

    mbak din,

    mau beli bukunya dong. bisa minta rek bca nya ? japri saja di masarcon@gmail.com

  6. de mengatakan:

    mba masih ada bukunya ngga aq pengen donk…

  7. […] saya menulis buku tentang situasi dalam negeri Iran, saya awalnya berniat mau menulis buku ‘ilmiah’, berupaya menganalisis situasinya mungkin […]

  8. mobil88 mengatakan:

    Tulisan Anda bisa menjadi sumber inspirasi, teruslah menulis !!
    http://mobil88.wordpress.com

  9. […] saya menulis buku Pelangi di Persia, saya awalnya berniat mau menulis buku ‘ilmiah’, berupaya menganalisis situasinya mungkin […]

  10. hasmani mengatakan:

    Puan Dina, saya baru habis membaca travelog iran, sangat menarik sekali, semoga satu hari saya dapat menjejaki kaki ke bumi parsi itu.insyaallah…..Teruskan menulis Puan…!

    Salam dari Malaysia…

  11. Yupz1500 mengatakan:

    terus berkarya yach bu, dan terimakasich dengan saudara2 yang ada di Malaysia. Andai bkan karna politik hbngan kita dengan Negara Malaysia tidak akan sebruk ini T_T

  12. […] Saya pernah berkunjung ke Kurdistan, provinsi yang didominasi mazhab Sunni. Saya sholat Dzuhur di masjid orang-orang Sunni (sebenarnya saya tak melihat ada dikotomi “masjid Sunni” dan “masjid Syiah”.  Saya lihat, orang Syiah juga sholat di masjid yang sama; mereka di shaf  yang sama, meski gaya sholat berbeda; Sunni bersedekap, Syiah tidak.) Adzannya persis seperti di Indonesia (entah mengapa Eramuslim menggosip “Azan Sunni dilarang di Iran”). Cerita lengkapnya bisa baca di https://dinasulaeman.wordpress.com/2009/07/17/direct-selling-pelangi-di-persia/ […]

  13. […] Saya pernah berkunjung ke Kurdistan, provinsi yang didominasi mazhab Sunni. Saya sholat Dzuhur di masjid orang-orang Sunni (sebenarnya saya tak melihat ada dikotomi “masjid Sunni” dan “masjid Syiah”.  Saya lihat, orang Syiah juga sholat di masjid yang sama; mereka di shaf  yang sama, meski gaya sholat berbeda; Sunni bersedekap, Syiah tidak.) Adzannya persis seperti di Indonesia (entah mengapa Eramuslim menggosip “Azan Sunni dilarang di Iran”). Cerita lengkapnya bisa baca dihttps://dinasulaeman.wordpress.com/2009/07/17/direct-selling-pelangi-di-persia/ […]

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: