Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Iran » Wishful Thinking from Tehran

Wishful Thinking from Tehran

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Ini sebenarnya artikel lama, tapi baru saya temukan hari ini di fesbuk. Artikel di bawah ini aslinya berjudul Wishful Thinking from Tehran, secara sangat bagus menganalisis situasi politik dalam negeri Iran, ditulis oleh Abbas Barzegar, kandidat PhD dlm bidang ‘religious studies’ di Emory University, Atlanta, Georgia. Republika menyadur tulisan itu ke dalam bhs Indonesia:

Saya berada di Iran, tepatnya seminggu, guna mengikuti pesta demokrasi pada Pemilu Iran 2009. Semenjak saya tiba di sana, sedikit orang di negeri ini yang ragu bahwa calon incumbent Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang provokatif ini bakal memenangkan Pemilu.

Sopir taksi yang menyertai saya mengingatkan bahwa Si Presiden telah mengunjungi semua provinsi di Irak dua kali dalam empat tahun terakhir ini. “Iran itu bukan (hanya) Teheran,” katanya.

Ketika saya menanyai para pendukung (Mir Hossein) Mousavi, apakah tokoh usungan mereka itu benar-benar akan meraih dukungan tidak hanya di ibukota (Teheran), mereka mengutarakan jawaban-jawaban optimistis gaya Obama seperti, “Ya, kita bisa,” “Saya kira begitu,” “Jika anda memilih.”

Pertanyaan yang menghantui media internasional bahwa “Bagaimana bisa seorang Mousavi kalah?” tampak tak begitu menjadi urusan Komisi Pemilihan Umum Iran dan itu tidak lebih dari persepsi keliru selama ini yang menolak memahami peran agama di Iran.

Tentu saja, kemungkinan pemilu curang tetap ada dan orang mesti menunggu sampai pekan-pekan mendatang untuk melihat bagaimana tuduhan itu dapat dibuktikan.

Tetapi orang semestinya ingat bahwa dalam tiga dekade Pemilu Presiden, tuduhan kecurangan jarang sekali dialamatkan ke penghitungan suara. Pemilu di sini secara khusus dikendalikan dengan cara membatasi gerak-gerik kandidat atau menutup media massa kelompok oposisi.

Tambahan lagi, dalam pemilu kali ini, ada dua badan pengawas pemilu bentukkan pemerintah yang terpisah yang memungkinkan saksi semua kubu bisa mencegah terjadinya kecurangan massal dalam pemilu.

Kesangsian atas kemenangan Ahmadinejad yang dituduh pendukung Mousavi sebagai bukti adanya kecurangan oleh negara, seyogyanya selaras dengan ketidakpercayaan sama terhadap merajalelanya korupsi yang berlangsung terang-terangan.

Jadi, sampai ada bukti meyakinkan yang bisa membenarkan tuduhan-tuduhan oposisi, maka kita perlu melihat alasan lain yang menjelaskan bagaimana begitu banyak orang tersihir oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi seharian itu.

Sejauh yang diperhatikan media internasional, tampaknya hanya wangsit yang layak diberitakan dibalik kemenangan itu.

Memang benar bahwa para pendukung Mousavi telah membuat jalanan kota Teheran macet selama berjam-jam setiap malam sepanjang pekan lalu, padahal itu hanya terjadi di bagian utara ibukota yang terkenal lebih makmur. Para wanita menanggalkan hijabnya dan anak-anak muda berjingkrak di jalanan.

Senin malam lalu setidaknya 100.000 pendukung sang mantan perdana menteri (Mousavi) membuat rantai manusia di sepanjang kota Teheran.

Namun beberapa jam sebelumnya, saya juga menghadiri parade massal pendukung sang incumbent yang kurang diperhatikan pers Barat. Jumlah mereka luar biasa banyak, bahkan tidak pernah terjadi sebelum ini.

Perkiraan minimal jumlah massa yang mengikuti pidato kampanye Ahmadinejad saat itu adalah 600.000 orang (bahkan banyak yang yakin mencapai satu juta orang).

Dari loteng gedung, saya menyaksikan para wanita berjilbab dan pria-pria berjanggut, dari segala umur, berduyun-duyun berkerumun bagai aliran lava gunung berapi.

Keliru

Kekeliruan dalam menaksir secara tepat hal-hal yang berkaitan dengan Iran, bukan sekali ini terjadi. Ketika revolusi Islam 1979 berhasil menghancurkan kediktaturan militer negeri itu yang merupakan sekutu terkuat Amerika di Timur Tengah, hanya sedikit pakar di luar Iran yang memperkirakan bahwa kaum revolusioner Islam akan tumbuh menjadi satu kekuatan utama di Iran.

Tapi di Iran sendiri, cendekiawan sekuler seperti Jalal-e-Ahmad, pengarang buku “Occidentosis” yang terkenal itu pun telah memperkirakan rejim (Shah Iran) bakal tumbang di tangan gerakan revolusi Islam, satu dekade sebelum takdir tahun 1979 itu terjadi.

Filsuf Prancis pemberontak, Michel Foucault, juga secara meyakinkan telah meramalkan peristiwa itu, karena dia merekamnya dari dekat, dalam jarak yang para pengagumnya pun enggan melakukannya.

Sejak revolusi Islam Iran, para akademisi, intelektual dan para ahli telah meramalkan bakal runtuh cepatnya rejim (Islam Iran). Sampai sekarang ramalan mereka itu tak berbukti.

Anomali-anomali seperti itu hanya bisa dijelaskan oleh sejarah. Iran adalah masyarakat yang sangat relijius.

Nepotisme, otokrasi dan penindasan Shah Iran yang berdekade-dekade diperangi kaum komunis dan liberal gagal diakhiri, tetapi adalah serangan Shah terhadap kemapanan kalangan relijiuslah yang mengantarkan kejatuhan Shah yang terjadi nyaris hanya dalam semalam.

Sejak itu rakyat Iran menyalurkan impian-impiannya melalui kotak suara.

Pada 1997 setelah asap perang Iran-Irak berhenti dan negara itu melewati satu dekade masa stabil, para pemilih berbondong-bondong memberi dukungan pada ulama yang mantan presiden –Mohammad Khatami– dalam menghadapi lawannya Natiq Nouri, anggota senior parlemen Iran.

Para wartawan Barat menyebut momen itu sebagai satu generasi yang terbelah; yaitu kaum muda liberal pecinta kebebasan melawan ulama-ulama tua konservatif.

Tetapi pemilu saat itu sesungguhnya adalah pemilu untuk memilih kejujuran dan kesalehan (Khatami), melawan kekuatan yang dituduh korup.

Dan kini orang-orang sama yang dulu mendukung Khatami, menyalurkan suaranya untuk Ahmadinejad kemarin, padahal wajah Khatami menghiasai poster-poster kampanye kubu Mousavi.

Selama hampir seminggu dorongan sosial anti korupsi, kerakyatan dan kesalehan relijius yang dulu melahirkan revolusi Islam tampak kembali di jalanan untuk dipungut lagi oleh rakyat Iran. Untuk sebagian besar rakyat negeri itu, Ahmadinejad adalah perwujudan dorongan-dorongan impian (tentang pemimpin anti korupsi, merakyat dan saleh) ini.

Sejak pertamakali masuk ke kantornya, Ahmadinejad menolak mengenakan jas mahal, menolak meninggalkan rumah yang diwarisinya dari sang ayah, dan menolak mengendurkan retorika yang digunakannya untuk melawan mereka yang dituduhnya pengkhianat bangsa.

Manakala secara terbuka dia menuduh mantan pesaingnya yang tanggal dari kekuasaanya, Ayatullah Ali Akbar Hashemi Rafsanji, sebagai singa terhadap revolusi, koruptur parasit dan membandingkan pengkhianatan Rafsanjani dengan pengkhianatan terhadap Nabi Muhammad SAW yang menyebabkan syiah dan suni bermusuhan selama 1.400 tahun, dia menawarkan rakyat satu tarikan (moral) yang beberapa generasi lamanya dimimpikan rakyat.

Ketika Rafsanjani membela diri melalui suratkabar pro-Mousavi, maka tamatlah riwayat kaum reformis.

Jujur

Minggu lalu Ahmadinejad bagai mengubah pemilu menjadi referendum untuk menentukan bagaimana sikap bangsa Iran terhadap prinsip asasi revolusi Islam.

Slogan jalanan mereka berbunyi, “Matilah semua orang yang melawan Imam Tertinggi” yang kemudian diikuti ritual dan pepujian relijius khas syiah.

Slogan itu bukan tandingan semboyan ceria penuh semangat dari kaum muda Teheran utara, yang menyanyikan “Ahmedi-bye-bye, Ahmedi-bye-bye” atau “ye hafte-do hafte, Mahmud hamum na-rafte” (Seminggu, dua minggu, Mahmoud tidak mandi).

Mungkin sejak awal Mousavi memang ditakdirkan akan gagal, begitu dia berharap bisa menggabungkan energi terang antara kelas sosial atas yang liberal dengan kepentingan bisnis pedagang pasar.

Kampanye lewat Facebook dan via sms pun tidak relevan dengan kaum pedesaan dan kelompok pekerja yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka, banyak sekali yang tidak mempunyai waktu untuk sekedar pergi ke cafe internet guna mengecek blog mereka.

Kendati Mousavi berupaya menarik kelas pemilih seperti ini, dengan cara mengupas masalah seputar inflasi dan kemiskinan, mereka malah memilih lawan Mousavi.

Oleh karena itu, di masa mendatang, para pengamat (Barat) mesti mempelajari lebih dalam lagi masyarakat Iran sehingga diperoleh gambaran lebih dalam mengenai struktur negara ini yang sangat relijius organik, untuk kemudian disampaikan dalam narasi keniscayaan liberal.

Adalah aspek-aspek relijius unik Persia yang mengantarkan seorang sufi terusir berusia 80 tahun menjadi kepala negara 30 tahun lalu (Ayatullah Ruhallah Khomeini), kemudian ulama kharismatis Khatami 12 tahun silam, seorang putra pandai besi yang jujur –Ahmadinejad– empat tahun lalu, dan hal sama terjadi kemarin (Jumat 12/6).

Artikel asli dalam b. Inggris bisa dibaca di sini.

Tulisan2 Abbas Barzegar lainnya, bisa dilihat di sini.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: