Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Perang dan Hadiah Nobel (Howard Zinn)

Perang dan Hadiah Nobel (Howard Zinn)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Saya kaget saat mendengar bahwa Barack Obama mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Sebuah shock, sesungguhnya, untuk berpikir bahwa seorang presiden yang sedang memimpin dua perang diberi Nobel Perdamaian. Namun kemudian saya teringat bahwa Woodrow Wilson, Theodore Roosevelt, dan Henry Kissinger juga menerima Nobel Perdamaian. Komite (Panitia) Nobel Perdamaian terkenal atas penilaian mereka yang dangkal, didominasi oleh retorika dan gerakan kosong, serta mengabaikan pelanggaran terang-terangan terhadap perdamaian dunia.

Ya, Wilson mendapat Nobel karena ‘jasa’-nya membentuk Liga Bangsa-Bangsa, sebuah lembaga yang tidak efektif yang tidak melakukan apapun untuk mencegah perang. Tetapi, Wilson telah membombardir pantai Mexico, mengirim tentara ke Haiti, dan Republik Dominika. Wilson juga membawa AS ke kancah pembantaian di Eropa dalam PD I; perang yang bisa dipastikan sebagai perang yang paling bodoh dan mematikan.

Benar, Theodore Roosevelt telah memediasi perdamaian antara Jepang dan Russia. Tapi dia adalah pencinta perang, yang berpartisipasi dalam penaklukan Cuba oleh AS, berpura-pura membebaskannya dari Spanyol sambil memperkuat rantai AS di pulau kecil itu. Dan sebagai presiden, dia telah memimpin perang berdarah untuk menaklukkan Filipina, bahkan memberi selamat kepada seorang jenderal AS yang telah membantai 600 penduduk desa di Filipina. Panitia Nobel tak memberikan hadiah Nobel pada Mark Twain, yang mengkritik Roosevelt dan perang, tidak juga kepada William James, pemimpin liga anti-imperialist.
Oh ya, komite Nobel melihat bahwa adalah layak untuk memberi hadiah perdamaian kepada Henry Kissinger, karena dia telah menandatangani perjanjian damai final yang mengakhiri perang Vietnam; perang yang salah satu arsiteknya adalah dia sendiri. Kissinger, jelas-jelas mendukung perang ekspansionis  Nixon itu, dengan mengebom desa-desa petani di Vietnam, Laos dan Kamboja. Kissinger, yang sangat cocok dengan gelar ‘penjahat perang’ itu, telah diberi hadiah perdamaian!
Seseorang seharusnya diberi hadiah Nobel Perdamaian bukan atas dasar janji yang mereka buat, sebagaimana Obama –seorang pembuat janji yang fasih—tetapi atas dasar pencapaian riil/nyata dalam mengakhiri perang. Obama telah melanjutkan aksi militer yang mematikan dan tidak manusiawi di Iraq, Afghanistan, dan Pakistan. Komite Nobel Perdamaian seharusnya pensiun dan menyerahkan dana raksasa [yang mereka kelola] kepada beberapa organisasi perdamaian internasional  yang tidak terpesona oleh ‘bintang’ dan retorika, dan memiliki pemahaman atas sejarah.

(translated from an article by Howard Zinn, Profesor Emeritus of Political Science, by Dina Y Sulaeman)

Iklan

2 Komentar

  1. papabonbon berkata:

    ci vis pacem para bellum.

    ahmadinejad sendiri suka ngomel gak jelas cari musuh, hehehe 😀 mungkin itu karakter orang timur tengah sih, tapi serasa gak cocok saja dengan gaya asia.

    kembali pada adagium di atas, kalau dari as nampaknya semua senang perang buat mbak dina. mantep. tapi kalo bilang gitu, kenapa gak sekalian gandhi dimasukkan pada pencinta perang ? soalnya selama beliau praktik hukum sebagai advokat di afrika selatan, dia membawa orang india di sana untuk membela salah satu pihak yg sedang bertempus (inggiris vs belanda) dan lumayan banyak orang lokal kulit hitam yang “justru” jadi korban para india partisan ^^ ckkk ckkk …

  2. dinasulaeman berkata:

    @mas Ari: ck..ck..ck.. Anda bilang Ahmadinejad suka ngomel gak jelas? Anda ketahuan sekali jarang membaca ya. Paling2 yg Anda baca kutipan2 koran gak jelas, bukan transkrip lengkap pidato Ahmadinejad. Kalau Anda sudah baca transkrip lengkapnya dan Anda sebut itu ngomel, wah..wah,,ketahuan sekali seberapa kualitas intelektual Anda.

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: