Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Jundullah, Teror di Iran, dan Catatan untuk Eramuslim

Jundullah, Teror di Iran, dan Catatan untuk Eramuslim

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Beberapa kali saya membaca artikel di Eramuslim yang menyebutkan bahwa kaum Sunni ditindas di Iran, mesjid-mesjid Sunni dibakar, dan bahkan lebih bombastis lagi, ‘ulama’ Sunni dibunuhi. Sudah pasti, Eramuslim tidak melakukan investigasi sendiri ke Iran, melainkan mengutip dari situs-situs lain yang juga wallahua’lam kredibilitasnya.

Tentu saja, melihat rendahnya kualitas pemberitaan (yang kental sekali nuansa kebencian dan sentimen), saya merasa tak perlu repot-repot menghiraukan artikel seperti itu (dan juga tak mau merendahkan diri untuk me-link artikel2 yang saya maksud itu di sini; silahkan cari sendiri bila berminat). Anyway ini bukan blog Syiah, tapi konsern di bidang kajian timur tengah (dan hubungan internasional). Itulah sebabnya saya suka mendelete komen-komen yang masuk yang menyeret-nyeret perdebatan relijius. Kalau mau, silahkan ribut masalah Sunni-Syiah di blog orang lain saja.

Tapi, kejadian terakhir di Iran, pengeboman oleh Jundullah, membuat saya mau tak mau mengaitkan tuduhan Eramuslim itu dengan fakta Jundullah. Perlu dicatat, saya menulis artikel ini dalam posisi netral, nor Sunni nor Shii; bahkan sumber utama dalam tulisan ini adalah investigasi jurnalis terkemuka AS, Seymour Hersh. So, ketika menyebut ‘Sunni’ dalam mendeskripsikan Jundullah yang kebetulan memang ‘Sunni’ itu hanya pengungkapan fakta semata, bukan dalam rangka menjelek-jelekkan mazhab. Pengindentifikasian Sunni atau Syiah atas aktor-aktor yang terlibat dalam kasus ini tak bisa dihindarkan.


Siapa Jundullah?
Jundullah adalah kelompok garis keras yang akhir-akhir ini paling aktif melakukan serangan ke Iran. Mereka berbasis di Pakistan, dekat perbatasan Baluchistan (dan mereka memang berasal dari etnis Baluch yang mayoritas Sunni), dan mendeskripsikan diri sebaga “gerakan perjuangan hak-hak kaum Sunni”. Para anggota Jundullah adalah orang-orang yang belajar di madrasah-madrasah fundamentalis Sunni di Pakistan; sama seperti kaum Taliban (Taliban=pelajar agama) dan Al Qaida.  Bahkan, salah satu pemimpinnya adalah Khalid Sheikh Mohammed, anggota Al Qaida yang dituduh AS sebagai otak teror 9/11. Ironisnya, bila AS melancarkan perang ke Afghanistan untuk membasmi Al Qaida, AS pada saat yang sama juga menggelontorkan 400 juta dollar untuk membiayai kelompok yang sama, untuk membuat makar di Iran (penjelasan lebih lanjut baca di bawah, “Siapa di Balik Jundullah”).

Jundullah secara sporadis sering melakukan aksi pengeboman di Iran, yang terbesar antara lain pada Februari 2007, ketika Jundallah mengaku bertanggung jawab atas pengeboman bus yang ditumpangi tentara Garda Revolusi Iran dan mensyahidkan minimalnya 11 tentara Iran. Kemarin (18/10), Jundullah kembali beraksi (dan telah mengakui terang-terangan sebagai pihak yang bertanggung jawab) dalam pengeboman di Pishin, provinsi Sistan Baluchistan. Salah seorang komandan Garda Revolusi, Nour-Ali Shoustari beserta 41 orang lainnya gugur syahid. Ironisnya, mereka dibom saat berada di sebuah forum pertemuan kepala suku-suku Sunni dan Syiah (di pelosok Iran memang masih ada suku-suku tradisional) di yang digagas Garda Revolusi demi mempererat persatuan.

Siapa di Balik Jundullah?
Seymour Hersh melaporkan, tahun 2007, Kongres AS menyetujui kucuran dana 400 juta dollar untuk operasi-operasi rahasia peningkatan ketegangan di Iran; dengan tujuan untuk mendestabilisasi kepemimpinan relijius Iran. Operasi rahasia itu dilakukan dengan memanfaatkan kelompok-kelompok teroris, antara lain Jundullah, PJAK (Partai Pembebasan Kurdi), dan MKO (Mujahidin Al Khalq). MKO berbasis di Irak (meskipun para pemimpinnya mendapat perlindungan di Perancis) dan PJAK berbasis di perbatasan antara provinsi Kurdistan dgn utara Irak. MKO sejak awal tahun 1980-an sangat aktif melakukan pengeboman di Iran, termasuk pengeboman di gedung Parlemen Iran (kalau Anda pernah memperhatikan, Ayatullah Khamenei bila bersalaman dan melambaikan tangan selalu menggunakan tangan kiri; hal ini karena tangan kanan beliau lumpuh akibat pengeboman di gedung parlemen itu). Pada bulan Juni 2008, terjadi PJAK meluncurkan serangan yang segera dibalas tentara perbatasan Iran; sekitar selusin anggota PJAK dan empat tentara Iran tewas Sebulan sebelumnya, pertempuran serupa juga terjadi, tiga tentara Garda Revolusi dan 9 anggota PJAK tewas (hm, inikah “ulama” yang dibunuh itu?).

Perlu diingat lagi, anggota Jundullah adalah orang-orang etnis Baluchi. Ada fakta ironis dalam hal ini. Robert Baer, mantan anggota CIA yang bekerja dalam operasi-operasi rahasia di Asia Selatan dan Timur Tengah, mengatakan, “Penggunaan element Baluchi adalah problematic. Orang-orang Baluchi adalah fundamentalis Sunni yang membenci rejim Tehran, tetapi Anda juga bisa mendeskripsikan mereka sebagai Al Qaeda. Mereka adalah orang-orang yang memenggal kepala orang-orang yang tidak beriman—dalam kasus ini, orang Syiah Iran. Adalah ironi bahwa kami kembali bekerja sama dengan fundamentalists Sunni, sama seperti apa yang kami lakukan di Afghanistan pada tahun 1980-an.” (Pada waktu itu, AS demi mengusir Uni Soviet dari Afganistan membentuk, membiayai, dan mempersenjatai Taliban. Salah satu tulisan yang cukup bagus menjelaskan hal ini, bisa baca di sini).

Lihatlah betapa ironis, dulu AS bersekutu dengan Mujahidin, Taliban, Al Qaida; kini AS memburu mereka habis-habisan dengan mendatangkan 30.000 pasukan ke Afghanistan. Dan di saat yang sama, salah satu sayap (offshoot) Al Qaida justru dibiayai oleh AS untuk melakukan aksi terorisme di Iran. Bahwa Jundullah dibiayai AS selain sudah dikonfirmasi oleh media mainstream juga diakui oleh Abdulhamid Rigi salah satu pemimpin kelompok teroris ini yang kini sedang menanti hukuman mati di Iran.

Benarkah Ada Perseteruan Etnis di Iran?
Vali Nasr, pengajar Politik Internasional di Tufts University dan senior fellow di CFR (lembaga think-tank kebijakan luar negeri AS) mengatakan, “Strategi menggunakan minoritas etnis untuk menjatuhkan Iran adalah strategi yang cacat. Hanya karena Lebanon, Irak, dan Pakistan memiliki problem etnik, tidak bisa diartikan bahwa Iran juga mengalami masalah yang sama. Iran adalah negara yang tua, seperti Perancis dan Jerman, dan penduduknya semata-mata nasionalistis. AS telah over-estimate tentang ketegangan etnis di Iran.”

Terorisme, dilakukan oleh siapapun, adalah sebuah kejahatan. Karena itu, dalam menulis (dan menanggapi) tentang aksi-aksi terorisme ada baiknya kita berpikir lebih jernih, objektif, dan luas. Baik Jundullah maupun PJAK memang penganut mazhab Sunni; namun sama sekali tidak bisa disimpulkan bahwa Sunni adalah teroris. Anggota MKO sebagiannya Syiah; lagi-lagi tak bisa disimpulkan bahwa Syiah itu teroris.

Persoalan di Iran jauh di luar konflik Sunni-Syiah. Karena itu, amat berlebihan ketika para teroris (yang kebetulan Sunni) tewas (atau ditangkap kemudian dihukum mati) akibat aksi terorisme yang mereka lakukan, desas-desus yang berhamburan adalah “ulama Sunni di Iran dibunuhi”. Btw, menurut Anda, apa yang harus dilakukan pemerintah Iran? Duduk manis saja menghadapi para teroris itu?

Saya pernah berkunjung ke Kurdistan, provinsi yang didominasi mazhab Sunni. Saya sholat Dzuhur di masjid orang-orang Sunni (sebenarnya saya tak melihat ada dikotomi “masjid Sunni” dan “masjid Syiah”.  Saya lihat, orang Syiah juga sholat di masjid yang sama; mereka di shaf  yang sama, meski gaya sholat berbeda; Sunni bersedekap, Syiah tidak.) Adzannya persis seperti di Indonesia (entah mengapa Eramuslim menggosip “Azan Sunni dilarang di Iran”). Cerita lengkapnya bisa baca di sini.

Penulis Eramuslim yang suka menggosip ttg Iran itu mungkin sebaiknya datang Iran di bulan Ramadhan dan duduk manis di depan televisi Iran menjelang maghrib. Televisi Iran mengumandangkan azan dua kali (karena waktu maghrib Sunni dan Syiah berbeda; Syiah sedikit lebih lambat).

Saya tidak sedang membela Syiah atau Iran (mereka tak butuh pembelaan dari orang biasa kayak saya); hanya miris melihat situs berita yang sering jadi rujukan umat Islam Indonesia itu terjebak permainan Barat. Seharusnya mereka bisa lebih cerdas lagi melihat, siapa musuh sesungguhnya di balik semua makar ini.

Note:

Selain Seymour Hersh, London Telegraph juga melaporkan makar Bush membiayai Jundullah. London Telegraph antara lain menulis, “The CIA is giving arms-length support, supplying money and weapons, to an Iranian militant group, Jundullah, which has conducted raids into Iran from bases in Pakistan.”

Updated:

Baru dapat kabar dari Iran, salah seorang Garda Revolusi yang gugur itu ternyata tetangga saya di Teheran, beliau punya dua anak yang masih kecil-kecil. Istrinya yang mengantar saya ke rumah sakit saat saya melahirkan anak kedua :((

Iklan

33 Komentar

  1. dzulfikar berkata:

    bagus bu dina..

  2. Quito berkata:

    Eramuslim itu kok gak pernah mau belajar dari pengalaman mereka yg lalu-lalu, betapa kesalahan informasi bisa berakibat fatal dan merupakan dosa besar, tapi apakah mereka tahu dosa?

  3. munirah berkata:

    bagus bangeeettt ..dua jempol

  4. ejajufri berkata:

    “Kajian” yang istimewa Mbak.

    “Hebatnya” media (yang mengatasnamakan) Muslim bisanya ngambil dari Barat…

  5. Bodrox berkata:

    Saya dari dulu pusing mengkaji agama (dan perdebatan2nya). Malah akhirnya jadi apatis sama aliran2 keagamaan, paling banter ujung2nya mempelajari aspek eksoterik agama.

  6. GANDUNG berkata:

    untung saya bisa keluar dari jerat media-media provokatif tersebut. Sangat memalukan media yang ngakunya “berafilias” dengan ajaran Islam, tapi justru menjadi corong pecahnya Islam. Fanatisme mazhab dan pikiran sempit yang dilandasi sifat ” ujub” telah menjauhkan rasionalitas dan keindahan dalam beragama.
    bagus Mbak Dina,…. kebenaran memang harus diungkap.

  7. papabonbon berkata:

    dina berbicara seolah tidak ada ketegangan etnis di iran. padahal ndak usah jauh jauh, kalau bicara dalam konteks indonesia, kita juga bisa bilang kalau di Indonesia tidak ada konflik etnis. 😀

    tapi kalau mau jujur, orang china didiskriminasi toh … ada ketegangan etnis juga di ambon, (doeloe) timor timur dan dulu di atjeh.

    saya kira dina cukup berpihak pada salah satu posisi, tanpa cukup mengapresiasi sisi yang lain

  8. dinasulaeman berkata:

    @mas Ari: yg dimaksud ketegangan etnis di tulisan ini adalah ketegangan etnis yg mengarah ke saling bunuh2an, bukan sekedar sentimen antar suku.

    Anda bandingkan dg Indonesia? Dulu2 di Ambon baik2 aja, muslim-kristen saling kirim makanan.. jika skrg bunuh2an ada dalangnya, ada pengacau, masak Anda gak ngerti masalah kayak2 gini? heran deh.

  9. dinasulaeman berkata:

    @Dzulfikar, Munirah, Eja, Gandung: makasih ya

    @Pak Ito: iya nih, padahal udah jelas ayatnya fitnah itu lebih besar dosanya dr pembunuhan

    @Bodrox: sy pikir, dg berpikir jernih dan selalu memohon petunjuk Allah, kita akan bisa menemukan kebenaran di tengah berbagai kekisruhan perdebatan..

  10. alee berkata:

    oooh..pantes…pernah tinggal di iran ternyata…

  11. Rizal berkata:

    tulisan mba Dina yg spt ini selalu saya tunggu untuk mencari tau apa yg sebenarnya terjadi terutama di kawasan Timur Tengah

  12. syafi'in berkata:

    Artikel dan analisa yang bagus mbak.!

    Saya nggak faham dengan salafy/wahabi (era muslim) jika menghadapi sesuatu yang dianggap musuh (khususnya syi’ah) segala cara mereka pakai, dusta, fitnah, nipu dll.
    Apa mazhab mereka ngajari begitu ya?

    nama “era muslim” dak layak dipasang di web. tersebut sebaiknya diganti menjadi “era Machiavelli” karena menghalalkan segala cara!

  13. Thedi Indrawan berkata:

    “Islam itu datang dengan asing dan akan kembali kepada keasingan sebagaimana awal, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”

    – Muhammad Rasulullah saw

  14. ladinata berkata:

    setiap kali saya berjumpa dengan orang barat, saya selalu ditanya, saya islam bermazhab apa, saya katakan saya tidak tahu, saya hanya berusaha menjalankan yang sudah ditentukan. jadi, ada kesan melalui mazhab itu kita dikotak-kotak dan diperlainkan, hingga saling menghancurkan. saya tidak menuduh tapi perhatikan nama juruwarta: seymour HERSH. Hersh, disitu ada bunyi desis ‘sh’ itu sama dengan bunyi desis ‘z’, jadi HERSH itu bisa saja menjadi HERZ, dan bandingkan dengan Theodore HERZ-EL, atau HERZ-T. jadi silahkan meng-input, siapakah theodore herzel, itu, bisa jadi, sama latarnya dengan seymour hersh. saya bukan penganut sara, tetapi kalau ada artikel-artikel yang subjektif seperti itu, ya, manfaatkalah analogi nama keluarga sang juruwarta. Easy?

    • dinasulaeman berkata:

      Jadi maksudnya gimana Bung? Saya kurang bisa menangkap.. apakah Anda sedang membela EraMuslim? Argumen Anda gimana? Saya rasa dengan memakai argumen ttg nama-nya Seymour H, kurang cukup kuat. Justru Seympour sedang membongkar kebusukan pemerintahan Bush yg membuat black operation di Iran. Kalau Anda baca tulisan lengkapnya, nothing to do with his name.

  15. zie berkata:

    iya mbak…saya dukung..klo menurut saya yang salah itu bukan sunni ato Syiahnya,, tapi ada org 2 tertentu yang bekerja untuk kehancuran islam. baik itu dari kalangan Islam sendiri maupun dari kalangan luar,,knpa ya ada org islam yang menghancurkan Islam…? nauzubillahiminzaliq..semoga Allah membuka pintu hati mereka.

  16. zain a.ghani berkata:

    Udah udah-Islam itu satu daripada Muhammad utusan Allah.Tiada sunni tiada syiah.

    Kalau ada, itu versi barat yang melaga-lagakan muslim di asia tengah dan selatan sekarang.
    ngapa israel boleh menyimpan nuklir???

    mikir dong!!!

  17. Sumantri berkata:

    Iya Mbak, kt ini umat muslim sejak lama diadu domba oleh orang Barat…anehnya kenapa kita selalu g sadar siapa musuh utama Islam sebenarnya?
    Daripada kita menghabiskan energi utk memusuhi sesama muslim, kenapa kita tidak mengumpulkan energi kita utk menghancurkan the real enemy “Amerika dan antek2nya
    Hidup Islam!!

  18. Ibrahim berkata:

    eramuslim dan situs-situs berbau wahabi-salafi lainnya sudah lazim mereproduksi kebohongan dan disinformasi yang meracuni pikiran masyarakat. Silahkan saja akses situs-situs semacam http://www.hakikat.com, http://www.eramuslim.com dan para koleganya. Mereka sudah terbiasa mempropagandakan kebohongan kronis atas muslim Syiah, Iran dan aliran-aliran lainnya yang tidak sepaham dengan mereka. Jangankan terhadap Syiah, terhadap muslim Suni pun wahabi tak segan-segannya menebarkan kebencian dan permusuhan. Masih segar dalam ingatan kita saat beberapaa bulan lalu militan wahabi di Palestina, Jundu Ansharallah, mengkonfrontasi Hamas karena Hamas dianggapnya “penghalang” bagi para wahabi Palestina untuk “menerapkan syariat Islam”!! Sungguh manusia dengan pikiran-pikiran ajaib!! Di saat Hamas (yang Suni) tengah berjibaku menahan eksterminasi sang agresor Zionis Israel terhaadap rakyat Palestina, para wahabi berpikiran absurd ini mengkonflik Hamas!!! Mungkin logika konyol para pelawak Srimulat sekalipun tak akan pernah mampu memahami absurditas pola pikir dan keganjilan perilaku para wahabi ini.

  19. Anas berkata:

    assalmuaalaikumwrwb..
    sepakat kita memiliki berjuta kesamaan? kenapa kita lebih banyak mengungkit perbedaan..
    mari satukan saf..!!

    Mba Dina, saya butuh diskusi dengan mba.. mohon saya di add di YM mba..
    jazkmllh

  20. husaini sulaiman berkata:

    Kebohongan itu sudah masuk dalam area kita (sesama muslim), Saya Tidak akan Menggunakan “Era Muslim” sebagai sumber berita saya/Catatan pengetahuan Timur Tengah/Islam.

  21. Rizal berkata:

    mba Dina mohon penjelasannya, sebenarnya siapa Ayatullah Montazeri yg baru meninggal itu ? Kenapa beliau menuduh pemerintahan Iran sekarang ini diktator ?

    Trims.

    • dinasulaeman berkata:

      @Rizal: Alm Montazeri dulu adalah putra mahkota Imam Khomeini (dipilih melalui pemilu langsung), tapi kemudian, terjadi skandal besar. Menantunya (namanya Mehdi Hashemi) tertangkap tangan berusaha menyelundupkan senjata ke Arab Saudi (dgn tujuan, utk mendiskreditkan Republik Islam Iran yg baru berdiri). Setelah dilakukan penyelidikan, terbukti juga bahwa beberapa beberapa kasus pembunuhan para ulama yg terjadi sebelumnya ternyata didalangi oleh Mehdi Hashemi. Mehdi Hashemi bisa melakukan berbagai konspirasi itu karena dia punya jabatan tinggi di pemerintahan (Hashemi sendiri bisa mencapai posisi pejabat penting itu karena rekomendasi mertuanya, Alm Montazeri).

      Alm menolak mengakui menantunya bersalah dan ketika Hashemi dijatuhi hukuman mati, Montazeri melakukan pembelaan. Alm Montazeri ditegur oleh Imam Khomeini tapi dia tetap memprotes keputusan pengadilan. Imam Khomeini kemudian memakai hak prerogatifnya memakzulkan Montazeri dari putra mahkota (tapi tak menunjuk siapa penggantinya).

      update: ada cerita versi lain, bahwa Montazeri tdk dimakzulkan, tapi memang mengundurkan diri

      Yg jelas, sejak itu Montazeri melakukan perlawanan pasif (menjadi oposisi tapi sekedar lewat pidato/ceramah2) tapi tak mendapat banyak dukungan dari rakyat.

      Setelah Imam Khomeini wafat, Dewan Ulama (sekitar 70-an ulama dari seluruh Iran yang dipilih langsung oleh rakyat lewat pemilu setiap 8 thn sekali) mengadakan rapat dan memilih salah satu ulama di antara mereka untuk menjabat posisi Wali Faqih (posisi Imam Khomeini itu disebut “wali faqih”/spiritual leader). Yang terpilih adalah Ayatullah Khamenei yg sampai skrg masih menjabat (dan selama ini, tiap 8 thn sekali selalu diadakan pemilihan ulang oleh Dewan Ulama, dan Ayatullah Khamenei selalu kembali terpilih)

  22. gadeng berkata:

    mohon izin untuk sharingnya

  23. Abu Thalib berkata:

    Salam wa Rahmah.
    Terima kasih Bunda Dina atas info-info segarnya, terutama info terakhir tentang alm. Ayatullah Montazeri. Selama ini juga saya cuma menduga-duga saja, kenapa ulama sekaliber beliau seolah-olah diisolasi. Terlepas dari itu, apakah para ulama di Iran termasuk Rahbar ikut menshalatkan jenazahnya ?

  24. anak johor berkata:

    mungkin website tu webste pro wahabi

  25. […] Sumber: About Rigi from ABNA.ir Lihat Juga: Jundullah, Teror di Iran, dan Catatan untuk Eramuslim […]

  26. Reza Pahlevi berkata:

    Udah gak asyik lg ah, buat ngebahas hal yg tak pernah selesai. Yowis, klo udah tau beda ya sudah. Gak perlu mengecam sedemikian rupa, apa lg kata²nya pada pedes. Saling menghormati, selesai deh.
    Waktunya berkarya kawan² 🙂
    Barat sudah terlalu lama menertawakan kita.

    (Oya, salam kenal mbak Dina)

  27. Dika berkata:

    Teman-Teman Sesama Muslim kita tidak boleh berpendapat sesuai dengan nafsu sendiri karena dapat menimbulkan perpecahan sesama muslim….Ntah itu Syiah, Sunni, Salafy, Muhamadiyah, NU, dll. Kita Kembalikan lagi kepada al-Qur’an & Hadist , Saya yakin kita tidak ada perpecahan…Smoga Umat Islam Merapatkan Barisan.

  28. abdurrahman alwani berkata:

    hehehe . . . debat debat debat . . . ujung-ujungnya yang bodoh kita semua . gampang banget dibodohin sama musuh musuh Islam ” yahudi” dan ” kaki tangannya” yang bergentayangan seperti setan .

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: