Kajian Timur Tengah

Beranda » Studi Hubungan Internasional » Perang Irak, Obama, Realis/Idealis

Perang Irak, Obama, Realis/Idealis

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Tulisan berikut ini agak spesifik HI, mungkin agak sulit dipahami oleh pembaca yg tidak berbasis HI, terutama terkait istilah ‘idealis’ dan ‘realis’. Singkatnya, kaum idealis berpandangan bahwa dunia bisa lebih damai bila negara-negara direformasi (didemokratisasi) karena dalam pandangan mereka, negara yang demokratis akan cenderung tidak memilih untuk berperang. Sebaliknya, kaum realis menilai bahwa negara-negara berada dalam situasi yang anarkhi, sifat alami negara-negara adalah membela kepentingan nasional mereka; apapun boleh dilakukan demi kepentingan nasional, kalau perlu: perang.

Awalnya, saya pikir, karena realis disebut-sebut sebagai mazhab terkuat dalam HI, berkembang di AS, dan pastinya mempengaruhi pandangan para politisi AS; maka perang Irak merupakan produk mazhab realis. Alur logikanya: Irak adalah demi memperkuat posisi AS di Timteng (bila AS berhasil membuktikan kejayaannya di Irak, negara-negara Timteng akan takut dan mau tunduk kepada AS), penguasaan sumber minyak Irak.

Ternyata…

pikiran saya salah sama sekali. Justru orang-orang realis menolak Perang Irak. Argumen lengkapnya baca tulisan Mearsheimer di sini (atau baca tulisan saya di sini)

Ternyata, realis juga bisa dibaca: biarkan negara dalam bentuk apa adanya; tak perlu direformasi; yang harus dipikirkan oleh negara A adalah kepentingan dirinya sendiri dan negara A harus mampu ‘bermain’ di tengah berbagai bentuk negara itu; kalaupun negara A demokratis, bila demi kepentingannya, silahkan saja bekerjasama dengan negara komunis. Tak perlu idealis-idealisan, gitu lah intinya. Kalau pinjam kata-katanya Paul Wolfowitz : In the words of one leading realist, the principal purpose of U.S. foreign policy should be “to manage relations between states” rather than “alter the nature of states.”

Nah, yang aneh, Obama ternyata disebut-sebut sebagai tokoh berhaluan realis (dan karena itu, sekarang saya paham mengapa bbrp dosen saya sedemikian optimistis pada Obama, yaitu karena mereka kebanyakan berhaluan realis-meski sebagian ngakunya sih, tidak bermazhab). Terpilihnya Obama –kata Brent Scowcroft– adalah a rejection of the younger Bush “in favor of realism.”

Tapi, benarkah Obama seorang realis? Jawabannya saya temukan dari tulisan Paul Wolfowitz, yang dengan sengit membela diri dari kecaman kaum realis akibat peran besarnya dalam Perang Irak. PW membela diri dengan mengatakan bhw justru Perang Irak adalah demi kepentingan nasional, “the purpose of the war was to remove a threat to national and international security”.

Nah, menurut PW, Obama masih belum jelas, realis atau idealis karena masih mendua. PW menyebut faktanya:

-Idealis:  Di Moscow, Obama berbicara dengan nada idealis  “Governments which serve their own people survive and thrive; governments which serve only their own power do not.”

Di Cairo pun, dia idealis, “Government of the people and by the people sets a single standard for all who would hold power.”

Di Ghana, ke-idealis-an Obama semakin jelas: “No person wants to live in a society where the rule of law gives way to the rule of brutality and bribery. That is not democracy; that is tyranny, and now is the time for it to end.”

Obama mendukung demokrasi di Pakistan, dan bahkan melanjutkan Perang Irak, demi demokrasi.

-Realis:  Obama tidak banyak membantu kaum reformis di Iran [artinya, dalam pandangan idealis, Obama seharusnya habis2an membantu proses ‘demokratisasi’ di Iran. Tentu saja, dalam pandangan Iran, pemerintah AS ada di balik berbagai kerusuhan di Iran]

Obama berbaik-baik dengan Russia, sampai2 membuat para pemuka Eropa Timur (termasuk mantan presiden Cheko Vaclav Havel dan mantan President Polandia Lech Walesa menulis surat terbuka pada Obama, yg antara lain menyatakan “our region suffered when the United States succumbed to ‘realism.'”

Dengan China, Obama juga bersikap ‘realis’, karena tidak mau terlalu campur tangan urusan dalam negeri China dan lebih fokus ke bisnis. Kata Obama, “it won’t let human rights interfere with bilateral cooperation.”

Anyway, saya sudah bisa meraba bahwa keduanya, baik realis ataupun idealis sesungguhnya adalah ideologi yang rapuh dan going no where… Kalau istilah mantiq-nya tanaqud (bertentangan secara fundamental di dalam tubuhnya sendiri). Cuma saya masih belum mampu mengungkapkan apa dan bagaimananya. Mudah2an suatu saat saya bisa menulis buku tentang ini.

Btw, masih dari si pencinta perang PW, dia menyatakan bahwa “Neoconservatism arose in the 1970s as a critique of realism”. PW juga mengklaim dirinya “democratik realis”. Terkait Obama, PW punya istilah sendiri, yaitu “pragmatis’  Waduh, tambah kacau deh.

Iklan

2 Komentar

  1. Reformis Jalanan berkata:

    Assalamualaikum.

    Saya dari Malaysia, saya amat suka membaca buku karya anda yang bertajuk “Pelangi Di Persia”. Terjemahannya di Malaysia ialah “Travelog Iran”. Sebuah penulisan yang bagus dan pengalaman yang menarik. Terasa seperti benar-benar berada di sana.

  2. dinasulaeman berkata:

    Waalaykumsalam. Terimakasih banyak telah membaca buku saya, semoga bermanfaat.

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: