Kajian Timur Tengah

Beranda » kajian timur tengah » Mengapa Saya Terus Menulis Tentang Iran, Israel, AS?

Mengapa Saya Terus Menulis Tentang Iran, Israel, AS?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Bukan, bukan karena saya pernah 5 tahun jadi jurnalis di Iran. Bukan karena saya fans-nya Ahmadinejad (sejujurnya, tak ngefans2 amat kok; saya pernah menulis ttg Ahmadinejad, tapi dalam konteks konflik Timur Tengah, bukan utk mengelu-elukan dia). Bukan juga karena saya muslim anti Yahudi.  Alasannya akademis saja kok: karena dalam menganalisis konflik regional (supaya analisisnya tak kacau, dan mencampuradukkan hal2 yg seharusnya tak dicampuradukkan, sbgmn yang sering dilakukan sebagian orang), kita memang mesti menentukan dulu, mana negara-negara yang jadi core (pusat konflik),  intrusive (pengganggu), dan peripheral (pinggiran, punya pengaruh dalam konflik, tapi tak signifikan).

Saya melihat negara-negara pusat konflik Timur Tengah adalah Palestina-Israel-Iran (alasannya apa, mudah2an lain waktu bisa saya tulis). Posisi Iran secara geografis memang tidak berada di satu kawasan dengan Palestina-Israel. Iran malah lebih ke Asia Selatan, tapi tetap masuk dalam pengkategorian negara-negara Timur Tengah  (juga Mesir-Libya-Algeria-Maroko yang letaknya di benua Afrika). Lihat Halliday (2005:330-331).

Siapa negara yang jadi aktor intrusive di sini? Sudah jelas, AS. AS sama sekali bukan bagian dari Timur Tengah, tapi selalu saja mencampuri urusan di sana. Ada banyak alasan, antara lain kepentingan ekonomi, dan persekutuannya dengan Israel. Lalu, aktor peripheralnya, bisa Saudi, Suriah, Turki, Mesir, dll.

Nah, dalam konteks ini, makanya saya selalu mengaitkan Iran-Israel-Palestina dan AS saat menulis ttg konflik Timur Tengah.  Dalam konteks ini pula, saat saya menganalisis  tentang situasi politik di Iran, mau tak mau memang harus dikaitkan dengan AS dan Israel. Karena ketiga negara core + 1 negara intrusive itu memang selalu berjalin-berkelindan dalam  konstelasi politik Timur Tengah. Aksi di salah satu negara akan langsung mendapat reaksi di ketiga negara lainnya.

Dalam konteks ini pula, sangat aneh bila saat saya mengkritik AS “Mengapa AS yang katanya pembela HAM tapi malah tidak peduli pada penderitaan Palestina dan terus-terusan membela Israel?” muncul tanggapan :

-“Orang Islam aja gak bela Palestina, ngapain juga AS yang harus repot-repot?”

-“Orang Islam aja gak peduli sama HAM, kenapa kamu harus mengkritik AS?”

Tanggapan seperti itu jelas out of context.

Analoginya: saat si Badu (yang diketahui umum pernah mencuri, misalnya) sedang berbicara soal korupsi yang dilakukan oleh si Bodi. Kita gak bisa berkata, “Halah, si Badu kan juga pernah mencuri, dia TIDAK BOLEH mengkritik si Bodi.” Kita hanya  bisa berkata, “Ya, si Bodi salah, si Badu juga salah.”

Pelanggaran HAM yang konon dilakukan sebagian negara-negara muslim adalah salah dan tidak bisa dibela; tapi tidak pula bisa diambil kesimpulan “Orang Islam juga suka melanggar HAM, ngapain juga mereka teriak-teriak memprotes AS?”

Sekali lagi, out of context.

Ok, ini sekedar info..mudah-mudahan bisa membantu dalam memandang konflik Timur Tengah secara lebih jernih.

Iklan

2 Komentar

  1. F4iz berkata:

    sangat mencerahkan, terima kasih, bu…

  2. yoyon berkata:

    mantap,,aja ayo tukeran link dengan ku

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: