Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Yaman: Perang Obama Selanjutnya? (2)

Yaman: Perang Obama Selanjutnya? (2)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Di Yaman, setiap satu dari tiga orang memiliki senapan.  Senapan, granat, atau bahkan ranjau dijual bebas di pasar. Tapi, “kebetulan” mereka orang Arab dan orang Arab sudah sejak lama distereotipkan dengan kekerasan. Karena itu, orang Arab yang memegang senapan dipandang berbahaya dan identik dengan teroris. Lebih parah lagi, Yemen disebut-sebut sebagai failed state (negara gagal) dan failed state sering dinyatakan sebagai ‘tempat berlindung yang aman (safe haven) bagi berkembangnya terorisme’.  Karena itulah, tuduhan bahwa Al Qaida sedang bersarang di Yaman sangat mudah diterima oleh opini publik.

Padahal, senapan dan senjata memang budaya Yaman sejak lama, mungkin sama seperti budaya orang Jawa (zaman dulu) pegang keris atau suku Aborigin yang membawa boomerang kemana-mana. Itu budaya mereka, seperti kata  Prof Ahmed al Kibsi pada BBC, “Just as you have your tie, the Yemeni will carry his gun.”  Di balik kesukaan orang Yaman membawa senjata, jurnalis Inggris Patrick Cockburn melihat orang Arab Yaman dengan cara berbeda, “The Yemenis are exceptionally hospitable.. Yemenis are intelligent, humorous, sociable and democratic, infinitely preferable as company to the arrogant and ignorant playboys of the Arab oil states in the rest of the Arabian Peninsula.”

Di balik keramahan orang Yaman seperti yang  diceritakan Cockburn, mereka sesungguhnya hidup dalam kondisi perekonomian yang buruk. Cadangan minyak dan air mereka semakin berkurang, data dari PBB  menyebutkan bahwa 45% dari 22 juta rakyatnya hidup di dengan penghasilan di bawah 2 dollar sehari.

Secara umum, sesungguhnya Yaman belum bisa dikategorikan failed state tapi mungkin memang bisa tergolong ‘weak state’ (negara lemah).  Sorensen menyebutkan ciri-ciri weak state sbb: komunitas lokal lebih dominan daripada komunitas nasional, loyalitas yang lemah kepada negara,  dan tingkat legitimasi pemerintah sangat rendah; pemerintahan yang tidak efisien dan korup, aturan yang berlaku lebih berupa kekerasan daripada aturan hukum, serta tidak adanya monopoli pada penggunaan kekerasan secara legitimate (di negara ‘normal’ hanya negara yang  berhak menggunakan kekerasan, misalnya militer atau polisi; tapi di weak state, semua orang boleh memegang senjata).

Seluruh ciri-ciri weak state yang disebutkan oleh Sorensen ada pada Yaman. Seperti ditulis Cockburn, “The strength of the central government in the capital, Sanaa, is limited and it generally avoids direct confrontations with tribal confederations, tribes, clans and powerful families.”

Failed states (dengan indikator antara lain: sangat miskin, pemerintahnya tidak lagi punya kedaulatan dan tak mampu lagi memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya) disebut-sebut sebagai tempat yang subur (inkubator) bagi berkembangnya terorisme dan dijadikan justifikasi bagi intervensi militer AS.  AS berdalih bahwa intervensi militer di negara-negara gagal itu bertujuan untuk demokratisasi dan melindungi dunia dari ancaman terorisme.  Negara-negara gagal yang pernah/sedang diserbu AS: Lebanon tahun 1982, Somalia pada awal 1990-an, Irak sejak 2003, Afganistan sejak 2001.

Sebenarnya masih banyak yang bisa dieksplorasi dari pendefinisian failed state: apakah standarnya, apakah memang benar failed states adalah inkubator bagi terorisme, apa benar Al Qaida kini bersarang di Yaman karena Yaman adalah failed state, dll. Tapi artikel ini hanya dimaksudkan untuk menjawab: Apa yang dicari AS di Yaman?  Data menunjukkan bahwa Yaman sedemikian miskinnya sehingga hampir jadi failed state,  lalu apa yang membuat AS mau menggelontorkan dana ratusan juta dollar untuk Perang Melawan Terorisme di Yaman?

….biar ga capek bacanya, bersambung ke bagian 3 ya..:)


1 Komentar

  1. […] Tentang Penulis Yaman: Perang Obama Selanjutnya? (2) […]

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: