Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan » Bisnis Opium AS di Afghanistan

Bisnis Opium AS di Afghanistan

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Pertanyaan besar: mengapa mengapa AS sedemikian ngotot menduduki Afghanistan, mengirim pasukan 70.000 pasukan (dan terus akan ditambah dengan target 10.000 pasukan), dan menghabiskan 30 milyar dollar pertahun untuk membiayai perang? Benarkah alasannya karena ada teroris di sana? Prof. Peter Scott Dale memberikan jawabannya: bisnis opium.

Berikut ini ringkasan dari artikel yang ditulis Dale (diterjemahkan oleh tim Global Future Institute). Versi lengkap terjemahan artikel ini bisa dibaca di The Global Review.

Sejarah Kehancuran Afghanistan

Sejak masa kekuasaan Kerajaan Dinasti Durani di abad 18, Afghanistan sudah masuk kategori negara yang menjadi obyek rampasan dan jarahan berbagai kepentingan negara-negara asing.

Meski secara teknis Afghanistan bukan negara yang jadi jajahan suatu negara asing, namun Afghanistan praktis berada dalam orbit pengaruh Kerajaan Inggris dan Rusia. Yang ketika itu Inggris dan Rusia bersaing keras untuk berebut pengaruh di Afghanistan. Sehingga, netralitas Afghanistan masa itu, bukan karena kemauan dari kerajaan Afghanistan itu sendiri, melainkan karena kesepakatan antara Inggris dan Rusia.


Dengan begitu praktis Afghanistan disepakati sebagai wilayah jajahan Inggris dan Rusia sama-sama meraup keuntungan dari Afghanistan. Selain itu, stabilitas politik yang terbangun di Afghanistan di era Dinasti Durani, sejatinya merupakan koalisi longgar dari berbagai pemimpin suku. Jadi bukan merupakan monopoli kekuasaan oleh pusat kekuasaan. Salah satu simptom dari setting politik semacam ini, tak ada satu kekuatan pun di Afghanistan untuk membangun rel kereta api. Padahal ini salah satu aspek yang mengindikasikan adanya pembangunan nasional.

Inggris, yang takut dengan pengaruh Rusia di Afghanistan, senantiasa ikut campur dalam menentukan keseimbangan politik dari berbagai pemimpin suku di negara tersebut. Inilah yang terjadi pada 1839, ketika Inggris ikut campur mendukung klaim salah satu anggota keluarga Dinasti Durani yang bernama Shuja Shah.

Shuja Shah karena kedekatannya dengan Inggris, mendapat dukungan Inggris untuk merebut kekuasaan kerajaan. Namun upaya ini berakhir tragis dengan tewasnya 12000 tentara Inggris. Bahkan ketika Inggris mundur dari keterlibatannya dalam pertarungan internal anggota kerajaan, Shuja Shah pun akhirnya mati terbunuh.

Kondisi sosial Afghanistan, yang bermula dengan adanya jaringan berbagai suku yang rumit, akhirnya sempat berantakan akibat campur tangan asing pada setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua. Di era perang dingin, kesenjangan antara Kabul dan daerah-daerah pedesaan semakin lebar.

Daerah perkotaan Afghanistan, umumnya dipengaruhi oleh budaya dan gaya hidup perkotaan yang kebarat-baratan.Beberapa generasi kelas birokrat dilatih di Moskow. Alhasil, kelas birokrat perkotaan Afghanistan semakin terasing dari budaya tradisional pedesaan. Mereka menganggap warga pedesaan sebagai tidak beradab, ketinggalan zaman dan reaksioner.

Sementara itu, memasuki era 1980-an, para tokoh Islam sufi (Kyai) di daerah pedesaan secara drastis tergusur dan diambil-alih oleh kelompok-kelompok Islam radikal berkat besarnya kucuran dana bantuan dari agen-agen Intelijen Pakistan (Inter-Service Intelligence). Sumber dana keuangan yang mengucur drastis kepada kelompok-kelompok Islam radikal tersebut, berasal dari Saudi Arabia dan Amerika Serikat.

Alhasil, perang saudara meletus, yang berujung pada invasi Uni Soviet pada 1980,  praktis merupakan refleksi dari pertarungan antar kekuatan-kekuatan global dari luar Afghanistan itu sendiri. Afghanistan pada perkembangannya, telah terpecah-belah sedemikian rupa akibat konflik yang dipicu oleh pertarungan antar negara adidaya. Lebih tragisnya lagi, bahkan hingga kini pun keterpecahan Afghanistan pun kian menjadi-jadi akibat kehadiran militer Amerika sejak invasi militernya pada 2001.

Bisnis Opium di Afghanistan

Sesudah Pakistan melarang penanaman opium pada Februari 1979 dan diikuti oleh Iran pada April 1979, tidak adanya pengawasan dari para penegak hukum di wilayah kekuasaan Suku Pastun yang berlokasi di Pakistan dan Afghanistan, telah menarik minat para kartel pedagang obat bius untuk mengadu untung dalam perdagangan barang haram ini. Bahkan para pengejar kekayaan asal Eropa dan Amerika, dengan tanpa ragu kemudian mendirikan fasilitas pemrosesan heroin di wilayah kekuasaan suku Pastun tersebut.

Pada 1976, laboratorium dibuka di provinsi North-West frontier. Fakta ini bersumberkan dari Majalah Canadian Maclean’s pada April 1979. Menurut Alfred McCoy, pada 1980 para pedagang opium dan obat bius dari Pakistan dan Afghanistan sepenuhnya menguasai pasar Eropa. Bahkan berhasil menguasai 60 persen kebutuhan pengguna opium di Amerika.

90 persen perdagangan narkoba dunia berasal Afghanistan. Itupun yang menikmati keuntungannya bukan Afghanistan. Karena Afghanistan sendiri sebagai bagian dari jaringan global perdagangan obat bius, jika dihitung dalam nilai dolar, hanya mendapat keuntungan 10 persen dari total keuntungan perdagangan global obat bius.

Pada 2007, Afghanistan memasok 93 persen dari opium ke seluruh dunia, begitu menurut laporan Departemen Luar Negeri. Dengan begitu, Afghanistan mendapat perolehan hasil perdagangan obat bius sebesar 4 miliar dolar AS. Berarti mencapai setengah dari total ekonomi Afghanistan yang diperkirakan sebesar 7,5 miliar dollar AS. Demikian menurut data dari United Nations Office of Drug Control (UNODC).

CIA dan Opium

Ketika Amerika melancarkan serangan militer pertama kali ke Afghanistan pada 2001, menurut Ahmad Rashid, Pentagon memiliki daftar sekitar 25 laboratorium pemrosesan dan gudang obat bius di Afghanistan. Namun pihak Amerika, khususnya Pentagon, menolak membom tempat-tempat tersebut. Alasannya, itu merupakan aset bisnis milik CIA dan sekutu lokalnya the North Alliance (Aliansi Utara).

Rashid ketika itu mendapat keterangan dari beberapa pejabat UNDODC, bahwa Amerika sebenarnya tahu lebih banyak tentang keberadaan lokasi beberapa laboratorium obat bius tersebut. Sehingga penolakan Pentagon untuk membom laboratorium obat bius tersebut, pada perkembangannya merupakan sebuah kemunduran bagi upaya kontra perdagangan narkotika dan obat bius.

Bahkan James Risen melaporkan bahwa penolakan pihak Amerika untuk menghancurkan laboratorium narkotika dan obat bius, berasal dari para pentolan Neo-Konservatif yang menguasai birokrasi keamnanan nasoonal Amerika. Mereka adalah Douglas Feith, Paul Wolfowitz, Zalmay Khalilzad, dan patron mereka Donald Rumsfeld.

Ketika Hamid Karzai kembali ke Afghanistan dari pengasingannya di Amerika Serikat, sebagai presiden dia bertekad akan memerangi para pengedar narkoba. Namun kini, teman-temannya dan bahkan keluarganya serta sekutu-sekutu politikmya, justru terlibat dalam perdagangan barang haram tersebut.

Uang hasil perdagangan narkoba ini, ternyata digunakan untuk mengamankan dunia perbankan Amerika dan Eropa dari hantaman krisis keuangan global. Selain itu, 80 persen hasil keuntungan perdagangan barang haram ini sepenuhnya dimanfaatkan negara-negara pengguna komoditas haram ini.

Perdagangan Narkoba: Buah Dari Campur Tangan Amerika

Sekadar informasi, sejak berakhirnya Perang Dunia II, sudah jadi rahasia umum bahwa para agen CIA telah menggunakan dan mendayagunakan para pedagang narkoba sebagai aset mereka dalam menjalankan berbagai operasi terselubungnya di beberapa negara di berbagai kawasan dunia.

Akibat parah yang ditimbulkan gara-gara CIA menggunakan jaringan pengedar narkoba sekaligus melindungi mereka dari jeratan penegak hukum, bisa dilihat dengan jelas melalui adanya keterkaitan langsung antara meningkatnya  produksi dan arus perdagangan narkoba dengan campur tangan Amerika di suatu negara. Artinya, ketika Amerika melancarkan intervensi ke sebuah negara atau kawasan tertentu, maka ketika itu pula produksi dan arus perdagangan narkoba semakin meningkat.

Begitu juga ketika intervensi Amerika ke sebuah negara atau kawasan menurun, prodoksi dan arus perdagangan narkoba pun menurun.

Sebagai misal, begitu Amerika campur tangan di Afghanistan pada 1979 dengan mendukung berbagai kelompok Islam radikal yang melawan Uni Soviet, produksi obat bius (Opium) di Afghanistan pun semakin meningkat secara drastis.

Pola yang sama juga berulang ketika pada 2001 Amerika di bawah kepresidenan Goerge W. Bush memutuskan menyerbu Afghanistan untuk menumpas Kelompok radikal Taliban dan Al-Qaeda. Pada 1999, penanaman opium di negara ini memerlukan lahan sekitar 91.000 hektar. Ini terjadi karena semasa kekuasaan Taliban di Afghanistan, ternyata produksi opium berhasil dikurangi hingga mencapai 8000 di tahun 2001.

Namun pada 2001 bersamaan  dengan serbuan Amerika ke Afghanistan menyusul pemboman gedung WTC dan Pentagon, produksi opium meningkat secara drastis mencapai 165.000 pada 2006. Dan 193.000 pada tahun 2007. Kalaupun pada 2008 mengalami penurunan sehingga hanya mencapai 157.000, itupun lebih dikarenakan over-produksi, sehingga tidak terserap oleh pasar.

Tak seorangpun harus terkejut dengan peningkatan drastis dari produksi dan arus perdagangan narkoba ini. Ketika Amerika melancarkan campur tangannya baik secara militer maupun politis, maka peningkatan produksi dan arus perdagangan narkoba tersebut meningkat drastis.

Mari kita simak beberapa catatan berikut ini. Pada 1950, berkat campur tangan CIA di Birma, negara ini mengalami peningkatan produksi narkoba dari 40 ton pada 1939 menjadi 600 ton pada 1970.

Di Thailand, meningkat dari 7 ton di tahun 1939 menjadi 200 ton pada tahun 1968. Di Laos, hal serupa juga terjadi. Dari 15 ton di tahun 1939 meningkat menjadi 50 ton pada tahun 1973.

Kasus paling dramits terjadi di Kolombia, ketika Amerika Latin, ketika Amerika campur tangan melalui keterlibatan militer Amerika di negara ini sejak 1980-an, dengan dalih perang memberantas perdagangan narkoba.

Pada konferensi internasional di tahun 1990, saya memprediksi bahwa campur tangan Amerika dengan dalih perang memberantas narkoba ini, justru akan terjadi peningkatan produksi dan arus perdagangan obat narkoba. Bukannya malah semakin berkurang.

Fakta yang muncul kemudian, justru membuat saya terkejut dengan jumlah peningkatannya yang cukup drastis. Produksi kokain meningkat tiga kali lipat antara 1991 dan 1999, yaitu dari 3,8  menjadi 12,3  ribu. Sedangkan dalam penanamn ganja, meningkat drastis dari 13 ribu menjadi 75 ribu hektar.

Karena itu saya berani berkesimpulan, intevensi dan keterlibatan Amerika baik militer ataupun politik pada suatu negara, justru merupakan bagian dari masalah dibandingkan pemecahan masalah.

Sudah menjadi kesepakatan umum di Washington bahwa produksi narkoba merupakan sumber masalah pokok yang harus dihadapi Amerika di Afghanistan saat ini. Bahkan Richard Hallbrooke, utusan khusus Presiden obama ke Pakistan dan Afghanistan, menulis pada 2008 bahwa perdagangan narkoba merupakan akar persoalan yang harus dihadapi Amerika di Afghanistan. Sehingga memberantas dan memutus mata-rantai perdaganan narkoba tersebut merupakan masalah yang cukup esensial. Kalau tidak, maka semua ini akan gagal total.

Karena itu, menarik mengamati tetap diberlakukannya kebijakan penambahan pasukan militer Amerika di Afghanistan pada skala mencapai 30 ribu personil pasukan. Menariknya lagi, Lawrance Korb, penasehat Obama, bahkan mengusulkan keberhasilan kampanye memberantas Taliban dan Al Qaeda mensyaratkan penambahan pasukan mencapai 100 ribu personil militer.

Ini bertentangan dengan laporan Rand Corporation yang menilai bahwa kekuatan militer hanya mampu mengurangi sekitar 7 persen kasus yang melibatkan kelompok-kelompok teroris tersebut.  Sementara itu, sebuah think-thank Amerika, Carnegie Endowment, menyimpulkan dalam laporannya, bahwa kehadiran militer Amerika atau pasukan asing dalam operasi yang dilancarkan terhadap Taliban, justru merupakan elemen utama bangkitnya kembali Taliban. Hal ini diperkuat oleh Ivan Eland dari Independent Institute, bahwa kegiatan militer Amerika di Afghanistan telah memberi kontribusi terhadap bangkitnya kembali Taliban dan berbagai kegiatan kelompok-kelompok pemberontak di Pakistan.

Alhasil, keberlangsungan perdagangan narkoba tetap terjamin dengan perlindungan dari CIA dan di bawah tirai perlindungan dari konflik yang tidak bekesudahan di Afghanistan.Dan saya khawatir bahwa aset-aset intelijen CIA telah mengorganisasikan sebuah gerakan peredaran jaringan narkoba hingga melalui kawasan Asia Tengah dan sekitarnya.  Sehingga, tanpa perubahan kebijakan yang jelas dari pemerintahan Amerika, maka perdagangan narkoba akan tetap berlangsung terus dengan perlindungan dari CIA.*

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: