Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina » Gaza Wants to Eat!

Gaza Wants to Eat!

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Sam Husseini, seorang aktivis politik dan kemanusiaan asal AS, menulis catatan ringan pengalamannya saat mengikuti aksi kemanusiaan untuk mengantarkan bahan bantuan ke Gaza. Rombongan yang dipimpin Galloway itu tertahan di Mesir. Mesir menyatakan akan mengizinkan rombongan kemanusiaan itu masuk bila mereka sudah mendapatkan izin dari Israel. Catatan ringan ini menarik, dan menambah satu lagi argumen, mengapa Palestina harus kita dukung, yaitu: karena persoalan Palestina sangat terkait dengan persoalan kemerdekaan umat manusia di seluruh dunia. Kasus Mesir adalah contoh pahit betapa penjajahan atas Palestina juga menyebabkan pemerintah Mesir menjadi budak Israel dan rakyat Mesir diberangus kemerdekaan mereka untuk membantu penduduk Gaza. Padahal Gaza dan Mesir berbatasan darat, mereka adalah dua entitas yang benar-benar bertetangga dan benar-benar bersaudara (sesama etnis Arab).

*

Lewat tengah malam, aku tak bisa tidur. Aku pergi keluar mencari makanan atau mungkin segelas anggur untuk membantuku tidur. [Di jalan] kulihat rombongan CodePink dan Gaza Freedom March (=LSM aktivis perdamaian). Mereka bilang akan pergi ke kedubes Prancis [untuk menanggapi] seruan ini:

Saat kami menulis ini, ratusan delegasi Perancis berkemah di luar Kedutaan Prancis, menggelar tenda dan sleeping bags di trotoar, dan berteriak “Merdeka Palestina!”. Dubes Perancis dan istrinya ada di luar, bernegosiasi dengan delegasi, polisi, dan otoritas Mesir. Ini adalah aksi yang kuat dan Prancis mengundang solidaritas dan dukungan, datanglah kapan saja Anda bisa! Ini adalah situasi kritis dan polisi mengepung kami. Lihatlah jika Anda bisa. Kami akan mengirim update bila memungkinkan.”

[Aku pun bergabung bersama mereka] Sungguh, ini adalah aksi yang kuat. Ketika kami sampai di lokasi, aksi protes sangat semarak, hampir semuanya berada di trotoar dan di jalanan di depan kedubes. Tak lama setelah kami sampai di sana, datang barisan panjang tentara Mesir dengan perlengkapan anti-kerusuhan. Mereka menggunakan helm, perisai, dan pentungan.

Mereka mendatangi kami, tetapi tidak memukuli kami. Aku mendekati polisi itu dan berkata dalam bahasa Arab yang patah-patah, “Gaza ingin makan”.

Lalu, melalui penerjemah Prancis, aku berkata lagi, “Orang-orang ini ingin menyalurkan makanan ke Gaza. Pemerintah Mesir melarang mereka, mengapa?”

Seorang komandan mendekati, berkata melalui penerjemah itu, memintaku agar berhenti bicara dengan polisi. Tentu saja, dia tidak ingin pasukannya paham sepenuhnya bagaimana pemerintah mereka tampil sebagai perantara bagi Israel. Aku mencoba menanyakan padanya, apakah dia benar-benar punya pemerintah? Salah satu permintaan pemerintah Mesir pada konvoy Galloway adalah agar Galloway mendapat izin dulu dari Israel [baru diizinkan masuk Gaza]. Apa urusan Israel dengan masalah ini?

Mesir mempunyai perbatasan dengan Gaza. Jika Mesir adalah negara-bangsa (nation-state), Mesir seharusnya bisa melakukan apa yang diinginkannya terhadap perbatasannya. Tetapi Mesir memperlihatkan ketergantungan kepada Israel. Karena itu, Mesir adalah negara boneka, bukan negara bangsa.

Ketika komandan itu pergi, hampir semua tentara itu menatapku dengan wajah muram, salah satu diantara mereka [memberi isyarat] menunjuk mata dan dadanya, setelah sebelumnya menoleh ke kiri-kanan memastikan tidak ada komandan yang akan melihat aksinya.

Kupikir, kesempatan yang lebih besar mungkin ada di sini. Adalah hal penting bahwa ratusan atau ribuan orang dari AS dan Prancis berkumpul untuk melakukan protes di Kairo. Tapi, jika rakyat Mesir tahu apa yang sedang dilakukan pemerintah mereka dan memiliki kebebasan untuk protes, apakah mereka akan bergabung dengan kami? Ini adalah satu alasan lagi, mengapa persoalan Palestina terkait secara global dengan persoalan kemerdekaan manusia (human freedom) dan –mungkin- mengapa persoalan human freedom terkait dengan solidaritas.

Setelah menulis ini, mungkin aku bisa tidur sejam atau dua jam.

Sumber asli tulisan Sam Husseini ada di sini.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: