Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina » Selamat Datang Israel! (Surat untuk Pak Tifatul)

Selamat Datang Israel! (Surat untuk Pak Tifatul)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Assalamualaikum Pak Tifatul,

Saya masih ingat betapa ramainya kerumunan massa partai Bapak yang berjubel sambil meneriakkan jargon-jargon keadilan di beberapa sudut jalan Jakarta pada masa kampanye pilpres yang lalu. Berbagai spanduk mereka bawa untuk mengekspresikan kecaman pada kekejaman Israel dalam serangannya Ke Gaza pada tahun 2009 silam. ‘Save Palestine’, ‘Zionism Destroy Humanity: Act Now’, ‘One Man One Dollar to Save Palestine’, adalah di antara spanduk yang saya ingat persis.

Walau aksi ini dianggap kalangan tertentu sebagai pemanfaatan tragedi kemanusiaan dalam meraih simpati publik dalam masa kampanye politik, namun Bapak dengan gagah berani tetap istiqamah dalam meneriakkan aksi dukungan pada pejuang kemanusiaan Palestina. Apalagi, aksi ini adalah salah satu bentuk manifestasi dari salah satu misi partai Bapak, yaitu:

Ikut memberikan kontribusi positif dalam menegakkan keadilan dan menolak kedhaliman khususnya terhadap negeri-negeri muslim yang tertindas.

Karena itulah, partai Bapak dengan penuh keberanian mengecam agresi Israel ke Gaza yang diberi nama “Operasi Menuang Timah” (Cast Lead) itu. Bahkan, tak hanya sekedar kecaman, partai Bapak juga menginstrusikan para calegnya agar menyisihkan sebagian dana kampanye untuk disumbangkan ke Palestina. Bapak pun berkata kepada media:

“Insya Allah kita akan menghidupkan kembali ‘one man one dollar to save Palestine’.”

Tak lupa, Bapak pun mengecam Presiden Amerika Serikat George W Bush, yang mendukung serangan Israel. Bapak mengatakan, Amerika juga berada di balik ketidakjelasan nasib Palestina selama ini. “Bush sudah ditolak oleh pemerintah internasional, Bush jangan bicara sepotong-potong. Siapa yang merusak perjanjian dari awal? Siapa yang memecah belah antara Hamas dan Fatah? Bertahun-tahun bantuan diboikot, suplai listrik ke Palestina dilarang,” kecam Bapak waktu itu.

Pak Tifatul yang baik,
Alhamdulillah, Bapak akhirnya mendapat amanah untuk menduduki salah satu posisi penting di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi, Bapak memiliki program yang visioner untuk meningkatkan kompetensi BUMN yang sering dikatakan tidak profesional oleh kalangan tertentu. Salah satu program adalah membenahi sistem IT dalam PT. TELKOMSEL.

Namun ada yang aneh dalam proses ini….

Mengapa Bapak biarkan ada dua musuh kemanusiaan yang turut serta dalam proses program yang sangat mulia tersebut? Dua musuh itu bernama Convergyst dan Amdocs.

Ah, saya yakin, Bapak dengan mudah bisa melacak siapa Convergyst: perusahaan asal Israel yang selama ini berpengalaman menangani tagihan existing, didirikan tahun 1991, kantor pusatnya berada tepat di Israel. Bapak juga bisa menyuruh staf Bapak untuk mencari tahu siapa
Amdocs: perusahaan yang didirikan di Israel oleh Aurec Group, sebuah korporasi bisnis milik milyarder Yahudi, Morris Kahn. Ia termasuk 10 besar orang terkaya di Israel. Bahkan situs yang dikelola orang bule pun melaporkan siapa sesungguhnya Amdocs:

Amdocs is a provider of software and services for billing, customer relationship management and operations support systems. It is reported as having a turnover of 2.8 billion dollars in 2007, and is a key player in the Israeli economy, encouraged and supported by the Israeli government. Amdocs has over a quarter of its workforce in Israel and has declared its support for the so-called ‘security’ policies of the Israeli government.

Atau, yang paling gampang, staf Bapak tinggal membaca majalah Gatra yang berbahasa Indonesia. Ini sebagian laporan Gatra:

Indikasi bahwa Amdocs adalah perusahaan Israel yang memangku kepentingan negara zionis itu terlihat pada jajaran direksi. Terungkap di situs http://www.reuter.com, beberapa direktur Amdocs tercatat pernah menduduki pos penting di Pemerintah Israel.

Ayal Shiran, yang menjabat sebagai Senior Vice President dan Head of Customer Service Business Group Amdocs Limited sejak 2008, adalah jebolan Angkatan Udara Israel. Ia bertanggung jawab atas proyek pengembangan sistem komputer untuk jet tempur F-15 dan pengembangan perangkat lunak untuk F-15 di Boeing.

Sedangkan Zohar Zisapel yang menduduki kursi dewan direksi Amdocs sejak Juli 2008 dan kini menjadi kepala komite inovasi dan teknologi pernah mengenyam karier di Departemen Pertahanan Israel dari 1978 hingga 1982. Ia juga menjadi Ketua Asosiasi Industri Elektronik Israel dari 1998 hingga 2001.

Anehnya Pak, penolakan terhadap Amdocs justru datang dari negara yang mayoritasnya non muslim:

Di beberapa negara, kehadiran Amdocs sempat diboikot lantaran dianggap sebagai kaki tangan Pemerintah Israel. Di Irlandia, misalnya, beberapa politikus mengirim petisi agar Eircom selaku perusahaan “halo-halo” nasional negeri itu menolak proposal yang diajukan konsorsium pimpinan IBM, lantaran konsorsium tersebut membawa serta Amdocs untuk menangani billing system.

“Konsorsium yang menggandeng Amdocs kami persilakan mundur dari kontrak dengan Eircom. Sebab perusahaan itu penyokong kebijakan pertahanan Israel, yang membunuh 1.400 orang Palestina dalam invasinya ke Jalur Gaza,” ungkap Kevin Squire, juru bicara Kampanye Solidaritas Palestina-Irlandia (IPSC) dan Gerakan Anti-Perang Irlandia

Lalu, mengapa kita yang mayoritas muslim justru membiarkan Amdocs menangani Telkom??

Ah, taruhlah kita bersikap pragmatis “Apa urusannya Palestina dengan kita?”Tapi, bahkan dengan sikap pragmatis pun, keterlibatan Amdocs tetap saja membahayakan keamanan dalam negeri. Menurut Gatra, Amdocs berpengalaman dalam menyadap telepon dan pencurian data penting intelijen AS untuk diserahkan ke Israel. Apa Bapak akan membiarkan data penting negara kita juga disadap Israel?

Mengapa Bapak mengatakan,Kami sudah meminta klarifikasi dari Telkomsel dan Kedutaan Besar Amerika, ternyata Amdocs terdaftar di New York Stock Exchange dan berkantor di Missiouri… Indonesia memang tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel. Karena itu, Indonesia tidak memiliki hubungan dagang dengan Israel dan tidak ada kantor perdagangan Israel di Indonesia. Tapi, kalau berdomisili di Amerika Serikat, meski sahamnya dimiliki orang Israel, sulit ditolak kehadirannya di sini.” ??

Mungkin saya yang bodoh dan kurang mengerti,  namun izinkanlah saya menanyakan tiga hal ini:
1. Jika organisasi kemanusiaan Irlandia saja menentang hubungan dengan perusahaan Israel ini, mengapa Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia dengan sila Pancasilanya “kemanusiaan yang adil dan beradab” ini rela membuka diri untuk ditunggangi oleh sebuah rezim penjajah?

2. Bukankah di era globalisasi ini wilayah tak lagi jadi masalah? Sebuah perusahaan bisa saja punya kantor pusat di mana saja, terdaftar di  bursa saham di mana pun. Yang penting dilihat adalah:  siapa pemiliki sahamnya, darimana karyawannya, kemana keuntungannya mengalir? Bukankah jelas-jelas Convergyst dan Amdocs dimiliki pengusaha Israel, karyawannya sebagian orang Israel, dan keuntungannya mengalir ke Israel?

Bukankah dalam selebaran-selebaran yang dibagi-bagikan kader-kader partai Bapak jelas-jelas tertulis: setiap rupiah yang kita belanjakan untuk membeli produk Zionis akan menjadi peluru untuk bangsa Palestina?

Kenapa logika yang sedemikian sederhana ini, dijungkirbalikkan dengan logika lain yang aneh “karena kedua perusahaan Israel itu listing di AS, kita tak bisa menolak kehadirannya di Indonesia”?

3. Bapak juga mengatakan tidak ada kantor perdagangan Israel di Indonesia. Apakah Bapak tidak tahu bahwa sejak tahun 2002, di Jakarta Selatan sudah dibuka kantor Indonesia-Israel Public Affairs Committee (IIPAC), dan IIPAC pada 29 Januari 2010 telah meresmikan peluncuran Indonesia Business Lobby? Mengapa tak ada tanggapan dari Bapak?

Sungguh, saya tak paham Pak. Saya mohon penjelasan dari Bapak.

Wassalamualaikum ww.

NB: surat ini ditulis oleh blogger bernama Muhammad Hendra S, dan dimodifikasi atas seizin penulisnya oleh Dina Y. Sulaeman.


58 Komentar

  1. erwin mengatakan:

    selamat datang di kampung dunia.

  2. ella mengatakan:

    wah di xl pake amdocs juga ni… usul ma pak Hasnul biar ga pake amdocs, kayanya di indosat ga pake amdocs ya?

  3. Goda-Gado mengatakan:

    tulisan semacam ini sdh dibedah cukup pnjang di sebuah web islam
    muslimdaily klo ga salah

  4. indonesian todays mengatakan:

    selamat datang kapitalisme…
    selamat datang kekuasaan!!
    (kangen sosok Umar Ibn Aziz)

  5. ejajufri mengatakan:

    Politik (baca: jabatan) tidak kotor, pengecualian di negeri ini??

  6. bob mengatakan:

    knp nggak bikin petisi terbuka ke Telkomsel dan yg lain misalnya utk tolak produk israel. dalam format FB….

    • mashar mengatakan:

      Berikut Sedikit informasi yang Saya terima dari milist salah seorang rekan di BTEL terkait hal tsb.

      Mungkin bisa menjadi gambaran situasi dan kondisi yang ada :

      Masalah ini,

      Tidak semudah membalikkan telapak tangan :

      AMDOCS, COMVERGE, CONVERGYS, RAD dll masih banyak lagi product israel sudah kadung banyak yang pakai sejak dulu di Telco company

      AMDOCS yang dipakai XL COM malah sudah versi 7, utk menangani Billing, RAD vendor Router juga banyak perusahaan yg pakai.

      Nah, kalao pemerintah bikin kebijakan Product Israel dilarang, maka berapa investasi tambahan yang harus dikeluarkan oleh masing2

      Perusahaan utk membeli peralatan dan system baru, yang mana tidak member benefit secara bisnis buat mereka.

      Belum lagi Cost resiko dari system yang tidak compatible maupun problem, belum juga resource people dan waktu. Besar sekali Cost nya.

      Apalagi banyak Company yang sahamnya sudah milik asing, akan semakin gak mungkin.

      KEdua, Kalaopun dilarang tidak bisa semerta2 menggunakan Jargon product Israel dilarang. Karena Israel pinter dia masuk ke Indo pakai nama USA , Australia .

      bahkan aku dulu pernah mendampingi engineer Israel, malam2 mbetulisn system SMS Center, dari VISA nya masuk mungkin US or Singapore tadpi dari wajah kelihatan banget kalao dia Jew.

      Nah, karena dia pakai nama US , maka susah kita melarang product Israel dilarang masuk, Produk yg mana… harus jelas specificationnya.

      Hampir semua product saat ini pasti dimiliki saham nya oleh Israel . Nah apakah yg sahamnya dimiliki Israel atau bukan. Kalaopun iya berapa percent nya.

      Dulu pernah AMDOCS dating ke BTEl nawarin Billing Product, aku Tanya dia dari mana dia bilang Australia , trus ditanya RND product Amdocs dimana dia bilang TelAviv.

      Alhamdulillah product itu gak jadi di beli BTEL, krn mahal. Bahkan product Israel yg namanya Comverse juga sdh dibuang dari BTEL, diganti CHINA product semua.

      Trus, laranganya product Israel sebagai Country atau sebagai manusianya ?

      Contoh, beberapa waktu lalu INDOSAT mau dibeli Altimo Group, perusahaan Rusia. Ternyata pemiliknya adalah Orang terkaya ke-4 di Rusia.

      Setelah saya cari2 profile nya ternyata dia ini adalah ketua Asosiasi Yahudi di Rusia.

      Nah, perusahaan macam ini yang investnya besar apakah malah tidak seharusnya yg dilarang.

      Bagaimana dengan CocaCola, McD, KFC, SaraLee, Revlon dll… apakah termasuk barang yg di larang.

      Nah jadi sangat sulit membuat Aturan pengkategorian, mana yang dilarang mana yg tidak.

      Belum lagi akan ada Response Negatif dari para Produsen, Distributor, penjual yang akan kehilangan OmZet

      Plus LSM-LSM yang dibiayai yahudi akan bersuara lantang.

      So …..??? Silakan disimpulkan sendiri …

      Ayo Lebih BerSemangat !
      Wassalam …

      Baju Prasetyo Dewanto
      Telp : 390-9190 x.1419
      E-Mail. : Baju.Prasetyo@ astragraphia. co.id

      • dinasulaeman mengatakan:

        @Mashar: aha, saya sudah duga akan muncul juga pembelaan macam ini. Inilah yang disebut Fanon: penjajah menciptakan sindrom ketergantungan dalam diri bangsa yg terjajah. Sindrom ketergantungan ini yg membuat kita berkata ‘mau gimana lagi.. gak semudah membalik telapak tangan…apalagi yg bisa diperbuat..semua di dunia ini sudah jadi milik Israel..”
        Kasian banget deh, kita ini!’

      • dinasulaeman mengatakan:

        Dalam kasus AMDOCS yang menjadi rekanan Telkomsel, yang terjadi lebih dari sekedar ‘boikot’ yang bisa dilakukan oleh orang-orang biasa. Yang terlibat di sini adalah negara dan TNC (transnational corporation). Jika negara yang terlibat, artinya punya kekuasaan untuk berkata ‘ya’ atau ‘tidak’. Apa gunanya negara (=pemerintah) kalau kemudian tunduk saja oleh kepentingan bisnis TNC? Apa gunanya Tifatul dan PKS berdemo untuk menentang Zionisme tapi ketika dia punya kekuasaan untuk berkata ‘tidak’ pada perusahaan yang jelas-jelas didirikan di Israel (dengan segala konsekuensinya), dia tidak melakukan hal itu?

        Hitung-hitungan yang dilakukan negara seharusnya jauh lebih fundamental daripada yang dilakukan oleh rakyat. Lagipula, masih perlu dilakukan hitung-hitungan yang lebih valid mengenai untung-rugi tidak menggunakan rekanan dari Israel. Apa betul secara bisnis akan rugi? Itu kan klaim sdr Baju Prasetyo saja. Bagaimana kalau dihitung cost kerugian bocornya data intellijen yang pasti merembet kepada hal-hal besar lainnya? Analogi kasus ini, pembela industri rokok memberikan hitung-hitungan berapa besar kerugian negara kalau industri rokok diharamkan. Padahal, kalau dihitung lagi berapa banyak biaya kesehatan yang harus ditanggung seluruh rakyat Indonesia gara-gara rokok, ternyata jumlahnya jauh lebih besar.

  7. Tips Trik Komputer mengatakan:

    Nice posting sob…
    Lanjut terus …
    Ditunggu posting selanjutnya…
    Jangan lupa juga kunjungan balik ya…

  8. ressay mengatakan:

    aku sampaikan langsung ke pak menteri yah. ada tuh di jejaring sosial plurk ku.

  9. noname mengatakan:

    Suratnya harus pakai pantun biar Tifatulnya ngerti…

  10. ressay mengatakan:

    masih ada saja mbak2 berjilbab yang menganggap tulisan bu dina sebagai fitnah. ckckckck…

  11. Risma mengatakan:

    fakta yang mencengangkan. saya baru tau malah ada produk2 zionis israel yang eksis bahkan dibiarkan saja…

  12. alisyah mengatakan:

    Segenap pemimpin bangsa ini harus satu suara dalam hal tersebut, jika Pak Tifatul menolak kedatangan dua perusahaan itu sementara atasannya memperbolehkan, gimana?

    Saya tidak mengatakan Presiden atau Pak SBY berlaku demikian, tetapi saya cukup pesimis dengan pejabat negeri ini sekalipun dengan Pak Tifatul yang seorang ustadz.

    Saya optimis atas kiprah PKS di pansus century, tapi itu karena DPR bukan bawahan presiden, sementara menteri adalah anak buah presiden. Mungkin teman-teman yang lain bisa memahami jalan pikiran saya kenapa saya juga sudah pesimis dengan Pak Tifatul.

    Terimakasih.

  13. amir abu zaid mengatakan:

    Doakanlah, semoga Pak Tifatul diberikan kekuatan untuk mengusir Yahudi dari bumi Indonesia….

  14. fuad mengatakan:

    biasanya saat cari dukungan masa kayaknya benerandeh anti amerika dan zionis, setelah jadi menteri lupa semua janji dan bener kata orang, memanfaatkan ketertindasan gaza demi mendulang suara.
    kpd ibu dina :
    terlalu berat bagi kita mengharapkan indonesia lepas dari pengaruh AS dan zionis, mungkin ibu tau kalo perekonomian kita telah dikuasai mereka. bukankah begitu bu………….?

  15. hahn mengatakan:

    tifsembiring terlalu sibuk berpantun

  16. mymonas mengatakan:

    nice post, thanks atas pencerahannya

  17. Iwan Sanjaya mengatakan:

    saya membaca blog http://tenteradajjal.blogspot.com/ kok kajiannya melulu menyudutkan iran, bila bu Dina punya fakta yang meluruskan mohon diterbitkan.

  18. indra saputra mengatakan:

    Nice Info,
    Membacanya membuat diri ini ingin teruz menambah informasi dan terus menggali informasi agar tak ada ruang sedikit oun untuk zionis yahudi, anak, dan cicitnya.

  19. Alex© mengatakan:

    *tertawakecut*

    Ini bukan kali pertama aku kecewa dengan PKS, apalagi sosok Tifatul Sembiring itu. Saat pengadaan mobil mewah kemarin itu, aku juga kecewa melihat mencla-mencle sikapnya dan partainya itu.

    Kekuasaan memang memabukkan, bahkan terhadap orang yang mengklaim dirinya dari partai relijius sekalipun 😦

  20. […] adalah ketika dapat email beberapa hari yang lalu dari salah satu milis yang saya ikuti tentang “ucapan selamat” kepada salah satu tokoh dari partai yang katanya mencintai keadilan dan berkampanye untuk […]

  21. tjokroaminoto360 mengatakan:

    Permisi bu Dina, saya link tulisan kesini ya…
    Thanks.

  22. sulton mengatakan:

    aneh yah…..

  23. sholef mengatakan:

    Hancurkan ZIONISME

  24. insan mengatakan:

    Ya paling tidak kita mengaca lagi pada diri sendiri apakah kita sudah termasuk orang yang menjaga diri dari pembelian produk Israel saya rasa Pak Tif. tidak akan terbeli idealismenya oleh kekuasaan dan posisi sebagai menteri, sangatlah kecil kedudukan tersebut dibandingkan dengan Surga yang abadi, mungkin yang paling tepat adalah memberitahukan dan mengingatkan siapa yang mempunyai perusahaan tersebut kepada Pak Tifatul.

    • tjokroaminoto360 mengatakan:

      Seseorang dinilai dari perbuatannya, bukan dari janji janjinya, dan sebaiknya kalau menilai seseorang jangan pakai perasaan, tapi pakailah akal sehat.

      Dan jika menjadi pejabat publik, harus siap untuk di kritisi sikap dan tindakannya, karena membawa dampak yang besar bagi masyarakat.

      Thanks

  25. Aim mengatakan:

    Makanya kalo memboikot Israel jgn setengah2 ….
    Hasilnya begini deh…..Kita cuma jago teriak hancurkan Israel tapi habis itu makan di McDonald KFC & minum Coca Cola….Muslim Palestin tidak butuh perjuangan kita yg cuma setengah2 dalam memerangi Zionis

    • dinasulaeman mengatakan:

      @Aim: setuju.. kita lakukan apa yg bisa.. saya suka heran sama org2 yg bilang gini, “ngaca deh sama diri sendiri, apa sudah mampu tidak menggunakan produk israel? atau “udah deh ga usah munafik, kita ini gak bisa hidup tanpa israel..kalau mau boikot, jangan pake internet, jangan pake komputer, handphone, dll”.

      Kita punya tugas masing 2 sesuai kedudukan kita. Sebagai ibu RT, kayak saya, saat saya belanja, selama masih ada toko lain, saya menghindari carrefour, selama masih ada burger indonesia, kita bisa hindari mcD, dll; tapi ketika tidak ada substitusinya (misalnya, internet) dan kita dalam posisi orang yg tak punya kekuasaan, ya mau apa lagi. Kita berjuang sebisanya. Tidak bisa pakai logika “kalau elu gak bisa boikot semua, jangan ngomong soal boikot!”

      sama seperti logika org yg katanya kerja di bidang telkom itu: kita gak bisa gak pake Amdocs dan Convergyst, karena selama ini udah pake sistem mereka… kalau diboikot LSM Yahudi pasti teriak2.. loh kok gitu..? apa gunanya PKS berpolitik dan berusaha meraih kekuasaan selama ini kalau bukan untuk berjuang? kalau sudah sampai di posisi yg memungkinkan utk ambil keputusan malah bersikap: ‘habis gimana lagi.. semua di dunia ini punyanya israel..’ gak perlu bawa2 nama palestina deh pas kampanye.

  26. rusdianto mengatakan:

    sya cman satu kata saja tolong tolak….produk israel biadap itu yg sdh menjadi konsumerisme d indonesia…..pa`tifatullll

  27. fuad mengatakan:

    yg jadi pertanyaan kelak dihadapan Allah swt adalah: kita yg mampu berbuat untuk menolak produk israel tapi malah diam aja. apa benersih kalo semua kepentingan dunia ini sdh dikuasai israel. kayaknya dunia tdk selebar daun talas.

  28. Amir Khan mengatakan:

    menurut saya, cara yang paling ampuh melarang produk yahudi (israel) adalah dengan membuat produk tandingan yang lebih baik (minimal setara lah).

    facebook & google, misalnya, adalah produk yahudi. setiap akses kita ke sana, bertambahlah uang mereka. sangat susah kita mengingatkan orang untuk tidak mengakses facebook & google kecuali kita membuat produk tandingan yang setara.

    ayo teman-teman muslim. majukan sains & teknologi kalian agar kita bisa mengalahkan teknobisnis yahudi sebagaimana abdurrahman bin auf mengalahkan pasar yahudi di madinah dulu.

  29. ikram mengatakan:

    bu dina yg kami banggakan, bisa nga’ disebutkan list dari produk yang ada kaitannya dgn israel ( moga laknat Allah ditimpahkan terhadapnya)

    trim’s.

  30. asri atte mengatakan:

    selamat datang kehancuran,selamat datang israil kami hanya meunggu waktu kapan saatnya kamu akan menghancurkan kami dan generasi kami seperti apa yang kamu lakukan terhadap saudara kami di palestina……

  31. uwie balfas mengatakan:

    saya setuju pembantaian palestina harus dihentikan, yang saya heran, dikiprah aksi demo pks, kenapa ngga menyuarakan kepentingan rakyat indonesia sendiri? mana pks saat si miskin digusur? apakah pks ikut dalam demo buruh yg menuntut perbaikan kebijakan utk buruh? tenaga kontrak? konstituen pks adalah org indonesia, mbok ya lebih menyuarakan kepentingan rakyat indonesia

    • dinasulaeman mengatakan:

      @Uwie: I also have the same question in my mind..:) Pertanyaan serupa pernah diajukan kepada saya..”kok Dina nulis Palestina terus..kenapa tak tulis ttg tragedi di Aceh, misalnya.” Jawaban saya: krn keterbatasan kemampuan, saya hanya berkonsentrasi di kajian Timteng..tak mungkin saya menulis sesuatu yg tak saya pahami. Tapi kalau parpol..bisakah memberi jawaban spt itu?

  32. nurul hidayah mengatakan:

    bu dina salam kenal…
    assalamu ‘alaikum..
    mendalam bu tulisan2nya
    saya sudah sering ngikutin dan udah baca buku ibu yang pelangi persia.

    semoga ibu bisa terus independen dalam berfikir…
    berpijak pada fakta yang benar…

    NB: boleh ngelink blognya bu??????
    ni blog saya; mikaelpunyacerita.blogspot.com

  33. haidar mengatakan:

    rupanya pejabat kita kurang sensitif terhadap persoalan kemanusiaan. Semoga segera ada tindakan. Zionis israel betul-betul sangat “cerdik” untuk masuk ke semua negara.

  34. ALI ALAYDRUS mengatakan:

    Jelas pejabat kita tdk memiliki kecemburuan terhadap agamanya..karena kalau ada sudah pasti dia tolak segala sesuatu yg berbau Zionis Israel..

  35. […] di atas, bisa jadi ada yang mengaitkannya dengan tulisan teman saya- yang saya sunting ulang- “Surat Terbuka untuk Pak Tifatul”. Ada penanggap yang menyatakan, kurang-lebih “Sulit bagi pemerintah kita untuk tidak memakai […]

  36. […] Tapi kita yang mayoritas muslim -dengan Menkominfo dari partai Islam-malah menerima saja Amdocs beroperasi di Indonesia (selengkapnya baca di sini) […]

  37. tyo mengatakan:

    Apakah surat ini sudah disampaikan langsung ke pak tif dan mendapatkan klarifikasi langsung dari beliau?

  38. Mudib mengatakan:

    nggak sempat mbaca semua sichh…untuk Mbak Dina, salam kenal…at least ini adalah langkah awal menyebarkan pemikiran bahwa kita harus mandiri…bagaimana mungkin kita akan boikot klo kita nggak punya (bagusnya, BELUM) punya pilihan…
    Idealist but realistic, ini solusi… secara prinsip kita menolak dan gak mau tergantung ama mereka….realitanya sekarang klo kita gak ngantung ke mereka…kita akan kembali pake surat kertas, dari Jkt ke Bandung 1 hari, nyasar lagi…so kembali pada idealisme…
    REALnya tolak dengan solusi…nah sudah siapkah kita dengan solusi yang dimunculkan?

  39. tabayun mengatakan:

    jawaban atas fintah ini!

    INILAH.COM, Jakarta – Menkominfo Tifatul Sembiring menolak dikait-kaitkan dalam persoalan Amdocs yang memenangkan tender proyek billing system Telkomsel. Terlebih soal dugaan bahwa Amdocs adalah mata-mata Israel.

    “Telkomsel bukan di bawah Kemenkominfo, bagaimana saya bisa beri izin. Banyak yang bikin fitnah dengan putar balik fakta,” kata Tifatul di Jakarta, Rabu (14/7).

    Menurutnya, Telkomsel merupakan anak perusahaan Telkom, di bawah Kementerian BUMN. “Amdocs bisnis dengan Telkomsel anak perusahaan Telkom, di bawah Kementerian BUMN. Orang-orang protes, saya minta klarifikasi, Telkomsel bawa surat Dubes AS,” imbuhnya.

    Pada 2009 lalu, Menkominfo Tifatul Sembiring pernah mengatakan bahwa Amdocs bukanlah perusahaan Israel melainkan adalah perusahaan Amerika Serikat. Karena itu Amdocs dibolehkan mengikuti tender tender proyek billing system Telkomsel.

    Menurutnya, hal itu merupakan klarifikasi langsung dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. Ia menjelaskan bahwa Duta Besar Amerika langsung menghadap dirinya untuk mengklarifikasi perihal Amdocs. Saat iru, menurut Dubes AS, Amdocs adalah perusahaan yang tercatat di bursa New York dan berdomisili di Missiouri, Amerika Serikat.

    Data terbaru diperoleh stasiun tv ternama di AS, Fox News yang mengungkapkan keterkaitan Israel dengan Amdocs Ltd. Amdocs dicurigai digunakan oleh Israel untuk memata-matai warga AS melalui percakapan telepon, komunikasi data dan sistem pertukaran informasi lainnya yang menggunakan saluran telepon.

    “Itu menurut dokumennya HQ di Misouri USA,” ujar Tifatul terkait pengungkapan data-data tersebut. Tifatul juga membantah bahwa dirinya telah akrab dengan kaum Yahudi Israel. “Kiblatnya Mekah dong,” tukas Tifatul.

    Untuk diketahui, billing system merupakan sistem vital dalam dunia telekomunikasi karena merupakan penghubung antara pelanggan dan konten yang diberikan. Sitem ini (yang dijual Amdocs) mencatat nomor telepon yang saling berkomunikasi, durasi, penambahan pulsa, data-data personal, jumlah tagihan dan banyak lagi

    • dinasulaeman mengatakan:

      Karena antum main copas, saya juga mau copas aja deh:

      Cara terbaik untuk mengetahui keisraelan sebuah perusahaan adalah dengan mengandalkan data resmi pemerintah Israel atau AS sendiri. Kalau orang Israel menyatakan Amdocs ini perusahaan Israel, kalau Amdocs sendiri menyatakan mereka berasal dari Israel, kalau AS (sekutu terdekat Israel) menyatakan ini perusahaan Israel, maka sungguh aneh jika ada pejabat penting di Indonesia bersikeras Amdocs bukan perusahaan Israel. Patut dipertanyakan, ada apa?

      Sebelumnya melalui Twitter, Tifatul menjelaskan bahwa Telkomsel dan Telkom berada di bawah Kementerian Negara BUMN, sehingga beliau bukan berada pada posisi untuk mengizinkan apakah Amdocs boleh ikut tender atau tidak. Secara normatif, pernyataan itu benar karena BUMN (meskipun telekomunikasi) tidak berada di bawah menkominfo. Sehingga amat disayangkan jika menteri BUMN Mustafa Abubakar yang memiliki nama islami itu, tidak melakukan tindakan terhadap hal ini, atau mungkin tidak mengetahui sama sekali mengenai masalah ini.

      Tapi di sisi lain, sebagai regulator telekomunikasi, kemenkominfo bukannya tidak bisa berbuat sama sekali. Patut dipuji inisiatif Menkominfo Tifatul Sembiring untuk meminta klarifikasi tentang Amdocs, hanya disayangkan beliau percaya begitu saja pada jawaban Dubes AS. Seandainya Dubes AS membenarkan bahwa Amdocs memang perusahaan Israel, apakah Tifatul hanya akan terbengong-bengong saja?

      Tentu tidak. Kepala Humas dan Pusat Informasi Kemenkominfo, Gatot S. Dewa Broto, sebagaimana dikutip oleh situs Detikinet tanggal 9 Juli 2010 menyatakan bahwa ada pelarangan menggandeng perusahaan asal Israel di industri telekomunikasi Indonesia seperti yang sudah diatur dalam Pasal 21 UU Telekomunikasi.

      “Untuk kerja sama dengan perusahaan Israel sendiri sudah jelas dilarang karena mengancam keamanan. Jika ada yang melanggar sanksinya berat, bisa pencabutan izin,” terang Gatot.

      Sehingga “pembiaran” oleh Tifatul Sembiring dengan mempercayai begitu saja klarifikasi dari dubes AS, sama saja dengan “melegitimasi atau mengizinkan” perusahaan Israel beroperasi di Indonesia meskipun tidak secara langsung.

      Menjawab Syubhat

      Dalam rubrik dialog Eramuslim edisi 14 Juli 2010 yang terkait dengan masalah ini, terdapat beberapa tanggapan yang syubhat (samar-samar) yang harus dijelaskan agar hilang kesamarannya, jelas haq dan bathilnya.

      Di antara tanggapan tersebut adalah: bahwa klarifikasi Dubes AS itu secara birokrasi adalah pernyataan resmi, sehingga harus diterima sebagai “kebenaran birokrasi legal, mengingat ini hubungan dua negara”.

      Ini adalah usaha untuk mengkaburkan substansi masalah dengan menyeretnya menjadi semata hanya permasalahan legalitas. Betul bahwa itu adalah jawaban birokratis formal, tapi apakah akan langsung diterima mentah-mentah begitu saja?

      Jika ada negara tetangga mengklaim sebuah produk seni budaya sebagai produk khas mereka, lalu pemerintah Indonesia meminta klarifikasi, kemudian sang jiran menyatakan “ya, itu produk kami”, lantas apakah kita terima begitu saja dengan alasan “kebenaran birokrasi legal, mengingat ini hubungan dua negara”?

      Tidak ada sulitnya untuk mencari informasi dari sumber-sumber resmi, apalagi dengan sumber daya yang dimiliki oleh kemenkominfo, kalau perlu meminta bantuan kementerian luar negeri. Amdocs Ltd adalah sebuah perusahaan multinasional yang berumur 28 tahun, dengan asset milyaran dolar, tidak mungkin data-datanya tersembunyi sehingga kita hanya bisa mengandalkan kedubes AS untuk mencari asal-usulnya.

      Syubhat yang lain adalah pernyataan bahwa PHP yang digunakan oleh Eramuslim dan banyak website Indonesia lainnya juga buatan Yahudi, jadi mengapa meributkan software billing?

      Ini adalah tanggapan yang sering dikemukakan oleh orang yang ingin mengaburkan masalah. Pertama ada perbedaan besar, menggunakan PHP adalah gratis dan tidak memberikan keuntungan finansial langsung kepada Israel. Sementara tender billing system Telkomsel dengan Amdocs sebagai pemenangnya itu dilaporkan oleh majalah Gatra edisi 21 Januari 2010 bernilai 1.2 trilyun rupiah atau setara 120 juta dolar AS. Apakah antara gratis dan 120 juta dolar AS itu sebuah perbedaan yang “mengapa harus diributkan?”

      Kedua, ketidakmampuan kita untuk mencegah semua kemungkaran tidak berarti kita membiarkan semua kemungkaran itu berjalan begitu saja. Karena sudah terlanjur sedikit-sedikit pakai software Israel, ya sudah pakai saja semuanya. Tidak demikian! Memang faktanya saat ini Israel adalah pemimpin teknologi dunia, tapi Israel bukan satu-satunya penyedia software di dunia. Kalau kita masih memiliki pilihan untuk tidak menggunakan produk Israel, atau produk yang memberikan keuntungan finansial kepada Israel, mengapa kita tidak mempertimbangkan yang lain?

      Sangat disayangkan bahwa sebagian tanggapan lebih karena emosi karena adanya kritik terhadap menkominfo, sehingga bahkan fakta Amdocs itu perusahaan Israel yang memberikan keuntungan finansial besar bagi pemerintah Israel, memberikan tambahan kekuatan bagi militer Israel untuk menghantam rakyat Palestina jadi terkaburkan.

      Israel menjajah tanah Palestina, mengusir dan menyengsarakan rakyatnya, menghinakan tempat suci umar Islam, melanggar ratusan resolusi dewan keamanan dan sidang umum PBB. Sementara Indonesia negara berpenduduk muslim terbesar dunia, negara yang amat membenci penjajajahan seperti tercantum dalam pembukaan UUD 45, negara yang mengusir penjajahnya dengan perang kemerdekaan (bukan hadiah). Sehingga sungguh ironis jika seorang menteri Indonesia yang memiliki kekuasaan membiarkan begitu saja sebuah perusahaan dari negara penjajah untuk berbisnis di Indonesia yang anti penjajahan.

      Apalagi kalau melihat latar belakang menkominfo Tifatul Sembiring dari PKS yang sering berdemo mendukung Palestina, mengumpulkan dana bantuan satu kader satu dolar, tapi pada kesempatan lain tidak menggunakan kekuasaannya untuk mencegah akses bisnis bernilai setidaknya puluhan juta dolar kepada musuh dan pembantai rakyat Palestina.
      copas dari : http://www.eramuslim.com/berita/analisa/amdocs-perusahaan-israel-yang-dibantah-keisraelannya-oleh-pejabat-indonesia.htm

    • tjokroaminoto360 mengatakan:

      To Tabayun:

      Alasan Menkominfo itu sepertinya ada 2 macam:
      1. Surat/Penjelasan dari Dubes AS di Indonesia.
      2. Laporan bahwa Amdocs terdaftar di NYSE.

      Untuk yang pertama, saya inget kata kata presiden Ri ke-3 , dia bilang: Percaya itu baik, tapi cek lebih baik. 🙂

      Nah, setelah begitu banyak data dan laporan yang bisa di klarifikasi, kok masih tega teganya pura pura bodoh.

      Data silahkan lihat disini:
      http://idiotnesia.com/2010/07/12/amdocs-perusahaan-israel-yang-berbisnis-di-indonesia-atas-izin-menkominfo/

      Kemudian untuk alasan yang nomor dua lebih menyedihkan lagi, apakah terdaftar di bursa New York itu lalu dianggap bahwa itu perusahaan Amerika??? Kok kalo mau membodohi ummat itu ya pikir pikir dulu, lha wong PT. TELKOM Indonesia yang sahamnya milik Republik Indonesia saja terdaftar di NYSE dengan kode NYSE:TLK.

      Source: http://www.google.com/finance?q=NYSE:TLK

      Jadinya Menkominfo itu bukannya memberikan jawaban tapi lebih kepada alasan!
      PPadahal kata orang orang bijak “Excuses are nails used to build house of failure”

      Terakhir, janganlah memposisikan diri untuk menjadi pembela kaum tertindas, kalau masih berselingkuh dengan para penindas.

      Masak kalah sama kaum Gay dan lesbian sedunia, ketika pada festival gay sedunia di Madrid baru baru ini, panitia memboikot utusan dari Israel demi membela perjuangan rakyat palestina.
      Nih baca sendiri:
      http://www.guardian.co.uk/world/2010/jun/09/madrid-gay-pride-bans-israelis

      Wassalam,

  40. main di empang mengatakan:

    kata yang paling sering didzikirkan oleh orang pks adalah tabayun. Kalau perkaranya sudah jelas, cetho welo-welo, ya gak perlu tabayun. Jangkrik!

  41. ukhuwah mengatakan:

    ck..ck..ck… masih adakah ukhuwah di antara kita???
    adakah cara yg lebih hikmah untuk mengingatkan saudara seiman??
    atau sudah merasa lebih baik sehingga jama’ah sendiri seperti malaikat.
    ju2r di kalangan PKS ga pernah ingin cari perbedaan diantara saudara2 namun terkadang sering ana mendapatkan hal2 yg memicu perselisihan diantara umat.

  42. […] Selamat Datang Israel! (Surat untuk Pak Tifatul) February 2010 55 comments 4 […]

  43. Presiden IDIOTNESIA mengatakan:

    wew… 🙂
    Obvious Liar is Obvious

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: