Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina » Namaku Juana. Separuh Jiwaku Ada di Gaza.

Namaku Juana. Separuh Jiwaku Ada di Gaza.

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Kemarin saya menerima kiriman pos, newsletter dari VoP. Ada artikel panjang yang membuat saya terharu-biru. Kisah seorang perempuan muda bernama Juana Jaafar asal Malaysia. Dia bersama rekannya bernama Ram yang beragama Hindu dipilih untuk menjadi utusan Perdana Global Peace Organization untuk bergabung dengan Viva Palestina. Juana dan Ram terbang ke London membawa uang donasi rakyat Malaysia sebesar 1 juta ringgit, di London dibelikan ambulans (dan memberinya nama “Arafah”) lalu mengisinya dengan berbagai perlengkapan yang kira2 dibutuhkan rakyat Gaza. Lalu, dari London, dimulailah konvoi kemanusiaan itu.

Saya membaca artikel panjang itu sambil menahan nafas. Betapa inginnya saya menjadi Juana. Saya browsing, artikel itu tak ada di internet. Jadi saya ketik ulang saja (fiuuh…!) bagian-bagian yang paling membuat saya merinding. Saya tak bisa jadi Juana, tapi setidaknya, saya bisa menyampaikan pengalamannya pada segelintir pembaca blog ini. Artikel  indah ini ditulis oleh seseorang berinisial AH (Alfian Hamzah kah? Hmm..) yang mengikuti laporan-laporan singkat Juana selama perjalanannya dari London ke Gaza melalui Twitter. Thank you AH, keep up the good work!

Namaku Juana. Separuh Jiwaku Ada di Gaza.

Ikut dalam konvoi Viva Palestina bukan hal gampang. Keamanan di jalan adalah satu hal. Hal lain adalah mereka bukan turis yang sedang bertamasya. Konvoi umumnya tidur di alam terbuka, di tempat parkiran atau tanah lapang. Juana dan Ram yang bergantian menyetir ambulans, lebih memilih tidur di mobil. Tapi sleeping bag mereka masing-masing seringkali kalah oleh keras dan dinginnya rangka ambulans. “Ginjal serasa di kepala,” kata Juana.

“Misi ini,” kata Juana dalam pesannya di alam maya, “bukan untuk mereka yang tak sabar. Ini mungkin jenis mis yang jitu membuat orang lebih sabar, Insya Allah.”

Dalam pesannya yang lain, Juana menulis,

“Paling tidak ada dua perempuan di bawah 35 tahun yang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya untuk iku konvoi ini… Saya respek gila dengan perempuan-perempuan ini. Tolong diingat, mereka membiayai dirinya sendiri. Kantor tak mengizinkan mereka cuti, so mereka memutuskan berhenti kerja. Cool gila.”

“Seorang teman. Seorang bekas pemain sirkus, usianya mungkin sudah pertengahan 50, mendanai keikutsertaannya dalam konvoi ini. Dia mengumpulkan sumbangan dengan cara menenteng kotak donasi di depan supermarket Tesco di Wales. Dia orang Kristen dan di telinganya ada anting bergambar Salib.”

“Sekarang saya duduk bersama sekelompok anak remaja Irlandia yang semuanya beragama Katolik. Mereka menyetir sendiri jauh-jauhd ari Irlandia karena mereka bilang, ‘yang terjadi di Palestina adalah persis seperti yang pernah terjadi di Irlandia.”

“Misi ini bukan sebuah jihad. Ini soal keadilan. Justru, sekarang ini saya seperjalanan dengan seorang non-Muslim  dan seorang vegan dari California. Viva!”

“Sepasang suami istri yang sudah tua di Jerman baru saja memberiku beberapa lembar voucher minum kopi, hanya karena tahu saya menuju Gaza. Saya rasanya ingin menangis… Begitu banyak orang yang terlalu baik kepada kami.”

“Kami diberi buah-buahan, makanan, di sepanjang jalan. Orang membunyikan sirine dan klakson untuk merayakan kehadiran kami.”

“Di Ancona, Turki, seorang perempuan menggadaikan cincin kawinnya dan menitipkan hasilnya kepada Kevin (pimpinan konvoi) untuk disumbangkan ke orang-orang Gaza. Oh sedihnya.”

Kurang lebih sepekan menjelang pergantian tahun, konvoi Viva Palestina telah sampai di pelabuhan Aqaba Jordan. Dengan sekali berferi lagi, mereka sudah bisa menginjakkan kaki di Pelabuhan Nuwaiba, Mesir. Lalu, dalam perjalanan darat kurang dari sehari, mereka bisa sampai di rafah, pintu masuk ke Gaza.

Tapi…  seperti sengaja Mesir melarang konvoi mendekat dengan menutup akses masuk lewat Pelabuhan Nuwaiba. Viva Palestina, kata pejabat Mesir belakangan, hanya membolehkan penggunaan pelabuhan El Arish.

Masalahnya, akses dari Aqabah ke  El Arish hamper mustahil. Pilihan ini memaksa konvoi Viva Palestina mundur 500 km hingga ke Pelabuhan Lattakia di Suria. …Tetapi kendati dipermainkan begitu rupa oleh Mesir, Viva Palestina tidak menyerah. Mereka memutuskan kembali mengemudi ke arah Lattakia di Suria, menyewa sebuah kapal angkut raksasa untuk membawa semua kendaraan ke pelabuhan El Arish.

Tapi ini pun baru separuh cerita. Mesir tak kunjung memberikan kelonggaran bagi konvoi kemanusiaan ini… Mesir mengirim 2000 polisi huru-hara untuk menghadang mereka di pelabuhan. Saat anggota konvoi memprotes dengan damai, polisi Mesir menyerang dengan membabi-buta. Lima puluh lebih orang anggota konvoi terluka dalam kejadian ini.

Mesir, yang berada dalam tekanan public internasional, akhirnya mengizinkan konvoi melaju ke Rafah. Di gerbang Rafah, ada ratusan ribu orang Palestina yang telah menunggu. Mereka menyiram anggota konvoi dengan air mata dan tanda syukur.

…Ambulans Juana masuk ke Gaza belakangan. Dia menulis pesan di Twitter:

“Saya baru saja mengunci ambulans untuk terakhir kali dan serasa ada kehilangan besar di dada. Si ambulans Arafah telah membawa dua anak Malaysia melintasi Eurotunnel, mendaki Alpen yang bersalju, melintasi Laut Adriatik, mengarungi pebukitan Turki yang mencengangkan, melewati sahara Wadi Rum, hingga..Mesir yang terkutuk, dan sekarang di sini, di Tanah Yang Dijanjikan (Palestina)…”

Viva Palestina tak lama tinggal di Gaza, kurang dari 48 jam karena Israel terus membombardir Gaza sementara mereka berada di sana.  Juana menulis,

“Holy s—t, kami  baru saja mendengar ledakan bom. Jendela pada bergetar. Bangsat demi Tuhan saya sumpahi mereka. Bayangkan ini terjadi nyaris setiap hari pada orang Palestina!”

Pada 10 Januari, Juana dan timnya mendarat dengan selamat di Kuala Lumpur…

[AH]

Iklan

9 Komentar

  1. bramsyah berkata:

    salam kenal mbak dina. di mana saya bisa dapatkan versi full tulisan ini. terima kasih

  2. Lina berkata:

    Bagus bgt ceritanya,salut atas perjuangan Juana n tmn2nya,

  3. budikurniawans berkata:

    Dear Ibu Dina, lama tak bersua. Semoga sehat selalu. I’m now catching up for a book (not new), and if you have spare time, let me know that you’re available for a book discussion. Many thanks and good luck.

  4. makuwok berkata:

    thanks sister,sangat menyentuh…^^

  5. GANDUNG berkata:

    tak terasa air mata saya menitik membaca tulisan Juana ini. Salut atas upaya Viva palestina dari berbagai negara untuk membantu Gaza. Semoga berkat Tuhan tercurah untuk rakyat palestina dan pembela-pembelanya.
    Thanks For Share Sister.

  6. dinasulaeman berkata:

    Dear all,
    artikel ini juga saya posting di blog Kompasiana. Surprise, di blog itu, kemarin ada tanggapan langsung dari Juana:

    Assalamu’alaikum, Saudari Pengarang dan teman-teman komentar.

    Sebak di dada membaca artikel ini yang telah diterjemah dalam Bahasa Indonesia. Tidak pernah saya termimpi sebelum beragkat ke Palestin bahawa utusan saya melaui Twitter akan tersebar ke merata dunia, mahupun ke tanah nusantara terdekat, Indonesia. Sememangnya, blog ini juga saya terjumpa secara tidak sengaja.

    Terima kasih kepada pengarang artikel tersebut dan penulis blog ini kerana berkongsi pengalaman saya – seorang anak muda yang sebenarnya kerdil kebolehannya – dengan pembaca di Indonesia.

    Doa saya adalah isu Palestina ini dapat diperjuang oleh masyarakat berbilang agama di negara kita.

    Saya ingin menjemput pembaca sekelian ke laman saya http://www.juanajaafar.wordpress.com atau mengikut Twitter saya http://www.twitter.com/juanajaafar berkenaan perkembangan di Gaza dan usaha kami di Malaysia.

    Salam.

    (comment ini diposting di: http://kompasiana.com/77683#comments)

  7. sunarnosahlan berkata:

    info yang menarik, terima kasih telah berbagi kisah

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: