Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Tentang Liberalisme Ekonomi (1): Sri Mulyani Itu Orang Baik Kok!

Tentang Liberalisme Ekonomi (1): Sri Mulyani Itu Orang Baik Kok!

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Kompas hari ini menurunkan tulisan Sindhunata yang memuji-muji Sri Mulyani. Kebetulan, saat browsing, saya ketemu grup facebook “Kami Percaya Integritas Sri Mulyani”. Di sana, banyak yang memuji2 SMI dengan kata “Saya percaya pada integritas SMI”, “Saya percaya Bu Sri orang baik.”

Sebelum saya komentari, saya mau cerita dulu. Dalam sebuah diskusi di kelas, saya mengkritik liberalisme. Dosen saya, seorang profesor senior, membela liberalisme dan mengatakan bahwa kita tidak bisa lagi menghindar dari liberalisme yang sudah sedemikian mengglobal. Yang harus dilakukan Indonesia adalah menyiasati ‘hidup’ dalam liberalisme yang sudah menjadi keniscayaan. Diskusi kami baik-baik saja, tidak ada yang tersinggung. Kami berbeda pendapat, tapi tidak saling memaksakan. Tapi ada satu hal yang saya catat: pada sebagian orang, bahkan setingkat profesor sekalipun, memang sangat mungkin sedemikian yakinnya pada liberalisme. Bukan berarti orang yang yakin pada kebenaran liberalisme adalah orang jahat; justru saya sangat yakin dosen saya ini hatinya baik. Sikapnya yang santun dan tidak tersinggung saat saya kritik, membuktikan hal itu.

Jadi, melihat begitu banyak orang yang sedemikian percaya bahwa SMI orang baik, saya yang tidak kenal SMI, merasa perlu juga percaya bahwa dia memang baik, tidak korup, punya semangat membenahi Depkeu, dll (seperti kata orang-orang itu). Tapi teman, problemnya BUKAN pada kepribadian SMI, tapi pada keyakinannya (atau bahkan ‘keimanannya’) bahwa liberalisme adalah ideologi yang bisa menyejahterakan manusia. Melalui ekonomi liberal, kata para liberalis, dunia akan makmur dan manusia akan mencapai kemuliaannya. Kalaupun dalam proses liberalisasi ada banyak yang menjadi korban, kata liberalis, itu adalah resiko. Setiap keberhasilan perlu menerjang resiko. Biarlah segelintir orang mati kelaparan asal mayoritas orang bisa terselamatkan dan hidup makmur, begitu prinsip mereka. Percayalah, kata liberalis, setelah semua krisis terlalui, dunia akan mencapai kemakmuran dan perdamaian abadi.

[Sebentar..sebentar.. mungkin ada yang nanya, “Kata siapa SMI liberal?” Jawabannya rada panjang. Jadi, buat yang belum percaya bahwa SMI adalah pendukung ekonomi liberal, silahkan cari sendiri. Saya tidak tuliskan di sini karena terlalu panjang, nanti gak fokus.]

Lanjut. Masalahnya, ideologi liberalisme adalah alat bagi segelintir orang haus darah dan uang untuk menghisap darah dan uang umat manusia, demi menumpuk uang sebanyak-banyaknya (mungkin inilah representasi yang dikatakan Nabi Muhammad SAW, “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ingin memiliki lembah emas kedua ; seandainya ia memiliki lembah emas kedua, ia ingin memiliki lembah emas yang ketiga. Baru puas nafsu anak Adam kalau sudah masuk tanah. Dan Allah akan menerima taubat orang yang mau kembali kepada-Nya.” –hadis riwayat Bukhori Muslim)

Orang-orang baik pembela liberalisme mungkin tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka diperalat para vampire ini. Mereka (mungkin) dengan keyakinan baik, menyebarkan ideologi liberalisme ke seantero dunia. Bahkan para ahli ekonomi yang (konon) baik hati seperti SMI, yang sudah digembleng habis-habisan dalam lembaga-lembaga pendidikan liberal, mempraktekkan liberalisme untuk menangani perekonomian negara masing-masing.

Ketika liberalisme mengglobal, negara-negara dunia ketiga (Indonesia dan teman-teman senasibnya) terpuruk, kekayaannya habis untuk membayar hutang kepada para renternir berbaju sinterklas (Bank Dunia, IMF, dan geng-nya), mungkin memang bukan orang-orang baik inilah yang mendapat keuntungan (selain gaji bulanan yang lumayan). Mungkin orang-orang baik ini memang tidak korup dan bahkan berusaha memberantas korupsi.

Lalu, kemana perginya uang dalam jumlah giga-raksasa yang dihisap dari negara-negara dunia ketiga itu? Tentu saja, masuk ke rekening para vampire ini.

Sekarang, soal integritas. Apa sih integritas itu sebenarnya? Kalau menurut saya, integritas artinya punya watak baik yang integral, menyatu, tidak setengah-setengah, tidak ambigu. Karena itu, menilai seorang pejabat itu memang harus dari sisi integritasnya. Dia harus baik secara integral. Kita tidak bisa menyebut seorang pejabat itu baik karena dia sederhana, low profile, atau rajin sholat SAJA. Dia harus punya kebaikan yang bisa dirasakan oleh mayoritas rakyat. Kasus SMI, mungkin dia baik, mungkin dia punya semangat memberantas korupsi di Depkeu. Tapi dia berusaha memperbaiki perekonomian di Indonesia dengan percaya pada keampuhan HUTANG dan resep-resep ekonomi liberal. That’s the problem. Analoginya, kayak seorang dokter di kampung saya, dia baik dan dermawan, tapi dia memberi antibiotika overdosis pada anak kecil yang hanya flu biasa. Akhirnya, anak itu masuk RS.

Pertanyaan selanjutnya, di manakah letak kesalahan liberalisme?

Insya Allah saya tulis lain waktu, mohon doanya.

Tulisan terkait:Peran Bank Dunia dalam Kemunduran Perekonomian Indonesia.

Iklan

22 Komentar

  1. […] Tentang Liberalisme Ekonomi (1): Sri Mulyani Itu Orang Baik Kok! « Kajian Timur Tengah Mei 7, 2010 pukul 6:59 am […]

  2. hasan berkata:

    tak sabar untuk menunggu untuk pembahasan liberalismenya.

  3. tanjabok berkata:

    aslmkm,

    pertama, masalah hutang dan bukan berhutang menurut saya gak ada kaitannya dengan liberalisme, ok lah SMI liberalis, tapi berhutang sedangkan dia tahu cara perhitungan hutangnya suatu hal yang aneh.

    kedua, politikus2 demokrat (krn mengagungkan SMI kali ya) selalu berdalih kenapa negara tidak bisa berhutang sedangkan GDP juga meningkat, menurut saya gak ngerti teori, sejak kapan GDP meningkat ada hubungannya dengan pertambahan hutang, lalu dividennya dimana? sama saja +1(gdp) -1(hutang) dimana worthnya? belum lagi yang -1 itu ada bunganya, karena SMI yang ngajuin statement, langsung ditelan mentah2…

    ketiga, alternatif perhitungan hutang yang diberlakukan global di seluruh dunia secara praktis menggunakan metode NPV, dari bang dunia hingga kredit motor, salah satunya (atau bahkan satu-satunya) cara untuk memperbaiki metode ini adalah menghilangkan variabel “rate” (bunga) yang kajian ini seharusnya lebih didalami oleh ekonomi islam, bukan hanya sekedar bermain didalam sektor perbankan.

    O.0

    • dinasulaeman berkata:

      @tanjabok: makasih masukannya… soal kaitan liberalisme dg hutang, duh itu kan jelas sekali; kalau Anda pernah mempelajari liberalisme, Anda pasti tau bhw pilar liberalisme adalah demokrasi dan ekonomi bebas/kapitalisme; sementara ekonomi kapitalisme dibangun atas dasar hutang.

      • tanjabok berkata:

        iya ya bu… O.o

        kalau menurut saya, secara praktis liberalisme memang banyak dikaitkan dengan hutang, tapi rasanya secara praktis bisa juga tidak dengan hutang. kalaupun banyak praktisi liberalisme menggunakan hutang sebagai solusi, saya kira parktisi demokrasi ekonomi juga bisa melakukan hal serupa, begitu juga dengan praktisi ekonomi syariah.

        tentang liberalisme rasanya lebih kepada bagaimana membatasi peran negara dalam ekonomi, kalaupun ada tarik menarik scope area antara keduanya, hal ini bersifat praktis. sehingga ini yang saya maksudkan diatas.

        ini yang mengherankan saya baik praktisi liberal, capital, coorporasi (koperasi), demokrasi ekonomi, sudah menganalisa tentang jatuhnya ekonomi US kemarin, dan salah satu akibatnya karena jalur (credit) hutang perhutangan yang berlapis-lapis, dan ini juga yang masih mengherankan bagi saya, kenapa selalu hutang menjadi alternatif solusi?

      • dinasulaeman berkata:

        @Tanjabok:
        -saya baru menyelesaikan lanjutan tulisan ini.. dan saya mendapati repot sekali merangkum pemikiran liberalisme yang spketrumnya luas (dan karenanya menimbulkan penarfsiran yg beragam, seperti berbedanya penafsiran kita skrg ini). Jadi, atas pendapat Anda, saya tidak akan memberikan sanggahan apapun. saya melihatnya hanya beda soal penafsiran, tapi kita sepakat pada ‘kesalahan liberalisme’, bukan begitu?:)

        -Ekonomi Syariah, memang mengakui peran hutang, tapi dengan konsep bagi hasil, bukan bunga.
        -mengapa hutang dijadikan solusi oleh orang liberal.. karena akan memberi keuntungan bagi segelintir orang. Memang perekonomian AS kacau gara2 hutang, tapi di balik kekacauan itu ada tangan-tangan yang meraup keuntungan mega raksasa.

  4. A.J.I berkata:

    thanks, seperti biasa infonya sangat bermanfaat

    TELKOMSEL UNLIMITED ready stock

  5. Deasy Widyasari berkata:

    Aslm,
    sangat tertarik dengan yang telah Anda tulis, bermanfaat dan ga sabar untuk baca terus tulisan lainnya 😉

  6. Reza berkata:

    Salam kenal bu Dina, senang sekali bisa berinteraksi dgn anda melalui situs web ini.
    Saya tertarik dgn penekanan ini dalam tulisan anda: “Tapi teman, problemnya BUKAN pada kepribadian SMI, tapi pada keyakinannya (atau bahkan ‘keimanannya’) bahwa liberalisme adalah ideologi yang bisa menyejahterakan manusia.”
    Jadi bisa dikatakan bahwa penerapan ideologi liberalisme itulah akar dari semua problem pembanguan ekonomi nasional kita selama ini (sejak Orde Baru tentunya). Tapi saya juga tidak habis pikir, apakah selugu itu para ekonom kita (terutama para teknokrat di pemerintahan) ketika mereka “digiring” untuk menerapkan konsep liberalisme itu di negara kita? Apakah mereka terlalu buta terhadap perbedaan struktur sosial, kesejarahan dan konteks Indonesia sebagai negara baru (bekas jajahan negara kolonial) dibandingkan dgn Amerika misalnya (tempat para ekonom itu belajar)?! Saya kira kenyataan ini perlu juga dibongkar bu Dina….. jangan-jangan para ekonom itu memang tidak punya “sense of nationalism” lagi di negaranya sendiri. Ataukah hal itu karena memang sudah merupakan karakter tertentu (spt dulu bersekongkol dgn penjajah) dari subkultur tertentu dari bangsa ini, sehingga negara ini sebenarnya tdk pernah bebas dari penjajahan karena para pemimpin dan teknokratnya memang begitu mentalnya.
    Demikian bu, terimakasih bila berkenan membahas pertanyaan2 saya tersebut.
    Salam saya

  7. afri berkata:

    kalo utk membuktikan beliau mahzabnya liberal
    mudah saja…kok..
    buktinya di hire jadi managing director WB dan dulu IMF..dua lembaga yg dikenal liberal…
    betul…betul…betul..?

    • dinasulaeman berkata:

      @Afri: hehe.. iya memang mudah sekali.. tapi sebagian org tetap aja ada yg gak ngaku; buktinya SBY tetap berkeras bahwa pemerintahannya tidak berpihak pada liberalisme.

  8. faris berkata:

    Kapitalisme=kanibalisme
    Privatisasi=Piracy

  9. Mas Hafid berkata:

    Bukankah SMI dulu kuliiah di UI (?), kalau begitu UI juga termasuk salah satu ‘kawah condrodimuko’nya kaum liberalis, setelah sebelumnya (sebagian) alumninya (ikut) membidani lahirnya Orde baru. Ternyata……

  10. Bang Ali berkata:

    Salam..
    yang namanya beda mazhab itu seringkali masalah subyektif, suka tidak suka, se-dirasionalisasikan seperti apapun.

    menilai benar-salahnya satu tindakan karena mazhab yang dianutnya itu tidak ada bedanya dengan menilai benar-salahnya terorisme karena pelakunya islam atau bukan.

    kalau yang hutang itu orang liberal, dibilang salah.
    emangnya kalau yang hutang bukan orang liberal (orang sosialis, misalnya, atau orang bermazhab seperti mbak dina) apakah akan dinilai berbeda?

    sering orang salah kaprah dalam hal ini. semua mazhab ekonomi mengenal utang piutang (meski berbeda pendapat soal bunga dan konsekuensinya)

    saya yakin, bukan mazhab yang menentukan benar salahnya suatu tindakan, tapi manfaat dan juga efek sampingnya. sama halnya dengan perbuatan kita sehari-hari. bukan mazhab atau agama dari si pelaku yang menentukan suatu perbuatan itu benar atau salah, tapi efeknya, bermanfaat, atau mudharat.

    manfaat bail-out, silahkan diperdebatkan. carilah pandangan orang-orang perbankan, bukan pendapat politisi-politisi yang hanya cari sensasi.

    apakah ada jaminan, bahwa mazhab yang mbak dina anut bebas dari kesalahan?
    katakanlah, Quran memang mutlak benar. tapi apakah bisa dijamin bahwa penafsiran-nya juga mutlak benar?

    btw, integritas adalah (kata para profesor leadership saya) satunya kata dan perbuatan. kalau bilang A ya berbuat A, bilang B ya berbuat B. tidak mencla-mencle.

    Salam dari dunia darat…
    (hihihi.. lagi males nulis di blog eung…)

    • dinasulaeman berkata:

      [Sekedar info, komen balik saya utk bang Ali ini adalah komen personal krn kami saling kenal]

      @Bang Ali: Anda udah baca tulisan saya ini: https://dinasulaeman.wordpress.com/2010/01/18/ketika-premis-wahyu-diabaikan/ ?
      Kalau sudah, dan pendapat Anda masih tetap spt di atas, saya benar2 prihatin.. bahkan orang yg mendedikasikan hidupnya utk mengajarkan Quran pun ternyata masih belum merdeka dalam berpikir..

      • Bang Ali berkata:

        sudah, mbak..
        dan saya insyaallah sedang berusaha memerdekakan diri dari pikiran bahwa “pendapat saya pasti benar”..
        saya juga sedang berusaha untuk memerdekakan diri dari pikiran bahwa “mazhab saya pasti benar”..
        btw, saya nggak ingin mereparasi mesin bensin dengan ilmu tentang mesin diesel..
        salam..

      • dinasulaeman berkata:

        @Bang Ali:
        -memerdekakan diri dari pikiran bahwa “pendapat saya pasti benar” tidak sama dengan sikap pragmatisme. Anda keliatan sekali pragmatisnya: “saya yakin, bukan mazhab yang menentukan benar salahnya suatu tindakan, tapi manfaat dan juga efek sampingnya”. Wah..wah.. Justru yg saya maksudkan merdeka berpikir adalah merdeka dari yg namanya relativisme dan pragmatisme.

        -Ketika Anda berpendapat: “yang namanya beda mazhab itu seringkali masalah subyektif, suka tidak suka, se-dirasionalisasikan seperti apapun.”, Anda sedang meremehkan orang yg sedang berusaha berpikir mendalam dan menuduh subyektif, dilandasi suka/benci

        -soal hutang, sangat jelas yg dibahas dalam tulisan ini (dan diskusinya) adalah hutang riba. Kapitalisme dibangun atas hutang riba (ini kata Ravenhill, di buku Ekonomi Politik Global). Aneh sekali tanggapan Anda justru: “kalau yang hutang itu orang liberal, dibilang salah.
        emangnya kalau yang hutang bukan orang liberal (orang sosialis, misalnya, atau orang bermazhab seperti mbak dina) apakah akan dinilai berbeda?” Ya jelas beda mas, orang Islam tidak mengenal bunga. Gimana seh? Indonesia menanggung hutang 1600T dan setiap tahun akan terus nambah krn ada bunga. Doesn’t it make sense to you?

        -Ketika Anda berkata “saya nggak ingin mereparasi mesin bensin dengan ilmu tentang mesin diesel”, saya merasa Anda sedang brkata pada saya “udah deh, Dina ngerti apa sih soal ekonomi, gak usah ikut2an” ..tapi anehnya, kok Anda juga ikut2an dalam topik ini? Kan Anda juga bukan economist? Bahkan menasehati saya “manfaat bail-out, silahkan diperdebatkan. carilah pandangan orang-orang perbankan, bukan pendapat politisi-politisi yang hanya cari sensasi”.

        Duh.. maaf, yg jadi rujukan saya buku2 politik-ekonomi global, bukan politisi yg cari sensasi.

        Dengan penuh kerendahan hati, saya beritahukan bahwa “ekonomi politik global” adalah salah satu mata kuliah yg sedang saya pelajari semester ini. Dan mohon maaf jika saya sedang mengaplikasikan ilmu yg saya dapat dari kampus untuk berusaha memberi pencerahan pada orang lain, ternyata mengganggu Anda.

        Sungguh, saya benar2 sedih. Ternyata Anda jauh sekali dr yg saya bayangkan selama ini.

  11. Bang Ali berkata:

    1. mungkin harus nulis panjang, mengutip kata-kata Asmuni dkk, “ngomong sama orang pinter harus jelas”.

    2. “memerdekakan diri dari pikiran bahwa ‘pendapat saya pasti benar’ adalah untuk komentar saya untuk: “. . . Kalau sudah, dan pendapat Anda masih tetap spt di atas, saya benar2 prihatin”. Bagi saya ini adalah bentuk lain dari kalimat, “yang tidak berpendapat seperti saya harus diprihatinkan”, dan bentuk lain dari “hanya pendapat saya yang tidak perlu diprihatinkan”.

    3. “saya nggak ingin mereparasi mesin bensin dengan ilmu tentang mesin diesel,” merujuk pada solusi mbak dina yg berbasis “teori-teori” ilmu ekonomi syariah”, untuk mengatasi masalah bail-out dan dampak sistemik yang berada pada ranah “ilmu ekonomi [yang katanya] liberal”.
    Bagi saya, tiap mazhab punya masalah sendiri, dan mekanisme sendiri untuk mengatasi masalah yg ada pada mazhab masing-masing.

    4. “manfaat bail-out, silahkan diperdebatkan. carilah pandangan orang-orang perbankan, bukan pendapat politisi-politisi yang hanya cari sensasi”
    Siapa yang mempelopori protes bail-out? Tokoh-tokoh ekonomi syariah kah? Sebelum kasus dimunculkan DPR kah? Berapa banyak orang yg peduli bail-out Century sebelum orang-orang “gedung miring” itu ribut? Apakah anggota-anggota pansus itu memperhatikan pendapat orang-orang perbankan?
    Menurut saya, ribut-ribut bail-out itu murni masalah politis.
    Dan kalau sekarang dikatakan bahwa, asset Bank Mutiara sudah lebih dari 8T dan mulai menyumbang keuntungan ke kas negara, apakah bisa dibilang bail-out merugikan?

    5. “saya yakin, bukan mazhab yang menentukan benar salahnya suatu tindakan, tapi manfaat dan juga efek sampingnya” boleh saja dibilang pragmatisme, tapi itu adalah terjemahan tak langsung dari “sebaik-baik manusia adalah yang membawa manfaat bagi orang lain”.

    6. Saya tidak benar-benar terganggu, karena kalau benar-benar terganggu atas sebuah tulisan, biasanya saya cuekin aja. Kalau saya masih komentar itu artinya saya masih senang dan “oke-oke saja”. Mayan, ngasah otak ngadepin penguji.. hehe.
    Dan kalau sedih bahwa saya jauh dari yg dibayangkan, yah.. begitulah saya. Saya memang jauh dari bayangan semua orang yang kenal saya (jauh lebih baik, wkwkwkwkwkwkkwkwkw, narsis gitu loh)

  12. denjaka syiah berkata:

    memang sebaiknya kita selalu waspada dan cermat mengamati berbagai wacana keilmuan dan teori-teori pengetahuan yang digulirkan barat, tapi terutama kita harus lebih waspada dengan penerapan mereka terhadap pelaksanaan (pemraktekan) wacana-wacana keilmuan yang mereka gulirkan itu sendiri. secara umum mereka mempopulerkan berbagai dasar-dasar ilmu pengetahuan, seperti filsafat, sains, dll. tapi sebenarnya kita sangat wajib untuk menganalisis darimana mereka mendapatkan ilmu pengetahuan itu. (secara khusus kita semua telah mengetahui bahwa orang-orang barat mendapatkan ilmu pengetahuannya dari sumber-sumber Islam pada masa-masa perang salib dan masa-masa andalusia yang mana beberapa kaidah keilmuan kemudian mereka klaim sebagai ‘hasil pemikiran orisinal mereka sendiri’ kita semua tahu bahwa al-khawarizmi adalah bapak al-jabar, tapi sebenarnya tidak hanya itu, al-khawarizmi juga peletak dasar-dasar kalkulus-differensial. demikian pula ibnu sina adalah bapak kedokteran, pada dasarnya ilmuwan-ilmuwan muslim adalah pihak yang menemukan semua dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi barat. seperti Ibnu Ba’jah, Jabir Bin Hayyan, Ibnu Al-Haitham, dll. kita perlu mereklaim kembali asal-usul penemuan oleh manusia berbagai wacana keilmuan itu setidaknya dari sisi kesadaran diri. tujuannya adalah untuk menyadarkan diri kita akan posisi ilmu-ilmu pengetahuan itu di semesta penciptaan, sehingga kita dapat meletakkan kaidah ilmu-ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak Ilahiah pada kehidupan alam material ini. Ilmu-ilmu sosial-politik barat juga berasal dari Islam. kita perlu melacak kembali sumber-sumber ilmu sosial-politik ‘yang berasal dari barat’ ini. paham demokrasi misalnya, jelas ini adalah paham politik yang Islami, Rasulullah adalah teladan demokrasi yang pertama di dunia. jika mencermati sirah beliau, maka akan dipahami bahwa salah satu alasan Allah mengutus beliau menyampaikan risalah adalah kondisi sosial masyarakat dunia saat itu, perpecahan masyarakat dalam berbagai segmen oleh usaha-usaha penguasa yg licik, kalangan mayoritas telah ditindas oleh kalangan minoritas. Rasulullah bergerak karena kalangan mayoritas yang terbagi dalam berbagai elemen lemah seperti budak, fakir, perempuan, anak-anak, anak yatim, orang desa, perantau asing, dll mulai dieksploitasi dan ditindas oleh kelicikan segelintir penguasa.

    kemudian apakah pada masa sekarang ‘bapak demokrasi’ seperti amerik adalah negara yg benar-benar demokratis? ada lima partai politik di negara amerika, tapi yg benar2 memiliki kekuatan yg signifikan hanya dua partai yaitu partai republik dan demokrat. amerika memang paling gembar-gembor dalam meneriakkan paham demokrasi, tapi sebenarnya mereka sendiri bukanlah penganut paham yg demokratis, mereka memerlukan dua partai supaya memenuhi kriteria negara yg dapat dikatakan demokratis, walaupun kriteria yg mereka penuhi ternyata kriteria yg paling minimal, (kalau lebih banyak lagi mungkin menurut mereka akan jadi susah diatur) jika hanya satu partai maka tergolong negara yg diktator dan otoriter,maka diadakanlah satu partai lagi spy memenuhi kriteria demokrasi, tapi kita semua tahu bahwa dibalik keberadaan dua partai itu sebenarnya hanya terdapat satu kekuasaan saja. paham demokrasi mempunyai kesesuaian dengan paham figur manusia sempurna dari mazhab ahlul bayt. hanya figur manusia sempurna yg dapat menegakkan sistem demokrasi.
    hal semacam ini berlaku pula untuk dasar-dasar ilmu pengetahuan lain ‘yg berasal dari barat’ seperti misalnya teori freud, psiko-analisa tentang alam bawah sadar manusia. pada hakikatnya sebenarnya teori ini hanya bisa dijalankan jika ada figur manusia sempurna, karena batas-batas antara alam kesadaran manusia dan alam bawah sadarnya tentu saja hanya bisa diukur oleh manusia sempurna yang tida memiliki alam bawah sadar.

    demikian pula dalam dasar ilmu ekonomi, mengenai hasrat individu misalnya, terdapat teori dasar tentang hasrat manusia dalam memenuhi kebutuhannya, yaitu the law of diminishing return of marginal utility, yg menyatakan bahwa utilitas suatu benda konsumsi akan menurun during penambahan proses konsumsi itu. bermakna bahwa manfaat kita mengkonsumsi suatu benda akan menurun pada saat kita mengkonsumsi benda tersebut pada saat pertama dengan pada saat kedua, mudahnya seperti contoh dalam kehidupan kita sehari-hari, apabila kita membutuhkan kopi dan kemudian meminum secangkir kopi maka akan memunculkan sensasi nyaman pemenuhan kebutuhan kita akan kopi itu, tapi ketika kita meminum secangkir kopi berikutnya maka sensasi nyaman cangkir kopi yg kedua tidak sebesar cangkir kopi yg pertama.

    teori diatas jelas sangat benar. akan tetapi pada pelaksanaannya di kehidupan manusia umum saat ini tidak seperti itu, ada banyak manusia yg memiliki sifat serakah tanpa alasan. walaupun telah memiliki banyak uang, ia tetap merasa kekurangan uang, bahkan semakin ia mendapat lebih banyak uang, maka ia akan semakin haus akan uang berikutnya karena dalam perasaannya ia merasa semakin miskin.

    maka teori: ‘the law of diminishing return of marginal utility ini sebenarnya baru nyata atau ada pembuktianya kebenarannya jika tedapat figur manusia sempurna, karena hanya figur manusia sempurna yg memiliki kesesuaian perilaku dengan konsep-konsep ‘barat’ tersebut.

    barat sebenarnya punya teori-teori ahlul bayt, tapi mereka ‘mempraktekkannya’ dengan dipoles tipuan-tipuan yg memperdaya kita, berfungsi sebagai pembenar-pembenar dari penyimpangan praktek mereka akan teori yg katanya ‘berasal’ dari mereka itu. mereka tidak akan mungkin mampu melaksanakan teori-teori yg ‘berasal’ dari mereka itu.

    mungkin juga liberalisasi juga teori yg benar tapi pasti terdapat penyimpangan-penyimpangan yg mereka lakukan atas teori tersebut, apabila teori ini dilaksanakan dengan kejujuran dan fair dalam pelaksanaannya pastilah orang yg paling berpotensilah yang akan mendapatkan modal terbanyak. Tapi tentunya kita memahami semua yg terjadi pada keadaan sekarang ini adalah bahwa para orang-orang licik zionist yg nantinya akan menduduki posisi puncak di dunia bisnis mendapatkan modal awalnya untuk mendirikan kerajaan bisnis pertama dari ketidakjujuran dan berbagai derivasinya, seperti ingkar perjanjian, manipulasi, penipuan, dll. setelah mereka kuat, berbagai kebusukan masa lalu itu kemudian ditutup-tutupi, dicari pembenarannya, dibuatkan rekayasa peristiwa pembanding yg lebih parah, dll.

  13. setyawan berkata:

    dlm politik semua sah….krn politik adalah tujuan. tinggal orangnya aja mau yg hitam,putih atau abu2.

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: