Kajian Timur Tengah

Beranda » Studi Hubungan Internasional » Tentang Liberalisme Ekonomi (2): Membongkar Kerapuhan Asumsi Liberalisme

Tentang Liberalisme Ekonomi (2): Membongkar Kerapuhan Asumsi Liberalisme

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Seperti saya duga, mencoba mengkritik liberalisme hanya dalam 1000 kata (untuk konsumsi blog) adalah tantangan yang berat. Rasanya jauh lebih mudah menulis makalah 3000 kata (seperti yang biasa diperintahkan oleh dosen saya:D). Spektrum liberalisme sangat luas dan masing-masing pemikir liberal mengemukakan pendapatnya yang kadang-kadang saling bertentangan. Karena itu, saya akan membatasi diri untuk membahas mengenai asumsi liberalisme. Dengan penuh kerendahan hati, saya mengakui bahwa saya masih pada tahap belajar. Karena itu, segala sumbang saran terkait perdebatan asumsi ini akan saya pertimbangkan, demi memperbaiki kualitas tulisan ini (dan memperbaiki pemahaman saya sendiri). Terimakasih.

Pengetahuan dibangun atas dasar berbagai asumsi. Asumsi adalah sesuatu yang dijadikan landasan berpikir karena dianggap/diduga benar. Misalnya, Einstein membangun teori Relativitas dengan dilandasi asumsi bahwa kecepatan cahaya selalu tetap dalam kondisi apapun. Darimana datangnya asumsi itu? Bisa jadi dari pemikiran mendalam (berfilsafat), tapi seringkali juga sekedar berasal dari pengamatan singkat pada kenyataan di sekitar si pemikir sehingga sifatnya sangat terikat pada ruang dan waktu. Misalnya, saya sering kecopetan di biskota. Karena saat saya kecopetan selalu saja yang ada di sekitar saya adalah orang-orang berbaju kucel, saya berasumsi bahwa orang-orang berbaju kucel berpotensi menjadi pencopet dan saya akan selalu hati-hati bila berada di sekitar orang berbaju kucel. Contoh lain, ketika seorang Karl Marx melihat fenomena (pada zamannya) gereja yang berkolusi dengan kapitalis dengan cara memberi dogma-dogma agama sehingga para tertindas tetap pasrah menerima nasibnya dan berharap kelak di surga mereka akan bahagia, dia berasumsi bahwa agama adalah candu yang dijadikan tempat menghibur diri bagi orang-orang tertindas.

Begitupun liberalisme. Liberalisme lahir pada Abad Pertengahan sebagai reaksi atas penindasan yang dilakukan oleh kerajaan dan gereja (pada zaman itu). Para pemikir zaman itu membangun berbagai asumsi, dengan tujuan untuk membebaskan diri dari penindasan, antara lain: manusia memiliki hak kebebasan dan manusia adalah makhluk yang rasional, sehingga mampu melakukan pilihan-pilihan rasional demi kebaikannya sendiri. Karena itu, manusia tidak boleh ditindas oleh aturan agama atau aturan negara, kata mereka.

Liberalisme itu sendiri akhirnya menjadi asumsi yang melandasi berbagai ilmu pengetahuan. Misalnya, ketika asumsi liberalisme digunakan dalam ilmu agama, muncul teori bahwa manusia memiliki kebebasan untuk merevisi agama. Argumennya, toh agama dilahirkan untuk kebahagiaan manusia. Ketika aturan agama sudah tidak sejalan lagi dengan standar kebahagiaan zaman kini, manusia sah-sah saja melakukan revisi. Ketika liberalisme menjadi asumsi bagi politik, lahirlah teori demokrasi; semua warga berhak memilih sendiri pemimpinnya dan menentukan sendiri aturan hukum bagi diri mereka sendiri. Ketika liberalisme menjadi asumsi bagi ekonomi, maka lahirnya teori pasar bebas : biarkan semua orang beraktivitas dalam pasar, jangan ada intervensi pemerintah. Argumennya, manusia adalah makhluk rasional, dia akan mampu melakukan pilihan-pilihan rasional dalam bertransaksi sehingga mampu meraih keuntungan maksimal bagi dirinya. Ketika semua manusia rasional, pasar (proses jual-beli) akan berjalan dengan sendirinya dengan teratur. Jangan ada intervensi pemerintah untuk mengurusi pasar. Biarkan saja pasar beroperasi sendiri.

Kali ini saya hanya akan mengkritik asumsi liberalisme yang terkait dengan ekonomi, yaitu: demokrasi, perdagangan bebas, dan hak kepemilikan. Kaum liberal berasumsi bahwa perdamaian abadi dan kemakmuran manusia bisa dicapai melalui demokratisasi (dengan argumen bahwa negara demokrasi cenderung tidak akan berperang satu sama lain), perdagangan bebas (dengan argumen bahwa jika semua negara saling berhubungan dagang, akan muncul ketergantungan satu sama lain, sehingga negara-negara tidak akan saling berperang; selain itu, melalui perdagangan bebas, distribusi kemakmuran akan lebih merata karena negara-negara bisa saling menjual produknya), dan hak kepemilikan harus dilindungi (dengan argumen bahwa kegiatan ekonomi akan berjalan baik bila hak-hak kepemilikan para pelaku ekonomi dilindungi).

Sekarang, benarkah ketiga asumsi di atas? Kenyataan justru menunjukkan ketiga asumsi itu saling bertabrakan satu sama lain. Pertama, demokrasi. Indonesia pada rezim Soeharto dianggap tidak demokratis dan perlu reformasi supaya kemakmuran lebih merata. Tapi kini, setelah terjadi reformasi dan kita menganut demokrasi liberal (sampai-sampai, kita sekarang bebas-bebas saja mencaci-maki presiden dan para elit; para artis yang selama ini mengandalkan keseksian tubuh dianggap sah-sah saja mencalonkan diri jadi bupati), yang terjadi justru adalah Indonesia terjun bebas ke pasar bebas tanpa punya pengaman. Demokrasi liberal menciptakan situasi bahwa pemilik uanglah yang menang dalam pemilu. Ketika pemimpin negara sangat bergantung pada sumber uang (=pengusaha), sudah pasti kebijakan negara akan memihak kepada pemilik uang. Jadi, janji liberal bahwa demokrasi dan pasar bebas akan membawa kemakmuran tidak terbukti.

Sebaliknya, kaum liberal juga berasumsi bahwa bila sebuah negara bergabung dalam pasar bebas, maka di dalam negara itu akan terjadi proses demokratisasi, karena dalam pasar bebas, peran negara tidak sentral lagi. Akan ada banyak ‘pemain’ yang terlibat, terutama para pelaku pasar. Tapi kenyataan menunjukkan, pemerintah Burma tetap otoriter meski perusahaan-perusahaan transnasional berebutan berinvestasi di sana dan menghasilkan uang banyak. Jadi, asumsi liberal bahwa ‘perdagangan akan melahirkan demokrasi dan perdamaian’ tidak terbukti. Menyikapi fenomena seperti ini, sebagian pejuang demokrasi menyebut bahwa “pasar bebas adalah ilusi kaum liberal”. Di sini saja sudah terlihat, bahwa sesama ‘anak’ liberalisme malah saling menyalahkan.

Pasar juga harus dibiarkan bebas tanpa intervensi negara sama sekali (kata Hayek, pemikir neo-liberal) atau pasar bebas tapi negara juga berperan dalam penciptaan lapangan kerja dan pendidikan supaya rakyat tetap bisa punya uang dan terlibat dalam pasar (kata Keynes, pemikir liberal lainnya). Tapi, kebebasan pasar ini kontradiktif juga dengan asumsi tentang ‘hak kepemilikan’. Jika benar-benar mau dibebaskan, seharusnya negara tidak berperan dalam perlindungan harta para kapitalis. Realitanya, saat perusahaan-perusahaan besar (yang punya channel di pemerintahan) dilanda kebangkrutan, negara turun tangan untuk melakukan bail out (dengan uang pajak yang diambil rakyat). Di sini, hak kepemilikan sebenarnya bermakna: “negara wajib melindungi kekayaan para kapitalis.”

Lanjut. Pendukung pasar bebas, saat dihadapkan pada kenyataan bahwa negara-negara berkembang yang ternyata malah semakin miskin setelah terjun bebas di pasar bebas, menyalahkan pemerintah yang korup dan tidak efisien sehingga perlu lebih didemokratisasi lagi. Sebaliknya, fakta menunjukkan semakin demokratis (artinya, semakin para kapitalis berkesempatan merajalela dalam tubuh pemerintahan), sebuah negara akan semakin terjun ke pasar bebas; dan pasar bebaslah yang justru malah menyeret berbagai bangsa ke jurang kemiskinan. Penyebabnya adalah karena sesungguhnya tidak ada pasar yang benar-benar bebas. Yang ada hanyalah kebebasan bagi si kuat untuk bertindak semaunya. Dalam tulisan saya yang ini, diuraikan betapa kejamnya konsep liberalisme ekonomi/pasar bebas.

Lalu hak kepemilikan. Sekilas memang benar, hak kepemilikan memang harus dilindungi. Namun, ketika asumsi hak kepemilikan ini dibangun atas asumsi liberalisme lainnya, yaitu ‘kebebasan’, maka yang terjadi adalah kebebasan bagi segelintir orang untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya, tanpa bisa diganggu-gugat. Bahkan negara pun diwajibkan untuk melindungi kekayaan mereka dan menutup kerugian saat mereka bangkrut. Karena itu muncul fenomena aneh: ada orang Indonesia yang bisa masuk dalam daftar “10 Ten Orang Terkaya di Dunia” sementara ada 30 juta orang Indonesia lainnya harus hidup di bawah garis kemiskinan.

Dari uraian di atas, kita bisa melihat betapa rapuhnya asumsi-asumsi yang dipakai oleh kaum liberal. Sayangnya, tanpa menghiraukan kerancuan asumsi dasarnya, liberalisme disebarluaskan dan merasuk ke dalam berbagai sisi kehidupan manusia: politik, ekonomi, agama, seni-budaya, pendidikan, dll. Liberalisme sedemikian merasuknya di pemikiran kebanyakan orang sampai-sampai, asumsi liberalisme dianggap sebagai sebuah postulat (sesuatu yang sudah pasti benar), dan bahkan menjadi ideologi (keyakinan). Inilah mengapa (menjawab pertanyaan seorang komentator di blog saya), orang-orang pintar macam SMI dan para profesor ekonomi mati-matian berkeyakinan sedang ‘berbuat yang terbaik untuk Indonesia’, meski berbagai data dan argumen sudah disodorkan oleh sebagian pakar ekonomi lainnya mengenai betapa resep liberalisme hanya akan membawa Indonesia kepada kehancuran.[]

Pertanyaan selanjutnya: lalu, dimana jalan keluar?
Duh, mudah-mudahan ada energi ya.. 😀

Tulisan bagian satu bisa dibaca di sini

Iklan

8 Komentar

  1. saudara berkata:

    ibu, jadi sebenarnya perekonomian indonesia sebelum era Sri Mulyani (sebelum kebijakan2 neo-lib muncul) sama setelah era Sri Mulyani (setelah menerapkan kebijkana neo-lib)mana yang lebih baik sih? jika lebih buruk kenapa Sri Mulyani memiliki reputasi yg luar biasa di mata internasional dan predikat yg luar biasa juga mana yang lebih baik sih? (diharapkan ada data berupa link)

  2. danang n ramadhan berkata:

    perlakukan orang lain seperti orang lain ingin memperlakukanmu.

    itu adalah hal yang logis dan rasional.
    tetapi kebanyakan,memakai hal yang rasional untuk kepentingan dirinya.

    selanjutnya…
    menjadi sebuah pemimpin yang dasarnya baik dan ingin membawa kebaikan pun juga sulit. secara basic memang ekonomi hanya memberi perhitungan2 saja dan keputusan apa yang terbaik bisa diambil, apalagi dalam konteks makro, yang berhubungan dengan kebaikan orang banyak.
    selain itu
    jangan lupa dengan politik. keputusan terbaik apapun akan mentah jika ditangan politikus hitam. dan itu semua adalah buah dari personal masyarakat indonesia. perek jadi calon bupati pun itu adalah sebuah buah. bahwa akar dari ini semua adalah kerusakan moral.

    psikologi, ekonomi dan ilmu sosial lainnya seharusnya lebih konsen kepada hal ini :

    karakter dan moral

  3. faizal berkata:

    saya enjoy menyimak artikel ini, saya sering mendengar tema seperti ini, namun penulis bisa membuatnya dalam package yg bagus..

    bisakah saya mendapatkan tips untuk bisa menulis sebagus sodara?

    terima kasih

  4. ab berkata:

    Beberapa statement penulis menggelitik saya untuk berkomentar. Misalnya:

    “janji liberal bahwa demokrasi dan pasar bebas akan membawa kemakmuran tidak terbukti.”

    alasan: rezim orba yg tidak demokratis, lebih memakmurkan daripada rezim reformasi.

    Sekarang benarkah pada jaman reformasi, lebih kurang makmur dibanding orba?

    Menurut [1], GDP per kapita Indonesia pada reformasi mengalami peningkatan yg sama atau lebih dibanding sebelumnya, bahkan mempertimbangkan pada awal reformasi Indonesia mengalami krisis ekonomi yg hebat.

    Prosentase penduduk yg hidup di bawah $1 per hari juga terus menurun, seperti yg di tunjukkan [2]. Bila pd th 1993, 54,4% penduduk Indonsia hidup di bawah $1 per hari, sedangkan pada th 2005 hanya 21,4%.

    Orang bisa berkata peningkatan kemakmuran itu hanya dinikmati segelintir orang saja. Memang selalu ada sebagian penduduk yg kaya dan ada yg miskin. Itu tidak bisa dihindari, tetapi dalam kenyataannya tidak ada negara di dunia ini yg memiliki income gini index 0 (nol, semua penduduk memiliki pendapatan persis sama). Menurut [3], negara2 dg gini index terbaik yaitu negara2 skandinavia dg index 20-an tengah. Indonesia sendiri dengan index 34,3 termasuk lumayan, dibandingkan dg negara2 asean yg 40-an seperti Malaysia yg 49,2 atau dibandingkan dg Iran yg 43.

    ” ‘perdagangan akan melahirkan demokrasi dan perdamaian’ tidak terbukti.”

    alasan: pemerintah Burma tetap otoriter meski perusahaan transnasional berebutan berinvestasi di sana.

    Burma jelas tidak mengadopsi pasar bebas, dengan dikuasainya sumber2 ekonomi oleh rezim yg berkuasa serta kroni2nya yg. Dalam paper [4], tidak ditemukan korelasi antara liberalisasi pasar dg demokratisasi, artinya liberalisasi pasar dapat diikuti dg demokratisasi, dapat jg tidak.

    “pasar bebaslah yang justru malah menyeret berbagai bangsa ke jurang kemiskinan”

    Ada referensinya? Tidak rasional jg apabila kita menyebut negara A mencoba mengadopsi pasar bebas, tetapi tidak menunjukkan hasil, terus digeneralisir bahwa pasar bebas adalah buruk tanpa menyebutkan ada jg negara B yg berhasil mengadopsi pasar bebas.

    “ada orang Indonesia yang bisa masuk dalam daftar “10 Ten Orang Terkaya di Dunia” ”

    Setahu saya utk masuk 10 besar, harus memiliki kekayaan diatas $23,5 milyar, sedangkan A. Bakrie dan R. Hartono yg dua terkaya di Indonesia “cuma” $7 milyar dan $6 milyar.

    Sebelum menilai asumsi kaum liberal rapuh, ada baiknya kita juga memastikan bahwa argumen kita juga tidak rapuh.

    Adalah wajar kalau masing2 kubu meyakini pendapatnya masing2. Sebegitu “ngototnya” kubu anti-liberalisme berpendapat resep liberalisme akan membawa kehancuran, kubu liberalisme jg ngotot berpendapat itu akan membawa kebaikan.

    Saya berpendapat apapun sistem ekonominya, kalau tidak sesuai dgn kondisinya dan dipegang oleh orang yg tidak kompeten atau bahkan korup, ya kehancuranlah yg terjadi.

    Tautan:

    [1]http://www.indexmundi.com/indonesia/gdp_per_capita_(ppp).html

    [2]http://www.indexmundi.com/indonesia/income-inequality.html

    [3]http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_income_equality

    [4]Grosjean, P.; Senik, C.; Democracy, Market Liberalization and Political Preferences, 2008.

    • dinasulaeman berkata:

      Argumen balasan Anda sudah rapuh sejak awal dgn pernyataan: “alasan: rezim orba yg tidak demokratis, lebih memakmurkan daripada rezim reformasi. Sekarang benarkah pada jaman reformasi, lebih kurang makmur dibanding orba?”

      Kok bisa Anda sedemikian mudah menyimpulkan, ketika saya mengkritik liberalisme itu artinya saya mendukung Orba? Siapa bilang Orba tdk liberal? Wah..wah…

      • ab berkata:

        Saya hanya mengutip paragraf ke-6.

        “Pertama, demokrasi. Indonesia pada rezim Soeharto dianggap tidak demokratis dan perlu reformasi supaya kemakmuran lebih merata.”

        kemudian diikuti

        “Tapi kini, setelah terjadi reformasi dan kita menganut demokrasi liberal,…”

        yg diakhiri dg kesimpulan

        “Jadi, janji liberal bahwa demokrasi dan pasar bebas akan membawa kemakmuran tidak terbukti.”

        Tidak satu kalimat dr saya yg menyatakan penulis mendukung Orba. Saya kembali bertanya kok bisa juga Anda sedemikian mudah menyimpulkan, bahwa saya berpendapat Anda mendukung Orba karena mengkritik liberalisme? Tp bukan ini inti balasan saya. Saya sudah mengklarifikasi bahwa saya TIDAK menganggap penulis mendukung orba.

        Yg saya pertanyakan adalah korelasi kesimpulan penulis dg argumen yg digunakan.

        Pada tulisan “alasan:” itu adalah alasan yg digunakan penulis (blog, bukan saya) untuk membuktikan argumennya.

      • dinasulaeman berkata:

        Ok, saya skrg paham apa yg Anda maksudkan.
        Sepertinya Anda hanya mengambil satu kalimat saya, lalu melepaskannya keluar dari konteks. Jika Anda baca ulang seluruh paragraf itu, seharusnya bisa ditangkap maksud saya bahwa, meskipun kita sudah sedemikian demokratisnya, tetap saja perekonomian kita justru semakin mundur. Dan kalimat saya tidak berhenti sampai di situ untuk kemudian Anda komentari secara terpisah. Anda sepertinya tahu banyak soal ekonomi. Pastilah Anda tahu, semua ini berjalin-berkelindan: demokrasi liberal, pasar bebas, dan hak kepemilikan. Kemunduran ekonomi itu, tdk semata-mata akibat semakin liberalnya demokrasi kita (sehingga kita kini memilih presiden yang paling banyak uangnya dalam beriklan, dan presiden yang paling banyak uang pastilah berkartel dengan para kapitalis, dst), tapi juga sistem ekonomi yang semakin memihak kepada asing (IMF, korporasi).

        Untuk membantah sepotong kalimat saya soal demokrasi-reformasi, Anda memberikan data bahwa setelah reformasi, jumlah orang miskin menurun dan bahkan ada orang-orang Indonesia yg masuk dalam daftar orang terkaya di dunia. Saya pikir, kalau Anda memang pengamat ekonomi, Anda pasti pernah dengar heboh2 saat BPS mengumumkan jumlah org miskin Indonesia menurun. Bbrp ekonom mempermasalahkan metode survei yg dipakai BPS. Perdebatan masalah data BPS menunjukkan bahwa untuk menemukan angka yang jelas dari berapa jumlah org miskin itu masih jadi problem di Indonesia. Lalu Anda ingin membela reformasi dan demokrasi liberal hanya dengan angka? Bagaimana dengan AS, embahnya demokrasi, kenapa angka kemiskinan di sana meningkat? Atau Anda mau kasih saya data bahwa kemiskinan di AS tidak meningkat?

        Lalu Anda mengatakan: “tidak ditemukan korelasi antara liberalisasi pasar dg demokratisasi, artinya liberalisasi pasar dapat diikuti dg demokratisasi, dapat jg tidak.” Duh, ya itu kan kata referensi yg Anda pakai dan melihat kalimatnya, saya pikir, sangat mungkin referensi Anda itu lahir stlh mengamati situasi yg ada saat ini. Sementara tulisan ini bicara pada tataran asumsi. Asumsi liberalisme adalah spt yg saya tulis di atas. Asumsi adalah landasan berpikir, artinya referensi yg saya pakai adalah buku2 teks klasik yg memang arahnya ke arah filosofi; mengupas pemikiran ekonomi liberal sejak dari para filsufnya.

        Sebenarnya masih banyak lagi yg ingin saya ungkapkan tapi saya benar2 tidak ada waktu mengurusi hal ini. Saya memang menulis ‘menerima kritikan dan masukan’, tapi kritikan Anda terlalu bermain di tataran praktis/pragmatis, sementara saya sedang mencari masukan soal filosofis. Jadi mohon maaf, saya tidak bisa menanggapi lebih lanjut krn saya merasa tidak ada manfaatnya buat saya. Anyway, terimakasih sudah meluangkan waktu nimbrung di sini.

  5. jayen berkata:

    duh..mbak dina, nyesel saya terlambat buka blog ini, seperti nyesel nya saya krn terlambat masuk kelas dlm mata ajar dan pengajar favorit, menyimak tulisan anda dan diskusi dlm komentar serasa berada di ruang kelas euy…thanks mbak.

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: