Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan » Pendidikan Jihad ala AS

Pendidikan Jihad ala AS

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Dalam sebuah lokakarya nasional yang beberapa waktu lalu saya ikuti, seorang pejabat dalam presentasinya, (mungkin) secara bercanda, berkata, “Yah, biasalah kayak di kampus-kampus, hidup mati adalah jihad.” Mungkin saja dia bercanda, menyindir orang-orang kampus yang semangat keislamannya tinggi dan menjadikan hidup-matinya sebagai jihad. Tapi, apa makna kata ‘jihad’ yang dipakai si pejabat ini? Jihad dalam arti konsistensi, bersungguh-sungguh, bekerja keras menjalani hidup agar selalu di jalan yang diridhoi Allah, atau ‘jihad’ yang sering dicitrakan oleh media propaganda Barat?

Sejak peristiwa 9/11, banyak orang yang masih terus terseret arus propaganda Barat: bahwa Islam adalah sumber terorisme, bahwa ajaran jihad adalah akar dari semua kekerasan di muka bumi. Apa dan bagaimana sebenarnya konsep jihad dalam Islam, biarlah ulama yang kompeten menjelaskannya. Kali ini saya hanya ingin menginformasikan bahwa jihad ala Taliban sesungguhnya hasil ‘pendidikan’ AS. Para jihadist ala Taliban itu sesungguhnya adalah murid-murid ‘madrasah’ AS.

Dalam bukunya, “America’s War on Terrorism” (2005), Prof. Michel Chossudovsky, menguraikan data-data betapa AS-lah sesungguhnya pendidik para jihadist ala Taliban. Berikut ini beberapa kutipannya.

“AS menghabiskan milyaran dolar untuk menyuplai sekolah-sekolah di Afghanistan dengan buku-buku teks berisi gambar-gambar kekerasan dan ajaran Islam militan… Buku-buku utama yang diisi dengan diskusi tentang jihad dan gambar-gambar pistol, peluru, tentara, dan granat, telah masuk ke dalam kurikulum utama sekolah Afghanistan. Bahkan Taliban menggunakan buku-buku yang diproduksi AS.” (Washington Post, 23 March 2002)

“Iklan-iklan, dibayar dengan dana CIA, dipasang di koran-koran dan newsletters di seluruh dunia, menawarkan bujukan dan motivasi untuk bergabung dengan Jihad [Islami].” (Pervez Hoodbhoy, Peace Research, 1 May 2005)

“Bin Laden merekrut 4000 sukarelawan dari negaranya sendiri dan membangun hubungan yang dekat dengan pemimpin mujahidin yang paling radikal. Dia juga berhubungan dekat dengan CIA, … (Tapi) sejak September 11, [2001] pejabat CIA mengklaim bahwa mereka tidak memiliki hubungan langsung dengan Bin Laden.” (Phil Gasper, International Socialist Review, November-December 2001)

Berikut ini beberapa fakta penting terkait Bin Laden dan pendidikan jihad oleh AS, yang diungkapkan oleh Prof. Chossudovsky:

-Osama bin Laden, direkrut oleh CIA tahun 1979, yaitu pada masa paling awal ketika dimulainya ‘program pendidikan jihad’ oleh AS. Saat itu dia berusia 22 tahun dan dilatih di sebuah kamp gerilyawan yang disponsori CIA.

-Presiden Ronald Reagan bertemu dengan pimpinan Mujahidin di Gedung Putih tahun 1985. Pada era Reagan pula dimulai operasi rahasia untuk mendukung berkembangnya “fundamentalisme Islam”. Pelaku operasi ini pula yang berperan kunci saat peluncuran “Perang Melawan Terorisme Global” segera setelah Peristiwa 9/11. Kebijakan luar negeri era Reagan adalah mendukung “Islamic freedom fighters” (antara lain, AS mendukung Taliban -konon-untuk membebaskan Afghanistan dari penjajahan Soviet). Kini, mereka yang disebut “Islamic freedom fighters” itulah yang dilabeli sebagai “Islamic terrorists”.

Pertemuan Reagan-Mujahidin di Gedung Putih

sumber: http://www.globalresearch.ca

-Dalam usaha pendidikan jihad ala AS ini, AS bekerjasama dengan misi Wahabi dari Arab Saudi. Taliban berarti “pelajar”; yaitu pelajar di madrasah-madrasah yang didirikan oleh Wahabi dengan dukungan CIA. Sistem pendidikan di Afghanistan sebelum penjajahan Soviet adalah pendidikan sekuler. Namun, sejak dimulainya operasi rahasia CIA dalam pengembangan fundamentalisme Islam, jumlah madrasah bertambah pesat. Pada tahun 1980, jumlah madrasah hanya 2.500, hingga kini meningkat jadi lebih dari 39.000.

– ISI (agen rahasia Pakistan) juga terlibat dalam operasi CIA ini dengan cara merekrut dan mentraining Mujahidin. Dalam era 1982 hingga 1992, terhitung 35.000 muslim dari 43 negara-negara muslim di seluruh dunia direkrut ISI untuk berjihad di Afghan. Di Pakistan juga didirikan madrasah-madrasah yang didanai Arab Saudi dengan dukungan AS, untuk “inculcating Islamic values” (menanamkan nilai-nilai Islam).

Pertanyaannya, Islamic value yang mana?

Ketika akhirnya Taliban berkuasa, dunia disodori jenis pemerintahan Islam yang mengerikan: perempuan diwajibkan mengenakan burqa, dilarang sekolah dan bekerja, perempuan lebih baik mati daripada ditangani oleh dokter laki-laki, kekayaaan arkeologi Afghan, yaitu patung Budha Bamiyan, dihancurkan, dll. Ketakutan menyebar ke seluruh dunia. Islam identik dengan kekerasan, penindasan, fanatisme buta, brutalitas, anti-toleransi.

Puncaknya adalah ketika teror 911 terjadi. Tanpa penyelidikan lebih dahulu, Bush langsung menuduh Bin Laden sebagai pelakunya, meskipun sejumlah pertanyaan penting masih belum terjawab: bagaimana sebuah kelompok ‘primitif’ dari gurun Afghanistan bisa merancang sebuah aksi teror supercanggih? Bagaimana pesawat-pesawat itu bisa lolos dari radar dan sistem pengamanan udara supercanggih AS sehingga bisa membelokkan jalur penerbangan dan menabrak WTC? Bagaimana mungkin ‘hanya’ satu pesawat bisa merontokkan sebuah gedung sangat tinggi dan sangat perkasa seperti WTC? Tidak pernah ada jawaban resmi dari AS. Jawaban yang diulang-ulang hanyalah: Al Qaeda-Taliban-Bin Laden adalah pelakunya. Jaringan ‘teroris Islam’ ada di seluruh dunia, karena itu perang melawan terorisme harus dilancarkan di seluruh dunia.

Propaganda tentang teroris Islam terus dilancarkan hingga hari ini. Baru-baru ini, ketika teror terjadi di Norwegia, dalam sekejap tudingan langsung ditujukan kepada “teroris Islam”. Tak ada kata maaf dari media-media massa Barat yang terlanjur menuduh itu, ketika akhirnya terbukti bukan orang muslim yang melakukannya.

Ironisnya, sebagian kaum muslimin pun termakan propaganda ini dan menentang keras (atau minimalnya sinis) pada segala sesuatu yang berbau pemerintahan Islam. AS pun dianggap sah-saja hadir di Afghanistan, Iran, Irak, Libya, dan di seluruh dunia Islam, untuk membebaskan masyarakatnya dari ‘ketertindasan’.

Note: tulisan saya ini pernah dimuat di IRIB

Iklan

8 Komentar

  1. nurul berkata:

    semakin carut marut saja dunia ini. aduh gimana kalau jaman anak saya nanti ya, betul2 harus ekstra disiplin ngajar agama dan moralnya biar kuat pondasi generasi mendatang

  2. ibnuyazid berkata:

    Kajiannya tidak dalam, tulisan ini sama saja dengan berita2 yang beredar di media masa dengan versi dan sisi yang berbeda. Semua hanya yang tampak dari luarnya, tidak ada jaminan kebenaran dari berita2 yang dijadikan referensi. Bisa jadi itu adalah 2 sisi pedang yang sama saja kalo diikuti kedua-duanya.
    So, kembali saja kepada Islam yang murni, ketika awalnya diturunkan dan diamalkan oleh generasi terbaik islam dulu. Mulai dari diri sendiri, keluarga, tetanggan dan masyarakat dan seterusnya.

    • denjaka syiah berkata:

      masalahnya seperti apakah islam yang murni itu? kenyataannya banyak pihak yang sama-sama mengklaim dirinya sebagai Islam yang murni, tapi antar mereka sendiri terjadi pertentangan.

      Untuk itulah kita tidak boleh merasa puas diri dengan apa yang ada pada diri kita. Kita harus terus belajar mengenal lingkungan, segala hal di luar diri kita maupun diri kita sendiri. Kemudian kita cari hubungan-hubungannya. Supaya kita dapat melangkahkan kaki kita pada kehidupan ini dengan tepat atau dengan kata lain takwa kepada Allah. Tawakal yang berarti percaya pada kasih sayang Allah. Sabar yang berarti optimis dan Ikhlas yang berarti kembali kepada fitrah suci manusia yang selalu dapat menyatukan diri dengan kehendak Allah.

      Makna tulisan ini tentu juga bertujuan informasi bagi diri kita sendiri dahulu. baru ditujukan kepada orang-orang terdekat yang kita merasa sayang kepadanya, Sebagai informasi dan suatu usaha untuk mengenali lingkungan di luar diri kita. kemudian mencocokkannya dengan keadaan batiniah di dalam diri kita. Keadaan batiniah manusia yang meliputi hal-hal sebagai berikut, yaitu; perasaan, pikiran ataupun kalau kita bisa mengapainya pengenalan kita pada hati nurani kita sendiri. Apabila situasi di luar diri kita tersebut tidak cocok dengan situasi di dalam batin kita. Misalnya suatu hal yang bertentangan dengan perasaan kita, suatu hal yang tidak rasional, atau suatu hal yang tidak sesuai dengan hati nurani kita, maka kita wajib menentangnya. .

  3. imam berkata:

    aku sih belum bisa menerima “apa adanya” pernyataan Prof. Michel Chossudovsky. karena alasan syar’i (musti konfirmasi berita yg datang dari kafir/fasik). Malahan “data-data” itu dihembuskan mungkin untuk memecah belah umat dan mendiskreditkan kaum mujahidin… wallahualam..

    • denjaka syiah berkata:

      tulisan ini juga dalam rangka minta konfirmasi kebenaran kasus WTC 9/11, kanyataannya banyak rakyat amerika sendiri yang meragukan kebenaran serangan 9/11 tersebut.
      Mereka mengklaim teroris radikal Islam-lah yang menyerbu mereka. Klaim ini juga datangnya dari orang-orang kafir mas (George Bush Jr dan konco-konconya) akibat klaim sepihak dari orang-orang kafir ini masyarakat sipil afghanistan tewas dijadikan alasan invasi mereka, korban baik korban tewas ataupun korban luka-luka dari invasi mereka mencapai ratusan ribu jiwa. banyak kaum muslimin yang dirugikan oleh klaim sepihak ini.

      kedua belah pihak yang pro teori konspirasi, secara umum adalah kalangan umum atau ilmuwan amerika maupun pihak yang kontra teori konspirasi WTC 9/11, secara umum pihak ini adalah kelompok pro pemerintah AS, kedua belah pihak sama-sama orang-orang kafir, maka kenapa kita memihak salah satu pihak saja, padahal kenyataannya keduanya sama-sama kafir, sedangkan salah satu pihak dalam kekafirannya telah melakukan tindakan serangan yang sangat merugikan kaum muslimin dengan korban jiwa dalam jumlah yang tidak sedikit, dan mereka punya motif dan kepentingan dalam serangan yang sangat merugikan kaum muslimin tersebut.

      kalau anda berkata bahwa anda harus minta konfirmasi berita yang datangnya dari kaum kafir/fasik, seharusnya yang lebih anda pertanyakan adalah klaim sepihak pihak kafir yang kontra teori konspirasi WTC 9/11, yaitu pemerintah AS. karena kenyataannya lebih banyak hal yang mencurigakan dari peristiwa WTC 9/11 tersebut, dan kenyataan yang diakibatkan oleh klaim mereka itu lebih merugikan bagi kaum muslimin daripada pendapat pihak-pihak yang pro teori konspirasi WTC 9/11.

  4. joko triyono berkata:

    itulah pembelajaran bagi kita semua,janganlah kita mau di adu dombo oleh zionis

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: