Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Soft Power, Sumber Kekuatan Iran

Soft Power, Sumber Kekuatan Iran

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Dina Y. Sulaeman*

Dalam studi Hubungan Internasional, power, atau kekuatan negara-negara biasanya didefinisikan dalam dua kategori, hard power dan soft power. Hard power secara singkat bisa dimaknai sebagai kekuatan material, semisal senjata, jumlah pasukan, dan uang yang dimiliki sebuah negara. Umumnya pemikir Barat (atau pemikir Timur yang westernized) lebih memfokuskan pembahasan pada  hitung-hitungan hard power ini. Contohnya saja, seberapa mungkin Indonesia bisa menang melawan Malaysia jika terjadi perang? Yang dikedepankan biasanya adalah kalkulasi seberapa banyak senjata, kapal perang, kapal selam, dan jumlah pasukan yang dimiliki kedua negara.

Begitu juga, di saat AS dan Israel berkali-kali melontarkan ancaman serangan kepada Iran, yang banyak dihitung oleh analis Barat adalah berapa banyak pasukan AS yang kini sudah dipindahkan ke pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan sekitar Teluk Persia; seberapa banyak rudal yang dimililiki Iran, seberapa jauh jarak jelajahnya, dst.

Bila memakai kalkulasi hard power, harus diakui bahwa sebenarnya kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi Negara lain). Iran hanya menganggarkan 1,8% dari pendapatan kotor nasional (GDP)-nya untuk militer (atau sebesar 7 M dollar). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, yaitu 4,7% dari GDP atau sebesar  687 M dollar. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai penjuru dunia yang mengepung Iran. Bisa diperhatikan di gambar ini. Daerah berwarna ungu adalah kawasan di mana ada pangkalan militer AS.

Tapi, dalam kasus Iran, memperhatikan kalkulasi hard power saja tidak cukup. Sebabnya adalah karena kunci kekuatan Iran justru di soft power-nya. Dan ini sepertinya diabaikan  oleh banyak analis Barat, mungkin sengaja, atau mungkin juga ketidaktahuan. Dalam papernya di The Iranian Journal of International Affairs, Manouchehr Mohammadi (Professor Hubungan Internasional dari Tehran University) menyebutkan bahwa kemampuan Republik Islam Iran untuk bertahan hingga hari ini adalah bergantung pada faktor-faktor yang sangat langka ditemukan dalam masyarakat Barat yang materialistis, yaitu faktor-faktor spiritual. Tentu saja, faktor hard power tetap diperhatikan oleh Republik Islam Iran, namun basisnya adalah soft power.

Apa itu soft power? Secara ringkas bisa dikatakan bahwa subtansi soft power adalah sikap persuasif dan kemampuan meyakinkan pihak lain; sementara hard power menggunakan kekerasan dan pemaksaan dalam upayanya menundukkan pihak lawan. Karena itulah, menurut Mohammadi, dalam soft power, mentalitas menjadi kekuatan utama dan investasi terbesar yang dibangun Iran adalah membangun mental ini, bukan membangun kekuatan militer. Pemerintah Iran berusaha untuk menumbuhkan nilai-nilai bersama, antara lain nilai tentang kesediaan untuk berkorban dan bekerja sama dalam mencapai kepentingan nasional.

Mohammadi mengidentifikasi ada 10 sumber kekuatan soft power Iran,tiga diantaranya adalah sebagai berikut.

  • 1.      Rahmat Tuhan.
  • Faktor Tuhan memang jarang disebut-sebut dalam analisis politik. Tapi, kenyataannya, memang inilah yang diyakini oleh rakyat Iran, dan inilah sumber kekuatan mereka. Menurut Mohammadi, bangsa Iran percaya bahwa orang yang berjuang melawan penentang Tuhan, pastilah dibantu oleh Tuhan. Dengan kalimat yang indah, Mohammadi mendefinisikan keyakinan ini sebagai berikut, “Kenyataannya, mereka [yang berjuang di jalan Allah] bagaikan tetesan air yang bergabung dengan lautan luas, lalu menghilang dan menyatu dalam lautan, kemudian menjelma menjadi kekuatan yang tak terbatas.”

    Keyakinan ini semakin kuat setelah bangsa Iran pasca Revolusi terbukti berkali-kali meraih kemenangan dalam melawan berbagai serangan dari pihak musuh, mulai dari invasi Irak (yang didukung penuh oleh AS, Eropa, Arab, dan Soviet), hingga berbagai aksi terorisme (pengeboman pusat-pusat ziarah, pemerintahan, dan aparat negara). Salah satu kejadian yang dicatat dalam sejarah Iran adalah kegagalan operasi rahasia Angkatan Udara AS untuk memasuki Teheran. Pada tahun 1980, Presiden AS Jimmy Carter mengirimkan delapan helicopter dalam Operasi Eagle Claw. Misinya adalah menyelamatkan 52 warga AS yang disandera para mahasiswa Iran di Teheran. Operasi itu gagal ‘hanya’ karena angin topan menyerbu kawasan Tabas, gurun tempat helikopter itu ‘bersembunyi’ sebelum meluncur ke Teheran. Angin topan dan pasir membuat helikopter itu saling bertabrakan dan rusak parah. Mengomentari kejadian ini, Imam Khomeini mengatakan, “Pasir dan angin adalah ‘pasukan’ Allah dalam operasi ini.”

     

  • 2.      Kepemimpinan dan Otoritas
  • Peran kepemimpinan dan komando adalah faktor yang sangat penting dalam situasi konflik, baik itu militer, politik, atau budaya. Pemimpin-lah yang menjadi penunjuk arah dalam setiap gerakan perjuangan. Dialah yang menyusun rencana dan strategi untuk berhadapan dengan musuh. Menurut Mohammadi, hubungan yang erat dan solid antara pemimpin dengan rakyatnya adalah sumber power yang sangat penting. Di Iran, karena yang menjadi pemimpin adalah ulama yang memiliki kredibilitas tinggi, kepatuhan kepada pemimpin bahkan dianggap sebagai sebuah gerakan relijius, dan inilah yang menjadi sumber utama kekuatan soft power Iran. Dalam kalimat Mohammadi, “[it] is a source of power per se, that assures the friends and frightens the foes.”

     

    3.  Mengubah Ancaman Menjadi Kesempatan

    Revolusi Islam Iran telah menggulingkan Shah Pahlevi yang didukung penuh oleh Barat. Pra-revolusi Islam, Barat sangat mendominasi Iran, baik dari sisi ekonomi, politik, maupun budaya. Kepentingan Barat di Iran terancam oleh naiknya seorang ulama yang menyuarakan independensi dan sikap anti kapitalisme-liberalisme, yaitu Imam Khomeini. Karena itulah, Barat dengan berbagai cara berusaha menggulingkan pemerintahan Islam, antara lain dengan memback-up Saddam Husein untuk memerangi Iran. Saddam yang sesumbar bisa menduduki Teheran hanya dalam sepekan, ternyata setelah berperang selama 8 tahun tetap tidak mampu mengalahkan Iran. AS dan Eropa kemudian menerapkan berbagai sanksi dan embargo; berusaha meminggirkan Iran dalam pergaulan internasional, mempropagandakan citra buruk terhadap pemerintahan Islam, dll.

    Karena didasari oleh dua faktor sebelumnya (keyakinan pada rahmat Tuhan dan faktor kepemimpinan relijius), bangsa Iran mampu bertahan hidup dalam situasi yang sulit dan berjuang untuk mengubah tekanan dan ancaman ini menjadi kesempatan untuk maju dan berdikari. Contoh mutakhirnya adalah, ketika akhir-akhir ini semakin marak pembunuhan terhadap pakar nuklir Iran yang didalangi oleh agen-agen rahasia asing; jumlah pendaftar kuliah di jurusan teknik nuklir justru semakin meningkat. Inilah jenis mental yang berhasil dibangun oleh pemerintah Iran selama 34 tahun terakhir:  semakin ditekan, semakin kuat semangat perjuangan mereka.

    Dalam pidato terbarunya di Teheran, pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei, menyinggung masalah ini. Beliau mengatakan, “Ketika kita diembargo, kemampuan kita justru semakin meningkat, potensi kita justru semakin terasah, kita tumbuh dari dalam. Jika kita tidak diembargo senjata, hari ini kita tidak akan mencapai kemajuan yang mengagumkan. Jika kita tidak diembargo dalam pengembangan nuklir –padahal reaktor nuklir Bushehr itu mereka [Barat] yang membangunnya—hari ini kita tidak memiliki kemampuan dalam pengayaan uranium,. Jika mereka tidak menutup pintu-pintu ilmu dari kita, hari ini kita tidak akan mampu menciptakan stem cell, menguasai ilmu antariksa dan mengirim satelit ke angkasa luar. Karena itu, semakin mereka mengembargo kita, semakin besar kita mampu menggali kemampuan dan potensi kita sendiri. Dan semakin hari, potensi kita itu akan semaki mekar berkembang. Karena itulah, embargo sesungguhnya bermanfaat bagi kita.”

    Belajar dari Iran, kita perlu mengajukan pertanyaan, bagaimana dengan Indonesia hari ini? Faktor kepemimpinan yang lemah dan lebih mendahulukan membeli pesawat produk luar negeri jelas faktor yang sangat melemahkan soft power Indonesia. Namun sebagai bangsa, kita masih memiliki kekuatan untuk membangun dari dalam, dimulai dari diri sendiri, yaitu membangun kekuatan dan keyakinan spiritual; membangun etos perjuangan berbasis relijiusitas.

    *penulis adalah alumnus magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran

    (pernah dimuat di web IRIB)

    Iklan

    29 Komentar

    1. […] Konflik Suriah dan …Menhan Jerman : “Israel tidak akan menang jika berperang dengan …Soft Power, Sumber Kekuatan Iran | Kajian Timur TengahAmerika Serikat Bangun “Kuda Troya” di Indonesia | Republik …AIPAC Ancam Obama: Hancurkan […]

    2. nurkholis mengatakan:

      artikel bagus sesuai dengan analisa saya selama ini dan bukti kebenaran firaman Allah ” berapa banyak golongan kecil mengalahakan golongan yang lebih banyak ?” saya minta izin copas….

    3. ilham4handika mengatakan:

      bisakah ibu menjelaskan org2 imigran gelap yg meninggalkan iran dibawah tekanan pemerintah??

      • dinasulaeman mengatakan:

        penjelasan sudah ada di komen sblmnya.. intinya, selama hidup di dunia, mana ada yg masyarakat yg 100% setuju dg sesuatu.. pastilah ada pro-kontra.. Kita ga bisa berharap rakyat Iran 100% Islami dan patuh pada konsep Wilayatul Faqih. Sangat wajar kalau ada yg ga setuju dan ingin hidup di Barat, lalu tertipu iming2 makelar yg ga bertanggung jawab, dan akhirnya terdampar di sana-sini.

    4. barry osama mengatakan:

      Berapa banyak pengungsi dari Iran yang rela bersusah payah, bahkan mati, demi meninggalkan Iran ?
      Bayangkan, dari Iran ke Indonesia itu jauh lho, itu menunjukan betapa tak tertahankan frustasi mereka terhadap negaranya.
      Indonesia yang semrawut kayak gini aja, gak sampe segitunya deh.
      Itukah ‘kehebatan’ Iran yang tdk dimiliki negara barat ?

      • dinasulaeman mengatakan:

        Ya kalau analisis saya dangkal, kasih argumen balik yg ilmiah dong.. kalau cuma ngritik kayak gini sih gampang.. yg kayak gini nih yg ga perlu sekolah… 😛

        Indonesia ga sampai segitunya? Wow.. lupa ya, ada berapa juta perempuan Indonesia yg diekspor utk jadi pembantu? Lupa ya, devisi terbesar Indonesia skrg ini didapat dari jual TKI/TKW? Mau tau jumlahnya berapa? 6 juta nak! Berapa banyak pengungsi Iran? Coba sebut angkanya? Sampai 6 juta? Anda kan cuma baca berita yg heboh berulang2 di media soal tertangkapnya imigran asal Iran.

        Bahwa di Iran ada org2 yg ga puas dan tergiur hidup mewah di negara Barat (dan bisa hidup bebas melanggar hukum2 Islam), ya wajar2 saja.. apa ada di dunia ini satu negara yg isi kepala orang2nya sama semua?

        • barry osama mengatakan:

          Membandingkan imigran Iran dengan TKI/TKW jelas ibaratnya membandingkan apel dengan jeruk.
          Gak nyambung logikanya ….
          Heran deh ada magister logikanya cuma segini …..dulu test GMAT/TPA anda berapa sih ??

      • Dadang mengatakan:

        BARRY OSAMA itu pasti penyembah manusia berkolor

        • ahotasanja mengatakan:

          betul itu bary osama itu orang paling guoooblokk melihat masalah hanya diliat dari permukaannya saja tidak melihat kedalamnya

    5. ahmad mengatakan:

      Barry Osama: ente udahlah pake nama samaran (pengecut), cuma bisa jawab argumen dgn mengejek gelar master penulis..jawab lagi yg logis dong!
      kan ente sendiri yg ngomong ‘indonesia aja ga segitunya’
      jawaban penulis: di indonesia juga org banyak yg ke luarnegeri demi cari kerja, apa bedanya dg org iran yg banyak cari kerja ke luar negeri, tapi karena ketipu akhirnya terdampar di indonesia. ga paham?

      • dinasulaeman mengatakan:

        Thanks Ahmad. Saya udah biasa kok dapat komen dari org2 kayak si Osama ini, mrk muncul dg berbagai nama palsu dan memberi komen yg merendahkan, tanpa argumen valid dan sama sekali tdk intelek. Mrk kira saya bakal patah hati dan berenti nulis krn dibombardir komen begini kali ya..:p

    6. Zhang Zan Feng mengatakan:

      Barry Osama kayaknya Wahabi Ekstrem pengagum Osama Bin Laden he..he..he.. aya aya wae 🙂

    7. M hidayat mengatakan:

      ditengah gempuran informasi media mainstream sehingga tidak dipermasalahkannya kehancuran irak oleh serangan yg dilandaskan pada alasan yg ternyata kebohongan, yg terjadi dipalestina ?, dll. Tulisan mba dina menjadi cakrawala baru melihat permasalahan dunia. Dukung mba dina untuk terus menulis !!!!

    8. Endar Prasetio mengatakan:

      Wah, salut dengan Iran yang bisa bertahan dalam tekanan dari pihak eksternal pada Negaranya.

    9. Haqi mengatakan:

      @barry osama : orang yg gemar merendahkan orang lain mencerminkan kerendahan akhlaknya

      • khairul mengatakan:

        katanya osama dah tewas tp kok bs coment ya, ya gitulah kalo myat yg bicara..ulasan bgs gini malah ditanggapi yg tdk2 dsr ngawur

    10. andy mengatakan:

      BARRY OSAMA, gue baru tau orang sebodoh ente, ndak nyambung

    11. nofitanuning mengatakan:

      setuju banget, saya dari dulu memang kagum dngan iran,semoga indonesia bisa mencontoh iran

    12. Ismawi mengatakan:

      Sebuah kupasan yang bagus..sangat antusias membacanya..tapi bu saya sangat teruja jika ibu menulis artikel tentang kekuatan sunnah atau ikwanul muslimin…..terima kasih banyak ya bu.

    13. Sofan Yusdiananto mengatakan:

      Ulasan yang tajam, logis, seimbang. Keep writing my sister!
      Btw, barry osama kmana ya? 🙂

    14. fajar mengatakan:

      sungguh sebuah musibah bahwa Indonesia punya warga bernama “BARRY OSAMA”

      • SOBOAN mengatakan:

        Maaf, gaya bicara si BARRY itu bukan ciri khas orang INDO kebanyakan dari negara tetangga yang terbiasa mengatakan orang lain bodoh tapi argumennya tidak valid. Jika anda masuk dalam diskusi internasional bisa anda lihat komen seperti itu sudah biasa. Sebaiknya acuhkan saja…

    15. sseveneleven mengatakan:

      Terima kasihmbak, analisisnya menambah pengetahuan..

    16. […] Kalau mau bicara soal perjuangan Islam, perlu dilihat juga bahwa Iran adalah negara dgn sistem wilayatul faqih (dipimpin ulama, dan Islam dijadikan landasan UU). Saya menggunakan analisis strategi militer krn saya bukan ahli agama/teologis. Tapi di artikel ini sy tulis soal soft power, anda bisa baca lebih jelas bagaimana peran soft power di Iran, di artikel ini: https://dinasulaeman.wordpress.com/2012/02/15/soft-power-sumber-kekuatan-iran/ […]

    17. Mahmud mengatakan:

      Muantappppppp…..

    18. tikwanrayasiregar mengatakan:

      Seperti saran Ibu Dina, saya telah membaca artikel ini. Dan sebagaimana artikel Ibu yang lain, artikel ini pun sangat menarik karena memiliki perspektif yang kuat, terutama ketika melihat Iran sebagai sebuah unit kekuatan nasional yang unik di kawasan Timur Tengah. Sumber kekuatan mereka pun dijelaskan berasal dari satu keyakinan terhadap kekuatan Hakiki, dan karena itu dapat pula dihubungkan sebagai suatu model kekuatan Islam.

      Saya menjadi semakin tertarik berkunjung ke Iran. Kalau tak mengganggu Ibu, pertanyaan saya selanjutnya adalah, bagaimana pihak penentang di Iran melihat nilai-nilai yang terkandung dalam kekuatan nasional itu? Apakah konflik internal mereka disebabkan perbedaan paham ataukah sekadar kontestasi politik? Paham-paham apakah yang paling utama bekerja di Iran? Faksi-faksi apa yang terbentuk, dan apa akar pembentukannya? Terimakasih ya Bu. Salam.

      • dinasulaeman mengatakan:

        Konflik internal biasanya ada pada wilayah implementasi kebijakan, misal, Ahmadinejad saat ini banyak dikritik soal strateginya melawan inflasi. Tapi kalau sudah urusan tingkat tinggi, rasa nasionalisme sangat dominan (misal: ancaman serangan AS, urusan teknologi nuklir, dll); artinya, kalau pihak luar sudah berani mngutak-atik masalah2 ini, biasanya mrk malah bersatu. Karena itulah oposan yg menggunakan jargon2 Barat (atau ketahuan didukung Barat, macam Mousavi dalam pemilu 2008) malah tidak disukai. Tapi kalau saling mengkritik utk urusan internal di antara mereka sendiri, ya cukup tajam (dilihat dari berita2 di koran). Apalagi Iran itu, meski capaian politik intl dan kemajuan teknologinya pesat, sbnrnya situasinya juga masih khas negara berkembang, kelambanan dan kekacauan birokrasi ada di sana-sini. Jadi sangat wajar muncul saling kritik antarfaksi politik.
        Saya sendiri tidak terlalu mengamati masalah politik internal Iran, maaf, lebih minat pada aksi2nya dalam hubungan internasional.

    19. tikwan mengatakan:

      Wah, terimakasih Bu. Kalau memang kritik muncul untuk level kebijakan, tentu sifatnya konstruktif ya. Tapi saya sangat terkejut dengan pertentangan mereka mengenai strategi melawan inflasi. Secara sepintas saya langsung menangkap bahwa masalah ini pastilah menjadi suatu agenda serius di sana. Mudah-mudahan Iran akan segera menemukan jawabannya dalam Islam, bahwa inflasi hanya bisa ditundukkan apabila mereka segera meninggalkan sistem uang kertas dan kembali ke dinar (emas) dan dirham (perak). Apalagi terbukti baru-baru ini, emas telah menyelamatkan mereka dari embargo ekonomi yang dipimpin AS. Dengan emas, mereka tetap bisa menjual minyak dan komoditas mereka ke negara lain tanpa mengharapkan bayaran dollar AS. Dan mereka pun bisa membelanjakan emasnya ke semua negara untuk memenuhi kebutuhannya. Sebab, siapa sih yang tidak kepincut sama emas? Sayangnya negara kita masih tertidur pulas dengan membiarkan emas kita dikeruk tambang-tambang asing atas nama peningkatan investasi. Salam untuk Ibu dan ditunggu tulisan-tulisan selanjutnya.

    Komentar ditutup.

    Arsip 2007 ~ Sekarang

    %d blogger menyukai ini: