Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Iran Adalah Aktor Rasional, Bagaimana Dengan AS?

Iran Adalah Aktor Rasional, Bagaimana Dengan AS?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

©Dina Y. Sulaeman

Pemberitaan yang dirilis PressTV dan IRIB Indonesia baru-baru terkait pernyataan komandan staff gabungan militer AS, Gen. Dempsey sangat menarik. Dalam wawancaranya dengan CNN, Dempsey menyebut Iran sebagai ‘aktor rasional’. Saya sulit menilai bahwa ini sebuah pujian, sehingga saya mencari transkrip asli wawancaranya. Ternyata, Dempsey menyebut kerasionalan Iran itu terkait dengan sanksi embargo bertubi-tubi yang tengah diarahkan kepada Iran. Dempsey yakin bahwa karena rasionalitas itu, lambat-laun Iran akan tunduk pada kemauan Barat.

Saya pun membuka-buka kembali text-book Foreign Policy Analysis yang sudah pasti memuat bahasan soal ‘aktor rasional’. Dalam kajian Hubungan Internasional, pelaku aktivitas politik internasional itu diistilahkan dengan ‘aktor’. Aktor ini bisa berupa negara, perusahaan, LSM, atau bahkan individu. Dalam analisis Kebijakan Luar Negeri (selanjutnya saya singkat KLN), sebuah negara (yang diistilahkan dengan ‘aktor’) diharapkan bertindak rasional sehingga menguntungkan kepentingan nasionalnya. Dalam kasus Iran, ketika sudah ‘habis-habisan’ diembargo—menurut perspektif AS—tindakan rasional yang dilakukan Iran seharusnya adalah tunduk kepada AS. Tentu saja, bagi Iran, tunduk kepada AS jelas bukan KLN yang rasional. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sudah menjelaskan bahwa kekuatan soft power Iran justru sangat tangguh dan ketundukan pada AS sangat kontradiktif dengan soft power yang dimiliki Iran.

Dengan demikian pertanyaannya sekarang, rasionalitas itu dari sisi mana? Dari perspektif siapa? Bila sebuah negara menolak solusi yang dipaksakan oleh negara lain, apakah bisa disebut tidak rasional? Sayangnya, sebagaimana diakui oleh Janice Gross Stein (2008), tidak ada konsep yang memuaskan tentang rasionalitas KLN. Stein hanya bisa menjelaskan konsep-konsep dasar soal rasionalitas ini, yaitu bahwa orang-orang yang memiliki posisi sebagai pengambil KLN haruslah mampu berpikir logis, terbuka, sekaligus selektif, terhadap data-data, serta mampu bersikap koheren dan konsisten terhadap argumen-argumen logis.

Di sisi ini, pernyataan Dempsey soal rasionalitas jelas menggelikan. Siapakah pihak yang tidak logis dalam berpikir? Bukankah Bush dan kemudian Obama, yang terbukti menerima mentah-mentah data-data yang salah soal nuklir Iran; menuduh Iran tengah berupaya membuat senjata nuklir; lalu mengambil KLN yang membahayakan perekonomian dunia? Bukankah para presiden AS yang menerima mentah-mentah data-data palsu intellijen soal terorisme, lalu menyerang Irak, Afghanistan, Pakistan, atau Yaman, yang dituduh melindungi teroris?

Dalam kajian HI, sayangnya, standar rasionalitas tidak dijelaskan secara gamblang. Bila semua pihak menggunakan rasionalitas dari kacamatanya masing-masing, sudah tentu akan timbul konflik. Dan, justru banyak pemikir HI di Barat (dan diadopsi oleh penstudi HI di berbagai penjuru dunia) yang melanggengkan paradigma konflik ini. Menurut mereka, karena masing-masing negara akan bersikap rasional dan memperjuangkan kepentingan nasional masing-masing, situasi konflik (diistilahkan dengan ‘anarkhi’) memang akan terus-menerus terjadi. Mereka pun menyarankan agar masing-masing negara memperkuat militer nya dan bersiap siaga, karena setiap saat negara lain mungkin menyerang.

Sekilas, logika ‘anarkhi’ ini terlihat benar. Namun bila kita menelisik lebih lanjut, apakah benar ini berlandaskan rasionalitas? Mari kita lihat kasus perang Afghanistan. AS menyerang Afghanistan dengan alasan mengamankan kepentingan nasionalnya yang terancam oleh Al Qaida. Dari sisi ini, seolah-olah AS bertindak ‘rasional’. Padahal, tidakkah ini hanya sekedar strategi untuk bertahan hidup dan justifikasi untuk menundukkan negara lain atas nama kepentingan nasional?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rasional artinya ‘cocok dengan akal’. Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi rasionalitas dan akal. Banyak sekali ayat yang memerintahkan manusia agar berpikir. Bila melihat kepada konsep Islam, kita akan menemukan kejanggalan pada konsep rasionalitas yang dikembangkan oleh ilmuwan HI Barat itu. Konsep rasionalitas yang dikembangkan pemikir HI Barat berlandaskan pada keyakinan bahwa manusia adalah animus dominandi atau hewan yang haus kekuasaan dan egois. Karena itulah, sebuah negara menyerang negara lain demi ‘menyelamatkan kepentingan nasional’ dianggap rasional.

Sebaliknya, Islam percaya bahwa manusia itu diciptakan dalam berbagai ras dan suku untuk saling berinteraksi berdasarkan kesamaan kebenaran yang disepakati bersama (lita’aarafuu). Sehingga, pola hubungan internasional dalam pandangan Islam adalah pola hubungan yang berlandaskan akal sehat. Inilah yang kemudian diterjemahkan Iran dalam interaksinya dengan negara-negara Barat. Pemimpin Iran selalu menggunakan logika yang sangat kuat dan sulit dibantah saat mengkritik perilaku AS dan sekutunya.

Misalnya, dalam pidatonya di PBB tahun 2011, Ahmadinejad mengatakan:

“Sudah bukan zamannya lagi sebagian negara menjadikan dirinya sebagai definisi ‎demokrasi dan kebebasan, sekaligus mengangkat diri sebagai hakim dan eksekutornya. Sementara pada saat yang sama ‎mereka juga memerangi negara lain yang [dibangun] berlandaskan demokrasi hakiki.”‎
“Kini, [sekelompok negara] tidak boleh lagi melakukan pendudukan militer terhadap satu negara dengan slogan ‎melawan terorisme dan narkotika, sementara produksi narkotika menjadi berkali lipat, ‎wilayah terorisme menjadi lebih luas, ribuan orang tak berdosa tewas, cidera dan mengungsi, ‎infrastruktur hancur dan keamanan regional terancam. Lucunya, para pelaku utama tragedi ‎kemanusiaan ini malah terus menuduh pihak lain sebagai pihak yang harus bertanggung ‎jawab.‎”
“Kini, [sekelompok negara] tidak boleh lagi meneriakkan slogan persahabatan dan solidaritas kepada bangsa-bangsa ‎dan bersamaan dengan itu mereka memperluas pangkalan-pangkalan militer di dunia, ‎termasuk Amerika Latin.‎”
Pidato Ahmadinejad jelas meruntuhkan bangunan rasionalitas ala AS: bagaimana mungkin AS meneriakkan demokrasi dan perdamaian jika pada saat yang sama justru AS-lah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia dan menebarkan perang di berbagai negeri? KLN Iran pun dibangun atas rasionalitas semacam ini: bagaimana mungkin sebuah negara yang mengaku berlandaskan Islam mau tunduk patuh pada negara yang menebarkan kejahatan di muka bumi? Justru tidak rasional buat Iran bila menyerah kepada AS.

Rasionalitas yang benar haruslah dibangun di atas landasan akal. Nilai-nilai keadilan, sikap mulia, tidak saling merugikan, adalah nilai-nilai universal yang diterima oleh semua umat manusia yang berakal sehat. Namun, sayangnya segelintir negara –dikomandani AS—terus-menerus memaksakan nilai-nilai kejahatan yang dibungkus ‘rasionalitas’, dan menuduh pihak lain yang sedang benar-benar berusaha rasional dalam membangun perdamaian dunia sebagai pihak yang salah dan harus diperangi.


14 Komentar

  1. rahadin mengatakan:

    assalamu’alaikum..saya sangat tertarik dengan artikel dan buku2 ibu mengenai kajian timteng khususnya iran..ibu saya mau nanya.untuk menjawab pertanyaan kecamasan AS atas program nuklir iran.itu tepatnya menggunakan teori/konsep seperti apa ?..trims

    • dinasulaeman mengatakan:

      kalau anda baca2 analsisi dari org AS sendiri..sebenarnya mrk juga mengakui kok Iran tidak membuat senjata nuklir..yg mereka khawatirkan adalah kemandirian energi dan meningkatnya power Iran di kawasan..bisa baca artikel2 saya sebelumnya. Kalau mau lihat dari perspektif AS, mungkin bisa aja pakai konsep rasionalitas.. Karena rasionalitas Barat didasarkan pada materialisme, maka hitung2nnya selalu uang..mrk ingin yang sebanyak2nya, kalau perlu dengan menjajah negara lain.

      • barry osama mengatakan:

        Sudah jelas khan bahwa barat selalu mendasarkan hitungannya pada uang. Trus kenapa orang muslim selalu mengkaitkannya dengan agama ?
        Orang barat itu gak perduli mau Buddha, Kristen, Islam ….gak ada satupun yang mereka benci. Yang mereka pikir cuma material. Jadi bukan masalah Islamofobia, tapi yang lebih dulu ada justru Kafirofobia dikalangan muslim sendiri. Muslim suka berprasangka negatif, lalu takut pada prasangka yang diciptakannya sendiri.
        Saya ingin tahu kritik anda terhadap kebobrokan muslim…..jangan cuma mengkritik barat saja.

      • rahadin mengatakan:

        terima kasih atas masukanya bu..semoga bisa menambah pengetahuan saya mengenai masalah dunia internasional..

  2. kebab999 mengatakan:

    Sorry kajiannya dangkal, berat sebelah, provokatif, dan kayak anak gak sekolahan ……upaya pembodohan massal ya ?

  3. Gonzales Flores mengatakan:

    Hanya orang-orang yang fanatik buta dan sangat anti Iran yang mengangga tulisan di atas sebagai upaya pembodohan massal. Terus berkarya Uni Dina. Sukses selalu tuk Anda.

  4. andy mengatakan:

    BARY OSAMA2, SAYA BARU TAU ORANG SEBODOH ANDA, kayak nya akal dan pikiran anda tdk bisa nyambung deh bila berbicara soal moral manusia, jangan2……

  5. Tdy mengatakan:

    @barry osama : Dina menyampaikan analisisnya dengan argumen dan bukti2 pendukung, dimana anak SD pun tahu siapa biang teror di dunia ini. Di satu sisi, AS sibuk meneriakkan slogan demokrasi bla bla bla. Sementara di sisi lain dia juga yang sibuk membuat kehancuran dan makar2 terhadap negara lain yang tidak sejalan dengan agenda mereka. Adalah sangat naif apabila mengatakan bahwa AS tidak sedang memerangi Islam. Anda tidak perlu menusuk jari anda untuk hanya sekedar mengetahui bagaimana rasanya ditusuk jarum. Begitu juga tidak perlunya keluar omongan dari sang paman bahwa mereka sedang memerangi islam, meski si Bush pernah kepleset ngomongin crusade. Anda bisa lihat bagaimana sang paman selalu mendukung sang ponakan si bintang david, termasuk menggunakan hak2 veto (hak veto sendiri sebenarnya adalah pengingkaran yang jelas tehadap nilai demokrasi) di PBB. Semua yang diucapkan di mulut diingkari dengan perbuatan oleh Uncle Sam ini.

    Muslim, dalam hal ini manusianya, tentu banyak kekurangannya. Namun, Islam tidak ada kekurangannya. Islam adalah agama yang sempurna.
    Tidak usahlah saya memaparkan, apa kebenaran2 Islam yang saya temukan dalam hidup saya, yang membuat saya semakin yakin dan mencintai agama ini. Minimal, kalau anda punya sense of observing yang baik, anda dengan mata telanjang akan melihat bahwasanya Demokrasi itu dibangun dengan pilar2 yang lemah sebagai pondasinya. Contohnya? Anda tidak perlu sekolah tinggi2 dan pintar2 amat untuk duduk di legislatif, atau jabatan prestisius lainnya. Cukup anda kumpulkan orang (bagaimana cara andalah melakukannya), lalu orang2 tadi memilih anda pada saat pemilu. Dan…jreeeeng….anda bisa jadi anggota Dewan dengan gaji puluhan juta sebulan, naik mobil mewah, bahkan bisa nambah istri dari kalanga n artis kalau anda mau dan mampu membiayainya.

    Semoga anda tecerahkan….

    Wassalam

  6. khoyyir mengatakan:

    Bagi saya perang agama tidak akan berakhir, hanya bagaimana kita menyikapinya, kita memang perlu berhati-hati dan waspada bukan merasa was-was, islam agama yg paling mmpunyai etika menurut saya, tidak akan ada selama ini negara muslim yang menyerang tanpa maksud melindungi diri dan sdkit prlawanan. Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa puas/ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran agama) mereka. QS. al-Baqarah [2]: 120.
    Tapi untuk bu ina saya rasa kurang jauh dalam sebuah evaluasi atau kajiannya untuk Iran, saya rasa jg kl iran membuat senjata nuklir pemusnah masal itu juga rekayasa, dan tidak akan membahayakan dunia, akan tetapi akan membahayakan negara2 arab sekitarnya karena iran trletak d tengah2 negara arab, apa jadinya sekarang kalau misalnya iran diserang akan tetapi qt diam saja, apalgi pemerintah qatar mengijinkan penyerangan pada negaranya untuk yahudi. bagaimana hubungan iran dan yahudi http://www.youtube.com/v/MU4fQklCm1g&hl=en

  7. shodiqin mengatakan:

    Barry Osama n Kebab999 : coba aja cek di media2 mainstream barat bila anda ingin tahu kritikan cadas (bahkan cenderung lebih seperti menghakimi) terhadap kebobrokan muslim.Justru menurut saya pribadi, publik juga memerlukan informasi dari sudut pandang yg lain agar terhindar dari fanatisme berlebih dari satu ajaran.
    Apakah anda punya sesuatu yg lain selain komentar yg “wow”?
    Ini kan hanya media tempat berbagi.Menurut saya respon anda terlalu berlebihan bila berbicara soal kenyataan.

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: