Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Irshad Manji, Sekali Lagi (Tanggapan Atas Buku “Allah, Liberty, and Love”)

Irshad Manji, Sekali Lagi (Tanggapan Atas Buku “Allah, Liberty, and Love”)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Secara tidak sengaja, saya membaca sebuah berita online yang isinya bantahan Irshad Manji. Menurutnya, bukunya ‘Allah, Liberty, and Love’ itu bukan tentang homoseksualitas. Saya jadi penasaran, dan akhirnya membaca sebagian isi buku itu. Sengaja saya cari bagian buku Manji yang membahas homoseksualitas. Saya menemukannya di bab 3 berjudul “Budaya Itu Tidak Sakral”. Berarti Manji berbohong ketika dia mengatakan bahwa bukunya bukan tentang homoseksualitas. Memang, tesis utama yang dia bangun adalah  kebebasan, jangan takut untuk melakukan apapun karena yang paling benar hanya Tuhan; dan tidak ada manusia yang boleh mengklaim diri sebagai yang paling benar.

Nah, di bab 3 itu, salah satu bentuk kebebasan yang dibela Manji adalah kebebasan untuk menjadi homoseks. Menurutnya, penentangan terhadap homoseksualitas adalah penentangan budaya, bukan agama. Manji menyebutnya, budaya tribal (primitif), dan dia menggunakan istilah ‘Islamo-tribalis’. Selain homoseksualitas, jilbab pun disebut Manji sebagai budaya primitif, bukan ajaran Islam. Karena budaya itu tidak sakral, maka, lawanlah, kata Manji.

Sebenarnya banyak hal yang bisa diajukan untuk membantah argumen-argumen Manji yang menurut saya sangat emosional, sekedar cletak-cletuk, protes sana-sini, dan menggeneralisir banyak hal. Saya akan bahas salah satu saja, terkait homoseksualitas.

Pada Bab 3 itu, Manji mengutip surat curhat seorang lesbi bernama Bushra yang merasa bersalah (dan mengira dirinya akan masuk neraka Jahanam), tersiksa oleh lingkungan, dan dipaksa menikah dengan laki-laki.

Manji, yang mengaku bukunya bukan tentang homoseks itu, menulis begini,

“Umat Muslim, siapa di antara kalian yang mau bergabung denganku untuk meyakinkan Bushra bahwa Sang Mahakuasa menciptakannya sesuai pilihan-Nya? Siapa yang mau menjelaskan kepadanya bahwa dengan melawan budaya penyelamatan muka, kita berkontribusi pada budaya penyelamatan iman? Mari lakukan itu dengan menolak kecenderungan tribal dan bersuara sebagai individual. Bersuaralah yang kencang. Jangan khawatirkan kemarahan dari otoritas agama. Protes kita adalah dengan budaya mereka, bukan Pencipta mereka.”

Lihat, Manji menyatakan bahwa lesbianisme adalah ‘ciptaan Allah’, penolakan terhadap lesbianisme adalah penolakan terhadap budaya primitif (tribal), dan ia menyerukan agar kaum muslim melawan itu semua. “Jangan pedulikan kata ulama!” seru Manji. “Kita ini sedang melawan budaya, bukan melawan Tuhan!”

Manji menulis, “Tidak sedikit Islamo-tribalis, kuduga, yang akan mencoba mengalihkan perhatianmu dengan berteriak tentang “Agenda gay-nya Manji” dan berkoar-koar bahwa Al-Quran secara jelas menyatakan homoseksualitas itu dosa. Jika aku boleh menawarkan pemikiran lebih jauh, lanjutkan mengutip surah 3:7.”

Oke, saya pun membuka Quran, QS 3:7, ternyata tentang ayat mutasyabihat dan muhkamat. Jadi, dalam Quran ada ayat yang bisa langsung dipahami artinya (muhkamat), ada ayat yang perlu penafsiran (tapi Manji menyebutnya ‘ambigu’).

Terjemahan QS 3:7 : Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Perhatikan kalimat yang digarisbawahi. Manji menggunakan kalimat itu sebagai landasan argumennya. Menurut Manji, kisah kaum Luth yang dimurkai Allah itu termasuk ayat mutasyabihat, sehingga bisa ditafsirkan dengan berbagai cara, tapi hanya Allah yang tahu mana penafsiran yang paling benar. Karena itu, sesama manusia tidak boleh menghakimi penafsiran orang lain.

Manji menafsirkan ayat-ayat tentang kaum nabi Luth sebagai berikut:

Cerita Sodom dan Gomorah—kisah Nabi Luth dalam Islam—tergolong tersirat (ambigu). Kau merasa yakin kalau surat ini mengenai homoseksual, tapi sebetulnya bisa saja mengangkat perkosaan pria “lurus” oleh pria “lurus” lainnya sebagai penggambaran atas kekuasaan dan kontrol. Tuhan menghukum kaum Nabi Luth karena memotong jalur perdagangan, menumpuk kekayaan, dan berlaku tidak hormat terhadap orang luar. Perkosaan antara pria bisa jadi merupakan dosa disengaja (the sin of choice) untuk menimbulkan ketakutan di kalangan pengembara. Aku tidak tahu apakah aku benar. Namun demikian, menurut Al-Quran, kau pun tidak bisa yakin apakah kau benar. Nah, kalau kau masih terobsesi untuk mengutuk homoseksual, bukankah kau justru yang mempunyai agenda gay? Dan sementara kau begitu, kau tidak menjawab pertanyaan awalku: “Ada apa dengan hatimu yang sesat?”

Perlu dicatat saya bukan ahli agama. Jadi, kalau Manji boleh pakai logikanya sendiri dalam memahami Quran, saya juga akan pakai logika. Begini, Manji menafsirkan kisah kaum Nabi Luth dengan sesuka hatinya, lalu berkata, “Aku tidak tahu  apakah aku benar. Namun demikian menurut Al Quran, setiap manusia memang tidak bisa mencapai kebenaran karena –berdasarkan QS 3:7—hanya Allah yang tahu mana yang paling benar.”

Jawaban saya begini:

  1. Kalau hanya Allah yang tahu mana yang paling benar, lalu apa gunanya Al Quran ya? Bukankah di ayat lain disebutkan bahwa Al Quran itu penjelas (bayyinah) dan petunjuk bagi manusia (hudal-linnas). Aneh sekali bila ada petunjuk, tapi nggak jelas, dan akhirnya kita disuruh mikir sendiri, dan sama sekali tidak ada kata akhir yang bisa diambil. Kita tidak bisa mencari jawaban dari pertanyaan, “Yang benar yang mana sih?”, karena yang tahu hanya Allah. Logis gak tuh?
  2. Saya membandingkan penerjemahan ayat 3:7 itu dalam bahasa Indonesia, dengan bahasa Persia (catat: ayat Quran-nya sama persis, tapi redaksi terjemahannya agak beda dikit, lihat kalimat yang digarisbawahi). Begini:

Terjemahan Indonesia: Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”.

Terjemahan Persia (dan saya terjemahkan ke Indonesia): Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka  (orang yang mendalam ilmunya) berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.”

Voila! Kebingungan saya di point no 1 jadi menemukan jawaban: yang mengetahui makna ayat-ayat mustasyabihaat itu adalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya, yaitu ULAMA. Jadi, kalau ada ayat yang mustasyabihat, merujuklah pada kitab-kitab tafsir yang sudah ditulis para ulama yang mumpuni. Itulah gunanya ada orang yang menuntut ilmu agama, ya kan? Lha apa gunanya para ulama itu capek-capek kuliah sampai ke Kairo, Madinah, atau Qom, tapi pulang-pulang, saat mereka ngasih ilmu ke kita, karena kita tidak setuju, kita bantah, “Cuma Allah yang tahu mana yang benar!”

Dan inilah fenomena yang banyak terjadi di sekitar kita, untuk urusan agama, semua merasa bebas bicara, bahkan berhak menafsirkan ayat Quran semaunya, tapi kalau untuk urusan lain, dikatakan, “Kita harus dengarkan pendapat pakar!”

Terakhir, masalah kemanusiaan yang banyak disebut-sebut para pembela Manji. Argumen yang mereka sebutkan antara lain:

  1. Setiap orang berhak untuk memiliki orientasi seksual masing-masing; karena itu tidak boleh ada penindasan terhadap orang dengan orientasi seksual yang berbeda!
  2. Kalaulah seseorang itu homoseksual, kenapa yang lain harus marah? Kalau sebagian memang menganggap itu haram menurut agama, ya nyatakan saja haram, biarkan Tuhan yang menghukumnya!

Dua kalimat di atas saya copas dari email seseorang bergelar doktor (!) tapi argumen serupa banyak diungkapkan oleh orang-orang di internet.

Jawaban saya, lagi-lagi saya pakai logika saja: jika benar seorang berhak menjadi homoseks, oke, tapi dia tidak berhak menularkannya kepada orang lain! Homoseksualitas itu bukan genetic (atau ‘ciptaan’ Tuhan), melainkan ‘ditularkan’ oleh lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Paul Cameron Ph.D (Family Research Institute) menemukan bahwa di antara penyebab munculnya dorongan untuk berperilaku homo, adalah pernah disodomi waktu kecil (dan parahnya, perilaku mensodomi anak kecil menjadi salah satu ‘budaya’ kaum homo), dan pengaruh lingkungan, yaitu sbb:

  1. Sub-kultur homoseksual yang tampak/terlihat dan diterima secara sosial, yang mengundang keingintahuan dan menumbuhkan rasa ingin mengeksplorasi (=ingin mencoba)
  2. Pendidikan yang pro-homoseksual (bayangkan bila di sekolah-sekolah kita –seandainya para pendukung homoseks berhasil menggolkan agenda politik mereka—ada kurikulum  tentang kesetaraan seksual, setiap orang berhak jadi apa saja, heteroseksual atau homoseksual; kurikulum seperti ini konon dicoba diterapkan di AS karena menteri pendidikan era Obama ini adalah tokoh pro-homoseksual).
  3. Toleransi sosial dan hukum terhadap perilaku homoseksual
  4. Adanya figur yang secara terbuka berperilaku homoseksual
  5. Penggambaran bahwa homoseksualitas dalah perilaku yang normal dan bisa diterima.

Penelitian Cameron juga menunjukkan bahwa kecenderungan homoseksualitas bisa disembuhkan, antara lain, melalui pendekatan diri kepada Tuhan.  Selain itu, dari sisi kesehatan, perilaku homoseksual juga berdampak sangat buruk bagi pelakunya. Lengkapnya bisa dibaca di sini: http://www.biblebelievers.com/Cameron3.html

Jadi, bisa disimpulkan bahwa Manji punya dua kesalahan: kesalahan individual (dan itu, oke, biarlah Allah yang menghukumnya, seperti argumen sang doktor di atas), dan kesalahan sosial. Saya sedang bicara masalah kesalahan sosial ini. Para penggiat homoseksual itu sedang berusaha menyebarkan dogma bahwa perilaku mereka baik-baik saja, sudah dari ‘sono’-nya, dan –kalau versi Manji—tidak dilarang Allah kok!

Untuk itu, saya sepakat sekali dengan jawaban Sultan HB X menanggapi pelarangan diskusi di UGM, “Kebebasan akademis boleh saja tapi apa artinya bila membahas sesuatu yang meresahkan masyarakat.”  Benar sekali. Saya, seorang ibu dengan dua anak, resah bila propaganda homoseksualitas semakin merajalela atas nama kebebasan akademis dan kebebasan bicara. Saya merasa perlu mencegah agar anak-anak saya tidak tumbuh dalam budaya yang pro-homo. Karena itu, saya mendukung pelarangan diskusi atas buku Manji, atau propaganda homoseksualitas dalam bentuk apapun, termasuk konser Lady Gaga!

*Dina Y. Sulaeman, alumnus magister Hubungan Internasional Unpad, penulis buku, ibu rumah tangga, pemilik blog http://www.dinasulaeman.wordpress.com, research associate Global Future Institute

 


===
Berikut ini tulisan saya sebelumnya, mengkritisi buku Irshad Manji “Beriman Tanpa Rasa Takut”

Oleh: Dina Y. Sulaeman*)
______________________________

Buku ini “Beriman Tanpa Rasa Takut” ditulis dengan sangat personal, dengan kasus-kasus yang dialami sendiri oleh penulisnya. Karena itu, saya pun akan membahasnya secara personal pula. Saya terus-terang membaca buku ini dengan perasaan kasihan. Irshad adalah perempuan malang yang mengalami banyak masalah di sekitarnya—termasuk kekerasan dari ayahnya. Irshad juga –katanya—berinteraksi dengan orang-orang yang terzalimi atas nama Islam.

Alhamdulillah, saya dilahirkan oleh orang tua saya yang penyayang, “padahal” mereka muslim yang taat dan sangat rajin ke masjid. Mereka menyekolahkan saya ke tempat yang jauh dari rumah; saya pun diizinkan ke luar negeri sendirian, tidak seperti keluhan Irshad tentang kekangan bepergian ke luar negeri sendirian bagi perempuan muslim. Mereka tak pernah menyuruh saya –apalagi memaksa—berjibab, namun saya sendiri dengan penuh kesadaran memakai jilbab. Kalau saja Irshad adalah saya, tentu dia tak akan pernah menyebut jilbab sebagai kondom (!) yang membungkus kepalanya.

Ajaibnya, saya menemukan banyak sekali perempuan muslim yang seperti saya! Mereka maju, tercerahkan, berkarir, berjilbab, sebagian pergi ke luar negeri sendirian, punya keluarga bahagia, punya anak-anak yang lucu. Irshad mengambil contoh-contoh komunitas muslim di berbagai negara yang menurutnya sangat menindas perempuan. Sayang sekali Irshad (mungkin) belum pernah ke Iran.

Saya delapan tahun tinggal di Iran, dan ajaibnya, lagi-lagi saya bertemu dengan banyak perempuan yang sangat educated, menyetir mobil sendiri, menjadi profesor atau dokter bedah dengan makalah-makalah yang dimuat di jurnal internasional, dan… luar biasa… mereka berjilbab! Pasti ini kondisi yang tak terbayangkan oleh Irshad. Dalam bayangan di kepalanya, keluarga muslim taat—apalagi perempuannya berjilbab—adalah keluarga-keluarga penuh kekerasan dan penindasan kepada perempuan.

Saya tidak mengabaikan ada banyak kaum muslim yang melakukan kejahatan, sebagaimana pada saat yang sama, banyak juga kaum non muslim yang kejam. Misalnya, Islam memberikan penghargaan tinggi kepada perempuan, namun masih banyak laki-laki muslim yang memperlakukan perempuan tanpa harga, sebagaimana laki-laki non-muslim pun banyak yang merendahkan perempuan.

Saya juga membaca tentang kekotoran politik di negara-negara Arab, namun jangan lupa, kekotoran politik di Barat pun sangat banyak terjadi. Hanya, kemasan pemberitaannya berbeda sehingga terasa lebih elegan dibanding kekotoran politik di negara-negara mayoritas muslim. Padahal, maaf, seperti kentut, keluar darimanapun, sama-sama bau.

Terkait Palestina, Irshad mengeluarkan argumen-argumen kuno yang sudah sangat sering disampaikan oleh para pembela Israel, saya tidak bisa membahasnya di sini karena akan sangat panjang. Tapi ada satu argumen yang baru saya dengar, yaitu berdasarkan tes DNA, orang Yahudi ternyata satu nenek moyang dengan orang Arab. Karena itu, mereka berhak menganggap Palestina sebagai tanah air mereka. Saya ingin mengajukan pertanyaan kepada Irshad, apa justifikasi DNA juga bisa diberikan kepada orang-orang Kanada (yang disanjung-sanjung Irshad) saat mereka datang ke kawasan itu dan membunuhi orang-orang Indian yang lebih dulu bermukim di sana? Tak akan ada yang percaya laki-laki seganteng aktor Kanada, Bruce Greenwood, ternyata bersaudara dengan orang Indian.

Namun, Irshad juga cukup bijaksana dengan menulis kalimat ini, “Memicu perubahan artinya berhenti untuk memahami Al-Quran secara harfiah dan juga tidak memahami multikulturalisme secara harfiah.” Saya setuju (dengan sederet catatan) atas kalimat itu. Tapi, lanjutan kalimatnya, “Mengapa khitan terhadap klitoris perempuan yang dipaksakan harus dituruti?” Oh..oh… di Al Quran tidak ada keharusan khitan bagi perempuan. Tolong cek lagi Quran-mu, Irshad. Sayang sekali, kalimat bijaksana Irshad tadi dilanjutkan dengan contoh-contoh dangkal yang sangat kasuistis.

Ah, terlalu banyak waktu yang saya buang untuk membaca keluh-kesah Irshad. Tapi sekali lagi, bila Irshad ada dalam posisi saya, saya yakin, dia akan melihat Islam yang indah dan tak perlu ada ketakutan apapun. Kasihan sekali..(IRIB Indonesia/majalah Azzikra, Juni 2008)

*)Alumnus Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Padjajaran


20 Komentar

  1. Dian Iskandar mengatakan:

    setuju sekali….!

  2. sofan mengatakan:

    setuju mba Dina..

  3. Luqman Kuchiki mengatakan:

    banyak berita2 yang tidak di ekspos masalah si manji ini bu. saya ada baca juga, salah duanya adalah:
    1. kalo pada saat itu sebelum masa ngamuk sebenarnya ada 1 org peserta yang menyarankan agar manji berdialog dgn mereka, utk menyampaikan maksud dan tujuan si manji ini. eh tapi malah di tolak.
    2. Ketika amuk masa tengah di redam, dan masa beserta pihak keamanan sedang berdialog di luar, eh si manji masih kekeh berkoar2 di dalam dengan mematikan pengeras suara, siapa yg gak esmosi gt. udah bagus2 di ladenin dengan aman eh malah nyari ribut.

    kalo mau tau aslinya sih, datang aja langsung ke UGMnya. tnyain sama masyarakat sekitar daerah situ gemnya :hammer:

    emang udah sesat ya sesat aja deh, jgn ngajakin orang. ane juga gak rela jadi homo (ane laki) amit2 jabang toge dah, iiieeww……

  4. hamdan mengatakan:

    Semua Obat yang diproduksi oleh pembuatnya, tidak begitu diturunkan ke pasar melainkan dengan tata cara atau aturan pakai. begitu juga manusia yang dibuat oleh pembuat-Nya, tidak begitu diturunkan ke bumi melainkan dengan tatacara hidup atau aturan. Aturan ini, tidak lain kecuali Al-quran…

    • dinasulaeman mengatakan:

      Betul, apa gunanya Al Quran diturunkan dan dijaga Allah keotentikannya bila kita kemudian berpaling ke isme-isme lain yang menafikan Al Quran, gara-gara ada logika ‘kebenaran itu hanya Allah yang tau’.

  5. hamdan mengatakan:

    Pemikiran Tuhan VS Pemikiran Manusia…hmmm..hmm..hmm.. gag nyambunglah…
    manji itu gerbang dajjal…

  6. jimmy mengatakan:

    bagus sekali artikelnya, thx

  7. wildan mengatakan:

    Bu Dina, tulisan ibu tentang Irshad Manji ini benar-benar membukakan pikiran saya. Sebelumnya, saya acuh-acuh belaka membaca silang sengketa pendapat teman-teman tentang buku Allah, Liberty, and Love di jejaring sosial. Tidak pernah terbersit untuk membaca buku itu. Sebab, saya sudah menduga kalau buku itu banyak berisi gugatan terhadap Islam. Beruntung, saya menemukan ulasan Bu Dina tentang Irshad Manji. Tanpa perlu berlelah diri membacanya, saya bisa menangkap analisis dan kelemahan opini Irshad Manji.

    • dinasulaeman mengatakan:

      Ya, kalau memang tidak dirasa perlu, memang tidak perlu buang-buang waktu membaca buku ini, waktunya bisa dipakai untuk hal lain yang bermanfaat. Tapi kalau perlu buat menganalisis sesuatu, mau ga mau harus baca:)

  8. Dian Iskandar mengatakan:

    dian juga baru ngeh kalau irshad ini lesbian… yah jadinya subyektif aja deh tulisannya ya kalau gitu..:)

  9. gayatri wedotami mengatakan:

    Di Barat memang sedang terjadi pe-masyhur-an paham bahwa apa yang terdapat dalam Alkitab dan AlQur’an bukanlah pelarangan terhadap homoseksualitas melainkan perkosaan (kasus Sodom dan Gomorah). Tak sedikit pendukung paham ini yang saya kenal di dunia maya bukanlah homoseks melainkan justru menolak homoseks bagi dirinya sendiri. Tetapi, mereka meyakini bahwa setiap orang mempunyai potensi kepada berbagai bentuk seksualitas. Agaknya Manji adalah salah satu dari mereka yang mendukung aliran paham ini.

    • dinasulaeman mengatakan:

      Dalam diri manusia pastilah ada sisi evil dan angelnya.. Allah juga membebaskan manusia mau pilih jalan yang mana, tapi ada konsekuensi dari setiap pilihan. Kalaupun ada kecenderungan yang ‘given’ di dalam diri seseorang untuk menyukai sesama jenis, kenapa itu tidak dianggap sebagai sebuah penyakit yang harus diobati? Justru di sana ‘jihad’-nya orang itu. Atau, ambil keputusan untuk ganti kelamin, misalnya, dan hidup menjadi pribadi baru, lalu menikah dengan lawan jenisnya.
      Banyak orang lain yang lahir dengan kekurangan, misalnya cacat fisik. Tapi apa itu bisa dijadikan justifikasi untuk melakukan kesalahan?

      • gayatri wedotami mengatakan:

        Masalahnya, mbak,
        Mereka tidak menganggap hal tersebut adalah penyakit.
        Mereka memiliki landasan berbeda dari orang beragama yang memahami bahwa agama mereka melarang homoseksualitas (dan bahkan di agama2 lain melarang mengubah jenis kelamin).
        Bagi mereka itu adalah pilihan hidup. Dapat dikatakan bahwa di dunia ini hanya ada dua macam ‘agama’ yaitu “There is no I but God” atau “There is no God but I”
        Humanisme atau yang mengagungkan kemanusiaan di atas keIllahian itu mungkin yang terakhir ini.
        Tetapi bukan berarti yang mengagungkan keIllahian tidak bisa terjerembab kepada yang kedua juga.
        Agama yang pertama itu “yang paling jarang” dan “susah” kayaknya.

  10. Hendrik Lamoso mengatakan:

    Mantap mbak. dimana letak kebebasan berfikirnya Manji sehingga mengeluarkan statmen seperti itu? justru dialah yg mengungkung pemikirannya dan mengelabui org2 dengan pemikiran konyolnya. Namun saya secara pribadi menghimbau saudara2 semua sesama muslim, jgn terpancing dengan kebodohan Manji sehingga kita terjebak dalam sikap anarkisme. pemikiran balaslah dengan pemikiran yang rasional. Makasih mbak, dan mohon izin utk bergabung.

    • dinasulaeman mengatakan:

      Setuju, anarkhisme itu tidak boleh dilakukan. Tapi mendemonstrasikan penentangan tetap harus dilakukan. Penentangan kan tidak sama dengan kekerasan/anarkhi.

  11. dimas mengatakan:

    ikutan ah……….. saya juga setujuuuuuu………
    buku islami

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: