Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Gaga dan Logika Gagap

Gaga dan Logika Gagap

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

©Dina Y. Sulaeman

Syukurlah, akhirnya Lady Gaga tidak jadi konser di Indonesia setelah manajemen Gaga sendiri yang membatalkan konser tersebut. Bisa jadi, ada beberapa pihak yang menghembuskan nafas lega karena tidak perlu memutuskan apa-apa. Apalagi, Dubes AS sampai turun tangan menemui DPR dan Polri, mendorong agar izin konser diberikan. Sudah bisa dibayangkan, bagaimana sulitnya posisi para pengambil keputusan itu. Diizinkan, banyak yang akan marah. Tidak diizinkan, Bos Besar sudah turun tangan.

Namun tidak berarti masyarakat Indonesia yang peduli pada keselamatan anak-anak dan keluarga bisa bernafas lega. PR besar masih menanti karena sejatinya, bukan keseronokan Lady Gaga saja yang menjadi sumber keprihatinan kita semua, melainkan skenario besar di balik ini semua.  Pornografi dan homoseksualitas yang dipropagandakan, bukanlah letupan ekspresi seni orang per orang, namun sudah menjadi sebuah jejaring serangan budaya terhadap bangsa kita, apapun agamanya. Tetapi betapa banyak dari kita yang abai dan tertipu oleh logika-logika yang salah kaprah.

Saya mencatat beberapa logika yang dikemukakan orang-orang di internet seputar kontroversi Gaga. Memang Gaga tidak jadi datang. Tapi, kesalahan logika ini bisa dipastikan akan kembali terulang untuk kasus-kasus lainnya.  Karena itu, saya merasa perlu menulis kritik terhadap logika gagap ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Di antara logika gagap yang disampaikan terkait Gaga:

1.            Mengapa sih polisi dan ulama heboh mengurusi Lady Gaga? Urusin hal lain sajalah! Masih banyak hal lain yang lebih penting diurusi!

2.            Dangdut koplo merajalela, yang nonton lebih banyak daripada yang mampu datang ke konser Lady Gaga. Mengapa polisi dan ormas-ormas tidak mengurusi itu semua dan cuma meributkan Gaga? Toh yang nonton Gaga cuma sedikit!

3.            Gara-gara protes keras ormas-ormas radikal, Gaga malah semakin ngetop. Orang-orang yang tadinya tidak kenal  Gaga akhirnya jadi tahu dan malah semakin banyak yang mengakses you tube-nya. Ini justru jadi promosi gratis buat Gaga. Sebaiknya gunakan cara-cara ilmiah, damai, dan simpatik!

Sebelum saya menjawab  argumen di atas, saya mau membawakan analogi dulu. Begini, polisi menangkap si A yang korupsi  1 M. Si A marah dan berkata, “Pak Polisi! Saya ini cuma korupsi 1 M, kenapa ditangkap?! Itu si B, si C, si D, korupsinya jauh lebih besar daripada saya! Lepaskan saya, tangkap dulu mereka itu, baru Anda berhak menangkap saya!”

Menurut Anda, logiskah pembelaan yang dilakukan si A? Tidak kan?

Bila Anda mengakui bahwa Gaga memang membawa misi-misi amoral (pornografi, anti-Tuhan, pro-homoseksualitas), Anda tentu setuju bila polisi dan ulama memang harus menghalangi konser Gaga  di Indonesia. Perkara  mengapa polisi dan ulama tidak mengurusi dangdut koplo, itu masalah lain. Seharusnya polisi dan ulama juga mengurusi dangdut koplo. Lalu mengapa mereka diam saja atas dangdut koplo? Ya tanya saja sama para polisi dan ulama itu.  Tapi, yang jelas kita tidak bisa menggunakan logika ‘Anda tidak berhak menangkap si A yang korupsi 1 M karena Anda belum menangkap si B yang korupsi 2 M”.

Masalahnya berbeda jika secara esensi, Anda memang tidak mengakui amoralitas Gaga dan tidak peduli, “mau dia siapa, mau lagunya tentang apa, mau bajunya bagaimana, ya urusan dialah!”  Nah, kalau Anda permisif begitu, case closed. Kita tidak akan sampai pada kesepakatan karena titik tolaknya sudah beda: saya menolak amoralitas, Anda permisif. Tapi kalau Anda permisif, Anda ‘kalah’ dengan seorang anak SMP. Anak ini, anak seorang teman saya, berkata menanggapi Gaga, “Mereka itu kan cuma suka lagu dan penampilannya, Bu. Mereka tidak tahu siapa Gaga dan apa isi lagunya.”

Bayangkan, anak SMP saja sudah memahami bahwa ada masalah besar di balik ‘sekedar konser musik biasa’.

Yang jelas, banyak pihak yang sepakat bahwa seni yang diusung oleh Gaga ataupun dangdut koplo sama-sama merusak. Ini sebenarnya aksiomatis. KPAI, komunitas parenting, psikolog, kaum agamawan, bahkan para pecinta budaya tradisional, sangat geram dengan segala macam tampilan seni yang berbau pornografis/pornoaksi. Ini karena dampaknya sudah sangat jelas dirasakan. Indonesia adalah pangakses situs porno terbanyak ke-2  di dunia. Survey KPA menemukan data bahwa 62,7% siswi SMP/SMA sudah tidak lagi perawan. Perkosaan terjadi di mana-mana. Ini semua masalah besar yang mengancam bangsa ini.

Banyak pihak yang sudah berteriak-teriak minta perhatian pemerintah, agar masalah ini diselesaikan secara mendasar. Mereka mengadakan seminar-seminar, pelatihan-pelatihan parenting, dll. Tapi, gaungnya sangat kecil. Seperti kata bu Elly Risman dalam wawancara dengan Elshinta, “Kami ini sudah berusaha, tapi kami ibarat cacing yang cuma bisa menggemburkan tanah di sekitar. Perlu air hujan yang menyirami tanah secara keseluruhan. Dan air hujan itu adalah pemerintah.”

Menanggapi argumen, “sebaiknya gunakan cara-cara ilmiah, damai, dan simpatik,” saya ingin bertanya. Apakah bila protes atas kehadiran Gaga dilakukan dengan diskusi-diskusi terbatas, atau tulisan di koran, gaungnya akan sebesar sekarang? Seperti saya ceritakan di atas, sudah banyak ‘pejuang’ (misalnya bu Elly Risman bersama Yayasan Kita dan Buah Hati dan Bunda Rani Noeman) yang berusaha meminta perhatian pemerintah dan publik atas bahaya pornografi dan propaganda homoseksualitas, tapi toh gaungnya hanya dirasakan oleh kalangan terbatas.

Saya tidak sepakat dengan ancaman kekerasan yang dilakukan oleh ormas tertentu. Tapi, aksi-aksi demo beberapa ormas menurut saya bukanlah aksi kekerasan. Justru karena aksi-aksi demo itulah, kontroversi Gaga semakin mengemuka, dan itulah yang membuat kepala-kepala saling menoleh dan tersentak. Apa ini? Siapa Gaga? Apa yang membuat dia harus dilarang?

Kalaupun dikatakan aksi-aksi protes dan ancaman ormas terhadap Gaga menjadi promosi gratis bagi Gaga, sebenarnya, ini bagai pedang bermata dua. Oke, bisa saja, orang yang tidak kenal Gaga akhirnya jadi penasaran dan ingin mencari tahu. Tapi, tanpa kontroversi pun,  orang yang tadinya tidak tahu Gaga juga akan tahu karena pastilah televisi juga akan menyiarkannya sebagaimana TV juga menyiarkan berita (bahkan siaran ulang) konser-konser artis lainnya.  Jika tidak ada aksi-aksi protes, mereka akan tahu juga, tapi tahu tanpa wawasan. Mereka mungkin akan menerima Gaga begitu saja, tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang dipropagandakan Gaga.

Justru dengan adanya kontroversi ini,  peluang untuk kembali mengangkat wacana soal moralitas, penguatan pondasi keluarga, dan diskusi anti homoseksualitas menjadi semakin terbuka. Orang-orang yang semula tidak ngeh pada kenyataan bahwa propaganda homoseksualitas sedemikian gencarnya dilakukan oleh banyak pihak, kini menjadi tersadarkan. Para orang tua yang tadinya tidak tahu dan merasa aman-aman saja mendengar nama Lady Gaga, akhirnya tahu bahwa ternyata lirik-lirik lagunya berbahaya dan bisa meracuni otak anak-anak mereka.

Di sini, saya melihat, gonjang-ganjing Gaga, meskipun di satu sisi boleh dikatakan promosi gratis bagi si Gaga, tapi di sisi lain malah membantu upaya para pendekar parenting, pemerhati budaya, kaum agamawan, dll  yang selama ini dicuekin itu, untuk membangkitkan kesadaran banyak orang mengenai bahaya yang sedang mengancam generasi muda kita.  Mudah-mudahan, kontroversi ini menyadarkan pemerintah juga, agar lebih aktif lagi, tidak sekedar mengomentari Gaga, tetapi juga mengambil langkah nyata, termasuk melarang pementasan artis lokal yang mengandung pornografi dan pornoaksi.

Menurut kamus, Gaga berarti ‘gila, pikun, loyo, atau berotak kosong’. Mudah-mudahan, diskusi masalah Gaga ini membuat kita terhindar dari kegilaan dan kebodohan; dan mampu mengkritisi beberapa logika gagap yang dikemukakan banyak pihak atas nama kebebasan bicara dan ekspresi.©Dina Y. Sulaeman

Iklan

13 Komentar

  1. Ignatius Gayuh berkata:

    Logika gagap nya betul.. Analoginya juga betul, korupsi 1 M adalah hal terpisah dengan korupsi 2 M.. Yang menjadi masalah, kenapa korupsi 2 M itu bertahun-tahun ga diusut? Polisinya kemana?

    Kita sepakat dangdut koplo itu luar biasa mengerikan.. Jauh lebih mengerikan daripada Gaga (saya sendiri bukan penikmat musik Gaga, ga jelas musiknya). Ditonton oleh masyarakat yang lebih luas, anak kecil, dan lebih vulgar.. Dalam kasus ini, polisi kemana? FPI kemana? Itu yang ditanyakan oleh masyarakat seperti saya yang sangat bodoh dan mempunyai logika gagap..

    Masyarakat saat ini menyorot FPI yang dituding munafik. Bagaimana tidak? Liat kawasan utara Jakarta, banyak sekali tempat hiburan dewasa. Diberangus kah? Tidak.. Alexis saja disebut sama Habib Selon sebagai hotel keluarga, WTF !!! Itu tempat pelacuran paling eksklusif di Indonesia, ga mungkin orang2 FPI tidak tau.

    Jadi dalam kasus ini, pantas saya sebagai masyarakat awam bertanya2, kenapa Gaga bisa sampai seheboh ini? Efek dari Gaga dan dangdut koplo sama2 mengerikan, tp kenapa dangdut koplo ga ilang?

    • dinasulaeman berkata:

      Kan udah sy jawab di artikel itu.. coba dibaca ulang baik2..

    • Ignatius Gayuh berkata:

      Oh maaf, sebenernya kalimat saya bersifat pertanyaan yang ga perlu dijawab.. Karena? ya karena tentu saja jawabannya kita semua udah tau.. Kalo Ibu Dina bilang, “Coba tanya polisi dan ormas2 itu.. :D”, kalo saya, “Yahh… suka2 dia lah.. ” 😀 Tapi Kalo mau lebih formal lagi, mari kita bicara tentang pendidikan di lingkungan masyarakat, dsb nya.. dsb nya.. Sori, saya terkesan kasar, tp sungguh, saya udah jenuh dengan jawaban2 klise seperti itu.. Terbiasa dengan lingkungan engineering kali, hanya ada 0 atau 1 ..

      Tapi sebenernya saya pengen jauh lebih ke dalam lagi, Lady Gaga dilarang, tp kenapa Stadium (ini tempat paling bebas buat nge drug) atau Alexis, masih bertahan.. Ah, lagi lagi, ga usah dijawab, terlalu banyak ruwetnya.. Wastin’ time juga.. Saya lebih suka mengerjakan apa yang menjadi passion saya..

      Oh iyah, topiknya emang sedikit menjadi melenceng dari esensi penolakan Gaga ini, karena saya berbicara tentang ormas yang melarangnya.. Sebuah ormas yang sepertinya lebih berkuasa daripada polisi.. But overall, saya setuju sekali dengan semua yang disampaikan oleh Ibu Dina..

      • dinasulaeman berkata:

        Memang sangat banyak paradoks di negeri ini. Sambil menunggu ada pemerintah yang bener, saya pikir, masing-masing kita berjuang dulu di lingkungan masing-masing. Misalnya, saya sebagai ibu rumah tangga ya berusaha sebaik-baiknya menanamkan kejujuran ke anak-anak saya, supaya kalau kelak mrk jadi pejabat, tidak korupsi; menanamkan thinking skill supaya mampu mengambil keputusan dengan benar, dll.

        Kasus Gaga ini bisa dilihat/dianalisis dari sangat banyak sisi. Bisa juga sudut pandang keprihatinan Anda yang dipakai, tentang ormas yang seolah lebih berkuasa dari polisi itu. Bahkan bisa dari sisi ekonomi-politik (dari sisi kemiskinan, seperti tulisannya Firdaus Cahyadi, atau dari sisi hegemoni Barat terhadap Timur). Sementara saya memilih menganalisisnya dari sudut yang dekat dan sangat berpengaruh pada kehidupan saya, yaitu keselamatan anak-anak saya dan semua anak-anak Indonesia. Yang jelas, dilihat dari berbagai sisi, kasus Gaga ini menunjukkan bahwa bangsa ini memang sedang sekarat. Tidak ada yang bisa menolongnya kecuali bangsa ini sendiri yang sadar, mampu berpikir benar, lalu bangkit dengan kakinya sendiri. Upaya penulisan artikel seperti ini, saya pikir sebagai salah satu bentuk upaya penyadaran (tanpa bermaksud pongah) atas berbagai fallacy (kesalahan berpikir).

  2. sofan berkata:

    sy heran ya mba Dina, kok semuanya seperti ngepasin bgt, Gaga mau ke Indo, Irsyad Manji juga, Obama mau nglegalin kawin homo, & sy lg sekolah di amerika hehehe….

    • dinasulaeman berkata:

      Heuheuheu.. ayo dong dek, nulis soal tanggapan orang-orang Amrik yg dek Sofan temui, soal pelegalan homo itu. Bagaimana sebenarnya masyarakat awam memandang hal ini? Pasti menarik banget. Bikin catatan2 singkat2 aja dari berbagai hal yg ditemui di sana, refleksi kehidupan, gitu lah. Siapa tahu bisa terbit jadi buku “Catatan dari Amerika” by Sofan Yusdiananto. Amin…:)

      • sofan berkata:

        Sy blm merasakan kehidupan masyarakat Amerika yg sebenarnya mbak krn hampir seluruh waktu sy disini dihabiskan di dalam Pangkalan Udara. Seperti dinegara2 lain pada umumnya, yg namanya kehidupan didalam Instalasi Militer pasti sangat rapih,tertata,disiplin,penuh dgn protokoler & formalitas, kebanggaan, nasionalisme dll. Tp sy menemukan berbagai hal dlm berinteraksi dgn serdadu Amerika. Kmaren di kelas sempet ngobrol2 masalah rencana Obama melegalkan perkawinan homoseksual. Semua teman sekelas sy tdk ada yg setuju. Dan mereka pun merasa prihatin krn aturan pelarangan prilaku homoseks dikalangan serdadu militer skrg tdk seketat dulu. Dulu yg namanya serdadu homo akan langsung diciduk keluar dari militer. Mereka sebagian besar juga tdk percaya kalo NASA pernah mendaratkan manusia ke bulan, hehe… bahkan yg ngomong langsung adalah intruktur kelas sy sendiri, mengejutkan, sy pikir krn status mereka sbg militer mereka hrs berfaham 100% mendukung seluruh agenda pemerintahnya. Sebagian mereka juga mengeluhkan tentang banyaknya Super Giant Market yg menggerus pasar2 tradisional (Farm Market) spt Wall Mart, HEB, dll (kalo di kita spt Carefour, Giant dll). Wah… kok jadi OOT gini yak..?? Hehe.. Btw sy kmaren baru aja lihat video di youtube yg nglihatin kelakuan GAga disalah satu konsernya di Chicago , dia pake baju kayak bikini , terjun kearah penontonnya, badannya ditopang keatas sama penonton sambil dipegang2 ga keruan, hedeh… bersyukur bgt orang model gini ga jadi dateng, kalo mau dibandingkan sama dangdut koplo, walaupun sama2 rusak tp yg ini super rusak. Kayak bukan perempuan, kayak waria..

      • dinasulaeman berkata:

        Lha itu seru ceritanya.. dicatet dikit2 aja.. lama2 kan jadi banyak. Kehidupan di pangkalan udara juga seru banget tuh.. makasih udah sharing ya..:)
        soal Gaga, yg menyedihkan, di tivi2 Indonesia, kan ditayangkan tiap sebentar klipnya di acara berita, pdhl kami nonton tivi biasanya buat berita aja..eh..berita pun udah ga aman lagi dari tayangan pornografi. Di tivi2 masih terus disuarakan ‘penyesalan’ mengapa Gaga ga jadi datang; logika koplak juga tetep dipake sama penyiarnya: “dangdut koplo juga merusak kok ga dilarang?” Ya justru harusnya dilarang dua2nya, ampun deh..:(

  3. Elkha berkata:

    Mbak Dina, ijin share tulisan ini ya? senang banget nemu ini blog 🙂

  4. Abdala berkata:

    Terima kasih Bu Dina…. Selama ini banyak yang bilang saya ini orang bijak. Ternyata saya ini – meminjam istilah Prof. Dian Jatikusumah – Koplak.

  5. Hary berkata:

    Ada satu logika gagap lagi bu.
    Katanya, “Kan tidak mungkin setelah menonton 2-3 jam lalu begitu keluar stadion remaja-remaja kita jadi pengikut setan”.
    Menurut saya ini pernyataan sangat arogan. Seolah para penentang Gaga sudah sedemikian tololnya sampai benar benar punya kekawatiran seperti itu.
    Padahal kalau mereka bersedia sedikit mengurangi “kejumawaannya” dan mau sedikit berempati pasti mereka juga akan mengerti kekawatiran penentang Gaga karena mereka pasti setuju dengan logika/ analogi lumrah seperti ini:
    Remaja jangan sekali kali mencoba coba narkoba. Apakah ini karena kalau 1 kali pakai narkoba terus kita langsung jadi pecandu narkoba? Tentu saja tidak. Tapi kita semua setuju dengan logika itu karena kita tahu bahwa semua perilaku/habit manusia adalah proses yg berlangsung sedikit demi sedikit dimana kalau tidak “aware”, kita bisa terlambat menyadarinya.

Komentar ditutup.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: