Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Mengenang Tragedi USS Liberty

Mengenang Tragedi USS Liberty

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Tanggal 8 Juni 1967, kapal penelitian laut AS, USS Liberty dibombardir habis-habisan oleh Israel. Pada saat itu tengah terjadi Perang 6 Hari antara Israel melawan negara-negara Arab (termasuk Mesir). Israel ingin menenggelamkan Liberty, untuk kemudian Mesir dikambinghitamkan, lalu AS menyerang dan menduduki Mesir. False flag operation yang keji ini gagal, namun tetap tercatat dalam sejarah sebagai bukti betapa tunduknya pemerintah AS terhadap Israel.

Berikut kutipan isi buku Obama Revealed (Dina Y. Sulaeman) terkait peristiwa ini:

Presiden AS ke-36 adalah Lyndon B. Johnson. Sebelumnya dia adalah wakil presiden Kennedy. Karena Kennedy meninggal sebelum masa jabatannya habis, Johnson secara otomatis diangkat sebagai presiden. Segera setelah disumpah sebagai presiden, Johnson mengatakan kepada seorang diplomat Israel, “Anda telah kehilangan seorang teman yang sangat luar biasa [Kennedy], namun sekarang Anda menemukan yang lebih baik.”  Isaiah L. Kenen, salah satu lobbyist pro-Israel yang paling berpengaruh di Washington mengatakan, “ Saya menilai bahwa semua yang dia [Johnson] lakukan sebagai presiden sangat sesuai dengan pernyataannya itu.”[1]

Salah satu kejadian besar pada era Johnson adalah pengeboman kapal perang USS Liberty oleh Israel pada tahun 1967, yang menewaskan 34 pasukan AS dan melukai 200 lainnya. Anehnya, Presiden Johnson tidak memberikan reaksi yang semestinya dilakukan seorang presiden bilamana ada kapal perangnya yang tak bersalah (tak melakukan provokasi apapun), dihancurkan oleh kekuatan militer negara lain.

Prof (em) James Petras dalam bukunya, The Power of Israel in USA, mengomentari kejadian ini, “Johnson dalam sebuah gerakan bersejarah yang tidak pernah terjadi sebelumnya, menolak untuk membalas. Pemerintahan Johnson juga membungkam mereka yang selamat dari serangan tanpa provokasi tersebut [AS tidak memprovokasi] dengan ancaman ’persidangan militer’. Pemerintahan berikutnya tidak ada yang pernah mengangkat isu tersebut, apalagi melakukan penyelidikan resmi di Kongres. Bahkan mereka meningkatkan bantuan untuk Israel. Mereka juga menyiapkan penggunaan senjata nuklir ketika negara itu tampaknya akan kalah dalam Perang Yom Kippur 1972.[2]

[1]  Donald Neff, Lyndon Johnson Was First to Align U.S. Policy With Israel’s Policies, Washington Report on Middle East Affairs. http://www.wrmea.com/backissues/1196/9611096.htm

[2]James Petras, The Power of Israel in USA, terjemahan Indonesia, hlm 312, Zahra Publishing House, 2008.

Untuk mengetahui lebih lanjut peristiwa ini, termasuk transkrip pembicaraan antara Presiden Johnson dengan Mossad, serta transkrip antara awak kapal Liberty dengan militer AS (yang menolak mendatangkan bantuan), serta peristiwa pendahuluannya, dimana Presiden Kennedy menentang reaktor nuklir Dimona milik Israel (dan tak lama kemudian Kennedy secara misterius tewas, lalu diganti oleh Johnson), silahkan baca tulisan Cahyono Adi.
Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: