Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan » Drone, ‘Lebah Jantan’ Pembunuh Brutal

Drone, ‘Lebah Jantan’ Pembunuh Brutal

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Dina Y. Sulaeman*

Dear Obama, ketika sebuah drone AS membunuh seorang anak di Yaman,

saya jamin, ayahnya akan berperang melawanmu.  Ini tidak ada urusannya dengan Al Qaeda.

(Haykal Bafana, Mei 2012)

 

Kalimat di atas adalah pesan twitter dari seorang pengacara di Yaman. Kalimat singkat itu mengandung makna yang dalam, menohok tepat pada frasa ‘Perang Melawan Terorisme’ yang dilancarkan oleh Bush, dan dilanjutkan oleh Obama. Terorisme yang mana? Siapa yang sesungguhnya teroris?

Drone, arti harfiahnya adalah ‘lebah jantan’ atau ‘dengung’.  Drone adalah istilah untuk Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau ‘kendaraan udara tanpa awak’. Drone bisa dipersenjatai, bisa juga tidak. Pada Oktober 2002, Pentagon untuk pertama kalinya mengakui bahwa mereka menggunakan drone yang dilengkapi misil untuk menyerang target yang mengancam patroli AS dan Inggris di Irak selatan. Awalnya, drone hanya digunakan sebagai pesawat mata-mata tanpa awak. Pada tahun 2002 itu, Jenderal Richard Myers, mengatakan, keuntungan menggunakan drone yang dipersenjatai dalam pertempuran adalah bahwa drone bisa tetap di udara untuk waktu yang lama dan kemudian segera merespon jika terlihat ada musuh. AS mengklaim bahwa pertempuran dengan menggunakan drone lebih efektif, karena korban lebih sedikit. Apalagi, perang dengan drone sangat ngirit bila dibanding mengirim puluhan ribu pasukan seperti perang konvensional. Tak heran bila akhir-akhir ini Obama berani mengajukan pemotongan anggaran militernya.

Tapi, benarkah korbannya lebih sedikit?

Para peneliti di New York University School of  Law dan Stanford University Law School pada bulan September 2012 telah merilis laporan hasil penelitian mereka dengan judul “Hidup di Bawah Drone: Mati, Luka, dan Trauma pada Masyarakat Sipil Pakistan Akibat Serangan Drone AS”.

Kalimat pembuka di laporan itu berbunyi,

Di AS, pernyataan yang sering diungkapkan mengenai penggunaan drone di Pakistan adalah bahwa drone sangat tepat sasaran dan alat yang efektif untuk membuat AS lebih aman karena drone akan membunuh teroris yang ditargetkan dengan dampak buruk yang minim.

Pernyataan ini salah.

Setelah sembilan bulan melewati penelitian yang intensif, termasuk dua penelitian di Pakistan, melakukan lebih dari 130 wawancara dengan korban, saksi mata, dan pakar, serta menelaah ratusan halaman dokumentasi dan laporan media, laporan ini menampilkan bukti atas kerusakan dan efek kontraproduktif dari kebijakan serangan drone AS.

Menurut laporan ini, lebih dari 3000 orang tewas akibat 344 serangan drone sejak tahun 2004 (dan 292 di antaranya terjadi pada masa pemerintahan Obama: 23 Januari 2009 -2 September  2012). Hanya dua persen di antara korban bisa diklasifikasikan sebagai target ‘high level’ atau dengan kata lain ‘benar-benar layak untuk dicurigai sebagai teroris’.

Serangan drone itu merupakan instruksi langsung dari Obama, Sang Peraih Nobel Perdamaian. Target serangan adalah, ‘sekelompok orang yang menunjukkan tanda-tanda tertentu, atau karakteristik tertentu yang diasosiasikan dengan aktivitas teroris, tetapi identitas mereka tidak diketahui’.

Lihatlah betapa ‘definisi’ target serangan drone sedemikian longgar. Bahkan, apa itu ‘karakteristik tertentu yang bisa diasosiasikan sebagai aktivitas teroris’ tidak diketahui publik. Yang dirasakan rakyat Pakistan adalah, secara tiba-tiba saja rumah mereka meledak, dan sejumlah anggota keluarga mereka tewas atau terluka dan cacat.

Misalnya Dawood Ishaq, ayah dari empat anak yang masih kecil-kecil, yang bekerja sebagai pedagang sayuran di Waziristan utara. Apakah dia termasuk kelompok ‘yang memiliki tanda-tanda tertentu?’ itu? Entahlah. Begini pengakuannya, sebagaimana ditulis dalam laporan tersebut.

“Saya sedang berangkat menuju sebuah tambang untuk bekerja. Saat mobil [yang saya tumpangi] sedang berjalan mencapai tujuan, sebuah drone menyerang kami. Yang saya ingat saat itu hanyalah ledakan dan saya melihat sedikit api di dalam mobil sebelum akhirnya saya pingsan. Orang-orang yang menumpang di bagian belakang mobil terbakar total dan mobil juga terbakar.”

Dawood dibawa ke beberapa tempat untuk perawatan, sampai akhirnya dia siuman di Peshawar. Kedua kakinya diamputasi.

Najeeb Saaqib, seorang malik atau semacam pemimpin suku di Waziristan  menceritakan,

“Anak-anak saya, laki-laki dan perempuan, pergi ke sekolah, tetapi sekolah mereka diserang drone. Serangan-serangan ini menimpa sekolah, para malik, para tetua, dan berbagai gedung. .. Kadang-kadang, ketika orang bepergian dengan mobil, mereka diserang. Kadang, ketika mereka berkumpul dengan teman, sholat berjamaah, mereka diserang… Kerabat saya, telah terbunuh. Para tetua kampung, para malik, murid sekolah, semua telah jadi korban serangan drone.”

Laporan ini dengan detil juga mendeskripsikan bahwa selain korban fisik, serangan terus-menerus drone AS juga telah meneror  (menimbulkan rasa takut luar biasa) pada laki-laki, perempuan, dan anak-anak  karena drone sewaktu-waktu akan menyerang rumah-rumah, kendaraan, dan tempat-tempat publik tanpa peringatan lebih dahulu. Mereka yang hidup di bawah ancaman serangan drone berada dalam kondisi psikologis dan trauma yang buruk. Kesadaran bahwa mereka tidak punya kekuatan apa-apa untuk melindungi diri sendiri pun semakin memperburuk kondisi psikologis mereka.

Efek rasa takut ini juga telah memengaruhi perilaku mereka. Serangan drone AS yang dilancarkan berkali-kali terhadap satu wilayah juga telah membunuh para relawan sehingga membuat para penduduk dan pekerja sosial ketakutan dan tidak mau menolong para korban. Sebagian anggota masyarakat menolak hadir dalam pertemuan warga, padahal pertemuan itu penting dalam komunitas mereka.  Sebagian orang tua memilih untuk melarang anak mereka keluar rumah dan anak-anak yang terluka atau trauma akibat serangan drone telah berhenti sekolah.  Bahkan, banyak keluarga yang ketakutan mendatangi pemakaman. Sebabnya, bergerombolnya sejumlah orang sering dicurigai sebagai aksi teroris dan drone langsung menyerbu. Selain itu, keluarga-keluarga yang kehilangan anggota keluarga atau rumah mereka, saat ini harus berjuang untuk melanjutkan kehidupan.

Laporan ini bahkan menemukan bukti-bukti bahwa pemerintahan Obama berusaha menutupi informasi tentang korban drone, dan yang lebih buruk lagi, secara aktif berupaya menyesatkan informasi soal ini. Karena sulitnya menentukan jumlah kematian warga sipil secara akurat karena luasnya wilayah serangan (dan sebagian sulit diakses) dan kaburnya definisi target sasaran drone, tidak diragukan lagi, jumlah korban jauh lebih tinggi dari yang diakui oleh para pejabat AS.

Serangan drone AS tidak hanya menimpa Pakistan, tapi juga Yaman, Somalia, Libya, Irak, dan sebentar lagi, Mali. Berdasarkan semua fakta ini, jawaban dari pertanyaan ‘siapa yang teroris sesungguhnya?’ sangat mudah untuk dijawab.  Dan bila rakyat di  negara-negara itu angkat senjata untuk menyerang balik tentara AS, bisakah mereka disalahkan dan disebut teroris?

 

*alumnus Magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Research Associate of Global Future Institute.

 

 

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: