Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan » Perang Melawan Terorisme dan Politics of Fear

Perang Melawan Terorisme dan Politics of Fear

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Dina Y. Sulaeman

(Makalah ini cukup panjang, 14 hlmn word, ditulis untuk perkuliahan “Keamanan Global’ yang diampu Prof. Yanyan M. Yani, PhD. Salah satu poin menarik yg saya temukan saat menulis makalah ini: meskipun Perang Melawan Terorisme konon diluncurkan AS demi melindungi rakyat AS (=Barat) dari terorisme Al Qaida, ternyata korban serangan Al Qaida mayoritasnya justru bukan orang AS (Barat), melainkan muslim sendiri. Sementara, korban terbesar dari Perang Melawan Terorisme juga muslim. Artinya, secara keseluruhan, muslim-lah korban terbesar dan pada saat yang sama, muslim pula yang disalahkan dan dianggap sebagai biang terorisme. Sayangnya, ada tabel dan gambar yang tidak  bisa dicopas ke blog ini. Yang minat bisa donwload versi PDF makalah ini di sini: Makalah Dina_global security_OK

Tragedi 9/11 dan Launching WoT

Hanya beberapa jam menyusul serangan terhadap Menara Kembar WTC pada 11 September 2001 (atau peristiwa 9/11) tersebut, pemerintahan Bush mengumumkan bahwa serangan itu dilakukan oleh jaringan teroris bernama Al Qaida. Menlu Colin Powell menyebut serangan 9/11 sebagai “aksi perang”. Pada malam harinya,  President George W. Bush berpidato provokatif, bahwa dia “tidak akan membedakan antara teroris yang melakukan aksi  terror 9/11 dan pemerintahan asing yang menjadi pangkalan dari jaringan teroris itu.”[1]  Sekitar sebulan kemudian, Oktober 2001, Perang Melawan Terorisme pun dimulai oleh Bush dan pasukannya (untuk selanjutnya, dipakai singkatan WoT, War on Terrorisme).

Reaksi keras Bush dan Menlu-nya diikuti oleh statemen-statemen pejabat dan politisi AS lainnya, dan tentu saja, oleh media-media mainstream AS yang kemudian ditayang ulang oleh media-media di seluruh dunia. New York Times, misalnya, secara provokatif menulis, “Ketika kita telah memastikan bases and camps para penyerang kita, kita harus menghancurleburkan mereka—meminimalisasi namun menerima kerusakan yang niscaya terjadi—dan bertindak terang-terangan maupun tersembunyi untuk mendestabilisasi negara-negara tempat berlindungnya para teroris.”[2]

WoT telah dilancarkan ketika penyelidikan 9/11 belum tuntas. Bahkan, Komisi Penyelidikan 9/11 baru dibentuk oleh Bush pada akhir tahun 2002 dan baru menyerahkan hasil penyelidikan mereka pada tahun 2004. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab oleh laporan Komisi  Penyelidikan 9/11 itu. Misalnya, bila Al Qaida benar-benar bersalah dalam teror 9/11, mengapa hingga kini tak ada sidang terbuka mengadili para tertuduh pelaku teror itu? AS menyatakan telah menahan dalang pengeboman menara WTC, Khalid Sheikh Mohammed. Lalu mengapa dia tidak segera diadili supaya dunia benar-benar mendapatkan bukti bahwa memang Al Qaida yang bersalah? Niels H. Harrit dan beberapa pakar sains dari AS dalam paper ilmiah yang dimuat di Jurnal Kimia Fisika melaporkan, ditemukan lapisan tipis debu bom super thermite di lokasi reruntuhan WTC.[3] Menurut para pakar konstruksi, menara setinggi WTC tidak akan hancur lebur hanya karena ditubruk sebuah pesawat, kecuali bila memang di dalam menara itu sudah dipasang bahan peledak dalam jumlah puluhan ton.[4] Perlu satu tim besar untuk menaruh puluhan ton bom di sana. Mengapa pemerintah AS, alih-alih mengirim 17.000 pasukan ke Afghanistan, tidak memfokuskan diri untuk menangkap tim itu?

Thierry Meyssan, seorang jurnalis asal Prancis, dalam bukunya[5] menulis hasil penyelidikan yang dilakukannya. mengapa FBI membiarkan orang-orang yang latar belakangnya sudah diketahui ada link dengan Al Qaida diizinkan masuk AS, ikut pelatihan pilot, dan akhirnya mereka (dituduh) menerbangkan pesawat yang kemudian menabrakkan diri ke Menara WTC.  Menurut FBI, pesawat tersebut adalah Boeing 767 yang tepat menghantam gedung WTC. Secara teknis, peristiwa ini sangat sulit terjadi. Dipandang dari ketinggian yang jauh, sebuah kota akan tampak seperti selembar peta dan semua acuan visual yang lazim menjadi hilang. Untuk menabrak menara, pesawat perlu dipraposisikan pada ketinggian sangat rendah. Hanya  pilot yang sangat ahli yang mampu melakukan penabrakan setepat itu dengan pesawat tambun Boeing 767. Padahal, masih menurut FBI, pelaku terror adalah pilot yang baru lulus latihan.

Namun, masih menurut Meyssan, ada cara lain untuk bisa menabrakkan pesawat itu dengan sedemikian tepat sasaran, yaitu dengan memakai remote control. AS telah memiliki teknologi untuk mengendalikan pesawat tanpa awak.

Kecurigaan lain muncul dari kejadian penabrakan pesawat ke gedung Pentagon pada hari yangs ama dengan penabrakan WTC. Menurut Kepala Staf Gabungan Pentagon, Jenderal Richard Myers, pesawat terbang itu adalah berjenis Boeing 757-200. Myers juga mengatakan bahwa pesawat itu sempat dikejar oleh dua pesawat tempur F-16 namun kehilangan jejak. Hal ini tentu saja terasa aneh. Bagaimana mungkin pesawat sipil yang berukuran besar bisa menang kejar-kejaran melawan F-16? Apalagi, di atap gedung Pentagon dipasang penangkis serangan udara dan rudal-rudal supercanggih. Mengapa Boeing 757 itu bisa lolos dan menabrakkan diri ke gedung Pentagon?

Obama: Melanjutkan WoT dengan Citra Baru

Pada tanggal 27 Maret 2007, Presiden Obama mengumumkan rencana militer terbarunya: Perang Afganistan-Pakistan. Seperti yang dulu dilakukan Bush, Obama menggunakan tragedi pengeboman gedung WTC 11 September 2001 sebagai alasan perang.

“Saya mengingatkan semua orang, AS tidak memilih untuk berperang di Afghanistan,” kata Obama. “Hampir 3000 orang rakyat kita terbunuh pada 11 September 2001, padahal mereka tidak melakukan apapun selain menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari. …Saya ingin rakyat Amerika memahami bahwa kita memiliki sebuah tujuan dan fokus yang jelas: untuk mengacaukan, membongkar, dan mengalahkan al-Qaida di Pakistan dan Afghanistan, dan untuk mencegah mereka kembali ke negara itu di masa depan.”[6]

Pasukan yang dipimpin AS pada tahun 2001 telah berhasil menggulingkan pemerintahan militan Taliban, tapi—AS mengklaim—banyak  di antara pasukan Taliban yang melarikan diri dan membangun kekuatan kembali di perbatasan Pakistan. Karena itulah Obama mengatakan, perbatasan Afghan-Pakistan sebagai the most dangerous place in the world.[7]

Di Kairo, Obama menjustifikasi perang Afghanistan dengan mengutip ayat Quran, “Situasi di Afghanistan memperlihatkan tujuan Amerika dan perlunya kita bekerja bersama. Lebih dari tujuh tahun yang lalu, AS mengejar al-Qaida dan Taliban dengan dukungan international. Kami tidak pergi [perang] atas pilihan [sendiri]. Kami pergi [perang] karena memang harus pergi. … Al-Qaida membunuh hampir 3.000 orang pada hari itu. Mereka memiliki afiliasi di banyak negara dan mencoba untuk memperluas jangkauan. Tidak ada di antara kita yang boleh menoleransi ekstrimis. …Al Quran suci mengajarkan bahwa siapa yang membunuh seorang manusia tak berdosa, bagaikan membunuh seluruh umat manusia…”[8]

Berbeda dengan Bush yang terang-terangan menggunakan kata ‘crusade’ (Perang Salib) saat meluncurkan WoT, kini Obama menggunakan retorika yang pro-Islam dan bahkan mengajak dunia Islam untuk bersama-sama AS bertempur melawan terorisme. Obama secara terang-terangan menyatakan perang, “We are at war, we are at war against al-Qaeda. “We will do whatever it takes to defeat them.” Namun, di saat yang sama, Obama tetap berusaha menarik simpati kaum muslim dengan mengatakan “Saya menyerukan  kepada mayoritas Muslim yang menolak al-Qaeda untuk menyadari bahwa terrorisme tidak menawarkan apapun selain visi yang gagal tentang kedukaan dan kematian, termasuk pembunuhan terhadap sesama  muslim, dan AS berdiri bersama mereka yang mencari keadilan dan kemajuan “.[9]

 

Benarkah Terorisme Ancaman Bagi Keamanan Global?

Reaksi pemerintah AS terhadap 9/11 telah menjadikan terorisme sebagai masalah global. Bush segera menggandeng DK PBB, NATO, dan EU. Ketiganya (PBB , NATO, dan EU) juga bergerak cepat dalam mengenali ancaman dan membangun kebijakan counterterrorism berdasarkan kerjasama internasional. AS berhasil menggalang 33 negara untuk bergabung dalam pasukan koalisi yang langsung dipimpin AS sendiri. Pada Oktober 2001, WoT di Afghanistan dimulai dengan misi menumbangkan Taliban dan menangkap Osama bin Laden. Selanjutnya, pada 2002, pasukan khusus AS bekerjasama dengan militer Philipina dengan misi mengusir kelompok Abu Sayyaf dan Jamaah Islamiyah dari Pulau Basilan. Tahun yang sama, perang juga dilancarkan ke beberapa kawasan di Afrika yang juga dituduh menjadi basis teroris. Tahun 2003, perang kembali diluncurkan ke Irak dengan misi menggulingkan Saddam Husein atas tuduhan menyimpan senjata pembunuh massal yang mengancam keamanan dunia. Selain perang fisik, AS juga menggalang dukungan internasional untuk bersama-sama melancarkan WoT di wilayah masing-masing.

Pertanyaannya, mengapa terorisme dianggap sebagai ancaman utama dunia? Bukankah alasan utama WoT yang dikemukakan baik oleh Bush maupun Obama adalah 9/11? Lalu mengapa ancaman terhaadap AS diperluas menjadi dijadikan ancaman terhadap dunia?  Untuk menjawab pertanyaan ini, sebelumnya kita perlu melihat dulu apa definisi terorisme.

Hingga kini tidak ada kesepakatan global mengenai definisi terorisme. Berbagai lembaga, organisasi, dan cendekiawan memberikan definisi mereka masing-masing atas terorisme. Menurut Crenshaw (2007:68) meskipun PBB telah mengeluarkan berbagai konvensi anti terorisme, namun Negara-negara anggota PBB hingga kini tidak bersepakat atas definisi terorisme karena dua alasan. Pertama, Negara-negara anggota PBB masih belum bersepakat apakah Negara dikategorikan teroris bila angkatan bersenjata mereka melakukan serangan kepada warga sipil. Kedua, terkait dengan justifikasi moral terhadap aksi kekerasan; apakah gerakan perlawanan melawan pendudukan asing (misalnya di Palestina atau Irak atau Afghanistan) dikategorikan teroris.

Bila kita melihat definisi terorisme yang dirilis oleh Kementerian Dalam Negeri AS, teorisme dikaitkan dengan audiens.

The term “terrorism” means premeditated, politically motivated violence perpetrated against noncombatant targets by subnational groups or clandestine agents, usually intended to influence an audience.[10]

Kaplan (1981) mengatakan bahwa terorisme dimaksudkan untuk menciptakan situasi pikiran yang sangat menakutkan (fearful state of mind). Lebih jauh lagi, situasi ketakutan ini tidaklah ditujukan kepada para korban teroris melainkan kepada audiens (khalayak) yang bisa jadi tidak ada hubungan dengan para korban. Hal senada juga diungkapkan

Oots (1990, p. 145) yang menulis bahwa terrorisme dimaksudkan untuk menciptakan “extreme fear and/or anxiety-inducing effects in a target audience larger than the

immediate victims.”[11]

Crenshaw menjelaskan lebih jauh tentang masalah efek bagi audiens ini. Menurutnya, bagi publik, terorisme sangat menakutkan karena sifatnya yang tak terduga (unpredictable). Terorisme sering menjadikan masyarakat sipil sebagai target. Aksi-aksi terorisme, yang skalanya kecil sekalipun, menjadi pengingat konstan betapa rapuhnya keamanan mereka. Mereka tidak tahu apakah orang yang duduk di kereta bis atau pesawat adalah teroris.[12]  Artinya, intensitas ancaman tidaklah bergantung kepada hal-hal fisik seperi jumlah korban dan hancurnya infrastruktur. Aspek subjektif dari ancaman ini, misalnya ketakutan dan kengerian, sama pentingnya dengan aspek objektif.

Masyarakat Barat yang terbiasa tinggal di masyarakat yang stabil tidak terbiasa dengan situasi ketakutan seperti ini. Persepsi ketakutan ini juga dimagnified oleh media, terutama TV. Selain itu, tindakan AS yang mendeklarasikan WoT lalu menyerang Afghanistan, Irak, dan negara-negara lain telah memicu munculnya persepsi global bahwa terorisme adalah sumber bahaya dan ketidakamanan yang menngancam setiap saat.[13]

Inilah poin yang penulis garis bawahi: persepsi global ketakutan. Melalui media, AS telah berhasil menyebarluaskan persepsi global bahwa ada ancaman terorisme Al Qaida yang bergentanyangan di berbagai sudut bumi.  Ketakutan dimunculkan di seluruh dunia. Jaringan Al Qaida, konon tersebar dari Kennya, Tanzania, Maroko, Tunisia, Arab, Mesir, Yaman,  Jordan, Irak, Afghan, Turki, Spanyol Inggris, Pakistan,Indonseia, dan Philipina, dan mereka sedang merencanakan terror di berbagai negara.[14]

Berikut ini adalah lokasi-lokasi yang dicurigai sebagai habitat sel-sel jaringan Al Qaida.[15]

Tabel 1. Korban Akibat WoT

Negara Korban Sipil Korban Militer Pengungsi Keterangan
Irak 50.100 2.899 888,700 (external) 1.3 juta (internal) Data hingga 2006[16](tahun 2009, meningkat jadi 150.000 orang)[17]
Afghanistan 4541-5308 (direct)8000-20.000 (indirect deaths) (tidak ada data) 2,2 juta (external), 153200 (internal) Data hingga 2006
Pakistan 700 (tidak ada data) (tidak ada data) Data tahun 2009[18]
Yaman 83 (34 di antaranya dituduh sebagai anggota Al Qaida) (tidak ada data) (tidak ada data) Data tahun 2010[19]

Siapa Sesungguhnya Korban WoT?

Bila dikalkulasi secara umum, hingga tahun 2006,  WoT membunuh secara langsung 62.006 dan menjadikan 4.5 juta pengungsi, dan membuat AS mengeluarkan uang yang sangat banyak. Stiglitz memprediksikan bahwa pengeluaran perang AS bisa mencapai 3 Trilyun Dollar.[20] Jumlah sebesar itu tentu bisa dipakai untuk melunasi utang semua negara miskin di dunia ini. Menurut penulis, bila AS mengkhawatirkan ancaman dari para teroris yang berasal dari negara-negara miskin (Afghan, Yaman, Somalia, dll) akan jauh lebih baik bila AS menggunakan dana perang untuk mensejahterakan negara-negara miskin itu. Bisa dijamin AS akan menjadi negara paling dicintai di muka bumi.

Sebaliknya, mari kita lihat berapa banyak jumlah korban yang tewas akibat serangan (yang diklaim AS sebagai serangan) Al Qaida di seluruh dunia. Tabel berikut ini menunjukkan jumlah korban tewas per tahun sejak tahun 2004. Terlihat dalam table bahwa korban serangan Al Qaida mayoritasnya bukan orang AS (Barat). Tabel ini tidak menghitung jumlah korban terorisme di Afghanistan dan Iraq karena pertimbangan bahwa di kedua negara itu sedang diduduki AS sehingga korban yang jatuh bisa dianggap sebagai akibat dari perang melawan tentara pendudukan.

Berikut ini table jumlah korban akibat aksi terror (yang dinisbahkan kepada) Al Qaida.

Tabel 2. Jumlah Korban Tewas Akibat Terorisme (2004-2008) [21]

Kedua tabel di atas memperlihatkan bahwa jumlah korban akibat WoT maupun akibat terorisme yang dinisbahkan kepada Al Qaida mayoritasnya adalah muslim. Dari sini penulis mengambil kesimpulan, terorisme tidak sekedar ancaman global, tetapi secara spesifik: ancaman global bagi umat muslim. Umat muslim di berbagai penjuru dunia kini terancam. Sewaktu-waktu ada aksi terror yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dari Al Qaida, lalu efeknya akan dirasakan oleh muslim di berbagai kawasan. Misalnya, terror di Bali, efeknya dirasakan oleh muslim di Australia padahal korban terror di Bali juga banyak yang muslim. Terror di London, Moskow, Madrid, efeknya dirasakan oleh muslim di Eropa, orang-orang bergamis dan berjilbab dihina, diteriaki, bahkan ada yang dirampas jilbabnya  karena dicurigai sebagai teroris. Ketakutan yang sama bahkan muncul di negeri muslim seperti Indonesia. Menyusul Bom Marriot, muncul ketakutan kepada orang yang bergamis, berjenggot, dan bercadar. Media beberapa kali memberitakan pengusiran terhadap orang-orang berpenampilan “Timur Tengah” itu di beberapa wilayah.

 

Terrorisme dan Global Politics of Fear

Kini, tersisa pertanyaan terakhir, bila kenyataannya yang lebih banyak menjadi korban terorisme adalah kaum muslim, mengapa AS sedemikian bernafsu menggelar WoT? Bukankah WoT telah menimbulkan beban biaya yang sangat besar, bahkan menimbulkan defisit terbesar sepanjang sejarah AS?

Ada banyak analisis yang telah ditulis terkait motif AS meluncurkan WoT. Misalnya, Robert Gilpin (2005) dalam jurnalnya menulis,

“Serangan AS tahun 2003 terhadap Irak diarsiteki oleh dua kelompok  kuat dalam pemerintahan Bush, yaitu ‘ultra-nationalists’ dan neo-konservative. Motif kelompok ultranasionalis adalah  untuk meraih control atas cadangan minyak di Timur Tengah dan Negara-negara lain di kawasan demi mempertahankan dominasi global AS. Kelompok neo-con juga memiliki tujuan serupa, mereka juga menginginkan restrukturisasi radikal atas relasi geopolitik di awasan dengan tujuan untuk menciptakan keamanan jangka panjang bagi Israel.”

Bila kita melihat latar belakang para tokoh ultranasionalis itu, argumen Gilpin di atas memang sangat tepat. Bush, Cheney, Rumsfeld, Wolfowitz, Rice, dan beberapa tokoh neo-con lain dalam pemerintahan Bush memiliki saham di berbagai perusahaan minyak. Perang melawan terorisme telah menjatuhkan korban sangat banyak, baik warga sipil di Irak, Afganistan, Pakistan, atau di tempat-tempat lain; namun di saat yang sama memberikan keuntungan raksasa bagi kaum kapitalis. Selain perusahaan-perusahaan minyak yang menangguk untung dari pengontrolan kilang-kilang minyak di Irak, perusahaan-perusahaan senjata, perusahaan keamanan privat (private security company), dan  kontraktor sipil (pembangunan infrastruktur) juga menangguk keuntungan yang luar biasa besar. Ketika perang terus-menerus berlanjut, pabrik-pabrik senjata akan terus berproduksi dan terus mendapatkan pasar; perusahaan keamanan privat terus mendapatkan order, dan perusahaan pembangunan infrastruktur terus mendapat kontrak pembangunan (rekonstruksi) di negara-negara bekas perang. Perusahaan minyak juga mengambil keuntungan besar karena harga minyak yang cenderung naik pesat bila perang di Timur Tengah meletus.

Para kapitalis ‘bisnis’ perang mendirikan perusahaan keamanan privat yang mendapat order dari Pentagon untuk memberikan konsultasi resiko di kawasan konflik, melatih pasukan lokal di kawasan konflik, mengamankan gudang-gudang senjata,  mengawal perpindahan uang, memberikan pelayanan intelijen, mengamankan berbagai gedung-gedung, memenuhi kebutuhan persenjataan bagi perang dan pengamanan, logistik, dan bahkan penyediaan penjara dan investigasi narapidana. Di antara pejabat pemerintahan Bush yang memiliki saham di perusahaan keamanan privat adalah Dick Cheney dan Mike McConnell.

Argumen Gilpin terbantahkan dari sisi kenyataan bahwa kini setelah Obama yang berasal dari Partai Demokrat dan (konon) tidak didukung oleh kelompok neo-con ternyata WoT tetap dilanjutkan bahkan diperluas. Karena itu, perlu dicari jawaban lain dari motif peluncuran WoT.

Motif  lain itu diungkapkan Susanne Soederberg (2006:164-165)  yang menulis, kelumpuhan ekonomi dalam negeri AS membuat AS merasa perlu memperluas aktivitas produksi dan keuangannya di luar negeri. Untuk mewujudkan rencana ini, tentu saja dibutuhkan kerjasama dari pemerintah negara-negara Selatan agar mereka mau menerapkan kebijakan yang pro-kapitalis, seperti pendisiplinan tenaga kerja, penurunan standar lingkungan dan pajak, dll. Perang melawan terorisme bisa dilihat dari sudut pandang ini, bahwa AS memaksa dunia agar bergabung dengannya dalam perang, yang berimplikasi pada semakin kokohnya unitalteralisme AS.

Lalu, bagaimana cara agar pemerintah negara-negara dunia bersedia bergabung dalam perang melawan terorisme? Altheide (2006) memberikan jawabannya, yaitu dengan menggunakan ‘politics of fear’. Sebelum bisa meluncurkan WoT, pemerintah AS harus mendapatkan dukungan dari dalam negeri dan persetujuan perwakilan rakyat (Kongres dan Senat). Dalam rangka ini, politisi dan agen-agen pemerintah AS bekerja sama dengan media massa untuk menyebarluaskan ketakutan sehingga rakyat mau menggantungkan diri kepada agen-agen pemerintah untuk menyediakan perlindungan serta melakukan pembalasan dendam dan hukuman terhadap pelaku terror.[22] Sumber-sumber pemberitaan media massa AS sangat bergantung kepada  sumber pemerintah untuk menyediakan laporan yang bersesuaian dengan symbol-simbol ketakutan, kriminalisasi, dan korban akibat terorisme, serta ancaman terhadap AS.[23]

Menurut Altheide, “Di dunia modern, power (kekuatan) menampakkan dirinya melalui ketakutan. WoT tidaklah dilancarkan berdasarkan perencanaan militer yang solid, trend global yang koheren,  atau analisis yang meyakinkan tentang kepentingan nasional AS. Kebijakan WoT berlandaskan pada ketakutan dan dijual kepada  rakyat melalui politics of fear.[24]

Altheide menyatakan bahwa politics of fear  didefinisikan sebagai upaya pengambil kebijakan (pemerintah) untuk mengembangkan dan memanfaatkan keyakinan dan asumsi khalayak umum tentang bahaya, resiko, dan ketakutan demi meraih tujuan tertentu. Sumber dari ketakutan itu bisa berupa otoritas, Tuhan, atau musuh internal dan eksternal.[25]

Sementara itu, menurut Herman and O’Sullivan (1984)[26], terrorisme telah memberikan  kesempatan bagi para pemimpin di Barat untuk menciptakan ketakutan dan irasionalitas di tengah masyarakat sehingga mereka memberikan kebebasan kepada para pemimpin itu untuk melakukan apa saja. Ketakutan terhadap terorisme efektif untuk memobilisasi massa agar mendukung aksi-aksi militer. Buku yang ditulis Herman dan O’Sullivan terbit tahun 1984, sehingga mereka menampilkan contoh kasus pemerintahan Reagan saat itu yang menyebarluaskan ketakutan atas ancaman terorisme dengan tujuan untuk menjustifikasi proyek pembangunan instalasi senjata yang memakan biaya sangat besar.

Seperti telah diungkapkan di atas, pada masa Bush, para kapitalis perang telah mengeruk keuntungan besar dari bisnis perang. Perekonomian AS terus berjalan karena perindustriannya terus bergerak, terutama industri militer. Kini, di tengah krisis ekonomi yang melanda AS, sulit bagi Obama untuk menghentikan WoT. Tak heran bila Obama juga menggunakan taktik politics of fear juga. Setelah menyatakan akan memindahkan pusat perang dari Irak ke Afghanistan dan Pakistan, sejak akhir Desember 2010, WoT diperluas hingga ke Yaman. Bahkan Obama berjanji akan meluncurkan perang ke mana saja, “Kami akan terus menggunakan semua elemen kekuatan nasional untuk melucuti dan mengalahkan kekerasan kaum ekstrimis yang mengancam kita, tak peduli apa mereka dari Afghanistan, Pakistan, Yemen, atau Somalia, atau dimanapun mereka merencanakan upaya penyerangan terhadap tanah air AS.” [27]

***

UPDATE (16 April 2013):

Ada dua hal yang perlu dicermati di sini. Pertama, terorisme digunakan untuk politik menakut-nakuti (politics of fear). Herman and O’Sullivan (1984) menulis, terorisme telah memberikan  kesempatan bagi para pemimpin di Barat untuk menciptakan ketakutan dan irasionalitas di tengah masyarakat sehingga mereka memberikan kebebasan kepada para pemimpin itu untuk melakukan apa saja. Ketakutan terhadap terorisme efektif untuk memobilisasi massa agar mendukung aksi-aksi militer, dan ini memberikan keuntungan besar bagi industrialis perang. Selanjutnya, ketika suatu negara hancur lebur akibat perang, proyek-proyek rekonstruksi dan eksplorasi minyak pun akan mengisi pundi-pundi para kapitalis Barat itu.

Kedua, catatan untuk kaum muslimin sendiri. Tak bisa lagi dipungkiri, bahwa Al Qaida memang ada dan melakukan teror. Memang bila ditelusuri lagi, backing di belakang Al Qaida (bahkan, yang pertama kali membentuknya dan melatihnya) adalah CIA; kasus Libya dan Syria juga semakin membuka tabir siapa sebenarnya ‘sutradara’ di balik Al Qaida. Namun, siapa yang benar-benar terjun ke lapangan? Siapa yang angkat senjata atau melakukan berbagai aksi bom bunuh diri dan pengeboman jarak jauh? Tentu saja, jelas bukan bule-bule CIA, melainkan muslim yang merasa sedang berjihad. Dan sedihnya, cukup banyak juga simpatisan Al Qaida ini di Indonesia. Bahkan seorang petinggi sebuah partai Islam pernah menulis puisi yang menyanjung Osama bin Laden. Artinya, kita pun kaum muslimin perlu waspada; perhatikan lagi, berapa banyak yang tewas, dan siapa yang lebih banyak tewas gara-gara ada sekelompok muslim yang mau-maunya bergabung dengan Al Qaida (dan afiliasinya)? Ironis sekali, merasa sedang berjihad dan menegakkan kebenaran, namun ternyata mereka hanya pion yang sedang diperalat Barat.

 

 Disclaimer:

Beberapa bagian isi tulisan ini dicopy-paste dari beberapa tulisan lain milik penulis sendiri yang dimuat di blog Kajian Timur Tengah (https://dinasulaeman.wordpress.com) dan situs The Global Review (www.theglobal-review.com). Selain itu, ada pula yang diambil dari buku “Obama Revealed” karya penulis. Nama yang tercantum dalam buku dan tulisan-tulisan tersebut adalah Dina Y. Sulaeman.

Daftar Pustaka:

Altheide, David L. 2006. Terrorism and the Politics of Fear. Oxford: AltaMira Press

Chossudovsky, Michel. 2005. America’s “War on Terrorism”.  Quebec: Global Research

Crenshaw, Martha.  2007. Terrorism and Global Security. Dimuat dalam buku “Leashing the Dogs of War” (Chester A Crocker et al). Washington: US of Peace Institute

Ruby, Charles L. 2002. The Definition of Terrorism. Analyses of Social Issues and Public Policy, 2002, pp. 9–14

Helfstein, Scott. Ph.D. 2009. Deadly Vanguards: A Study of alQa’ida’s Violence Against Muslims (Occasional Paper Series).

Sumber internet:

 

Skaff. 2010. The Terror Card: Fear is the Key to Obedience

http://www.globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=17299

Hasan Syukur. 2009. Skenario Runtuhnya WTC, Harian Republika,http://republika.co.id/koran/24/75709/Skenario_Runtuhnya_WTC

 

http://www.bentham-open.org/pages/content.php?TOCPJ/2009/00000002/00000001/7TOCPJ.SGM

http://www.bollyn.com/911#article_11104

Associated Press, 27 Maret 2009, http://news.yahoo.com/s/ap/20090327/ap_on_go_pr_wh/obama_afghanistan

Text lengkap pidato Obama di Kairo: http://news.yahoo.com/s/ap/obama_text;_ylt=AnWeJcWMU4y2KMyKMS9kQNUUewgF;_ylu=X3oDMTE2cnFxMWQzBHBvcwMxBHNlYwN5bi1yLWItbGVmdARzbGsDLXRleHRvZm9iYW1h

Telegraph 8 Januari 2010

http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/northamerica/usa/barackobama/6950879/Barack-Obama-US-is-at-war-with-al-Qaeda.html

http://www.state.gov/s/ct/rls/crt/2000/2419.htm

http://www.globalization101.org/news1/Al_Qaeda_worldwide

http://www.independent.co.uk/news/world/politics/62006–the-number-killed-in-the-war-on-terror-415397.html

http://www.guardian.co.uk/world/2008/jan/10/iraq.iraqtimeline

http://news.antiwar.com/2010/01/02/us-killed-700-civilians-in-pakistan-drone-strikes-in-2009/

http://rawstory.com/news/afp/34_suspected_Al_Qaeda_killed_in_Yem_12242009.html

http://www.timesonline.co.uk/tol/comment/columnists/guest_contributors/article3419840.ece

http://www.boston.com/news/politics/politicalintelligence/2009/12/obama_pledges_a.html


[1]  “make no distinction between the terrorists who committedthese acts and those [foreign governments] who harbor them”.  (dikutip Chossudovsky, 2005)

[2]  New York Times, 12 September 2001.

[4] Analisis lengkap tentang misteri 9/11 yang ditulis jurnalis independent Christopher Bollyn bisa dibaca di http://www.bollyn.com/911#article_11104

[5] 9/11 The Big Lie America , dikutip oleh Hasan Syukur (2009)

[7] ibid

[11] Ruby, 11

[12] (Crenshaw, 2007:77)

[13] (78)

[14] ibid

[21] Sumber table: Scott Helfstein, Ph.D. (2009)

[22] Altheide 114

[23] ibid

[24] Ibid 207

[25] 2008

[26] Dikutip oleh Skaff (2010)

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: