Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina » Mengenang Al Nakba

Mengenang Al Nakba

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Nakba Day, atau Al Yaum Al Nakba, atau Hari Malapetaka adalah hari peringatan didirikannya Israel dari sudut pandang bangsa Palestina. Proklamasi pendirian Israel tanggal 14 Mei 1948 bagi orang-orang Zionis merupakan perwujudan dari ‘cita-cita bersejarah kaum Yahudi’. Namun bagi bangsa Palestina, hari itu adalah hari malapetaka, yang menjadi tonggak dari pengusiran ratusan ribu orang Palestina. Pengusiran itu terus berlanjut hingga hari ini, 65 tahun kemudian. Kini diperkirakan lima juta orang Palestina hidup terusir, tersebar ke berbagai wilayah; atau jadi pengungsi namun masih di wilayah Palestina. Banyak di antara mereka masih memegang kunci dan sertifikat rumah-rumah mereka yang kini sudah dihancurkan, atau ditempati orang Israel.

536271_220531904715801_1283003541_n

Kronologi Al Nakba

Kronologi tragedi Al Nakba sangatlah panjang dan luas dimensinya, namun dalam buku ini penulis membatasi penulisan kronologi  pada gelombang kedatangan imigran Yahudi Zionis, pengusiran bangsa Palestina dari tanah air mereka, serta upaya bangsa Palestina sendiri sejak awal dalam memperjuangkan kemerdekaan. (Bahkan, menariknya, upaya awal perjuangan bangsa Palestina adalah melalui jalur politik; hal ini membuktikan bahwa bangsa Palestina pada saat itu relatif sudah maju dari sisi politik. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa ada penduduk  asli di kawasan itu dan mereka menolak bila tanah mereka direbut begitu saja oleh orang-orang Zionis. Artinya, klaim Zionis bahwa Palestina adalah ‘tanah tak bertuan yang diperuntukkan bagi bangsa tak bertanah’ adalah salah.)

Era Imperium Utsmani

1516-1917 :

Palestina digabungkan ke dalam Imperium Utsmani dengan ibu kota Istanbul.

1876-1877: 

Wakil-wakil Palestina dari Jerusalem terpilih menjadi anggota Parlemen Utsmani di Istanbul, mereka dipilih dalam undang-undang Utsmani (ini menunjukkan adanya sistem pemerintahan yang cukup modern di Palestina, menepis citra bahwa Palestina adalah negeri primitif yang dihuni suku-suku Arab primitif )

1882-1903:  Gelombang pertama imigran Zionis datang dari Eropa timur, sebanyak 25.000 orang
1896: Theodor Herzl, seorang penulis Yahudi asal Hongaria menerbitkan bukunya Der Judenstaat yang menyerukan pendirian sebuah negara Yahudi di Palestina, atau di tempat lain.
1896: Jewish Colonization Association (Asosiasi Kolonisasi Yahudi, didirikan 1891 di London) memulai pendanaan dalam mendirikan permukiman Zionis di Palestina.
1904-1914: Gelombang pertama kedua Zionis datang sebanyak 40,000 orang sehingga populasi Yahudi di Palestina meningkat jadi 6% dari total penduduk.

1914: Perang Dunia I dimulai.
2 November 1914 :Menlu Inggris, Balfour, mengeluarkan deklarasi Balfour [1] yang berisi dukungan Inggris bagi terbentuknya negara bagi kaum Yahudi di Palestina.

September 1918: Palestina diduduki pasukan Sekutu dibawah pimpinan Jenderal Allenby (dari Inggris).

30 October 1918: PD I berakhir.

1919-1923
Gelombang ketiga imigran Zionis datang sebanyak lebih dari 35.000 orang sehingga populasi Yahudi di Palestina meningkat  jadi 12% dengan kepemilikan tanah 3% (dari luas total tanah).

27 Januari-10 Februari 1919: Kongres Nasional Palestina Pertama  di Jerusalem mengirimkan memorandum kepada Konferensi Perdamaian Paris menolak Deklarasi Balfour dan menuntut kemerdekaan.

Januari-Juni 1919: Konferensi Damai Paris digelar. Dalam konferensi inilah disepakati bahwa nama “Palestina” digunakan untuk wilayah tertentu yang sudah ditetapkan, yaitu wilayah yang hari ini terdiri dari Israel, Palestina, dan Yordania. [2]  Yordania diputuskan untuk menjadi negara tersendiri pada tahun 1946.

Peta Palestina era Mandat Inggris

Peta Palestina era Mandat Inggris

Mei 1919: Kongres Nasional Palestina Kedua akan diadakan namun dihalangi oleh pasukan Inggris yang menduduki Palestina saat itu.

Desember 1919: Kongres Nasional Palestina Ketiga digelar di Haifa, memilih Komite Eksekutif yang kemudian memimpin gerakan politik Palestina dari 1920-1935.

Maret 1921: Haganah dibentuk. Haganah adalah organisasi militer bawah tanah Zionis.
Mei-Juni 1921: Kongres Nasional Palestina Kelimat digelar di Jerusalem, memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi  Palestina ke London untuk menjelaskan sikap Palestina atas Deklarasi Balfour.
Agustus 1921: Kongres Nasional Palestina Kelima, di Nablus, menyetujui dilakukannya boikot ekonomi terhadap kaum Zionis.
October 1921:  Sensus penduduk pertama dilakukan oleh Inggris menunjukkan populasi di Palestina 78% Muslim Arab, 11% Yahudi, 9,6% Kristen Arab.

 

Era Mandat Inggris

29 September 1923: Mandat Inggris untuk Palestina resmi diberlakukan (diputuskan dalam Konferensi Paris). Artinya, Inggris menjadi ‘pemerintah’ di kawasan Palestina (meliputi Israel- Palestina sekarang dan Jordania). Di bawah istilah mandat ini, tugas utama Inggris adalah untuk memfasilitasi implementasi Deklarasi Balfour; yaitu mengusahakan agar imigran Yahudi berada dalam kondisi yang layak dan mendorong dibentuknya permukiman oleh kaum Yahudi di tanah Palestina.

1924-1928:
Gelombang keempat imigran Zionis datang sebanyak  67.000 orang, lebih dari 50% datang dari Polandia, sehingga populasi Yahudi di Palestina meningkat jadi 16% dengan kepemilikan tanah 4.2% (dari total wilayah) .

1929-1939:
Gelombang kelima imigran Zionis datang sebanyak  250.000 orang, sehingga populasi Yahudi di Palestina meningkat jadi 30% dengan kepemilikan tanah 5,7% (dari total wilayah) .

November 1935:
Syekh Izzuddin Al Qassam, ulama dari kota Haifa, memimpin perjuangan bersenjata pertama bangsa Palestina melawan pasukan Inggris dan Zionis. Beliau gugur syahid tanggal 19 November 1935.

1940-1945:
Kedatangan lebih dari 60.000 imigran Zionis, sehingga populasi Zionis menjadi 31% dan kepemilikan tanah menjadi 6.0%.

8 May 1945: Berakhirnya PD I

September 1945: terjadi imigrasi besar-besaran Yahudi secara illegal di bawah kontrol Haganah

18 February 1947:
Menlu Inggris, Ernest Bevin, mengumumkan penyerahan masalah Palestina kepada PBB.

26 September 1947
Inggris mengumumkan keputusan untuk mengakhiri masa Mandat Inggris

UN Partition Plan

29 November 1947:

PBB mengeluarkan Resolusi 181 berisi rencana pembagian wilayah Palestina (UN Partition Plan), yang mengalokasikan 56.5% wilayah Palestina untuk pendirian negara Yahudi, 43% untuk negara Arab, dan Jerusalem menjadi wilayah internasional. Tapi kelak, pada tahun 1967 –setelah terjadinya Perang 6 Hari Arab-Israel—Israel menduduki Sinai, Golan, dan seluruh wilayah Palestina. Thn 1973, berdasar perjanjian Camp David, Sinai kembali kepada Mesir. Tahun 1994, Arafat setuju menjalin kepakatan dg Israel, dan Israel mengembalikan Gaza dan Jericho (2% wilayah berdasar UN Partition Plan)  kepada Otoritas Palestina.

30 November 1947: Haganah menyerukan orang-orang Yahudi di Palestina usia 17-25  untuk mendaftarkan diri sebagai anggota pasukan.
December 1947: Liga Arab mendirikan Arab Liberation Army (ALA), pasukan sukarela Arab untuk membantu bangsa Palestina menolak pembagian wilayah (yang ditetapkan oleh Resolusi 181 PBB).
2 December 1947: orang-orang Palestina memulai pemogokan memrotes Resolusi 181 PBB.

map palestine

21 December 1947- akhir Maret 1948
Haganah (dan organisasi militan lain, Irgun) menyerang desa-desa di kawasan pantai utara Tel Aviv untuk ‘membersihkan’ wilayah itu. Di antara desa-desa yang ‘dibersihkan’ oleh Haganah adalah desa Balad al Syaikh (kini dinamai Haifa) yang menewaskan 60 penduduk sipil dan desa-desa di dekat Danau al Hula.

14 January 1948
Haganah mengikat pembelian senjata dengan Cekoslovakia senilai US $12.280.000. Senjata-senjata itu tiba di Palestina pada bulan Mei 1948.

10 Maret 1948: Plan Dalet 
Haganah menetapkan Plan Dalet (dalet adalah huruf keempat dalam bahasa Ibrani, setara dengan huruf D dalam bahasa Inggris, sehingga disebut juga Plan D atau Rencana Dalet).

Rencana ini berisi rangkaian operasi militer yang berkesinambungan untuk menaklukkan kawasan-kawasan yang oleh Resolusi 181 (UN Partition Plan) dijadikan ‘jatah’ wilayah untuk Israel. Desain rencana ini sendiri sudah dipersiapkan sejak Juni 1947 oleh sebuah komite yang dipimpin Ben Gurion. Pada 10 Maret 1948, dua bulan sebelum proklamasi “kemerdekaan” Israel, para pemimpin Zionis berkumpul di Tel Aviv dan menyetujui Rencana Dalet.  Melalui rencana ini, lebih dari 13 opreasi militer bawah tanah dilancarkan sebelum pasukan Arab memasuki kawasan yang menjadi ‘jatah’ bagi ‘negara Palestina’. Namun sejak bulan Desember 1947 upaya pembersihan etnis Arab di kawasan Palestina sudah dilakukan oleh Haganah dan organisasi militan Israel lainnya.

Hasil operasi Plan Dalet: total 80% orang Palestina yang tinggal di kawasan ‘jatah’ Israel telah terusir dan hidup di pengungsian hingga kini. Kawasan jatah Israel pun, yang oleh PBB ditetapkan 56,5% kini telah meluas menjadi 77% dan upaya ekspansi terus berlanjut hingga hari ini. [3]

14 Mei 1948: Al Nakba
Pemerintahan Sementara Israel memproklamasikan berdirinya “Medinat Ysrael”, negara Israel. Pembacaan proklamasi dilakukan di Tel Aviv oleh David Ben Gurion, yang saat itu menjabat sebagai Pimpinan  Pemerintahan Sementara Israel. Pada hari yang sama, Presiden AS, Harry Truman menyatakan pengakuannya atas negara Israel.  Hari ini oleh Israel disebut sebagai “Hari Kemerdekaan” dan oleh bangsa Palestina disebut sebagai “Hari Malapetaka” (Al Nakba).

[Dikutip dari buku Ahmadinejad on Palestine, karya Dina Y. Sulaeman]

[1] Isi teks Deklarasi Balfour: “His Majesty’s Government view with favour the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people, and will use their best endeavours to facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights and political status enjoyed by Jews in any other country.”, dikutip dari:http://www.jafi.org.il/education/100/maps/mandate.html

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: