Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Indonesia dan Fitnah Suriah (Nasihin Masha)

Indonesia dan Fitnah Suriah (Nasihin Masha)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Sejak sejak 2012, saya aktif menulis di blog ini soal Suriah, dan menyuarakan betapa konflik Suriah sangat berpotensi menyebabkan perpecahan umat di Indonesia. Akibatnya, mendadak nama saya ditaruh di urutan kedua list ‘tokoh Syiah Indonesia’ dan semua nama yang ditaruh di list itu diposisikan sebagai orang jahat dan sesat yang perlu diwaspadai. Ini adalah fitnah yang bertujuan membunuh karakter (character assasination). Akhirnya ada juga orang ‘besar’ di media ‘besar’ yang berani menyuarakan hal yang sama:

Umat Islam Indonesia dan Fitnah Seputar Suriah

Oleh: Nasihin Masha
REPUBLIKA.CO.ID
Pertempuran di Suriah tak hanya membakar negeri itu, tapi juga memanaskan Timur Tengah. Bahkan, di Indonesia. Di Suriah tak hanya membuat mereka saling membunuh, tapi juga saling menggunakan dalil agama. Di dunia Arab, juga ada seruan mengirim relawan perang serta perang fatwa dan opini. Di Indonesia, yang ada hanyalah followers, ikut-ikutan. Kasus Suriah menjadi begitu sensitif dan panas masuk ke ranah agama.

Sejatinya rezim Assad adalah rezim sekuler dan otoriter dengan segala represinya. Nama partainya pun Partai Sosialis. Mirip dengan rezim Saddam. Namun, Arab Spring membuat dunia Arab bergolak. Awalnya, adalah program demokratisasi George W Bush untuk Timur Tengah. Sejak pidato pada 6 November 2003 itu, Amerika Serikat menebarkan dolar ke wilayah itu.

Panennya terjadi pada masa Obama ini. Tentu, gelombang demokratisasi tak akan terjadi jika tanpa dukungan sosial. Arus internasional berpadu dengan arus bawah. Awalnya Tunisia, lalu Yaman, Mesir, Libya, dan kini sedang menunggu akhir pertarungan di Suriah. Apakah di negeri ini akan gagal seperti halnya di Bahrain? Arab Spring memang tak berlaku di negeri-negeri kerajaan, termasuk Bahrain, yang justru menjadi sekutu Amerika Serikat selama ini.

Gelombang demokratisasi di Suriah seolah sedang buntu. Secara geopolitik, negeri ini menjadi simpul kepentingan Rusia dan Iran. Bahkan, Cina ikut mendukung rezim Assad karena Cina memiliki perjanjian untuk saling mendukung dengan Rusia. NATO dan sekutunya terlibat aktif untuk menggulingkan Assad walau tak mengirim pasukan secara langsung.

Dimensi konflik di Suriah menjadi rumit. Apalagi di negeri ini, ada rivalitas antara Syiah dan Suni. Ketika kemenangan tak kunjung diraih salah satu pihak, paling gampang adalah memanfaatkan kekuatan nilai yang berlaku di masyarakat. Agama adalah salah satunya. Kelompok Sunni-seperti Ikhwanul Muslimin, kaum salaf/Wahabi, juga Alqaidah-yang selama ini tertekan di bawah rezim Assad menjadi kekuatan utama perlawanan. Sedangkan, kelompok Syiah menjadi pendukung rezim Assad. Negeri-negeri di sekitar Suriah, termasuk ulama dan masyarakatnya, menjadi terlibat secara emosional.

Indonesia tak punya kepentingan apa pun secara langsung terhadap situasi di Suriah. Yang ada adalah rasa persaudaraan sesama Muslim. Tentu, kita berharap ada demokrasi di Suriah. Jalan demokrasi membuat umat bisa lebih mudah mengembangkan diri. Namun, penguasa selalu lebih cerdik. Umat diadu domba. Perbedaan Suni-Syiah menjadi jalan untuk membelah umat. Apalagi, kemudian terjadi perang fatwa dan opini. Dalil agama saling dilontarkan. Fitnah pun bertebaran. Terjadi saling tuduh di antara umat pun terjadi di Indonesia.  Kita harus benar-benar berhati-hati. Salah memilih diksi saja bisa menjadi kobaran api. Kita harus cermat memilih kata sebutan untuk kelompok yang melawan rezim Assad. Kata “pemberontak” pasti akan dikecam. Paling netral adalah “kelompok perlawanan bersenjata”. Bahkan, kata “oposisi” pun bisa dinilai tak tepat. Pilihan kata “gerilyawan” dan “pejuang” sudah menjadi usang dalam dimensi kekinian. Sejak Bush mengenalkan aksi multilateral tanpa melibatkan PBB, tata nilai dunia mulai bergeser. Diksi pun menjadi kacau.

Para penebar fitnah bukan hanya orang awam, melainkan aktivis keagamaan dan dai, bahkan ustaz. Tentu saja, yang namanya fitnah pasti salah, pasti bohong, pasti jahat, pasti buruk. Akan tetapi, ketika itu ditebarkan di mimbar keagamaan seolah menjadi positif. Lainnya melalui SMS berantai, mailing list, dan media sosial. Kita seolah kehilangan pegangan, lupa pada moral agama yang kita kukuhi. Kita menjadi tercerabut dari akar kita sendiri. Kesalehan pribadi seakan sesuatu yang terpisah dari kesalehan sosial. Solidaritas kelompok seolah menjadi berbeda dengan solidaritas umat. Tentu, itu bukan akhlaqul karimah. Pada titik ini, kita makin sadar bahwa pengetahuan, gelar, atau profesi tak berbanding lurus dengan kualitas seseorang.

Pada dimensi lain, umat Islam begitu mudah berpecah belah. Juga, begitu mudah dipantik sentimen agamanya. Padahal, kasus Suriah adalah peristiwa politik. Kasus Suriah tak kering dari beragam kepentingan yang begitu rumit. Kasus Suriah makin menegaskan pada kita bahwa umat tak memiliki kepemimpinan dan inisiatif.

Sebaiknya, energi kita difokuskan untuk memperbaiki kualitas diri kita. Hanya dengan itu kita bisa membangun dan memajukan diri. Indonesia adalah tempat terbaik untuk itu. Jangan jadikan dunia Arab sebagai titik pusat. Betul Islam lahir di sana, tapi bukan berarti apa yang dari sana pasti lebih baik. Islam Indonesia dengan segala kekhasannya jauh lebih menarik untuk zaman ini.

Mari kita merapikan diri di segala lini. Jauh lebih produktif berdaya kreasi daripada bersiasat. Misi suci akan berisi jika dari hati yang bersih, bukan dari hati yang sesat.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: