Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Review “A Note From Tehran”

Review “A Note From Tehran”

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Catatan buat penstudi HI: ini bisa masuk ke pembahasan tentang ‘diplomasi budaya’

Review A Note From Tehran

Dina Y. Sulaeman

Tepat setahun yang lalu, saya berada di Tehran. Sebelumnya, sejak 1999-2007 saya pernah tinggal di Iran. Awalnya untuk kuliah S2 karena saya mendapat beasiswa di Tehran University, jurusan Hukum Islam. Baru kuliah satu semester, saya mendapati bahwa memang bidang tersebut sama sekali tidak saya minati. Seiring dengan itu, saya kerepotan mengurus bayi (kalau pakai istilah seorang pakar parenting, waktu itu saya mengalami sindrom gajatu ‘gagap jadi ortu’). Kuliah pun saya tinggalkan dan saya fokus mengurus anak. Ketika anak saya telah usia dua tahun, saya bekerja sebagai jurnalis di IRIB, dengan memanfaatkan kemampuan bahasa Indonesia, Inggris, dan Persia saya. Lumayan, bisa menabung Dollar. Seiring dengan semua itu pula, saya aktif menjadi blogger dan mencatat warna-warni kehidupan saya selama di Iran di blog saya. Catatan itu akhirnya menjadi buku dengan judul Pelangi di Persia (lalu terbit ulang dengan judul Journey to Iran).

Kembali lagi ke Tehran setelah lima tahun berlalu, tentu saja memberi banyak kesan baru. Apalagi, bila dulu status saya TKW (tenaga kerja wanita, meski agak mentereng karena kerjanya di kantor), kali ini saya datang sebagai intelektual muslimah yang diundang hadir dalam Konferensi “Perempuan dan Kebangkitan Islam”. Saya bersama 16 perempuan Indonesia lainnya (intelektual, jurnalis, aktivis) lolos seleksi setelah mengirimkan paper yang terkait dengan tema kebangkitan Islam. Kali ini, saya (kami) dilayani dengan fasilitas VIP dan menginap di hotel bintang lima, dikawal ketat ala tamu negara, dan diajak jalan-jalan ke berbagai kota dengan pesawat carteran.

Memang judulnya adalah Konferensi Islam, tetapi, dari sudut pandang HI, bagi saya ini adalah sebuah investasi besar di bidang diplomasi budaya, yang dilakukan Iran. Bayangkan saja, ada 1000 perempuan dari 85 negara yang diundang hadir, sebagian besar dari mereka bermahzab Sunni, selain bertemu langsung dengan intelektual perempuan Iran, menyaksikan langsung kiprah perempuan Iran, juga diajak jalan-jalan ke berbagai kota di Iran. Pengalaman empiris seperti itu tak pelak akan menimbulkan semacam ‘prejudice breaking’ (memecah prasangka) bagi mereka yang selama ini hanya ‘mendengar’ tentang Iran (dan yang didengar biasanya lebih banyak yang negatifnya).

Mungkin ada yang mengatakan, tentu saja yang ‘keliatan’ oleh peserta adalah yang bagus-bagusnya saja. Namun, sebagian dari kami para peserta Indonesia sebenarnya juga melihat yang buruk-buruknya, misalnya, koordinasi panitia yang keliatan kurang rapi, atau, acara konferensi yang terlalu Arab (yang diutamakan untuk bicara di mimbar orang-orang dari negara Arab melulu, untung akhirnya setelah memaksa, delegasi Indonesia bisa bicara di mimbar dan mendapat tepukan meriah karena presentasi yang sangat bagus, jauh beda dengan delegasi Arab yang kebanyakan isinya membosankan). Namun, cerita-cerita soal Quran yang beda, sholatnya menyembah Ali bukan Allah, perempuan yang ditindas, orang Sunni yang dibunuhi, dll, tidak kami temukan.

Perempuan Indonesia, di manapun, memang hobi belanja. Sebenarnya kami dilarang bepergian sendiri tanpa dikawal. Karena belanja itu penting buat ibu-ibu, akhirnya panitia membentuk beberapa kelompok shopping. Beberapa ibu Indonesia, termasuk saya, shopping dengan dikawal dua bodyguard ganteng yang tidak sabaran (pengennya belanja cepet-cepet dan segera pulang ke hotel).

Tentu saja, itu tidak cukup buat kami. Akhirnya, saya mengantar beberapa teman Indonesia ke pasar Tajrish (pasar terdekat dari hotel, dan dulu selama saya di Tehran saya malah belum pernah belanja ke sana) secara sembunyi-sembunyi, tanpa minta izin panitia. Kami naik bis umum. Ngelencer masuk ke gang-gang di pasar. Muter-muter sampai pegel. Dan inilah faktor penting yang membuat kami bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat Tehran, yang ternyata memang biasa-biasa saja, sama seperti manusia di belahan dunia lain. Bukan masyarakat garis keras, puritan, bengis, dan supersesat seperti yang digambarkan media. Bahkan kami sempat bertemu ibu yang sangat ramah menyapa kami dalam bahasa Inggris, dan langsung bersedia menjadi guide dadakan saat kami tersesat di pasar itu. Dia juga membantu kami menawar barang.

Di sesi lain belanja (maklum, emang belanjanya berkali-kali kok:D), kami bertemu dengan sebuah toko kecil, nyempil di sebuah gang. Toko itu menjual Quran, kitab-kitab doa, dan parfum. Seorang ibu langsung terpikir membeli Quran kecil untuk oleh-oleh. Ya, apalagi yang lebih dahsyat daripada Quran cetakan Iran yang legendaris itu (dikatain ‘beda’ dari Quran kaum Sunni)? Si penjual, anak muda yang ganteng (kalau emak-emak kayak saya bilang ganteng, itu artinya memang bener-bener ganteng:D), dengan tak peduli membiarkan kami memilih-milih Quran. Sama sekali kami tidak ditanya, “Mau Quran Sunni apa Syiah?”. Saat saya tanya, ‘harganya berapa?’, dia jawab ‘4000 toman, tapi ini bukan harga ya, ini hadiah’. Ya, memang konvensi di sana, Quran itu ga boleh dijualbelikan, jadi transaksinya harus berjudul ‘memberi hadiah’.

Teman saya itu, seorang doktor, dosen, dan aktivis PERSIS (Sunni tulen dong ya) memborong sekitar 8 Quran. Eeeh.. besoknya,  ibu ini minta dianterin lagi belanja, alasannya oleh-olehnya masih kurang. Beliau ini sangat saya hormati, tapi tetep saya nggak mau mengantarnya belanja, karena menurut saya belanjaannya sudah terlalu banyak, pasti sudah over weight. Eh, beliau malah nekad ngelencer sendiri (bener-bener sendirian!) ke pasar lagi, naik bis. Padahal, tidak bisa bahasa Persia. Ketika pulang ke hotel, dengan penuh semangat beliau cerita, berhasil menemukan toko Quran yang kemarin dan membeli setumpuk Quran lagi (di samping tentu saja, seabrek suvenir lainnya). Karena beliau masih bingung menghitung uang Iran (yang memang membingungkan karena ada istilah Toman, ada Riyal), dia membuka begitu saja dompetnya dan menyuruh si penjual Quran mengambil sendiri uangnya. Setelah saya hitung, ternyata harga Quran itu malah lebih murah dari kemarin. Ternyata kali ini yang jualan bapaknya si ganteng. Wah.

Trus, jadi Qurannya beda apa enggak? Ya enggak lah. Bukankah Allah sudah berjanji menjaga kemurnian Al Quran? Masa sebuah negara bisa memalsukan Quran, dan bisa ‘melawan’ janji Allah? Secara logika emang ga masuk sih. Tapi sekarang ada pengalaman empiris yang membuktikan bahwa Quran Iran sama saja dengan Quran Arab Saudi.

Kejadian menarik lainnya, saat kami tur ke kota Qom. Saya dan beberapa orang bergabung dalam satu kelompok, sebagian orang Indonesia, sebagian India. Seorang profesor dari India sempat ‘hilang’ dan guide kami, Zahra, sangat panik. Saya agak kesal pada Zahra. Duh, profesor gitu loh, nggak perlu dikhawatirkan. Kalaupun nyasar dia bisa telpon ke panitia (semua peserta diberi kartu telepon dengan pulsa sangat banyak, saya aja sampai puas nelpon berkali-kali ke Indonesia, gratis). Akhirnya emang ibu satu itu bisa ketemu lagi.

Nah, ketika kami diajak berkunjung ke kompleks makam Sayyidah Ma’shumah (seorang ‘wali’ keturunan Nabi) yang dibangun megah dan berkubah emas, Zahra mengajak kami berziarah. Dia (tentu saja, Syiah) heran sekali saat tahu bahwa ada anggota rombongan Indonesia yang belum pernah ziarah (kebetulan di antara kami tidak ada yang dari NU). Saya menahan tawa geli melihat ekspresi teman-teman setelah didorong-dorong Zahra untuk mendekati makam. Ada yang nervous, ada yang bingung, ada juga yang dengan bijaksana berkomentar, “Yah… insya Allah kalau ada ribuan orang berdoa di tempat yang sama, energi positifnya pasti besar..” (makam itu memang penuh sesak oleh pengunjung). Sementara saya sendiri, meski berasal dari keluarga yang ‘Muhammadiyah banget’ (bahkan menziarahi makam kakek-nenek saya pun gak pernah, karena tidak ada tradisi itu), saya menikah dengan seseorang yang berasal dari keluarga yang “NU banget”. Jadi, tiap lebaran, pasti kami berziarah ke makam leluhur dan kalau baca doa di pengajian keluarga, semua nama leluhur disebut-sebut.

Tapi pengalaman ini tidak ‘dimasukkan ke hati’. Saya lihat, tetap saja, yang lebih kuat adalah ‘diplomasi budaya’, melihat secara empiris budaya orang lain. Dan memakluminya. Titik. Buktinya, segera setelah itu, kami semua kembali ke selera asal: narsis berfoto-foto di kompleks makam sambil ketawa-ketiwi. Bahkan Zahra pun minta difotoin. Saat itu tiba-tiba angin bertiup kencang dan chadur (kain lebar yang menutupi tubuh, bukan cadar) Zahra tersingkap. Terlihat dia mengenakan setelan tunik dan celana panjang dengan model modern. Spontan kami memuji…aih cantiknyaaa…. Kalau kami aja yang perempuan spontan memuji kecantikan Zahra saat itu, bisa dibayangkan cantiknya kayak apa 😀

Ada banyak lagi kesan-kesan, yang pastinya berbeda-beda bagi tiap peserta konferensi. Apalagi, latar belakang kami sangat beragam, ada yang dosen filologi, dosen sejarah, dosen HI, jurnalis, dokter, dll. Kami pun lalu berinisiatif menuliskan kesan-kesan itu, tidak melulu tentang Iran, tapi lebih pada refleksi yang kami dapatkan dari kunjungan itu, dikaitkan dengan kebangkitan Islam dan peran perempuan Indonesia. Dan lahirlah buku ini, A Note from Tehran. Ada banyak yang bisa dipelajari dari sini. Seperti ditulis salah seorang penulis di buku ini,  

Memang banyak hal yang bisa dipelajari dari Iran, namun bukan berarti harus meniru apa pun yang ada di sana. Kita menyadari, ada perbedaan antara kita dan mereka, terutama mungkin masalah mazhab. Namun, kupikir, dalam hal ini, paham atau aliran tak perlu kita permasalahkan. Biarlah mereka dengan pemahaman mereka, dan kita dengan pemahaman kita. Tapi, sebagaimana Rasulullah saw menyuruh kita untuk belajar dari banyak bangsa, tentu tak salah bila kita mempelajari (dan berusaha mengadopsi) semangat kebangkitan dan kemandirian mereka, meniru sifat ramah mereka, dan mencontoh penegakan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara.  Bukankah ini kunci kebangkitan Islam: berpegang teguh kepada nilai-nilai Islam?

Endorsment untuk buku ini:

Berangkat dari berbagai refleksi para penulis selama berkunjung ke Iran, tulisan di buku ini ini memberikan wawasan tentang pentingnya peran perempuan dalam kebangkitan umat. Buku ini layak dibaca oleh siapapun yang mencari referensi terkait peran perempuan Islam di ruang public. Lewat buku ini pula, kita dapat mengambil berbagai inspirasi dari para pahlwan perempuan Indonesia, antara lain Rahmah el Yunusiah, Kartini, dan Rohana Kudus, serta kepedulian para perempuan terhadap tatanan politik global. Selamat membaca!

–Anies Baswedan, Ph.D, Rektor Universita Paramadina

Buku ini memberi inspirasi bagi kaum perempuan bahwa mereka dapat berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Membaca buku ini, kita tersadarkan bahwa hidup yang seimbang antara kepentingan pribadi, kewajiban sebagai perempuan, dan berbagi dengan sesama bukanlah hal yang tidak mungkin; bahkan justru melimpahkan banyak berkah. Apapun profesinya, perempuan bisa membuat perubahan ke arah kebaikan, asal disertai dengan niat kuat dalam menjalankan amanah dan konsisten memberikan yang terbaik pada jalur yang ditempuhnya.

–Adiska Fardani, COO NoLimit Indonesia, Peraih Kartini Next Generation Award 2013

(NB: cerita yang saya tulis di note ini tidak dimuat di buku)

Buku bisa pesan online ke arif.maulawi@gmail.com. Harga 36rb.

front

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: