Kajian Timur Tengah

Beranda » ASEAN » Komunitas ASEAN, Mungkinkah?

Komunitas ASEAN, Mungkinkah?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Oleh: Dina Y. Sulaeman

 

Kasus Ambalat Versus Komunitas ASEAN

Agaknya, banyak orang yang masih ingat betapa hebohnya perang kata-kata yang dilontarkan para netter, blogger, dan facebooker kepada Malaysia pada tahun 2009. Saat itu, tersiar kabar, kapal perang Malaysia dari jenis fast attack craft Malaysia KD Baung-3509 nekad memasuki perairan NKRI sejauh 7,3 mil laut. Padahal, wilayah itu sudah dijaga ketat oleh tujuh kapal perang TNI AL dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim).[1] Meskipun akhirnya KRI Untung Suropati berhasil menghalau kapal perang Malaysia itu keluar dari wilayah NKRI, kejadian ini dinilai publik sebagai provokasi terang-terangan.  Tak heran bila kata-kata ‘perang’, ‘hajar’, dan berbagai makian lainnya ditulis oleh para blogger (dan para komentator) Indonesia. Demo-demo pun merebak di berbagai kota.

sumber foto: www.okefood.com

Aksi Demo Anti-Malaysia, sumber foto: http://www.okefood.com

Kasus tahun 2009 itu sebenarnya lanjutan dari kehebohan sebelumnya di Ambalat. Pada bulan April tahun 2005, Kapal Diraja Malaysia “Rencong” bertabrakan dengan Kapal “Tedong Naga” milik Republik Indonesia di perairan Ambalat. Antara tahun 2007-2009, tercatat sudah lebih 100 kali kapal Malaysia masuk ke wilayah kedaulatan RI. Konflik semakin memanas ketika pada Februari 2009, Petronas  (perusahaan minyak milik Malaysia) memberikan konsesi pengeboran minyak di blok tersebut kepada Shell (perusahaan milik Inggris dan Belanda). Padahal, berdasarkan UU RI no 4/1960 yang dikuatkan oleh Konvensi Hukum Laut PBB tahun 1982, Ambalat merupakan bagian dari wilayah Republik Indonesia.

Ambalat, wilayah laut di sebelah timur wilayah Kalimantan Timur ini memang seksi. Cadangan minyak bumi dan gas alam yang dikandungnya ditaksir bernilai 40 miliar dolar Amerika Serikat.[2] Tak heran bila Malaysia sedemikian ingin menguasainya. Malaysia mengklaim Ambalat sebagai bagian dari kedaulatannya sesuai peta wilayah yang dibuatnya secara sepihak pada 1979. Peta ini menurut Marty Natalegawa (saat menjabat Jubir Kemenlu tahun 2005), tidak hanya diprotes Indonesia, namun juga oleh negara-negara ASEAN lainnya karena mengubah perairan ASEAN.[3]

Nah, apa hubungan kasus ini dengan Komunitas ASEAN? Jelas banget, ini menunjukkan bahwa Komunitas ASEAN merupakan sebuah cita-cita sepertinya terasa sulit untuk diwujudkan. Betapa tidak, di antara Indonesia dan Malaysia yang serumpun saja, dengan bahasa dan etnis yang sama, sulit dihindarkan adanya konflik dan konfrontasi, bagaimana dengan negara-negara lain?

Sebentar, Komunitas ASEAN itu apa sih?

Informasinya bisa disimak melalui video animasi berikut ini (sangat cocok juga buat anak-anak):

Untuk menyelesaikan konflik Ambalat, Malaysia menyuarakan ‘tantangan’ untuk membawa kasus Ambalat ke Mahkamah Internasional. Usulan ini ditolak Indonesia karena Indonesia pernah punya pengalaman buruk: lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia berdasarkan vonis Mahkamah Internasional tahun 2002.  Seharusnya, persoalan Ambalat dibawa ke forum ASEAN, sehingga dengan semangat persaudaraan ASEAN, negara-negara anggota ASEAN lainnya diajak berembuk mencari jalan keluar. Namun, Malaysia pun menolak usulan ini karena bisa dipastikan Malaysia akan kalah suara. Hal ini disebabkan Malaysia juga punya konflik perbatasan dengan beberapa negara lain, yaitu Singapura, Thailand, Filipina, Brunei, dan Vietnam.

Tahun-tahun sesudahnya pun, berbagai isu silih berganti memanaskan hubungan Indonesia-Malaysia. Para blogger (dan para komentatornya) berperan penting dalam meluaskan sentimen kemarahan terhadap negara jiran itu. Pemerintah kedua negara berusaha menyelesaikan konflik melalui diplomasi, dengan diiringi protes dan demo dari publik. Namun, khusus untuk Ambalat, situasi bisa tenang setelah Indonesia melakukan strategi balancing of power (penyeimbangan kekuatan). Kini, tak ada lagi kapal perang atau pesawat Malaysia yang mendekat, setelah TNI AL melengkapi kapal perang RI yang bertugas di Ambalat dengan rudal Yakhont buatan Rusia yang mampu menghajar sasaran sejauh 300 km. Konon, belum ada kapal perang lain di ASEAN yang lebih canggih daripada rudal Yakhont.[5] Artinya, faktor power (kekuatan) masih dikedepankan, bukan persaudaraan.

Marinir Indonesia Menjaga Ambalat. Sumber foto: jakartagreater.com

Marinir Indonesia Menjaga Ambalat. Sumber foto: jakartagreater.com

Peran Blogger

Jadi, haruskah kita berputus asa dan menilai bahwa Komunitas ASEAN tidak akan terwujud? Tentu tidak demikian. Pengalaman kita soal Ambalat justru bisa dipandang sebagai bukti dibutuhkannya Komunitas ASEAN. Bayangkan bila konflik bersenjata merebak di ASEAN sehingga kita semua terjebak perang regional seperti di Timur Tengah. Ngeri! Situasi ASEAN yang rentan oleh konflik dan konfrontasi justru menjadi alasan utama, mengapa Komunitas ASEAN perlu didukung.

Kekerasan di Timteng, sumber foto: www.newsrealblog.com

Kekerasan di Timteng, sumber foto: http://www.newsrealblog.com

Hanya saja, kita musti melihat dulu, apa sih syarat terbentuknya sebuah komunitas? Archarya[6] menyebutkan bahwa bila negara-negara ingin bersatu dalam sebuah komunitas keamanan, harus ada sebuah karakter bersama dan perasaan ‘kekitaan’ (we feeling). Karakter bersama ini akan menjadi acuan bagi negara-negara untuk menyesuaikan kepentingan nasional masing-masing agar selaras dengan tujuan bersama. Dengan adanya identitas bersama ini, negara-negara akan melepaskan diri dari logika ‘struggle for power’ (perjuangan meraih kekuatan/kekuasaan) dan akan mengedepankan kepentingan bersama.

Secara real, kita melihat bahwa perbedaan di antara negara-negara anggota cukup besar, baik dari sisi ras, etnis, bahasa, agama, ideologi negara, maupun sejarah bangsa. Namun, bila belajar dari Timur Tengah yang kini tak habis-habisnya dilanda konflik berdarah, kita pun melihat bahwa kehomogenan ras dan bahasa juga tidak menjamin terciptanya komunitas regional yang damai.

Di sinilah para blogger memiliki peluang untuk berperan secara signifikan. Blogger memiliki kekuatan besar untuk mendiseminasikan sebuah gagasan dan paradigma. Istilahnya, people to people diplomacy, diplomasi yang dilakukan orang per orang. Ide-ide dan suara-suara persaudaraan ASEAN perlu dilakukan orang per orang, tidak melulu disampaikan dalam pidato-pidato para pejabat. Bahkan, dalam upaya pembentukan komunitas regional, justru yang dibutuhkan adalah konstruksi sosial yang dibangun mulai dari level individu. Para blogger di ASEAN pun menyadari peran penting ini dan membentuk Komunitas Blogger ASEAN.

sumber foto: aseanblogger.com

sumber foto: aseanblogger.com

Karena itu, mari kita mulai memperbanyak blogging soal kesamaan, harmoni dalam perbedaan, dan di saat yang sama, menjauhi provokasi. Kritik tentu tetap penting, namun mengkritik dengan dilandasi rasa cinta akan jauh lebih bermakna dibanding kritik yang didasari kebencian.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: