Kajian Timur Tengah

Beranda » Irak » Palestina dan Dr Jose

Palestina dan Dr Jose

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Sebelum ‘ribut-ribut’ soal Suriah, saya hanya ‘kenal nama’ saja dengan Dr. Joserizal. Beliau relawan MER-C yang aktif memberikan pertolongan kemanusiaan di berbagai wilayah konflik dan bencana, terutama Palestina. Ketika saya mulai sering disudutkan gara-gara bersuara melawan mainstream soal Suriah, saya mendapatkan tulisan beliau ‘Mengapa Harus Suriah‘ dan saya posting ulang di blog ini. Lalu, ketika saya selesai menulis buku Prahara Suriah, saya mengontak beliau via FB dan meminta endorsment dari beliau, alhamdulillah bersedia.

Lalu tiba-tiba, sebuah situs penebar kebencian menyebut Dr Joserizal Syiah, hanya gara-gara pendapat beliau soal Suriah. Saya spontan nulis status di FB membela beliau. Bukan apa-apa, saya sangat sadar bahwa fitnah terhadap Dr Jose sangat melemahkan upaya penggalangan bantuan untuk rakyat Palestina. Waktu itu, sudah ada yang bikin blog fitnahan terhadap saya. Foto saya, suami, dan anak-anak secara illegal ditaruh di blog itu dan dijelek-jelekkan. Tapi, saya pikir, saya toh ibu RT biasa. Kalau karakter saya dibunuh sedemikian rupa, sebenarnya ga banyak ‘rugi’. Emangnya siapa gue, gitu loh? Tapi, kalau Dr Jose yang merupakan tokoh penting perjuangan kita melawan Israel (lewat misi kemanusiaan), efeknya akan sangat besar.

Beberapa waktu yll, di FB, seorang wartawan (Hendi Jo) menulis status (karena dishare utk publik, saya pikir tidak salah bila saya copas di sini):

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan dr.Joserizal Jurnalis di RS. Siaga, Pasar Minggu, niat ingin wawancara tapi jadi ngobrol-ngobrol santai ngalor ngidul. Saat saya tanya tentang tuduhan ia sudah menjadi Syiah sekarang, ia hanya tertawa saja.”Ya tuduhan itu membuat saya banyak kehilangan kawan, tapi ga apa-apa. Toh, saya yakin mereka tau siapa saya bahkan sejak dulu. Saya hanya ingin berdiri di tengah sekaligus memberitahukan bahwa apa yang saat ini kita tengah hadapi adalah murni soal politik bukan soal agama. Saya tak akan mati untuk mazhab atau organisasi. Kalau MER-C pun ternyata ke depannya tidak benar, bubarkan saja. Kan gampang?”

Subhanallah, sikap dan kalimatnya yang sedemikian tawakal dan positive thinking, memberi semangat ke saya yang sempat down gara-gara berbagai intimidasi ke saya. Iya ya.. emang saya rugi apa sih difitnah dan dijelek2in sedemikian parah oleh banyak orang begitu? Karir? Gw kaga punya karir pun.. *logat Upin Ipin* Uang..? Lha, emang itu media online, FB-er dan blogger yang menjelek-jelekkan saya itu selama ini ngasih duit gitu, ke saya? Bahkan yang remove-remove saya di FB itu aslinya juga tidak saya kenal. Yang memberi rizki itu Allah kok. Keselamatan? Saya sangat yakin, Allah akan melindungi saya sekeluarga. Laa hawlaa wa laa quwwata illaa billaah…

Dan, baru saja saya menonton video paparan Dr Jose soal konflik Timteng. Bagus sekali cara beliau memaparkan. Ini pertama kali saya menyaksikan beliau bicara.

Waktu launching buku  saya, sebenarnya beliau sudah menyatakan bersedia jadi pembicara, tapi mendadak membatalkan diri. Saya sempet kecewa juga sih.. kan saya jadi diintimidasi lebih parah setelah menulis status FB yang membela beliau… Tapi ya sudahlah, saya toh tidak tahu situasi apa yang beliau hadapi saat itu. Juga, saya introspeksi lagi keikhlasan saya, bukankah saya dulu membela beliau dalam rangka membela Palestina, bukan sekedar membela seseorang bernama Dr Jose yang sebenarnya juga tidak saya kenal secara pribadi? Demikianlah, saya pun posting artikel ini juga dalam rangka mengajak kita semua (yang mau membaca tulisan ini) agar kembali fokus kepada Palestina. Musuh kita adalah Zionis. Bukan yang lain.

Berikut ini videonya.

Berikut ini artikel di Islam Indonesia, wawancara dengan Dr Jose. Bagus sekali untuk menambah wawasan.

Joserizal Jurnalis: Kembalilah ke Isu Palestina!

Suatu hari di RS. Budi Asih Jakarta Timur. Seorang nenek tua tertatih-tatih dan kebingungan di lorong rumah sakit. Tiba-tiba seorang lelaki jangkung berkulit putih dengan seragam dokter menghampirinya: “Ibu, cari siapa?”tanyanya  dalam nada lembut dan sopan.
“Anu Nak, saya mau berobat ke dokter Jose, tetapi enggak tahu di mana ruangannya,”jawab sang nenek.
 “Oh itu saya Bu, ayo Bu kita ke ruangan saya, maaf Ibu saya gendong ya sebab ruangan saya agak jauh”ujarnya sambil langsung menggendong nenek-nenek tua tersebut.
Joserizal Jurnalis memang kadung dikenal sebagai dokter yang humanis. Bukan hanya kepada sesama Muslim semata tapi juga kepada siapa pun manusia yang memerlukan pertolongannya. Begitu humanisnya  spesialis bedah tulang dan ahli traumatologi ini, hingga ia mau meninggalkan “zone nyaman” untuk berkutat sebagai aktivis kemanusiaan. Bersama kawan-kawannya di MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), ia terlibat banyak menangani para korban di berbagai wilayah bencana dan kawasan perang. Mulai Aceh, Maluku, Poso, Irak, Sudan, Palestina hingga Afghanistan.
 “Seorang Muslim itu harus adil tidak hanya kepada saudara seagamanya, tapi juga kepada semua manusia tanpa batas,”ujar lelaki kelahiran Padang, 11 Mei 1963 itu.
Karena sikap adil juga yang membuat Joserizal menolak untuk terlibat dalam konflik politik yang dipicu  sentimen  mazhab di Suriah. Baginya, Krisis Suriah tak lebih merupakan perangkap global yang dipasang Zionisme dan kapitalis internasional untuk menguasai sumber daya yang dimiliki negara-negara Muslim dan menempatkan umat Islam ada dalam kendali mereka. “Karena kebodohan dan rasa sombong, umat islam hari ini terperangkap dalam konflik dan bencana kemanusiaan yang berkepanjangan itu,”ujar salah satu penggagas pendirian Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza tersebut.
Lantas apa kata Joserizal mengenai situasi runyam yang saat ini tengah dihadapi oleh umat Islam saat ini? Benarkah itu terkait dengan apa yang ia sebut sebagai novus ordo seclorum (era baru kekuasaan)? Di sela kesibukannya melayani pasien sebuah rumah sakit yang terletak di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Jumat pekan lalu Joserizal menerima Hendi Jo dari Islam Indonesia. Berikut petikan perbincangan mereka:
Suriah dan Mesir tengah memanas dan korban manusia banyak berjatuhan,    MER-C tidak turun ke wilayah-wilayah itu?
Kami sekarang sedang membuat visa untuk terjun ke Mesir. Kalau Suriah nanti dulu. Belajar dari pengalaman kami di Irak, konflik bersenjata yang melibatkan sentimen sektarian dan mazhab hanya membuat kami nyaris tidak bisa berbuat apa-apa karena serba salah dengan ancaman dari kedua pihak. Kami di Irak hampir mati saat menolong orang-orang terluka dari satu sekte.
Apa pendapat Anda mengenai situasi umat Islam yang saat ini tengah terjerembab dalam konflik antar sekte?
Ya itu merupakan konsekuensi logis dari sikap ashobiyah (fanatik golongan) yang selama ini tumbuh di kalangan sebagian umat Islam. Justru gejala ini dimanfaatkan secara baik oleh  novus ordo seclorum (era baru kekuasaan) untuk mewujudkan tujuannya.
Siapa yang anda maksud sebagai “novus ordo seclorum”? 
Kekuatan jahat pemilik modal yang ada dalam Zionisme internasional. Begini, saya meyakini setiap konflik yang terjadi di dunia (khususnya di kawasan Timur Tengah) tidak terlepas dari dua hal. Pertama energy resources dan posisi politik Israel sebagai negara Zionis. Memang banyak orang yang meremehkan soal ini dan menilainya sebagai bentuk sikap paranoid, tapi sejarah mencatat bahwa untuk mendirikan sebuah negara Israel ada beberapa peristiwa yang mengawalinya: munculnya Perang Dunia I, keruntuhan Turki Utsmani, terpecahnya bangsa Arab dan terjadinya Perang Dunia II.
Anda mau mengatakan konflik-konflik yang sekarang tengah terjadi, hulunya adalah soal-soal ekonomi dan politik?
Itu yang saya yakini. Karena itu, saya sangat prihatin dengan pernyataan-pernyataan dari kalangan umat Islam yang sebagian ditiupkan oleh ulama juga bahwa konflik yang tengah terjadi sekarang di Timur Tengah adalah persoalan agama. Ini murni soal politik dan adanya kepentingan ekonomi para pemilik modal pimpinan AS. Jadi kaum ulama pun harus hati-hati mengeluarkan fatwa terkait soal ini.
 
Tapi banyak elemen-elemen populis Islam seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbullah, HAMAS yang terlibat dalam konflik seperti ini?
Ya tapi dalam kenyataannya mereka jadi instrumen konflik. Saya paham, mereka tengah bereksperimen dalam hal siyasah (politik). Tapi masa iya, eksperimen ini harus mengorbankan ribuan nyawa umat Islam yang tak tahu apa-apa? Meraih kekuasaan memang perlu tapi jangan ada dalam “tarian yang gendangnya ditabuh orang lain” dong. Saya malah justru melihat saking bersemangatnya kelompok-kelompok Islam menggoalkan isu syariah sampai mereka “tidak sadar” perjuangan mereka ditumpangi kepentingan kaum pemilik modal. Saya tanya, memang AS, Dunia Barat, dan Israel, memberikan sokongan ke kelompok-kelompok Islam yang tengah bertikai itu karena mereka konsen terhadap syariah? Mustahil!
Tidakkah di kalangan Islam sendiri muncul orang-orang yang mengingatkan soal ini?
 Tentunya ada. Tapi karena miskinnya otokritik, adanya kebodohan dan ketamakan, menjadikan kita tak mau mendengar masukan-masukan pihak lain. Di Suriah, pernah muncul Syeikh al-Buthy yang menyeru Sunni-Syiah untuk kembali kepada dialog. Tapi apa yang terjadi kemudian? Beliau malah dibunuh.
Posisi anda sendiri saat ini di mana?
Saya hanya ingin berdiri di tengah sekaligus memberitahukan bahwa apa yang saat ini tengah kita hadapi adalah murni soal politik, bukan soal agama. Jadi marilah kita hentikan pertumpahan darah yang tidak ada gunanya ini.
Pastinya banyak yang tidak suka dengan pendapat itu dan saya tahu ujung-ujungnya anda malah dituduh sudah beralih “keyakinan”, misalnya yang pernah diberitakan sejumlah media Islam, menjadi seorang Syiah?
(Tertawa kecil) Ya, tuduhan itu membuat saya banyak kehilangan kawan, tapi enggak apa-apa. Saya tak akan mati untuk mazhab atau organisasi. Kalau MER-C pun ternyata ke depannya tidak benar, bubarkan saja. Kan gampang? Adapun soal saya dituduh menjadi Syiah, itu adalah cara yang paling efektif untuk menghentikan kampanye saya terutama yang terkait dengan dukungan saya untuk perjuangan rakyat Palestina.
Tapi banyak lho di Indonesia yang melihat Krisis Suriah itu justru sebagai konflik agama?
Ya, kadang orang melihat konflik umat Islam ini dengan cara berlebihan, misalnya sebagai konflik akidah. Padahal sederhana saja, isu Sunni-Syiah itu hanya alat para pemilik modal  untuk menguasai sumber energi. Kalau soalnya Sunni-Syiah, mengapa Iran di era Reza Pahlevi bisa mesra dengan Saudi Arabia, lalu jadi bermusuhan sejak era Khomeini? Ini kanjelas soal politik.
Termasuk kemunculan para takfiri (kelompok yang mudah mengafirkan kelompok lain) itu? 
Termasuk. Sebenarnya orang-orang seperti itu sudah ada sejak zaman Rasulullah dulu. Cuma ide-ide itu sekarang  diidentifikasi oleh para pemilik kepentingan,  lalu dibalut dengan politik, disokong dengan dana, akhirnya diprovokasi. Kan jadinya dahsyat tuh.
 Anda tadi katakan, ini terkait dengan tujuan kaum pemilik modal dan Zionisme, lantas mengapa korbannya selalu umat Islam?
Umat Islam hanya target awal. Selanjutnya lihat saja, mereka pasti bergerak ke Amerika Latin dan Cina, dua kawasan yang juga memiliki tabungan energi sangat besar dan potensial. Ini sudah disadari oleh Amerika Latin dan Cina.
Terakhir, apa yang kira-kira harus dilakukan umat Islam untuk keluar dari situasi ini?
Awareness dan dialog. Dengan itu kita bisa memilah mana persoalan agama, mana persoalan politik, hingga kita tercegah masuk perangkap. Saya juga mengkritik para ulama: jangan terlalu mudah mengeluarkan fatwa yang kalau tidak diikuti itu seolah-olah orang menjadi kafir. Satu lagi, saya sarankan umat Islam untuk kembalilah ke isu Palestina. Jadikan masalah Palestina sebagai isu bersama lagi. Itu saya pikir jalan yang paling menohok untuk melawan Zionisme. (Islam Indonesia)
Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: