Kajian Timur Tengah

Beranda » Diplomasi » Menanti Rouhani

Menanti Rouhani

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Menanti Rouhani

Dina Y. Sulaeman*

(Dimuat di Sindo Weekly Magazine edisi 10-16 Oktober)

Ada yang berbeda di ruang Sidang Umum PBB tahun ini: tidak ada lagi delegasi yang melakukan aksi walkout saat Presiden Iran yang baru, Hasan Rouhani,membacakan pidatonya. Kecuali delegasi Israel, tentu saja. Selama delapan tahun sebelumnya, Ahmadinejad selalu memanaskan ruang sidang dengan pidato blak-blakan-nya yang mencerca AS dan Israel yang berkongsi dalam menjajah bangsa Palestina. Bahkan ia mendobrak tabu diplomatik selama ini: mempertanyakan kebenaran Holocaust.

Rouhani, mullah kelahiran Semnan, Iran utara enam puluh lima tahun yang lalu itu bahkan tak satu kali pun menyebut nama Israel, apalagi menyinggung Holocaust. Doktor hukum lulusan Skotlandia ini hanya menyatakan “Hak asasi bangsa Palestina telah dilanggar secara tragis.”

Namun sepekan kemudian pidato yang lunak ini dibalas dengan nada yang sangat kasar oleh Perdana Menteri Israel, Netanyahu alias Bibi. Bak bocah yang ngambek karena musuhnya meraih antusiasme dari orang-orang sekitar, Bibi mendedikasikan 90%  isi pidatonya untuk membahas Iran. Bahkan dalam pidato selama 33 menit itu, nama Rouhani diulangnya hingga 25 kali. “Rouhani mengira dia bisa mendapatkan kue kuningnya dan memakannya juga,” sindir Bibi. Yang dimaksud Bibi tentu saja yellowcake uranium, zat radioaktif yang diperlukan untuk bahan bakar reaktor nuklir. Bibi juga mencerca style Rouhani, yang disebutnya, ‘penuh senyum’ tapi ‘hanya manis di bibir’, bagaikan ‘serigala berbulu domba’.  Bibi berupaya keras meyakinkan komunitas internasional bahwa Rouhani sama saja dengan presiden Iran sebelumnya, dan karenanya dunia harus segera melucuti nuklir Iran.

Bibi benar dalam satu hal: kebijakan Rouhani memang tidak berbeda dengan pendahulunya. Esensi utama pidato Rouhani sama saja dengan yang selama ini disampaikan Ahmadinejad, perlawanan terhadap Zionisme dengan segala derivasinya. Perbedaan antara keduanya hanya dalam cara penyampaian. Dengan berbagai kalkulasi di belakang layar, Rouhani  telah memilih untuk menjadi antitesis Ahmadinejad yang selama ini dielu-elukan dunia muslim karena keberaniannya menggertak Israel. Seperti dikatakan Sir Ernest Satow, diplomasi adalah penggunaan kecerdasan dan kebijaksanaan untuk melakukan hubungan resmi antarnegara. Karenanya, gaya diplomasi bisa  saja berbeda, asal kepentingan nasional tetap tercapai.

Rouhani dan Obama bahkan terlihat saling berdialog dengan sopan melalui pidato keduanya, dan ini mengindikasikan bahwa ada lobby intensif yang mendahului. Melalui pidatonya, Obama secara resmi mengakuifatwa Supreme Leader Iran, Ayatollah Khameneiyang menyatakan bahwa Iran tidak akan membangun senjata nuklir karena bertentangan dengan syariat Islam. Obama pun mengakui hak Iran dalam mengembangkan nuklir untuk tujuan damai. Dia pun bahkan menegaskan tidak menginginkan adanya perubahan rezim di Teheran.

Rouhani kemudian menjawab dengan ‘nada kebapakan’, “Saya berharap pemerintah AS tidak lagi mengalah di hadapan tekanan kelompok-kelompok haus perang.”  Sudah bukan rahasia lagi, lobby-lobby Israel di AS selama ini bekerja keras mengatur pemerintah AS, siapapun presidennya, untuk mengambil sikap yang pro-Israel. Merekalah yang mendiktekan narasi yang seolah wajib disampaikan oleh para pejabat AS kepada dunia. Tak heran bila ‘dialog’ Obama dan Rouhani di pentas Sidang Umum PBB ini membuat jantung Netanyahu dan para neocon Washington berdebar kencang menahan kemarahan.

Kemarahan itu tercermin dalam pidato Bibi yang menurut Pepe Escobar  –analis dari Asia Times– terdengar seperti kata-kata seorang sociopath (perilaku kelainan mental berupa manipulasi dan pelanggaran atas hak orang lain). Dalam perang diplomasi, respon yang ditunjukkan Netanyahu benar-benar menunjukkan menunjukkan kepanikannya–sekaligus kekalahan–melihat sambutan positif komunitas internasional terhadap Rouhani. Sebaliknya, pidato Rouhani justru menunjukkan keunikan strategi diplomasi Iran, mampu berdiri di tengah arus utama meskipun selalu bergerak melawan arus. Media-media papan atas AS memberitakan pidato Rouhani dengan nada positif. Media dalam negeri Iran, umumnya memberikan dukungan atas langkah diplomatik Rouhani, kecuali beberapa media ultra kanan. Supreme Leader  Iran, Ayatullah Khamanei pun secara terbuka memberikan dukungannya terhadap Rouhani, meski tetap menyatakan ada langkah yang tidak tepat (kemungkinan besar, ini merujuk pada percakapan telepon Rouhani-Obama). Khamenei juga memperingatkan bahwa janji-janji manis AS sama sekali tidak bisa dipercaya selama lobby Zionis masih mengontrol Gedung Putih.

Ada satu benang merah antara pidato Rouhani dan Bibi di PBB yang perlu dicermati publik Indonesia. Dalam pidatonya, Rouhani memperingatkan dunia betapa bahayanya narasi yang sedang dibangun kelompok-kelompok haus perang akhir-akhir ini, yaitu narasi yang melibatkan propaganda anti-Islam, anti-Syiah, dan anti-Iran. Atas dasar narasi ini, kelompok-kelompok garis keras seperti Al Qaida dan afiliasinya dibiarkan merajalela memicu perang sektarian di Timur Tengah, yang bisa dipastikan akan merembet ke berbagai belahan lain dunia. Untuk itu, Rouhani menyeru dunia internasional agar bergabung dalam gerakan World Against Violence and Extrimism (Dunia Melawan Kekerasan dan Ekstrimisme).

Sebaliknya, Bibi dalam pidatonya memberikan narasi bantahan: nuklir Iran adalah sumber ancaman dunia dan karena itulah banyak negara Arab yang kini sudah mengakui bahwa Israel bukanlah musuh mereka. Inilah benang merahnya: Israel tengah bersekutu dengan negara-negara Arab berhaluan Wahabi untuk memicu perang berbasis sektarian di berbagai negara. Isu sektarian terbukti sangat efektif untuk mengalihkan perhatian dunia muslim dari kejahatan Israel di Palestina. Bukti kuatnya adalah konflik Suriah yang berhasil membuat tatanan dunia berubah: negara-negara muslim yang semula bersatu untuk isu Palestina, kini justru terbelah. Isu Sunni-Syiah dalam konflik Suriah telah berhasil memecah-belah dunia Islam, termasuk opini publik Indonesia, dan membangkitkan radikalisme yang membabi-buta di tengah dunia muslim. Kini kaum muslim saling berperang satu sama lain, baik di medan perang, maupun perang propaganda; dan melupakan musuh bersama mereka, Zionis.

Dunia muslim mungkin akan merindukan Ahmadinejad yang berdiplomasi frontal melawan AS dan Israel. Namun, keterpecahan kaum muslimin seiring dengan konflik Libya, Suriah, dan Irak, agaknya membuat Iran merasa perlu mengganti strategi diplomasinya. Sebab masih dalam tataran narasi, dunia harus bersabar menanti hasilnya.

* Mahasiswa Program Doktor Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Peneliti Global Future Institute

(Dimuat di Sindo Weekly Magazine edisi 10-16 Oktober)

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: