Kajian Timur Tengah

Beranda » kajian timur tengah » Argumen Ganjil Soal Suriah (1)

Argumen Ganjil Soal Suriah (1)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

1. Ketika ada penulis yang menyatakan bahwa pemberontakan Suriah justru membantu Israel memusnahkan musuh Israel selama ini (yaitu rezim Assad yang sangat tegas melawan Israel), mereka berkata:

“Kita tidak akan bisa membebaskan Palestina selama pemerintahan Syiah Rafidhah di Iran masih ada. Bahkan Salahudin membebaskan Palestina hanya setelah menaklukkan/mengalahkan daulah Syiah Fatimiyah di Mesir. – Saifullah Al- Baluchi (FP KabarDuniaIslam)

Sejarah mencatat ketika Shalahuddin Al-Ayyubi menaklukan Palestina setelah sekian lama di bawah Tentara Salib, tentara Shalahuddin ketika itu ada di Mesir dan ada di Syam (Suriah, Jordan, Lebanon), Palestina di kepung, di blokade, kemudian baru bisa di taklukkan. Maka dengan jatuhnya Suriah sekarang di bawah kubu Islamis maka era blokade untuk penaklukan Palestina makin dekat. Nas’alullah salamah. (Islampos.com)

Jadi, bagi para  pendukung pemberontak Suriah berpendapat: penyebab masih terjajahnya Palestina sampai hari ini adalah karena Negara Iran dan Suriah masih tetap berdiri kokoh.

Inilah keganjilan/kejanggalan/keanehan argumen ini:

Pertama, mengapa tidak  menyerang Suriah dari dulu? Palestina sudah  terjajah 60 tahun lebih  lamanya. Mengapa harus menunggu Bashar Asad membantai rakyatnya yang sunni dulu (sebagaimana klaim mereka) untuk jadi alasan menyerang Suriah?

Hari Nakba, umumnya diperingati pada tanggal 15 Mei, yang merupakan hari bencana bagi bangsa Arab Palestina, sehari setelah bangsa Yahudi mendeklarasikan negara illegal  Israel. Terhitung dari Nakba 1948, dan awal munculnya konflik Suriah pada tahun 2011, rentang waktu keduanya adalah 63 tahun. Jika benar harus menguasai Suriah dulu untuk membebaskan Palestina, maka kemana saja para mujahidin ini selama 63 tahun? Apakah baru terjaga dari tidur yang panjang?

Kedua, apa Suriah selama  ini menunjukkan keberpihakan pada Israel? Justru sebaliknya, Suriah berkali-kali berperang dengan Israel.

Tercatat oleh sejarah, dalam perang Arab-Israel, Suriah tidak pernah absen.

1.Perang Arab-Israel 1948, atau disebut juga sebagai “Perang Kemerdekaan adalah konflik bersenjata pertama dari serangkaian konflik yang terjadi antara Israel dan tetangga-tetangga Arabnya dalam konflik Arab-Israel. Israel diproklamasikan pada tanggal 14 Mei 1948 dan sehari kemudian langsung diserbu oleh tentara dari Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, Irak dan negara Arab lainnya.

2. Perang Enam Hari juga dikenali sebagai Perang Arab-Israel 1967, merupakan peperangan antara Israel menghadapi gabungan tiga negara Arab, yaitu Mesir, Yordania, dan Suriah, dan ketiganya juga mendapatkan bantuan aktif dari Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan dan Aljazair. Perang tersebut berlangsung selama 132 jam 30 menit (kurang dari enam hari), hanya di front Suriah saja perang berlangsung enam hari penuh.

3. Perang Yom Kippur, dikenal juga dengan nama Perang Ramadan atau Perang Oktober adalah perang yang terjadi pada tanggal 6 – 26 Oktober 1973 antara negara Israel yang dikeroyok oleh koalisi negara-negara arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah

Ketiga, apakah dari  kurun waktu pembentukan negara Israel hingga hari ini Suriah sangat menguntungkan Israel?

Hubungan Israel-Suriah baik itu hubungan diplomatik dan ekonomi antara Israel dan Suriah belum ditetapkan sejak pembentukan  kedua negara pada pertengahan abad ke-20. Keduanya  terlibat dalam tiga kali perang besar – 1948, 1967, 1973, lalu terlibat dalam Perang Sipil Lebanon. Kedua negara mengizinkan perdagangan terbatas, untuk perdagangan  apel di Golan, yang terletak di kedua sisi dari garis gencatan senjata 1973. Israel juga telah mengizinkan studi akademis dari Golan pada  sisi yang dikuasai Israel di universitas-universitas Damaskus. Seberapa besarkah pengaruh jual beli apel di daerah genjatan senjata- Golan dalam mendongkrak perekonomian kedua negara?

Bandingkan dengan hubungan:

Israel-Mesir: Israel punya kedubes di Kairo; ketika Mursi berkuasa, yang ditutupnya malah kedubes Suriah, bukan kedubes Israel.

Israel-Arab Saudi: meski tak ada hubungan diplomasi resmi (artinya: tak ada kedubes), Saudi memberikan sebagian wilayahnya untuk dijadikan pangkalan militer AS. Siapapun tahu bahwa AS adalah pelindung utama Israel. Arab Saudi juga menyewa perusahaan keamanan Zionis untuk mengamankan prosesi haji. Bulan Oktober 2013, Pangeran Bandar bin Sultan, kepala intelijen Arab juga ketahuan berkunjung ke Israel.

Israel-Qatar: memiliki kantor perwakilan dagang, dan pemimpin Israel, berkali-kali berkunjung ke Qatar, antara lain: Shimon Peres dan Tzipi Livni

Israel-Turki: meski Erdogan dicitrakan antiIsrael, namun justru di masa kekuasaannya, perdagangan Turki-Israel meningkat pesat.

Empat negara itu (Israel, Qatar, Arab Saudi, Turki) adalah pendukung utama pemberontak Suriah. Bahkan para teroris/pemberontak Suriah yang terluka dibawa ke Israel untuk diobati. Mesir, ketika dikuasai Mursi (Ikhwanul Muslimin) juga memberi dukungan penuh kepada ‘mujahidin Suriah. Mursi bahkan menutup kedubes Suriah di Kairo, tetapi membiarkan kedubes Israel beroperasi.

Keempat, apakah Suriah menjadi penghalang bagi mujahidin untuk memasuki tanah Palestina?

Hamas berkantor di Damaskus ketika negara-negara Arab tidak mau menerima mereka membuka perwakilan. Hafez  (ayah Bashar al-Assad) banyak menampung pengungsi Palestina, salah satu kamp yang pernah penulis kunjungi bersama relawan MER-C kunjungi adalah kamp Yarmuk.

Bashar komitmen terhadap perjuangan rakyat Palestina dengan menyediakan tempat buat Hamas di Suriah dan mendukung penuh Hizbullah. Hamas (Sunni) dan Hizbullah (Syiah) didukung penuh oleh Bashar karena mereka adalah kelompok perlawanan (muqowwamah) terhadap Israel. ( Dr Jozerizal, MER-C)

Data statistik juga menunjukkan bahwa pengungsi Pelestina merupakan 44,2% dari total penduduk Palestina. UNRWA menunjukkan bahwa ada 5,3 juta pengungsi Palestina yang terdaftar pada pertengahan 2013, yang merupakan 45,7% dari penduduk Palestina di seluruh dunia. Mereka didistribusikan sebagai 59,0% yang tinggal di Yordania, Suriah dan Lebanon. 17,0% di Tepi Barat, dan 24,0% di Jalur Gaza.

29,0% pengungsi Palestina tinggal di kamp-kamp pengungsi , dimana 10 berada di Yordania, sembilan di Suriah, 12 di Lebanon, 19 di Tepi Barat, dan delapan di Jalur Gaza.

Kita hitung-hitungan sebentar.

59% dari 5,3 juta penduduk terkonsentrasi di Syria, Lebanon, dan Jordan.

5.300.000 x 59% = 3.127.000

Andaikan dibagi rata menjadi 3, maka jumlah pengungsi Palestina di 3 negara tersbut masing-masing adalah 1.042.333 jiwa.

(Ini analisa + hitung-hitungan kasar) kesimpulan dari hitung-hitungan diatas, sejak hari Nakba, ada 1.042.333 jiwa rakyat Palestina yang telah berlindung di Syria.

Dengan data dan fakta diatas, maka klaim bahwa Suriah adalah penghalang masuknya Mujahidin ke Palestina adalah tidak benar dan sangat-sangat tidak relevan dengan kenyataan yang sebenarnya.

Kelima, mengapa membuang energi, dana dan persenjataan untuk menjatuhkan Asad kalau tujuannya adalah membebaskan Palestina? Kenapa tidak langsung saja menyerang Israel? Seperti Mursi misalnya, dia menyerukan jihad ke Suriah, sementara negara Mesir sendiri berbatasan langsung dengan Israel.  Kenapa harus susah payah menyeberangi laut terlebih dahulu menggulingkan Assad untuk membebaskan Palestina?

Tulisan ini saya copas dari FanPage: Berita Harian Suriah

Berikut ini beberapa FanPage di Facebook yang aktif memberikan perimbangan informasi (termasuk membongkar kebohongan FanPage2 pro-pemberontak, yang sering memakai foto-foto dari negara-negara lain, lalu disebut sebagai ‘korban Assad’):

Indonesian Support for Syria Al-Assad

Syria News Indonesia

Harian Militer dan Konflik Bersenjata

Anon Meme Syria

Syrian Case

Fakta Perang Suriah

Syrian Arab Army

Syrian Truth | English

Syrian Perspective

Syrian Rationalism

Berita Harian Suriah

Dan bila Anda meluangkan waktu membaca komen-komen yang masuk di fanpage ini, Anda akan sadar betapa mengerikannya gelombang kebencian yang disebarkan oleh kaum salafi-wahabi-radikal-transnasional di tengah anak muda Indonesia.  Anda akan melihat betapa pembantaian atas nama agama seperti di Suriah bukan mustahil akan terjadi di Indonesia:  “pasukannya” sudah sangat banyak.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: