Kajian Timur Tengah

Beranda » Nuklir Iran » Iran dan Opera Bouffe (Purkon Hidayat)

Iran dan Opera Bouffe (Purkon Hidayat)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Ini tulisan bagus, terutama buat beberapa mahasiswa yang mengontak saya, yang minta saran dalam penulisan untuk skripsi/tesis soal Iran. Intinya, gunakan paradigma yang integral saat menganalisis Iran.

 

Iran dan Opera Bouffe

Oleh: Purkon Hidayat

Lebih dari seabad lalu, Morgan Shuster pernah berseloroh menyebut politik Iran seperti Opera Bouffe. Sebuah opera dengan para pemain yang gonta-ganti kostum begitu cepat dan tidak mudah ditebak. Bagi saya banker Amerika itu tidak sedang bercanda. Ia serius di tengah kebingungannya menganalisis Iran. Itu bukan hanya menimpa Shuster. Betapa banyak para analis dan politikus kecele.

Mungkin, Jimmy Carter perlu ditanya sekedar mengingatkan tentang prediksinya yang meleset mengenai Iran. Lebih dari tiga dekade silam, ketika kedutaan AS di Tehran diduduki para mahasiswa, sang Presiden Paman Sam itu pernah sesumbar, “Tehran akan kita kuasai dalam hitungan jam.” Dan Pentagon pun mengirimkan pasukan elit militer terbaiknya dari kapal induk yang diparkir di salah satu negara Arab.

Operasi militer dengan sandi Eagle Claw ini menggunakan Hercules C-130, jenis pesawat tercanggih kala itu. Tapi, tim militer yang dibanggakan tersebut luluh lantak dihantam badai di Tabas, Iran Tengah. Sisanya, melarikan diri tunggang langgang. Misi Gedung Putih gagal, Carter pucat pasi. Amerika merana dipermalukan sebuah negara kecil yang baru saja mendeklarasikan sistem kenegaraan barunya.

Gagal menjalankan operasi militernya sendirian, Washington tidak kehilangan akal. Diktator Irak Saddam Hussein diprovokasi untuk menginvasi Iran. AS pun memasok kebutuhan militer pemimpin rezim Baath Irak itu. Tapi prediksi Barat kembali meleset. Alih-alih bertekuk lutut dan menyerah, Iran dengan bendera barunya “Republik Islam” yang baru seumur jagung justru memberikan perlawanan telak terhadap rezim Saddam Irak yang dibantu negara-negara Barat dan Arab.

Segala cara ditempuh AS untuk menumbangkan Iran yang mengusung Islam sebagai sistem kenegaraannya. Dari operasi militer, lalu meminjam tangan negara tetangga Teheran, hingga mensponsori organisasi teroris semacam Jundullah dan MKO yang terlibat berbagai aksi teror di Iran, semua sudah dilakukan. Tapi tetap saja gagal.  Dan kini, AS memfokuskan serangannya pada embago ekonomi. Sejumlah ekonom Barat memandang langkah ini akan membuat Iran kelabakan. Dengan menutup akses finansial internasional, mereka mengira bisa menghentikan program nuklir Iran. Tapi, Teheran menegaskan tidak akan menghentikannya. “Ini harga mati bung !”, kata seorang warga Iran.

Sampai kini pun diskursus akademis tentang Iran bertumpu pada pertanyaan mengapa Iran bisa resisten menghadapi gelombang deras tekanan sanksi internasional. Setidaknya ada empat paradigma melihat masalah tersebut.

Pertama, paradigma ekonomi-politik yang melihat daya resistensi Iran disebabkan adanya sumber daya energi yang sangat besar di negara itu. Betapa tidak, Iran menguasai 12 persen cadangan minyak dunia, dan 17 persen cadangan gas alam dunia. Perekonomian Iran sangat bertumpu pada pendapatan penjualan minyak. Selama emas hitam itu masih mengalir di bumi Persia, maka negara itu akan tetap bertahan.

Paradigma ini dianut banyak kalangan. Washington melancarkan sanksi minyak terhadap Teheran untuk melumpuhkan perekonomian Iran. Tidak hanya itu, AS mengendalikan transaksi finansial internasional dengan membatasi transaksi antara perbankan Iran dan negara lain untuk menyetop pasokan minyak mentah dari Iran ke negara lain.

Tapi menyebut faktor ekonomi politik, terutama sumber daya energi yang melimpah di Iran sebagai faktor resistensi Iran menghadapi sanksi, memiliki sejumlah kelemahan. Benar bahwa faktor ekonomi terutama kekayaan sumber daya alam memberikan pengaruh bagi keberlanjutan sebuah bangsa dan negara. Tapi, ini bukan basis, hanya salah satu faktor yang berdampingan dengan variabel lainnya. Sebab faktor ini masih bergantung pada basis utamanya.

Selain itu, sejumlah negara yang tidak disanksi internasional sebagaimana Iran dan punya sumber daya alam yang melimpah, ternyata tingkat kesejahteraan rakyatnya tidak begitu membanggakan. Zimbabwe misalnya, negara itu berada di urutan termiskin di dunia bersama sejumlah negara Afrika lainnya. Selain mengandalkan pertanian seperti kapas, dan tembakau, serta industri tekstil, negara itu memiliki cadangan emas dan platinum.

Zimbabwe merupakan satu negara dengan catatan rekor inflasi tertinggi di dunia, bahkan pernah mencapai 11,2 juta persen pada Agustus 2008. Zimbabwe juga dikenal sebagai negara yang pernah mengeluarkan pecahan mata uang terbesar di dunia, yakni 100 miliar dolar Zimbabwe.Realitasnya, masalah utama di negara ini bukan soal sumber daya alam, tapi lebih pada tat kelolanya. Konflik internal kerap menjadi masalah besar di “negara gagal” seperti itu.

Fenomena yang sama terjadi di Indonesia yang tidak disanksi. Meskipun tidak memiliki minyak yang melimpah seperti Iran, Indonesia memiliki sumber daya alam seperti emas yang termasuk terbaik di dunia. Namun  emas yang melimpah di Papua itu dikeruk oleh korporasi asing yang sangat merugikan kepentingan nasional bangsa Indonesia sendiri. Kebanyakan rakyat pun tidak menikmati hasilnya. Kesenjangan sosial semakin menjulang. Pembangunan pun berjalan lambat. Segelintir orang dan korporasi asinglah yang menikmati manisnya.

Meletakkan mana yang lebih utama, apakah ekonomi sebagai basis ataukah politik. Namun tetap saja dengan keduanya itu tidak bisa menemukan akar masalahnya. Paradigma pertama ini tidak mampu menggali basis kekuatan Iran hingga bisa resisten menghadapi sebuan asing.

Memandang Iran dengan kacamata Markantilisme, Liberalisme maupun Marxisme di ranah ekonomi politik justru akan mereduksi basis kekuatan ekonomi politik Iran yang sebenarnya. Sebab ketiganya itu bertumpu faham Materialisme yang tidak memberi ruang bagi peran spiritualitas dalam ekonomi dan politik. Meskipun memiliki sejumlah kritik, tapi cara pandang ini sangat detil sehingga paling diterima di kalangan akademis dari paradigma lainnya.

Kedua, paradigma ideologis-teologis memandang kekuatan resistensi Iran menghadapi sanksi internasional timbul dari faktor agama yang dianut mayoritas masyarakat, dan dilembagakan dalam bentuk institusi negara berbentuk Republik Islam. Dukungan lebih dari 98,2 persen suara rakyat Iran dalam referendum untuk menentukkan dasar negara lebih dari tiga dekade silam menunjukkan  besarnya dukungan keyakinan keagamaan rakyat terhadap Republik Islam. Komitmen kolektif inilah yang menjadi kekuatan utama Iran dalam mewujudkan cita-citanya di tengah berbagai tekanan.

Dahulu, tiga puluh tiga tahun yang lalu, kekuatan teologis pula yang menjadi spirit bangsa Iran menumbangkan rezim despotik Shah Pahlevi. Sebelumnya, sebuah fatwa seorang otoritas keagamaan semacam Ayatullah Shirazi bisa melumpuhkan kolonialisme Inggris. Sebuah fatwa haram tembakau yang dikeluarkan Ayatullah Shirazi ketika itu mampu meluluhlantakan imperialisme ekonomi yang begitu mengakar lewat pasar tembakau Inggris di Iran.

Dalam perjalanannya, kekuatan imanlah yang membawa orang-orang Iran yang sebagian besar anak-anak muda maju ke medan perang melawan invasi Irak, dalam perang yang mereka sebut “Pertahanan Suci” selama delapan tahun. Seorang Hussein Fahmideh yang masih belia rela meregang nyawa digaris depan pertempuran demi membela bangsa dan negaranya dari serangan musuh. Saat inipun, spirit religiuslah yang membuat rakyat Iran tegar menghadapi berbagai gelombang yang menghantam.

Paradigma kedua ini menukik lebih dalam dari yang pertama, karena berhasil mengungkap pengaruh faktor-faktor non materi dalam menemukan basis resistensi Iran menghadapi badai serangan. Kelebihannya bisa merumuskan soft power dengan menurunkan nilai-nilai normatif. Namun kekurangan paradigma ini terletak pada sisi normativitasnya yang general, berhadap-hadapan, dan dalam beberapa bagian cenderung apologetik dan acapkali hitam putih.

Ketiga perspektif kultural yang melihat faktor budaya dan peradaban sebagai basis kekuatan Iran dalam menghadapi beragam tekanan asing. Warisan budaya dan peradaban Persia yang kaya menjadi modal bagi Iran untuk berdiri tegar di tengah badai serangan musuh. Khazanah kebudayaan dan peradaban Persia dan Islam di Iran menjadi sebuah modal dasar yang penting bagi bangsa Iran dalam meraih kemajuan di pusaran sanksi yang semakin masif.

Paradigma ini mampu menangkap soft power Iran tentang mentalitas yang menjadi kekuatan utama dan modal terbesarnya. Perspektif ini juga mengorek upaya pemerintah Iran untuk menumbuhkan nilai-nilai kolektif sebagai modal dasar berbangsa dan bernegara demi kepentingan nasional. Sejumlah karya Faucault tentang Iran menggunakan perspektif ini. Paradigma tersebut memberikan pengayaan pada dua pendekatan sebelumnya. Tapi pendekatan ini juga memiliki sejumlah kelemahan. Asumsi teoritis dalam frame kebudayaan dan peradaban yang dipahami peneliti terkadang mempengaruhi cara bacanya terhadap objek. Misalnya ketika Faucault menyebut Revolusi Islam menghantam struktur modernisme, dia melihatnya dari kacamata seolang Postmodernis yang mengkritik apapun tentang Modernisme.

Keempat, paradigma filosofis bekerja memberikan peta tentang masalah yang dihadapi. Pendekatan yang digunakan adalah perspektif filosofis. Cara kerjanya seperti helikopter yang melihat dari atas dan memotret masalah dalam kacamata universal. Jika paradigma pertama dan ketiga mengadopsi frame work tertentu yang masuk dalam disiplin ilmu, perspektif keempat ini justru berupaya melepaskan dan membebaskannya. Misalnya, paradigma ekonomi-politik tidak memberi ruang pada dimensi non-materi seperti spiritualitas dalam ekonomi dan politik. Begitu juga, paradigma filosofis melepaskan bias pada asumsi teologis paradigma kedua yang melihat masalah dalam dimensi hitam putih dari kacamata mazhab.

Sumbangsih penting paradigma keempat bagi paradigma budaya adalah mengeluarkan asumsi-asumsi sosial semacam teori sosiologi Comte, dan lainnya yang cenderung positivistik dalam memandang fenomena budaya. Selain itu, paradigma filosofis bisa menjangkau basis pemikiran yang lebih dalam dari ketiga paradigma lainnya. Perspektif ini juga bertugas menembus realitas menyingkap sekat-sekat yang tertutup keangkuhan teori Mainstream dalam disiplin ilmu. Kekurangan paradigma ini adalah pada cara pandangnya yang general dan tidak detil. Berhenti pada pada paradigma keempat ini hanya akan membawa kita pada menara gading.

Sejatinya, setiap paradigma memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Yang perlu dilakukan saat ini adalah menerapkan pendekatan integralistik dengan meletakkan masing-masing pada kavlingnya sendiri-sendiri. Paradigma integralistik ini pernah diulas dalam bentuk yang hampir mirip oleh Muthahhari dalam karyanya, “Jahan Bini Islam” (Pandangan Dunia Islam)”.

Pada kasus resistensi Iran menghadapi berbagai tekanan Barat, analisis dilakukan dengan menggali fakta-fakta ekonomi, politik budaya dan teologis. Tugas filsafat merangkai dan merumuskan basis pijakan universal dari ketiga paradigma itu. Rumusan nilai-nilai teologis yang normatif dan karakter budaya nasional Iran berbijak di atas fondasi “Nasionalisme Religius”. Inilah sumbangan pendekatan integralistis dalam memandang Iran. Jika Shuster bicara tentang fragmen Opera Bouffe yang membingungkan, pendekatan integralistik melihat skenario dari awal hingga akhir, bukan hanya kostum atau akting para pemainnya saja yang gonta-ganti dan berpindah-pindah. Bak Opera Bouffe, memandang Iran sepenggal-penggal hanya akan melahirkan analisis yang menjerat dan membingungkan. Paradigma integralistik menawarkan solusinya.(IRIB Indonesia/PH)

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: