Kajian Timur Tengah

Beranda » Mesir » Kedok Militer Mesir Akhirnya Terungkap

Kedok Militer Mesir Akhirnya Terungkap

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Tak lama setelah Mursi terguling, saya menulis analisis Pemetaan Konflik Mesir. Artikel ini mendapat respon sangat luas, di FB telah di-share 5000 kali lebih, di IRIB dibaca lebih 60.000, dan entah berapa banyak yang membaca di situs The Global Review, atau yang memosting ulang di tempat-tempat lain. Bahkan staf Kemenlu pun memberikan apresiasinya, alhamdulillah.

Dalam artikel ini, selain mengungkapkan kesalahan-kesalahan fatal pemerintahan Mursi yang membuat jutaan rakyat Mesir turun ke jalan untuk mendemonya, saya juga sudah mengingatkan bahwa militer Mesir sama sekali bukan aktor baik (protagonis). Militer Mesir selama 30 tahun menjadi backing rezim Mubarak yang sangat keras terhadap oposisi, menerima hibah rutin 1,5 M Dollar pertahun dari AS, dan setelah melakukan kudeta militer (dengan mengatasnamakan kehendak rakyat), militer membentuk pemerintahan interim yang banyak diisi oleh orang-orang pro-AS. Saya juga menulis bahwa kudeta militer ini hanya akan memadamkan harapan bagi rakyat tertindas di berbagai negara muslim.

Perilaku aktivis IM Mesir (maupun simpatisannya di Indonesia), yang bergaya ‘you are either with us or against us’… lu bareng gue atau lawan gue; kalau lu lawan gue, maka lu pasti Syiah kafir atau liberal sesat, serta aksi-aksi anarkhis aktivis IM Mesir dalam demo-demo mereka, sempat membuat banyak pihak (baik rakyat Mesir, maupun orang Indonesia yang jadi ‘pengamat’) berpihak kepada militer Mesir. Sebagian rakyat Mesir pun diberitakan mengelu-elukan El Sisi yang berhasil mengembalikan keamanan Mesir. Bahkan jurnalis terkenal Kompas, Trias Kuncahyono, dalam bukunya Tahrir Square, malah (secara samar) memperlihatkan keberpihakannya kepada militer Mesir. Tapi saya tidak heran. Trias salah memahami konflik Suriah, hanya mengulangi narasi yang disampaikan media Barat; jadi tak aneh bila diapun salah paham atas konflik Mesir. Kudeta adalah kudeta: aksi yang anti demokrasi. Kesalahan Mursi tidak bisa membuat militer Mesir dianggap benar saat melakukan kudeta terhadap sebuah pemerintahan demokratis.

Saya pun menulis artikel lain, berjudul IM VS Militer: Analisis Psikologi Politik, untuk menganalisis keanehan ini. Bagaimana mungkin militer yang jelas-jelas punya track record buruk itu malah kini dibela oleh orang-orang yang mengaku pro-demokrasi?

Dan tak butuh waktu lama, sikap asli militer Mesir pun terbuka. Setelah secara masif menangkapi para aktivis IM (termasuk Mursi dan para petinggi IM), para aktivis dari kalangan sekuler pun kini sudah kena batunya. Beritanya bisa dibaca di sini dan di sini. Militer Mesir baru-baru ini mengeluarkan UU Larangan Demonstrasi, dan UU ini selain langsung memakan korban, yaitu 200 aktivis IM yang ditangkap polisi pada Jumat lalu (29/11) , juga menangkap blogger sekuler yang dulu aktif menggalang demo anti-Mubarak, lalu demo anti-Mursi.

Simpang siur analisis soal Mesir, bahkan tendensi untuk ‘memaafkan’ militer gara-gara perilaku aktivis IM yang tidak simpatik menunjukkan cara berpikir kebanyakan orang yang masih hitam-putih. Seolah-olah, dalam konflik, kalau A salah, maka B pasti benar. Padahal bisa jadi A salah, tapi B lebih salah lagi. Padahal bisa jadi dalam konflik tidak hanya A versus B, tetapi A, C, D, E, dll versus B. Ada C, D, E yang sebenarnya juga menderita, namun terabaikan karena publik disilaukan oleh media, seolah-olah konflik hanya terjadi antara A versus B.

Sekali lagi saya ulangi kata-kata yang sering saya tulis, cerdas menganalisis konflik di Timteng itu, manfaatnya buat kita-kita juga, bangsa Indonesia, yang sering sekali mudah disulut pihak luar untuk berkonflik. Mari kita cerdaskan diri.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: